Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa itu Dira
Nayla mondar-mandir di kamarnya, Ia masih berusaha mengingat- ingat siapa orang yang Ia lihat di supermarket beberapa jam yang lalu.
" Ah siapa sih Dia, kok aku sangat penasaran. "
Tiba-tiba Nayla berseru ketika akhirnya dirinya bisa mengingat seseorang yang mirip dengan wanita yang Ia lihat di supermarket tadi.
" Wajahnya mirip sekali dengan wajah Mbak Rena, tapi kalau Mbak Rena rasanya tidak mungkin kalau Ia tidak menyapa. Dan kalau bukan Mbak Rena berarti orang lain yang memiliki wajah yang hampir sama, dan wajah yang mirip dengan Mbak Rena itu..... Apa Dia Dira..... Astaghfirullah, apa benar Dia Dira. Tapi kemana Dia selama ini, apa Dia ada di kota ini. " Gumam Nayla
Di pinggiran kota, Abah sedang sibuk dengan sapi- sapinya. Memandikan dan memberi makan.
" Mona, kamu kangen nggak sih sama si Neng cantik. "
Moaaaaaa!
" Abah juga kangen Mon, semoga yang mau beli si jordan jadi dah bulan ini, biar Abah bisa tengok si Neng cantik di Jakarta. " Abah nengelus- elus kepala Mona.
Moaaaaaa!
" Tapi Iya juga sih Mon, kalau Abah ke Jakarta lalu siapa yang jagain kalian ya. Abah jadi bingung nih, tapi kalau nungguin Si cantik pulang mah kelamaan Mon. Abah juga nggak tau pulangnya kapan. "
Abah mengajak bicara sapi kesayangan Luna yang mereka beri nama Mona.
Abah yang sudah sangat merindukan Putrinya akhirnya memberanikan diri menghubungi Luna namun kali ini pakai Vidio call, karena Abah sudah sangat ingin melihat wajah cantik Putri kesayangan nya.
Luna yang sedang berada di rumah Sintia tersentak kaget ketika ponselnya berdering, keterkejutan nya bertambah ketika melihat siapa yang saat ini menghubungi nya. Ternyata itu adalah Ayahnya sendiri.
Luna melangkah sedikit menjauh dari keramaian, namun kemudian Ia kembali dilema.
" Aduh gimana nih, kalau aku tidak angkat kasihan Ayah, Ayah pasti akan berpikir yang buruk tentang ku. Tidak, aku tidak mau itu terjadi. Tapi kalau aku terima, aku harus jawab apa. Bagaimana kalau Ayah menanyakan orang-orang di masa lalu Ayah itu. "
Ponselnya berdering untuk yang kedua kali, akhirnya Luna pun menerima nya karena tidak ingin Ayahnya berpikir yang tidak- tidak tentangnya.
" Assalamu'alaikum Ayah. " Luna langsung mengucap salam.
Rasanya Luna ingin menangis, Ia terharu melihat orang yang sangat Ia sayangi nampak jelas di depan layar ponselnya.
" Wa' alaikum salam cantiknya Ayah. "
Abah nampak tersenyum bahagia melihat Putri kecilnya yang tidak pernah berpisah lama dengannya itu tersenyum padanya.
" Ayah, gimana kabar Ayah disana. " Tanya Luna.
Gaya manjanya langsung keluar ketika berbicara dengan sang Ayah.
" Alhamdulillah Nak, kabar Ayah baik- baik saja disini. Bagaimana dengan mu di Jakarta Nak, apa mereka menerimamu dengan baik disana. "
Benar saja, ternyata apa yang di khawatirkan Luna benar-benar terjadi. Ayahnya langsung menanyakan orang yang pernah hadir dimasa lalunya yang bahkan Luna sendiri tidak tau siapa mereka.
" Ah iya tentu dong Ayah, mereka sangat baik sama Luna. Ayah tidak perlu khawatirkan soal itu."
Abah mengucap syukur karena Putrinya diterima dengan baik oleh orang orang baik di masa lalunya itu.
" Yah, Mona mana. Luna mau lihat sebentar. "
Abah mengalihkan kameranya kearah Mona, sapi kesayangan Putrinya.
Moaaaaaaa!
Lagi-lagi Mona merespon, seolah tau kalau dirinya sedang di ajak bicara.
" Hai Mona, aduh Mona, kok kamu tambah montok saja. Baik- baik disana ya, jangan nakal apalagi nyusahin Ayah. "
Moaaaaaa. !
" Sayang, sekarang kamu ada dimana Nak. Kok sepertinya ramai sekali disana. " Tanya Abah yang bisa mendengar keramaian di tempat Luna berada.
Luna semakin bingung harus menjawab apa, bagaimana kalau nanti Ayahnya bertanya banyak hal, Ia akan semakin bingung. Dari jauh ternyata Ara sejak tadi terus saja memandangi gerak gerik Luna. Ia segera menghampiri sahabatnya itu.
" Ada apa Lun. " Tanya Ara pelan namun matanya melirik ke ponsel Luna yang masih menyala.
" Eh sayang, itu siapa. Cantiknya. "
Rupanya Abah bisa melihat Ara, Luna semakin bingung bagaimana menjelaskan soal siapa Ara.
" Siapa Lun. " Kini giliran Ara yang bertanya pada Luna.
" Ayah, Ra. " Jawab Luna.
Ara merasa lega setelah mendengar jawaban Luna, tadinya Ia sempat berpikir buruk tentang sahabatnya itu. Ara langsung duduk di samping Luna dan menyapa seseorang yang ada di layar ponsel sahabatnya itu.
" Assalamu'alaikum Ayah. " Ara mengucapkan salam dengan senyum khasnya dan di jawab oleh Abah.
" Duh cantiknya, namanya siapa Nak. " Tanya Abah.
Ara tersenyum berbeda dengan Luna yang sudah gugup, Ia takut kalau sampai Ayahnya tau dirinya berbohong.
" Saya Ara Ayah, Naura putri cantiknya Papa Aul. " Jawab Ara sumringah.
Abah nampak diam, begitu juga dengan Luna yang jantung nya sudah bertalu-talu.
" Naura, ah alhamdulillah ternyata benar. Luna sudah bertemu mereka. " Batin Abah.
" Wah Nak, kamu sudah tambah besar dan tambah cantik. Ya sudah, kalian pasti sedang sibuk. Nak Ara, titip anak Ayah ya. Di Jakarta dia tidak punya siapa- siapa. "
Akhirnya mereka pamitan sebelum memutuskan sambungan telepon nya. Luna ikut tersenyum bahagia meskipun Ia bingung dengan sikap Ayahnya yang tiba-tiba berubah setelah mendengar Luna menyebutkan namanya.
Tadinya Luna mengira kalau Ayahnya akan menanyakan lebih banyak hal mengenai orang dimasa lalunya itu, tapi ternyata tidak.
" Yuk Lun, kita gabung dengan yang lain saja. " Ajak Ara.
Ia menarik pelan tangan Luna agar bergabung dengan teman-teman dan juga para undangan yang hadir ditempat itu.
" Ra, makasih ya. "
Ara menghentikan langkahnya, Ia bingung karena Luna mengucapkan terima kasih padanya.
" Makasih, untuk....? " Tanya Ara bingung.
" Makasih untuk bantuannya tadi. " Jawab Luna
" Oh soal Ayah, sudahlah Lun. Tidak masalah, nggak usah di pikirkan. Yuk sekarang kita gabung dengan yang lain. "
Akhirnya mereka bergabung dengan teman-teman yang lain, hari ini mereka happy- happy bersama. Sebenarnya bukan hanya hari ini, tapi tiap hari mereka selalu menghabiskan waktu bersama- sama.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu