Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Kalau Mau Menciumku, Bangunkan Aku
Langkah itu berhenti di depan kamar Vivi.
Pintu terbuka perlahan. Cahaya dari lorong membentuk garis tipis di lantai, lalu menghilang ketika pintu kembali dirapatkan tanpa dikunci.
Vivi tetap memejamkan mata.
Aroma anggur yang samar mendekat bersama wangi sabun Sebastian. Kasur turun sedikit pada sisi kanan. Tidak ada tangan yang langsung menyentuhnya. Selama beberapa detik, pria itu hanya duduk dalam diam.
“Vivi,” panggilnya pelan.
Ia tidak menjawab.
Sebastian mengulangi namanya sekali lagi. Setelah itu terdengar gesekan kain. Jemarinya menyentuh telinga boneka beruang, menarik mainan itu sedikit agar tidak menekan wajah Vivi.
Napas hangat mendekati dahinya.
Jantung Vivi menghantam tulang rusuk. Ia menunggu sentuhan bibir yang akan membuktikan seluruh dugaan.
Namun Sebastian berhenti.
Jarak di antara mereka tinggal sedikit. Vivi dapat merasakan napasnya, tetapi pria itu tidak bergerak lebih dekat.
“Selamat malam,” bisiknya.
Saat Sebastian mulai mundur, Vivi membuka mata.
Wajah pria itu membeku tepat di atasnya.
“Kalau mau menciumku,” kata Vivi, berusaha menjaga suara tetap stabil, “bangunkan aku.”
Sebastian menjauh seketika. Wajahnya kehilangan warna.
“Kamu belum tidur.”
“Belum.”
Tatapannya bergerak ke piring kue yang tinggal sedikit krim, lalu kembali ke Vivi. “Kuenya...”
“Tidak kumakan. Sampelnya sedang diperiksa.”
Rahang Sebastian menegang. “Kamu pikir aku memasukkan sesuatu?”
“Aku belum tahu. Karena itu aku memeriksanya.” Vivi duduk dan menyalakan lampu samping. “Aku juga memeriksa ini.”
Ia mengambil tablet, membuka tiga foto lama, lalu menunjukkan catatan pintu dan pendapat dokter kulit independen.
Sebastian tidak mencoba mengambil perangkat itu. Ia membaca dalam diam, tubuhnya semakin kaku pada setiap halaman.
“Tiga malam,” kata Vivi. “Kamu masuk ke kamarku. Paginya ada bekas yang disebut alergi. Dokter lain bilang itu lebih mungkin memar akibat hisapan.”
Tidak ada jalan bagi Sebastian untuk pura-pura tidak memahami.
“Apakah kamu menciumku saat aku tidur?”
Hening terasa panjang.
“Ya,” jawabnya akhirnya.
Kejujuran itu tetap terasa seperti tamparan.
Vivi memeluk boneka beruang ke dada. “Di mana?”
“Lehermu. Tulang selangka.” Sebastian berhenti, lalu memaksa diri melanjutkan. “Sekali di pahamu.”
Wajah Vivi terbakar, antara marah dan malu. “Lalu kamu meminta dokter menyebutnya alergi?”
“Aku memanggilnya karena tandanya tidak hilang sebelum pagi. Dia bertanya apa yang terjadi. Aku mengatakan yang sebenarnya, lalu memintanya memberi penjelasan lain kepadamu.”
“Dan dia setuju.”
“Ya.”
“Kalian membuatku percaya tubuhku tidak bisa mengenakan pakaian balet.”
Mata Sebastian menutup sejenak. “Aku tidak memikirkan akibatnya sejauh itu.”
“Itu bukan pembelaan.”
“Aku tahu.”
Vivi menatap wajahnya. Tidak ada senyum licik atau rasa bangga. Hanya ketegangan yang hampir menyerupai seseorang menunggu vonis.
“Kenapa kamu melakukannya?”
Jemari Sebastian mencengkeram sisi kasur. “Aku ingin menyentuhmu. Kamu selalu menjauh ketika sadar.”
“Jadi kamu menunggu sampai aku tidak bisa menolak?”
Pertanyaan itu membuat napasnya terhenti.
“Ya.” Suaranya kasar. “Itu salah.”
Vivi tidak menyangka pengakuan tersebut akan datang tanpa alasan tambahan. Kemarahannya tidak hilang, tetapi setidaknya Sebastian tidak mencoba mengubah pelanggaran menjadi romantis.
“Apakah kuenya mengandung obat?”
“Tidak.”
“Dulu?”
“Tidak pernah. Kamu biasanya tidur sangat lelap setelah latihan. Aku memesan kue karena kamu menyukainya, bukan untuk membuatmu tidur.”
“Aku akan menunggu hasil laboratorium.”
“Kamu berhak.”
Vivi menarik napas panjang. “Mulai malam ini, kamu tidak masuk ke kamarku saat aku tidur kecuali ada keadaan medis atau bahaya.”
“Baik.”
“Tidak ada ciuman, sentuhan di balik pakaian, atau mengambil barang tanpa aku tahu.”
Wajah Sebastian menjadi lebih pucat pada kalimat terakhir, tetapi ia mengangguk. “Baik.”
“Dan besok semua komunikasi dokter lama tentang diagnosis itu diserahkan kepada pengacaraku. Bukan hanya pengacaramu.”
“Aku akan mengirimkannya.”
“Akses pintu kamarku juga dicabut dari akunmu. Pak Yanto hanya punya akses darurat yang tercatat.”
Kali ini Sebastian terdiam lebih lama. Naluri menolak terlihat jelas pada rahangnya.
“Sebas.”
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan mencabutnya.”
Vivi meletakkan tablet. “Kamu marah?”
“Pada diriku sendiri.”
“Bukan karena aku memasang batas?”
“Aku tidak suka kehilangan akses.” Tatapannya turun ke tangan Vivi yang memeluk boneka. “Tapi aku lebih takut kamu menyuruhku pergi dan tidak kembali.”
Itu bukan pernyataan cinta. Lebih menyerupai pecahan ketakutan yang terlalu telanjang.
Vivi masih marah. Ia juga masih mengingat pria itu berdarah di studio karena datang menyelamatkannya. Keduanya benar. Kebaikan Sebastian tidak menghapus pelanggarannya, dan pelanggarannya tidak membuat semua perubahan yang telah ia lakukan menjadi palsu.
“Aku memang ingin kamu keluar malam ini,” katanya.
Sebastian menunduk sekali. “Baik.”
Ia berdiri.
“Tapi sebelum itu,” lanjut Vivi, “aku ingin membuktikan satu hal.”
Pria itu berhenti di sisi tempat tidur.
Vivi mengambil ponsel dari balik buku. “Percakapan kita terekam.”
Sebastian melihat lampu indikator di layar. “Simpan.”
“Kamu tidak keberatan?”
“Itu pengakuanku. Kamu berhak menyimpannya.”
Vivi menghentikan rekaman dan memindahkan berkasnya ke folder terkunci. Apa yang terjadi sesudah ini bukan bagian dari perangkap atau barang bukti. Ia ingin keputusan berikutnya berdiri sebagai pilihannya sendiri.
Vivi menelan gugup. “Tanyakan kepadaku.”
“Apa?”
“Hal yang tadi ingin kamu lakukan.”
Sebastian memandangnya seolah takut salah mendengar. “Boleh aku menciummu?”
“Di bibir. Tidak meninggalkan bekas. Dan berhenti kalau aku bilang cukup.”
“Baik.”
“Boleh.”
Ia kembali duduk, tetapi tidak langsung menyentuh. Sebastian menunggu sampai Vivi meletakkan boneka di samping dan mengangkat wajah. Barulah tangan kirinya menyentuh pipi perempuan itu.
Ciuman pertama lembut, hampir terlalu hati-hati. Vivi dapat merasakan ia menahan seluruh tubuhnya. Ia menarik kerah kemeja Sebastian sedikit, memberi izin untuk mendekat.
Bibir pria itu kembali menekan, kali ini lebih dalam. Ujung lidahnya menyapu bibir Vivi, berhenti menunggu. Ketika Vivi membuka mulut dan membalas, napas Sebastian berubah berat.
Panas menyebar ke leher Vivi. Tangan di pipinya turun ke pinggang, tetap berada di atas kain piyama. Tidak ada gerakan tersembunyi. Setiap kali ciuman berubah lebih kuat, Sebastian memberi jeda yang cukup baginya untuk mundur.
Vivi tidak mundur.
Ia mengeluarkan suara kecil ketika bibir mereka terpisah. Mata Sebastian langsung menggelap.
“Boleh sekali lagi?” tanyanya.
Vivi hampir menyembunyikan wajah di boneka. Namun pertanyaan itu adalah tepat apa yang ia minta.
“Boleh.”
Ciuman kedua membuatnya kehabisan napas lebih cepat. Ketika Vivi menepuk bahunya dan berkata, “Cukup,” Sebastian langsung berhenti.
Tidak ada keluhan. Tidak ada tawar-menawar.
Ia hanya menempelkan dahi ke dahi Vivi, bernapas berat.
“Begini,” kata Vivi pelan. “Kalau aku sadar, aku bisa memilih.”
“Aku mengerti.”
“Kamu harus benar-benar mengerti.”
“Aku akan belajar.”
Sebastian berdiri dan berjalan menuju pintu sesuai permintaan awal. Sebelum keluar, ia menoleh sekali.
“Selamat malam, Vivi.”
“Selamat malam, Sebas.”
Pintu tertutup tanpa dikunci.
Vivi berbaring kembali dengan bibir panas dan hati yang masih berantakan. Malam itu ia tidur sendiri, tetapi untuk pertama kalinya, kesendirian tersebut terasa seperti pilihan yang dihormati.