NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:17
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Panggilan Pertama “Mas”

Jawaban atas pertanyaan Arya datang tiga jam kemudian dalam bentuk surat berstempel resmi.

Guntur dinonaktifkan dari jabatannya selama pemeriksaan. Rumah Menteng harus dikosongkan dalam empat hari untuk proses penyegelan dan inventarisasi. Akses terhadap sejumlah rekening keluarga akan dibatasi setelah surat perintah terkait diterbitkan.

Tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan Guntur bersalah.

Namun bagi orang-orang di luar pagar, keputusan itu sudah terdengar seperti vonis.

Menjelang sore, dua wartawan menunggu di seberang jalan. Telepon rumah berdering berkali-kali, lalu mendadak sunyi setelah Guntur mencabut kabelnya. Rukmini membungkus piring-piring yang masih ingin dibawa. Sekar melipat pakaian sambil sesekali menyeka mata dengan punggung tangan.

Guntur dan Arya mengurus dokumen di ruang kerja.

Laras tidak ikut masuk. Ia berdiri di lorong ketika pintu terbuka dan mendengar suara Guntur yang berat.

“Sekar bisa tinggal dengan keluarga teman di Jakarta,” kata Arya. “Setidaknya sampai situasi lebih tenang.”

“Tidak,” sahut Sekar dari belakang Laras. Gadis itu memeluk dua map ke dadanya. “Kalau Papa dan Mama pergi, aku ikut.”

Rukmini yang menyusul hanya mengusap bahu putrinya. Tidak ada yang menyuruh Sekar pergi lagi.

Laras memandangi mereka. Keluarga ini sedang kehilangan hampir semuanya, tetapi satu per satu justru memilih berdiri lebih rapat. Semalam hanya dirinya yang berusaha memutus lingkaran itu.

“Kita berangkat ke Girimulyo paling lambat lusa. Rumah lama dekat desa masih bisa dipakai sebagai alamat singgah, tapi kondisinya tidak layak. Arya, cari kontrakan yang tidak menarik perhatian.”

Desa Girimulyo.

Nama itu sama persis dengan yang Laras ingat.

Sebuah desa di kaki bukit di Jawa Tengah, jauh dari lingkungan sosial keluarga Reksonegoro. Di sanalah mereka akan melewati masa paling sulit. Di sana pula Arya kelak bertemu Melati jika alur cerita tidak berubah.

Laras menahan telapak tangannya di perut.

Kali ini ia akan berada di sana lebih dulu.

Arya keluar dari ruang kerja membawa map dan selembar daftar. Ia berhenti ketika melihat Laras.

“Kita perlu bicara.”

Ia membawanya ke kamar, tetapi membiarkan pintu terbuka sedikit. Sikap seorang lelaki yang masih menjaga jarak, bahkan ketika sedang berdua dengan istrinya sendiri.

Di atas ranjang sudah ada koper terbuka. Arya memasukkan beberapa kaus dan celana lapangan tanpa melipatnya terlalu rapi. Sebuah tas kecil berisi obat diletakkan di samping koper.

“Keputusan resmi sudah turun,” katanya. “Kami harus keluar dari rumah ini dalam empat hari.”

“Aku dengar.”

“Tempat tujuan kita Desa Girimulyo. Dari kota kabupaten masih beberapa jam lewat jalan kecil.”

Laras mengangguk.

Arya meletakkan daftar di atas meja. “Tidak ada rumah sakit besar di dekat sana. Hanya Puskesmas di kecamatan. Jalan ke desa buruk saat hujan, listrik kadang padam, dan rumah yang bisa kita sewa mungkin tidak punya air mengalir.”

Ia menjelaskan semuanya tanpa melebih-lebihkan. Justru ketenangan itu membuat setiap kesulitan terdengar nyata.

“Kamu sedang hamil enam bulan,” lanjutnya. “Ini bukan waktu untuk membuktikan sesuatu.”

“Aku tidak sedang membuktikan apa pun.”

“Kembalilah ke rumah keluarga Wijaya.”

Nada Arya tidak kasar. Namun keputusan di baliknya terdengar final.

Laras menatap lelaki itu. “Aku sudah bilang tidak mau.”

“Kamu belum melihat Girimulyo.”

“Kamu juga belum melihatnya dalam keadaan sekarang.”

“Aku pernah bertugas di daerah yang lebih sulit.”

“Tapi kamu belum pernah menjadi perempuan hamil.”

Arya terdiam, mungkin karena tidak menyangka ia akan membalas seperti itu.

Laras menahan senyum. “Jadi kita sama-sama belum tahu persis. Tidak adil kalau hanya aku yang dilarang pergi.”

“Laras.”

“Aku bisa ikut pemeriksaan kandungan sebelum berangkat. Kita bawa obat, makanan, dan semua catatan medis. Kalau bidan bilang perjalanannya berbahaya, baru kita cari pilihan lain.”

Arya menatapnya tajam. “Kamu sudah memikirkan sebanyak itu?”

Tentu saja. Laras bahkan tahu jalan mana yang akan rusak setelah hujan pertama dan warung mana yang menjual kebutuhan paling lengkap. Namun ia tidak boleh terlihat mengetahui terlalu banyak.

“Aku hanya mencoba bersikap masuk akal.”

“Sikap masuk akalmu datang terlambat.”

Kalimat itu tepat mengenai tempat yang masih perih.

Laras tidak membela diri. Arya berhak meragukannya. Satu pagi yang baik tidak dapat menghapus berbulan-bulan luka.

Lelaki itu menutup koper setengah penuh. “Aku akan bicara dengan pengacara keluarga Wijaya. Mereka bisa menjemputmu besok.”

Laras merasakan kegelisahan yang tadinya ia tekan mulai merayap naik.

Jika dikirim pulang, ia akan terpisah dari keluarga Reksonegoro tepat ketika alur cerita mulai bergerak. Hendra dan Yuli tidak akan melindunginya. Mereka hanya akan menghitung berapa banyak uang yang masih bisa diambil dari statusnya sebagai menantu keluarga jenderal.

Argumen tidak akan menembus Arya. Lelaki itu sudah menyiapkan jawaban untuk semuanya.

Laras harus menyentuh bagian dirinya yang tidak bisa dijawab dengan logika.

Ia melangkah mendekat. Suaranya turun tanpa dibuat-buat.

“Mas Arya.”

Tangan Arya yang hendak mengambil tas obat berhenti di udara.

Laras sendiri merasakan jantungnya melonjak. Sejak membuka mata di tubuh ini, ia selalu memanggilnya Arya. Satu kata itu tiba-tiba membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.

Arya menoleh perlahan. “Apa?”

“Aku takut sendirian.”

Kerutan di antara alisnya melemah sedikit.

Laras menangkup perutnya. Kali ini ia tidak sedang menyusun alasan. Rumah Wijaya memang bukan rumah yang aman baginya. Di dunia asing ini, hanya orang-orang Reksonegoro yang nasibnya benar-benar ia kenal.

“Mas,” panggilnya sekali lagi, lebih lembut. “Jangan tinggalin aku.”

Keheningan mengisi kamar.

Di luar, terdengar Rukmini meminta Sekar memisahkan obat dari barang pecah belah. Suara kardus ditutup menjadi pengingat bahwa waktu mereka di rumah ini hampir habis.

Arya memandang wajah Laras cukup lama. Tatapannya turun ke perutnya, lalu kembali naik.

“Kamu yang ingin pergi dariku semalam.”

“Dan hari ini aku memilih tinggal.”

“Bagaimana kalau besok berubah lagi?”

“Bawa aku bersamamu, lalu lihat sendiri.”

Rahang Arya masih kaku, tetapi tangannya tidak lagi meraih ponsel untuk menghubungi keluarga Wijaya.

“Di sana tidak ada sopir, pelayan, atau makanan yang bisa kamu pesan kapan saja.”

“Aku tahu.”

“Jangan mengeluh nanti di sana.”

Laras menahan napas. “Berarti aku boleh ikut?”

Arya tidak menjawab langsung. Ia mengambil tas obat dari meja dan memasukkannya ke koper.

“Periksa kandunganmu besok pagi. Kalau dokter melarang perjalanan, kita ikuti dokter.”

Senyum Laras nyaris lolos. “Baik.”

Ia hendak mengambil pouch kecil di atas lemari, tetapi letaknya terlalu tinggi. Baru saja ia berjinjit, Arya sudah meraihnya lebih dulu.

“Jangan begitu,” tegurnya. “Kalau jatuh bagaimana?”

Pouch itu diletakkan di tangan Laras. Setelah itu Arya menarik kursi dari dekat meja dan menggesernya ke belakang lututnya.

“Duduk.”

Nada suaranya tetap dingin.

Namun tubuhnya sudah lebih dulu memilih untuk menjaga.

Laras duduk sambil memeluk pouch tersebut. Di luar kamar, rumah mereka sedang runtuh sedikit demi sedikit.

Di dalam kamar, satu kata sederhana baru saja membuka retakan pertama pada dinding di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!