NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018: Robert Salim Menyerah

Ruang pertemuan MakanYuk dingin seperti lemari arsip.

Di atas meja panjang, dua berkas diletakkan saling berhadapan. Satu berkas dari KH Adiwangsa: gugatan class action, laporan polisi, daftar bukti awal rumah sakit. Satu berkas dari MakanYuk: keberatan prosedural, salinan kontrak kemitraan, dan tiga halaman bahasa korporat yang mencoba membuat luka Anwar terdengar seperti risiko pribadi.

Robert Salim duduk di ujung meja dengan jas gelap dan senyum tipis.

"Pak Gunawan," katanya, "saya kira setelah laporan polisi kemarin, kantor Anda perlu waktu menenangkan diri. Ternyata Anda justru datang membawa berkas baru."

Gunawan membuka pulpen. "Kami datang karena undangan klarifikasi awal dari pihak Anda."

"Klarifikasi, bukan pengakuan."

"Tidak ada yang meminta Bapak mengaku terlalu cepat," kata Alexander.

Robert menoleh. "Pak Alexander masih suka memilih kata."

"Dalam hukum, kata yang salah bisa menyelamatkan orang yang salah."

Senyum Robert berhenti di bibir.

Di belakangnya, Bagas Pratama dan dua pengacara MakanYuk membuka laptop. Salah satu dari mereka terus melirik dokumen laporan polisi seolah kertas itu bisa menggigit.

Robert mengetuk kontrak kemitraan. "Posisi kami tetap. Para pengemudi adalah mitra independen. Mereka menandatangani perjanjian sukarela. Sengketa ini seharusnya diselesaikan lewat mekanisme internal aplikasi, bukan digiring menjadi pertunjukan hukum."

"Mekanisme internal yang menolak membuka log order?" tanya Alexander.

"Data perusahaan dilindungi."

"Tapi saat keluarga korban panik di IGD, perusahaan cukup terbuka membawa surat pelepasan hak."

Bagas bergerak gelisah.

Robert tetap tenang. "Itu bentuk bantuan kemanusiaan."

Alexander mendorong satu lembar ke tengah meja. "Bantuan kemanusiaan biasanya tidak meminta keluarga mengakui tidak ada hubungan kerja dan tidak akan menuntut."

Robert membaca sekilas. "Interpretasi."

"Kalau begitu kita masuk interpretasi berikutnya."

Alexander membuka folder kedua. Isinya hanya garis waktu, belum hasil lab atau tuduhan final.

"Pukul 10.20, gugatan diterima. Pukul 10.43, Bapak berbicara dengan Pak Anwar di lorong pengadilan. Pukul 16.40, entri infus muncul di RS Kota dengan akun perawat yang membantah melakukannya. Pukul 18.03, botol infus batch berbeda ditemukan sebelum masuk ke tubuh Pak Anwar. Malamnya, firma kami menerima pesan yang menyebut gugatan bisa dicabut dan nyawa bisa selamat."

Ruangan hening.

Robert tertawa pelan. "Pak Alexander, hati-hati. Menyusun jam bukan berarti menyusun sebab-akibat."

"Benar."

Jawaban itu membuat Robert sedikit menyipit.

Alexander melanjutkan, "Saya tidak mengatakan Bapak memerintahkan siapa pun. Saya hanya mengatakan setiap kali posisi hukum MakanYuk melemah, keselamatan Pak Anwar ikut tertekan. Kalau semua ini kebetulan, Bapak seharusnya paling berkepentingan membantu polisi membuktikan bahwa itu kebetulan."

Debat Persidangan bergerak dalam diri Alexander seperti otot yang baru panas.

Ting! Argumentasi Hukum dan Debat Persidangan diuji dalam konfrontasi formal.

Robert tidak bisa menyerang kalimat itu tanpa terlihat menolak penyelidikan.

"MakanYuk akan kooperatif sesuai batas hukum," katanya.

"Bagus. Kami meminta log akses data mitra Anwar Halim sejak tiga hari sebelum kecelakaan, daftar staf yang membuka profilnya setelah gugatan didaftarkan, dan surat internal terkait respons perusahaan atas laporan polisi."

Salah satu pengacara MakanYuk langsung berbisik kepada Robert.

Bisikan itu pendek.

Tetapi cukup.

Robert mengangkat tangan. "Permintaan itu terlalu luas. Kami perlu waktu mempelajari relevansinya."

Gunawan mencatat. "Jadi MakanYuk meminta penundaan tanggapan?"

"Kami meminta waktu wajar."

"Berapa lama?"

"Empat belas hari kerja."

Alexander tersenyum kecil. "Untuk perusahaan yang bisa mengirim perwakilan ke IGD dalam hitungan jam, empat belas hari untuk mencari log internal terasa panjang."

Bagas menatapnya tajam.

Robert menekan folder kulit hitamnya dengan jari. "Pak Alexander, semangat muda Anda menarik. Tapi dalam perkara besar, terburu-buru sering membuat orang tersandung."

"Saya tidak terburu-buru. Saya menghitung siapa yang mulai memperlambat."

Gunawan menutup pulpen. "Kami setuju penundaan tujuh hari, dengan catatan permintaan data kami dicatat tertulis dan salinan diberikan hari ini. Jika tidak, kami ajukan permohonan ke majelis dan pemberitahuan kepada penyidik bahwa MakanYuk tidak kooperatif."

Robert menatap Gunawan.

Lalu ia menatap Alexander.

Untuk pertama kali, senyum itu tidak kembali penuh.

"Tujuh hari," katanya.

Di layar laptop pengacara MakanYuk, kursor berhenti di tengah kalimat. Bagas menelan ludah.

Itu belum kemenangan besar. Robert juga belum mengaku atau menyerah.

Tetapi raksasa yang kemarin mengancam sudah mengambil satu langkah mundur di meja sendiri.

Ting! Tekanan psikologis terhadap lawan meningkat.

Ting! Level meningkat: Lv8 Advokat Pemula.

Pertemuan selesai tanpa jabat tangan hangat.

Di lift, Gunawan berkata pelan, "Dia tidak panik."

"Belum."

"Tapi?"

"Dia berhenti menyerang. Mulai mengatur waktu."

Gunawan menatap angka lantai turun satu per satu. "Orang yang mengatur waktu biasanya menunggu sesuatu terjadi."

Alexander tidak menjawab.

Di lobi MakanYuk, Robert berdiri di balik tiang kaca, tampaknya menelepon. Ia mengira mereka sudah keluar. Suaranya tidak terdengar jelas, tetapi Alexander melihat bibirnya bergerak cepat.

Satu kata terbaca.

Malam ini.

Robert menutup telepon begitu melihat pantulan Alexander di kaca.

Dua pria itu saling menatap melalui permukaan bening yang memantulkan logo MakanYuk.

Robert kembali tersenyum.

Kali ini, senyumnya bukan untuk negosiasi.

Alexander segera mengirim pesan ke Yanti dan dr. Tanto.

Jangan tinggalkan Pak Anwar sendirian malam ini. Apa pun yang terjadi.

Pesan terkirim.

Di luar gedung MakanYuk, matahari masih terang.

Tetapi Alexander tahu serangan berikutnya tidak menunggu malam benar-benar gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!