Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 19 - Desa Batu Giok
Dong Fang yang memasuki ruangan harta milik gurunya, kini terlihat sedang melirik pedang yang dipajang di dinding. Dong Fang bisa melihat jika kualitas pedang itu jauh melebihi kualitas pedangnya sekarang.
Sarung pedangnya yang berwarna merah tua dan dengan gagang pedangnya yang terdapat garis berwarna emas yang mengelilingi gagangnya, membuat pedang itu terlihat sangat mahal dimata Dong Fang.
Dia kemudian mengambil pedang itu dan membukanya. Sebuah bilah pedang yang juga berwarna merah tua kehitaman terlihat, meskipun dengan pencahayaan yang tak memadai, warna pedang itu tak terlihat sepenuhnya.
Karena Dong Fang merasa pedangnya yang diberi oleh tetua Lun terlalu buruk dan akan tumpul setelah beberapa kali membunuh, dia menukarkan pedangnya dengan pedang milik gurunya, "Maafkan aku guru, aku akan pinjam terlebih dahulu pedang ini." Dong Fang terlihat mengepal kedua tangannya, meskipun kepalan tangannya tak sempurna karena sedang memegang pedang.
Dong Fang kemudian mengambil koin emas secukupnya dan pergi keluar dari ruang penyimpanan itu. Dia sudah merasa persiapannya sudah lebih dari cukup, apalagi dengan pedang ditangannya.
Dong Fang menggendong tas miliknya dan pergi kearah gerbang keluar sekte.
Setelah sampai di gerbang sekte, seorang penjaga yang mengenali Dong Fang, memberi hormat kepadanya, kemudian meminta Dong Fang menunjukan surat misi dan tanda pengenal untuk dirinya keluar.
Sebenarnya Dong Fang merasa aneh dengan aliran hitam yang masih memiliki hal semacam ini, apalagi dengan administrasi, seperti bangunan yang sebelumnya dikunjungi Dong Fang. Meskipun dirinya tak memikirkan lebih jauh dan menunjukan surat misi dan juga tanda pengenal.
Penjaga itu terlihat terkejut melihat surat misi itu, namun tak menanyakan lebih lanjut, penjaga itu mengetahui jika Dong Fang dapat mengalahkan seorang Pendekar Pencipta Jalur tingkat puncak dengan mudahnya saat Dong Fang menantang banyak anggota sekte untuk menjadi lawan tandingnya. Setidaknya kekuatan Dong Fang setara dengan Pendekar Inti tingkat awal. Begitulah pikiran penjaga itu.
Penjaga itu mengembalikan kembali surat dan tanda pengenal itu. Dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam pakaiannya dan melemparkannya pada Dong Fang.
"Kau akan membutuhkan identitas lain saat berbaur dengan warga sipil dan pendekar aliran putih." ucap penjaga itu sambil tersenyum.
Dong Fang melihat sesuatu yang diberikan penjaga itu, sebuah giok pengenal yang bernama Liu Bai, dari Sekte Pedang Besi. Dong Fang berterimakasih pada penjaga itu.
"Aku pergi dulu." Dong Fang kemudian berlari dengan ilmu meringankan tubuhnya. Dirinya dengan cepat menghilang dikejauhan oleh pohon-pohon.
Penjaga yang melihat kecepatan bergerak Dong Fang tampak takjub, "Dia benar-benar seorang jenius."
**
Dong Fang sudah berlari selama dua hari, setiap malamnya Dong Fang selalu beristirahat dengan alas tanah, hal yang paling dia sukai saat diperjalanannya adalah melihat jutaan bintang dilangit. Dong Fang kini memakan roti kering yang dia miliki.
"Kurasa kota itu masih jauh." Dong Fang menghela nafas, dia tak tahu akan berapa lama pekerjaannya untuk mencari seseorang yang bernama Yan Jiang ini.
Setelah dirinya membuat api unggun untuk penerangan, dia bermeditasi untuk membentuk lingkaran tenaga dalam baru.
Keesokan harinya, Dong Fang melanjutkan perjalanannya dan menemukan sebuah desa di malam harinya, Desa Batu Giok. Karena perbekalannya yang sudah tipis, Dong Fang berencana untuk mencari penginapan dan juga mengisi kembali perbekalannya.
Dong Fang yang tak melihat ada penjaga di gerbang itu, kemudian masuk kedalam desa. Memang tak jarang, ada desa yang tak memiliki seorang penjaga gerbang.
Dong Fang mencari-cari penginapan, namun tak menemukan satupun penginapan didesa itu.
"Aku harusnya lebih cepat datang kesini." Dong Fang menghela nafas panjang, menyesal. Dirinya menyesal berlari dengan santai diperjalannya sebelumnya, dan baru bisa mencapai desa ini di malam hari, sehingga tak bisa menemukan orang yang masih beraktivitas untuk ditanyai.
Karena waktu yang sudah larut malam juga, tak terlihat satupun orang yang keluar dari rumahnya. Dia terus berjalan hingga menemukan sebuah tempat makan yang masih buka.
Dong Fang masuk kesana, dan menemukan seorang pria paruh baya. Wajahnya terlihat lesu dengan kantung mata yang hitam. Jelas sekali dia kekurangan tidur selama beberapa hari.
Pria paruh baya yang melihat Dong Fang, dengan cepat merubah ekspresinya. Kini wajahnya memperlihatkan senyum lebar, pria itu mendekat kearah Dong Fang.
"Selamat datang tuan. Jika dilihat-lihat, sepertinya Tuan muda sudah berjalan dalam waktu yang lama. Apa yang ingin tuan muda pesan?" tanya pria itu.
"Aku tak tahu ingin memesan apa, jadi ambilkan saja beberapa menu terbaik yang kau miliki, dan juga aku minta makanan-makanan untuk perbekalan perjalanku."
Pria paruh baya mengangguk, dia kemudian mempersilahkan Dong Fang duduk dan mulai mempersiapkan makanan yang Dong Fang pesan.
Dong Fang menunggu sambil melihat kondisi tempat makan ini. Bangunannya yang terbuat dari kayu, terlihat sudah mulai lapuk dibeberapa bagian, dan juga luasnya yang tak terlalu luas, didalamnya hanya muat empat meja makan, dengan enam kursi disetiap mejanya.
Beberapa waktu berlalu, lima porsi makanan dengan menu berbeda-beda disetiap porsinya dan teh sebagai minumannya. Dia juga membawakan daging kering dan roti kering yang dibungkus kertas.
"Selamat menikmati tuan muda, aku permisi." setelah mengantar makanan itu, pria paruh baya berjalan kembali ke tempatnya. Namun sebelum dirinya berjalan lebih jauh, Dong Fang memanggil pria itu.
"Paman, bisakah paman menemaniku disini? Aku rasa aku tidak akan bisa menghabiskan semua ini." Ucap Dong Fang sambil memakan mangkuk berisi mie dengan telur rebus diatasnya.
Pria paruh baya itu menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung, "Aku merasa terhormat dan berterima kasih, tetapi aku merasa tidak enak pada tuan. Bagaimanapun tuan adalah pelangganku."
Dong Fang menggeleng, "Anggap saja ini permintaanku sebagai pelanggan. Aku akan membayar lebih nanti."
Pria itu menjadi lebih sungkan pada Dong Fang, namun dirinya tak menolak dan duduk bersebelahan dengan Dong Fang.
"Paman bebas memilih makanan yang mana. Asalkan sisakan dua yang lain untukku." Dong Fang sambil terus memakan mie itu. Jujur saja, setelah perjalanan beberapa hari, Dong Fang bosan memakan makanan kering dan ingin memanjakan lidahnya.
Pria paruh baya itu mulai memakan sayur dalam mangkuk, "Terimakasih tuan muda, jarang sekali ada orang sebaik tuan." pria itu tertawa kecil, tampak mulai menikmati situasinya.
Dong Fang menggeleng, "Aku tidak sebaik yang paman pikirkan. Aku bahkan tak merasa menjadi orang baik."
Pria paruh baya itu tertawa kecil, tak membalas perkataan Dong Fang. Dia mulai menceritakan hal-hal seperti politik yang terjadi didesanya dan hal-hal yang sedang ramai dibicarakan belakangan ini, seperti perang yang beberapa bulan lalu telah berakhir.
Dong Fang lebih banyak mendengarkan dan bertanya jika ada sesuatu yang tak dia ketahui. Pembicaraan itu terus berjalan hingga Dong Fang bertanya satu hal.
"Apa yang terjadi pada desa ini?" Dong Fang merasa aneh dengan desa ini, sepanjang dirinya berkeliling desa, ada lebih dari separuh rumah yang bisa dia rasakan tak ada kehidupan didalamnya, hal ini tentu saja terasa janggal dimata Dong Fang.
Mendengar pertanyaan itu, pria paruh baya hanya menghela nafas berat. Wajahnya kembali lesu, seperti yang terlihat diawal.