**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Wajah yang Terasa Tak Asing
"Kau tidak bilang acaranya sebesar ini."
Kayla berdiri di pintu ballroom hotel bintang lima sambil memandang ratusan tamu, meja bundar berlapis kain emas, dan layar raksasa yang menampilkan nama yayasan penyelenggara gala amal.
"Kalau kubilang, kau mungkin tidak datang," jawab Adrian.
"Tepat."
Beberapa hari setelah pagi dengan mawar merah, Adrian mengajaknya menghadiri gala bersama kalangan penerbangan dan keluarga konglomerat Jakarta. Bagi Kayla, itu bukan makan malam. Itu ruang pemeriksaan dengan terlalu banyak mata dan tidak ada stetoskop untuk melindunginya.
Adrian mengenakan setelan hitam. Kayla memilih gaun biru tua sederhana tanpa perhiasan mencolok. Ketika beberapa kamera mengarah kepada mereka, Adrian menawarkan lengannya.
"Kita bisa pulang setelah makan malam."
"Aku pernah menangani delapan pasien kecelakaan dalam satu giliran jaga. Aku bisa menghadapi ballroom."
"Itu bukan perbandingan yang adil. Pasien kecelakaan tidak ngerumpi."
Kayla menahan senyum dan mengaitkan tangan pada lengannya.
Begitu mereka masuk, percakapan di meja terdekat melambat. Foto pernikahan kilat mereka masih beredar di akun gosip. Sebagian tamu mengenal Adrian sebagai kapten Angkasa Timur. Sebagian lain mengetahui nama Gunawan di belakangnya. Tidak semua mengetahui seberapa jauh hubungan itu.
"Kapten Adrian akhirnya membawa istrinya," sapa seorang pengusaha penerbangan.
"dr. Kayla," Adrian memperkenalkan. "Dokter IGD RS Sentosa."
Ia tidak mengatakan hanya istriku. Ia menyebut pekerjaan Kayla lebih dulu.
Hal kecil itu membuat Kayla berdiri sedikit lebih tegak.
Di sisi lain ballroom, keluarga Wijaya baru tiba.
Winston Wijaya berjalan bersama istrinya, Selina, dan putra mereka, Reyner. Vanessa menyusul di belakang dengan gaun merah anggur dan kalung berlian yang menangkap cahaya setiap kali ia bergerak.
Reyner baru kembali dari penerbangan beberapa hari sebelumnya. Di luar pekerjaannya sebagai kapten, ia membantu keluarga menyisir catatan rumah sakit lama dan laporan orang hilang untuk mencari adik perempuannya.
Yaya.
Nama kecil yang sudah dua puluh lima tahun hidup dalam setiap perayaan ulang tahun yang tidak lengkap.
"Mama tidak perlu datang kalau lambung Mama masih sakit," kata Reyner.
Selina menggeleng. "Acara yayasan ini sudah dijadwalkan lama. Lagi pula, duduk di rumah hanya membuat Mama memikirkan Yaya."
Vanessa menghela napas tipis. "Mama selalu memikirkannya, bahkan ketika aku ada di depan Mama."
"Ini bukan soal membandingkan kalian," jawab Selina.
"Tentu."
Nada Vanessa manis, tetapi tangannya meremas tas kecil lebih kuat.
Winston memberi isyarat agar mereka tidak berdebat di depan tamu. Reyner lalu melihat ke arah panggung dan tanpa sengaja menemukan Adrian di antara kerumunan.
"Kapten Adrian datang," katanya.
Vanessa langsung mengikuti arah pandangnya.
Wajahnya berubah ketika melihat tangan Kayla masih berada di lengan Adrian.
Selina tidak memperhatikan putri angkatnya. Tatapannya justru tertahan pada wajah Kayla.
Dokter muda dari lorong rumah sakit.
"Dia..." Selina berhenti.
"Siapa?" tanya Winston.
"Dokter yang menolongku waktu hampir jatuh di RS Sentosa."
Selina melangkah tanpa sadar. Pada saat yang sama, Kayla menoleh untuk mengambil minuman dari pelayan. Cahaya lampu jatuh tepat pada sisi wajahnya.
Jantung Selina berdebar keras.
Alis itu. Bentuk mata itu. Bahkan cara Kayla menahan senyum tampak seperti bayangan dirinya sendiri di foto dua puluh lima tahun lalu.
"Mama?" Reyner memegang sikunya.
"Lihat dokter itu."
Reyner mengikuti pandangan ibunya. Kayla sedang berbicara dengan seorang perempuan tua di dekat meja yayasan. Ketika tertawa, sudut matanya melengkung dengan cara yang membuat Reyner merasa pernah melihatnya berkali-kali.
Di wajah Selina.
"Mirip Mama," katanya pelan.
Selina menelan ludah. "Kau juga melihatnya?"
Sebelum Reyner menjawab, Adrian membawa Kayla mendekat.
"Kapten Rey," sapa Adrian.
"Kapten Adrian." Reyner menjabat tangannya, lalu beralih kepada Kayla. "Selamat atas pernikahannya. Saya Reyner Wijaya."
"Kayla." Ia membalas jabatan tangan itu. "Terima kasih."
Selina berdiri tepat di depannya sekarang. Rasa sesak yang muncul di rumah sakit kembali datang, lebih kuat.
"Kita pernah bertemu," kata Kayla. "Di lorong RS Sentosa. Bagaimana lambung Tante?"
"Sudah lebih baik." Selina berusaha tersenyum. "Kau masih mengingatnya?"
"Saya dokter. Mengingat wajah pasien bagian dari pekerjaan."
"Mama memang sering lupa makan kalau sedang memikirkan sesuatu," kata Reyner.
"Rey," tegur Selina.
Kayla tersenyum kecil. "Kalau begitu Kapten Rey harus lebih sering mengingatkan."
Percakapan itu biasa saja. Namun Selina harus menahan keinginan aneh untuk menyentuh rambut Kayla, memastikan wajah di depannya benar-benar nyata.
Saat Kayla dan Adrian bergeser memberi jalan kepada tamu lain, Selina meraih lengan Reyner.
"Cari tahu siapa orang tuanya."
Reyner menatap ibunya. "Karena wajahnya mirip Mama?"
"Aku tidak tahu." Selina menyentuh dadanya. "Dua kali bertemu, dua kali juga Mama merasa seperti..."
Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Seperti menemukan seseorang yang sudah terlalu lama hilang.
"Jangan berharap terlalu cepat," kata Reyner lembut. "Yaya menghilang saat masih kecil. Banyak orang bisa memiliki bentuk mata yang sama."
"Mama tahu."
"Tapi aku akan bertanya kepada orang Angkasa Timur. Tanpa membuat siapa pun curiga."
Selina mengangguk, meski tatapannya tidak meninggalkan Kayla.
Vanessa datang sebelum keheningan menjadi terlalu jelas.
"Adrian." Ia menyebut nama itu dengan akrab, seolah Kayla tidak berdiri di sana. "Ema Lanny bilang kau tidak sempat datang makan malam keluarga. Rupanya kau sibuk menikah."
Adrian menarik tangan Kayla sedikit lebih dekat pada lengannya. "Vanessa, ini istriku."
"Aku tahu." Vanessa memandang Kayla. Senyumnya tipis. "Seluruh Jakarta tahu."
Reyner menangkap nada itu. "Vanya."
"Aku hanya ingin berkenalan dengan perempuan yang membuat Adrian mengubah rencana hidup dalam beberapa hari."
Pembawa acara meminta tamu duduk. Adrian membawa Kayla ke meja mereka, tetapi tatapan Vanessa terus mengikuti.
Di meja utama yayasan, seorang pengusaha senior bertanya mengapa dokter IGD ikut gala konglomerat. Pertanyaannya terdengar sopan, tetapi beberapa orang langsung berhenti makan untuk mendengar jawaban.
"Karena pasien yang tidak mampu juga masuk melalui pintu IGD yang sama," jawab Kayla. "Kalau dana malam ini benar-benar untuk layanan darurat, saya bisa membantu yayasan menentukan alat mana yang paling dibutuhkan, bukan yang paling bagus untuk difoto."
Perempuan di sebelah pengusaha itu tertawa. "Dokter ini berani juga."
"Saya hanya tidak ingin dana membeli alat mahal yang akhirnya disimpan karena perawat belum dilatih menggunakannya."
Kayla lalu menjelaskan kebutuhan monitor portabel dan pelatihan resusitasi dengan bahasa sederhana. Dalam beberapa menit, dua donor meminta sekretariat yayasan menghubunginya setelah acara.
Adrian tidak ikut menjelaskan atau memamerkan istrinya. Ia hanya menggeser segelas air ke dekat tangan Kayla ketika perempuan itu selesai berbicara.
Di meja Wijaya, Reyner memperhatikan semuanya. Wajah Kayla memang mengingatkannya pada Selina, tetapi ketenangan saat berbicara di depan orang banyak terasa anehnya dekat juga.
Sepanjang makan malam, Kayla merasakan dua pasang mata dari arah keluarga Wijaya.
Tatapan Selina hangat dan bingung.
Tatapan Vanessa seperti ujung pisau.
Ketika Kayla bangkit menuju meja minuman, Vanessa juga berdiri. Ia mengambil segelas minuman berwarna keemasan dan melangkah memotong jalan.
Beberapa tamu di sekitar mereka mulai memperhatikan.
Vanessa mengangkat gelasnya, tersenyum, lalu membuka mulut.
"Jadi kau perempuan dari toko kecil di Bekasi itu."