NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Tak Bisa Menahan Diri

"Coba yang putih."

Nindy mendorong sebuah gaun ke pelukan Sekar sebelum menutup tirai ruang ganti.

"Aku cuma cari blus kerja."

"Sekarang lo punya pacar yang dingin di luar, lengket di dalam. Sesekali bikin dia susah napas."

Sekar keluar lima menit kemudian mengenakan gaun putih selutut. Potongannya pas di pinggang, sederhana tetapi membuat garis tubuhnya terlihat lembut.

Nindy mengangkat ponsel.

"Jangan foto."

Klik.

"Nindy!"

Foto itu sudah terkirim kepada Narendra dengan pesan singkat.

Bagus nggak?

***

Di kantor yang hampir kosong, Narendra sedang membaca laporan ketika layar ponselnya menyala.

Ia membuka foto tanpa persiapan.

Sekar berdiri di depan cermin ruang ganti, satu tangan menahan tirai. Gaun putih itu mengikuti pinggang dan pinggulnya dengan pas. Rambutnya jatuh di satu bahu. Wajahnya terlihat malu sekaligus kesal kepada orang yang memotret.

Panas menjalar dari tengkuk Narendra ke bawah perut.

Tubuhnya bereaksi begitu cepat hingga ia harus mengubah posisi duduk. Hidungnya mulai terasa panas. Ia menekan batang hidung dengan dua jari, menahan sensasi yang sudah terlalu dikenalnya.

Pintu terbuka.

"Pak, dokumen untuk rapat Senin—"

Fikri berhenti.

Narendra meletakkan ponsel telungkup dan menarik kursinya lebih dekat ke meja. "Taruh di sana."

"Baik, Pak."

Fikri menaruh map tanpa melihat ke bawah. Telinga atasannya merah, napasnya sedikit berat, dan satu tangan tetap berada di balik meja. Ia memilih tidak mengetahui lebih banyak.

"Ada lagi?" tanya Narendra.

"Tidak, Pak."

Setelah pintu tertutup, Narendra mengirim pesan suara.

"Bagus. Beli."

Ia juga mentransfer uang dengan keterangan uang jalan.

Sekar langsung menelepon.

"Mas, aku bisa bayar sendiri."

"Aku tahu."

"Terus kenapa transfer?"

"Karena aku ingin. Kalau nggak mau dipakai beli gaun, pakai makan sama Nindy."

"Kebanyakan."

"Sisanya simpan."

Narendra mengakhiri telepon sebelum suara Sekar membuat reaksinya semakin sulit disembunyikan. Ia berdiri hati-hati, mengambil segelas air dingin, lalu menempelkan gelas itu ke tengkuk.

Di ruang ganti, Sekar menunjukkan notifikasi transfer kepada Nindy.

"Dia gila," katanya. "Harga gaunnya nggak sampai setengah ini."

Nindy melihat angka tersebut dan bersiul. "Pacar lo ternyata hobi bagi uang jalan."

"Aku mau balikin."

"Kalau lo nggak nyaman, bilang. Tapi jangan menolak semua pemberian cuma karena keluarga lo selalu bikin setiap rupiah terasa seperti utang."

Sekar menatap gaun putih di cermin. Ia tahu Nindy benar, tetapi ia juga tidak ingin Narendra mengira semua kebutuhannya harus dibayar.

Ia mengetik pesan.

Gaunnya aku bayar sendiri. Uangnya kupakai untuk makan dan beli sesuatu buat Mas. Nggak boleh protes.

Balasan datang cepat.

Baik.

Sekar tersenyum. Tidak ada desakan, tidak ada kalimat bahwa dirinya terlalu sensitif. Narendra menerima batas itu semudah menerima pilihannya membayar makanan penutup pada kencan pertama.

Ia membeli gaun dengan kartu debit sendiri. Setelahnya, ia berhenti di toko aksesori pria dan memilih saputangan katun biru tua dengan bordir melati kecil di sudutnya.

"Buat mimisan?" Nindy bercanda.

Sekar teringat dua kali melihat Narendra tiba-tiba menekan hidung. "Bisa jadi. Dia kadang gampang kepanasan."

Nindy tertawa tanpa tahu tebakannya hampir tepat.

***

Menjelang petang, Narendra menjemput mereka di mal. Nindy menyerahkan beberapa kantong belanja kepada pria itu.

"Titip Sekar. Jangan lupa gaunnya dipuji langsung."

"Nindy," protes Sekar.

Narendra menerima kantong tersebut. "Sudah saya puji lewat pesan."

"Kurang. Perempuan butuh versi tatap muka."

Nindy pergi sebelum Sekar sempat membalas.

Di dekat parkiran, Sekar membeli satu gelas milk tea. Narendra datang membawa kantong-kantongnya, lalu menunduk dan minum melalui sedotan yang sama.

Sekar menatapnya. "Itu punyaku."

"Aku haus."

"Beli sendiri."

Narendra minum sekali lagi. Pandangannya berhenti pada bibir Sekar yang tadi menyentuh sedotan. "Lebih enak yang ini."

Sekar merebut gelas dengan pipi panas.

Di mobil, Narendra akhirnya memberi pujian langsung.

"Gaunnya bagus."

"Gaunnya atau orangnya?"

"Dua-duanya. Tapi orangnya lebih bagus."

Sekar menoleh ke jendela agar ia tidak melihat senyumnya.

Ia kemudian menyerahkan kotak tipis dari tas belanja.

"Ini buat Mas."

Narendra membuka saputangan biru tua itu. Ibu jarinya menyapu bordir melati yang dijahit Sekar cepat di kedai kopi sambil menunggu jemputan.

"Kamu buat sendiri?"

"Cuma bordir kecil. Biar uang transfernya nggak terasa sepihak."

Narendra melipat kembali kain itu dengan hati-hati. "Aku akan pakai."

"Jangan disimpan di lemari."

"Aku bilang akan pakai."

Ia memasukkannya ke saku dada. Sekar tidak tahu bahwa kurang dari beberapa jam kemudian, saputangan itu benar-benar akan dibutuhkan.

***

Narendra mengikuti Sekar masuk ke apartemen dengan alasan membantu membawa belanjaan. Setelah semua kantong diletakkan, ia tetap duduk di sofa.

"Mas nggak pulang?"

"Menemani sebentar."

"Kita cuma terpisah tiga meter."

"Tetap jauh."

Sekar duduk di ujung sofa dan menyandarkan kepala. Kakinya pegal setelah berjam-jam berjalan.

Narendra menarik kedua betisnya ke pangkuan. "Sini."

"Mau apa?"

"Pijat."

Telapak tangannya menekan betis Sekar perlahan. Kekuatan jarinya pas, tidak menyakitkan. Sekar yang semula hendak protes akhirnya membiarkan tubuhnya bersandar lebih dalam.

"Enak?"

"Lumayan."

"Cuma lumayan?"

Narendra menekan titik di telapak kakinya dengan ibu jari.

Sebuah suara lembut lolos dari bibir Sekar. Jari-jari kakinya mengerut.

Napas Narendra terhenti.

Suara kecil itu langsung menyalakan tubuhnya. Darah berkumpul cepat di antara pahanya sampai terasa keras dan nyeri. Ia menggeser kaki Sekar lebih tinggi ke lutut, lalu meraih bantal sofa dan meletakkannya di atas pangkuan.

"Kenapa pakai bantal?" tanya Sekar dengan mata terpejam.

"Dingin."

"Padahal AC-ku dua puluh enam derajat."

"Tetap dingin."

Narendra melanjutkan pijatan dengan satu tangan. Tangan lain menahan bantal tetap di tempatnya. Setiap helaan napas Sekar membuat tubuhnya menegang lagi.

Astaga, aku ingin dia.

Keinginan itu tidak lagi samar. Ia ingin menarik Sekar ke pangkuan, mencium lehernya, merasakan tubuh perempuan itu tanpa kain di antara mereka.

Namun kalimat lain datang lebih keras.

Belum halal. Jangan.

Narendra memperlambat pijatan. Ia tidak akan menjadikan kelengahan Sekar sebagai izin.

Beberapa menit kemudian, napas Sekar menjadi teratur. Ia tertidur dengan pipi menempel pada sandaran sofa.

Narendra mengangkat kakinya pelan dari pangkuan, menunggu tubuhnya cukup tenang, lalu memindahkan bantal. Ia berlutut di samping sofa dan menatap wajah Sekar.

Ujung jarinya hampir menyentuh bibir yang sedikit terbuka.

Ia menarik tangannya kembali.

Narendra mengambil selimut tipis, menutup tubuh Sekar hingga bahu, lalu berjalan cepat ke kamar mandi.

Air dingin menghantam kepala dan tengkuknya. Ia berdiri di bawah pancuran cukup lama sampai rasa nyeri di tubuhnya surut.

Ketika mengangkat wajah ke cermin, setitik merah terlihat di bawah hidung.

Narendra menyekanya dengan ibu jari.

Pantulan pria yang kehilangan kendali hanya karena satu suara lembut Sekar tampak asing, tetapi tidak bisa lagi ia sangkal.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!