NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Mata yang Melihat Segalanya

Ia hanya butuh Jono mengatakan satu kalimat lagi.

Sore itu, Raka tidak langsung mencari Jono.

Ia mencari Lina lebih dulu.

Gadis itu sedang menutup warung kecil di tepi jalan desa ketika Raka datang. Begitu melihatnya, tangan Lina berhenti di gembok pintu. Di belakang warung, Jono duduk memeluk lutut, menatap tumpukan bungkus jelly kosong yang sudah disapu ke sudut.

"Saya tidak mau Jono dibawa polisi," kata Lina sebelum Raka sempat bicara.

"Aku juga tidak."

"Semua orang bilang begitu." Lina menatapnya keras. "Lalu yang lemah tetap diseret. Yang pintar bicara tetap bebas."

Raka tidak membantah. Kata-kata itu terlalu jujur untuk dipotong.

"Kalau Jono diam," katanya pelan, "Wisnu punya celah untuk bebas. Dan kalau Wisnu bebas, orang-orang akan mencari orang lain untuk disalahkan. Orang paling mudah disalahkan adalah Jono."

Wajah Lina berubah.

"Jono tidak membunuh Dewi."

"Aku tahu. Kamu tahu. Tapi semua orang belum tahu. Kesaksian Jono bukan untuk menjebaknya. Justru untuk membuktikan dia dipakai oleh Wisnu."

Lina menelan ludah. Matanya mulai basah, tapi ia menolak menangis di depan Raka.

"Saya tahu ada yang salah di rumah itu," bisiknya. "Saya sering dengar Dewi menangis. Pernah lihat Wisnu mencubit lengannya saat Ratih ke belakang. Bu Marlina selalu bilang jangan ikut campur. Saya... saya takut. Di rumah saya sendiri juga begitu. Kalau Bapak marah, tidak ada yang percaya pada kami."

"Slamet Prayitno?" tanya Raka.

Lina terkejut. "Kamu tahu nama Bapak?"

"Belum banyak. Tapi aku tahu orang seperti itu membuat anak-anak belajar diam."

Lina akhirnya menunduk. Air matanya jatuh satu tetes.

"Kalau Jono bicara, kamu janji dia tidak akan disalahkan?"

"Aku tidak bisa menjanjikan semua orang akan adil," jawab Raka. "Tapi aku bisa menjanjikan aku akan berdiri di depan orang pertama yang mencoba menyalahkan dia."

Lina menatapnya lama. Lalu ia membuka pintu belakang warung.

"Jono. Kakak ada di sini. Kamu boleh bicara."

Jono mengangkat kepala. Matanya langsung mencari Lina, bukan Raka. Ketika Lina duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya, napasnya sedikit tenang.

Raka berjongkok beberapa langkah dari mereka. Ia meletakkan ponsel di tanah, layar menghadap ke atas.

"Aku rekam, ya. Supaya tidak ada yang mengubah kata-katamu. Kalau tidak mau, bilang."

Jono menatap Lina.

Lina mengangguk. "Tidak apa-apa. Kakak di sini."

Raka menekan tombol rekam.

"Jono, waktu Dewi makan jelly, apa yang terjadi setelah Dewi batuk?"

Jono meremas tangan Lina.

"Dewi batuk. Dewi merah. Dewi nangis. Jono takut."

"Lalu siapa datang?"

"Om Wisnu. Om Wisnu marah. Bilang Jono bodoh. Bilang Jono pulang."

Raka menjaga suaranya tetap lembut. "Apa Om Wisnu melakukan sesSatu pada Dewi?"

Jono mulai menangis.

Lina memeluk bahunya. "Pelan-pelan. Kamu aman."

"Om Wisnu ambil boneka beruang," gumam Jono. "Boneka Dewi. Om Wisnu taruh di muka Dewi. Dewi gerak-gerak. Dewi kecil. Jono mau bantu, tapi Om Wisnu bilang jangan. Om Wisnu bilang Dewi tidur. Nanti Jono dikasih jelly lagi kalau diam."

Raka merasa udara keluar dari dadanya.

Itu kalimatnya.

Kalimat yang hilang.

"Setelah itu?"

"Dewi tidak gerak. Om Wisnu bawa Dewi. Bu Marlina bersih-bersih. Jono takut. Jono tidak nakal."

Raka mematikan rekaman. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap tanah.

Lina menangis tanpa suara. Jono menyandarkan kepala ke bahunya seperti anak kecil yang kelelahan setelah mimpi buruk panjang.

"Jono tidak nakal," kata Raka. "Yang nakal bukan kamu. Yang jahat bukan kamu."

Malam itu, Raka kembali ke kamar sementara dengan rekaman Jono di ponsel dan dada yang terasa penuh bara.

Kribo menunggu di depan laptop. "Dapat?"

Raka mengangguk.

Buku Penghakiman terbuka di atas meja. Halamannya seolah sudah menunggu.

Raka menulis kesaksian Jono, keterangan Lina, rekaman audio, hasil otopsi, jejak pembersihan kamar mandi bawah, dan semua kronologi yang mereka susun sejak hari pertama.

Tinta hitam bergerak cepat, lebih pekat dari sebelumnya.

Ia tidak menulis dengan marah saja. Ia menulis seperti orang yang sedang menyusun berkas terakhir sebelum pintu pengadilan dibuka. Nama saksi rentan dipisahkan. Wajah Jono tidak akan ditampilkan. Kalimat Lina dicatat sebagai pendukung, bukan umpan untuk membuat gadis itu diserang warga. Raka baru sadar Buku Penghakiman mengikuti niatnya: setiap kali ia menulis perlindungan untuk saksi, tinta membentuk garis tipis di tepi halaman, seperti pagar.

Kribo menelan ludah ketika melihat tangan Raka terus bergerak. "Kalau ini bocor ke publik, hidup Wisnu habis malam ini."

"Hidup Dewi sudah habis lebih dulu," kata Raka.

"Aku tahu. Tapi ini... ini bukan postingan viral biasa. Ini seperti kamu menekan tombol perang."

Raka berhenti sejenak. Ia memikirkan Ratih yang dipanggil gila, Bagus yang dihukum oleh rasa bersalah, Lina yang belajar menunduk, dan Jono yang masih bertanya apakah dirinya nakal.

"Kalau kebenaran cuma disimpan di laci," katanya, "orang seperti Wisnu akan terus punya ruang untuk bernapas."

【BUKTI: 100%】

【DAKWAAN DAPAT DITULIS】

【PENGADILAN RAKYAT TERSEDIA】

Kribo membaca panel itu? Tidak. Tapi ia melihat wajah Raka.

"Bro... apa yang muncul?"

Raka tidak langsung menjawab. Di hadapannya, dua pilihan terbuka.

【Pengadilan Rakyat】

Biaya: 0 Poin Penghakiman.

Efek: Bukti dan dakwaan ditampilkan kepada masyarakat melalui seluruh layar digital yang tersedia. Publik memilih HUKUM atau BEBASKAN. Jika suara HUKUM melewati ambang, terdakwa memasuki Mimpi Neraka.

【Penghakiman Diam-Diam】

Biaya: Poin Penghakiman bervariasi.

Efek: Hukuman langsung tanpa publikasi.

Raka menatap pilihan pertama.

Wisnu menang karena rumah itu sunyi. Karena Ratih tidak dipercaya. Karena Jono dianggap lemah. Karena Lina belajar diam. Karena polisi desa malas membuka mata.

Kalau begitu, biarkan seluruh negeri melihat.

"Pengadilan Rakyat," kata Raka.

Kribo merinding. "Itu kedengarannya bukan istilah metafora."

"Bukan."

Raka menulis nama terdakwa: Wisnu Marpaung. Ia menulis korban: Dewi, bayi delapan bulan. Ia menulis cara pembunuhan, manipulasi Jono, pembuangan jasad, peran Marlina dalam pembersihan bukti. Ia menulis semuanya sampai halaman itu terasa berat.

Di akhir dakwaan, Stempel Hitam muncul di atas meja, sebesar telapak tangan, dingin seperti batu dari dasar sumur.

Raka mengangkatnya.

Tangannya tidak gemetar.

CAP.

Cahaya merah menyebar dari halaman Buku Penghakiman.

【Dakwaan diterima.】

【Pengadilan Rakyat akan dimulai dalam 60 detik.】

【Seluruh layar di wilayah Indonesia akan dialihkan.】

Laptop Kribo berkedip.

Lalu layar ponsel Raka. Lalu televisi kecil milik pemilik rumah di ruang depan. Dari rumah sebelah, terdengar teriakan kaget. Dari warung, suara orang-orang ribut.

Di seluruh Indonesia, layar berubah merah darah.

Logo hitam muncul seperti cap besar di tengah layar.

PENGADILAN RAKYAT — HAKIM MEMANGGILMU

Suara mekanis yang selama ini hanya hidup di kepala Raka kini menggema dari speaker laptop, televisi, ponsel, dan layar-layar jauh yang tak bisa ia lihat.

"Seorang bayi telah dibunuh. Pembunuhnya berjalan bebas. Hari ini, kamu yang menghakimi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!