Hidayah itu milik Allah, jika Dia telah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka siapapun tidak dapat mencegahnya.
Termasuk pada Atalie—gadis chindo tersebut tidak pernah mengira bahwa berawal dari iseng ikut kajian Ustadz Umar dapat membawanya menemukan hidayah untuk memeluk Islam.
"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."
"Bantu apa?"
"Bantu aku bersyahadat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin yang Membawa Umar
Sebelum menghabiskan kue di mulutnya, Umar bergegas mengejar Atalie untuk mengembalikan jilbab yang tanpa sengaja ia bawa tadi. Umar merasa aneh dengan dirinya sendiri, kenapa ia harus kesal saat Atalie memberitahu alasannya ikut kajian. Bukankah itu hak Atalie ikut kajian apapun alasannya. Umar seharusnya tidak kesal tapi tadi ia tak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Baru kali ini Umar merasakan keanehan itu.
Umar terlambat karena mobil Atalie sudah tidak terlihat di jalanan yang padat. Umar menebak bahwa rumah Atalie berada tidak jauh dari masjid. Hanya saja mungkin anak orang kaya terbiasa membawa mobil meskipun jaraknya dekat.
Umar mengitari kawasan perumahan elit yang mungkin saja satu di antara rumah mewah yang berjajar itu merupakan tempat tinggal Atalie. Walaupun kemungkinan Umar menemukan rumah Atalie sangat kecil. Berbeda dengan Atalie yang langsung menemukan tempat tinggal Umar waktu itu. Berkat alamat yang Umar tuliskan di bukunya.
Rumah-rumah di komplek tersebut memiliki bangunan mewah dengan halaman luas dan pagar yang tinggi. Mereka pasti menghabiskan milliaran uang untuk membangun hunian yang lebih pantas disebut istana.
Matahari semakin condong ke sisi barat, Umar mengurangi kecepatan motornya. Kawasan tersebut cukup sepi sehingga nyaman untuk jalan-jalan sore sembari menikmati pemandangan. Burung-burung yang beterbangan kembali ke peraduannya. Semilir angin menggoyangkan pohon palem di sepanjang jalan komplek. Serta aroma kue yang mungkin datang dari salah satu rumah dan singgah ke hidung Umar. Umar tak khawatir karena ia juga punya kue pemberian Atalie di dalam tasnya. Tanpa sadar Umar tersenyum ketika mengingat Atalie menyebutkan nama lengkapnya tadi. Entah kenapa itu terdengar sangat manis. Umar tak tahu bagaimana suatu kalimat bisa dikatakan manis, sebelumnya ia hanya tahu sesuatu yang manis itu hanya gula atau madu. Kalimat yang Atalie katakan hampir sama dengan manisnya gula, atau justru Atalie yang manis.
"Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan." Umar menggelengkan kepalanya kuat menyadari kebodohannya sendiri. "Itu seperti Daniel." Umar melihat seseorang mirip Daniel dari belakang. Semakin motornya mendekat, Umar sadar bahwa bukan sekedar mirip cowok itu memang Daniel. Pencarian Umar akhirnya menemukan titik terang, ia tak perlu mengitari komplek dengan ketidaktahuan.
"Daniel!" Panggil Umar.
"Eh, Mas Umar ya?" Daniel tersenyum lebar melihat Umar. Ia sedang jogging sore di sekitar komplek karena tadi pagi tidak sempat melakukannya.
"Iya, kebetulan sekali kita ketemu disini, saya mau mengembalikan jilbab Atalie, tolong titip buat Kakak kamu."
"Jilbab?" Kening Daniel berkerut, sejak kapan Atalie memiliki jilbab. Ah Daniel ingat Atalie pernah menunjukkan foto saat kakaknya itu mengenakan pakaian panjang dan jilbab.
"Iya, tadi nggak sengaja kebawa." Umar menyodorkan jilbab merah muda milik Atalie pada Daniel.
"Mas Umar nggak mau mampir ke rumah ku sekalian kembaliin jilbab itu sendiri ke Kak Atalie."
Umar serba salah, kenapa ia harus memberikan jilbab itu sendiri padahal Daniel bisa membawanya. Umar tidak ingin bertemu Atalie lagi, hari ini sudah cukup Umar dibuat linglung.
"Aku juga udah capek keliling komplek, Mas mau ya boncengin aku ke rumah." Daniel mengerlingkan matanya mencoba merayu Umar, sikapnya seolah mereka sudah saling kenal lama padahal ini baru kali kedua Daniel bertemu Umar. "Nggak jauh kok, jarak enam rumah dari sini."
"Baiklah kalau begitu." Umar tak kuasa menolak permintaan itu mengingat Daniel telah membantunya mengantar kue ke pesantren beberapa waktu lalu.
"Mas Umar udah lama kenal Kak Atalie?"
"Nggak kok, kami juga bukan teman akrab." Umar tak mau Daniel salah paham soal hubungannya dengan Atalie.
Enam rumah yang Daniel katakan tidak sedekat perkiraan Umar karena bangunan rumah-rumah disitu luas, mungkin sama dengan lingkungan satu pesantren Adz-Zaidan atau lebih luas dari itu.
"Kayaknya Kakak aku naksir Mas Umar deh."
Umar menghentikan motor mendadak mendengar pernyataan Daniel. Ia bahkan terbatuk beberapa kali sedangkan kepalanya terasa berdenging.
Daniel kaget karena Umar berhenti mendadak.
"Apa yang kamu bicarakan?" Umar memutar kepala melihat Daniel.
Daniel terdiam beberapa saat sedangkan Umar tidak sabar menunggu jawaban. Satu detik dua detik tiga detik, hening.
Namun bukannya jawaban, Daniel justru tertawa membuat Umar kebingungan.
"Aku cuma bercanda, jangan dipikirin." Daniel mengibaskan tangannya, tiba-tiba ia merasa bersalah karena memberitahu hal tersebut pada Umar. Apalagi setelah melihat eskpresi Umar yang tampak tidak senang. Daniel prihatin pada Atalie karena harus mengalami cinta sepihak. Daniel tak mau kakaknya sakit hati nanti.
******
"Dari mana kamu?"
Atalie baru saja menginjakkan kaki di lantai rumah tapi ia sudah mendapat pertanyaan seperti itu dari mama nya. Tubuh Atalie menegang, bukankah ia sudah mengatakan kalau dirinya pergi ke Mall bersama Ayana dan Khanza. Apa maksud dari pertanyaan itu, perasaan Atalie jadi tidak enak.
"Dari Mall, kan aku udah bilang sama Mama." Atalie sedikit tergagap, ia bukan orang yang pandai berbohong.
"Mama lihat kamu keluar dari masjid." Renata tak sengaja melihat Atalie keluar dari masjid saat ia pergi ke rumah temannya—Veve tadi. Atalie tidak pernah berbohong sebelumnya, itu sebabnya Renata terkejut ketika mengetahui ternyata Atalie membohonginya. Itu tidak seperti Atalie biasanya.
Bulir keringat membasahi kening Atalie, ia tertangkap basah dan tak bisa berbohong. Jika ketahuan maka Atalie akan mengecewakan Renata, ia tak ingin itu terjadi. Atalie selalu ingin melakukan yang terbaik untuk papa dan mama nya. Namun Atalie juga tak mau membohongi dirinya sendiri bahwa ia merasa nyaman duduk di masjid mendengarkan kajian.
"Itu sebabnya Mama selalu bilang jangan terlalu sering bergaul sama Ayana dan Khanza, Mama nggak pernah melarang kamu berteman sama siapapun tapi kamu harus tahu batasan Atalie."
"Maaf Ma." Atalie menunduk, ia sepenuhnya sadar bahwa dirinya salah. "Ini bukan salah mereka." Atalie tentu tak bisa menyalahkan Ayana dan Khanza. Sebenarnya Atalie bisa saja menolak ajakan mereka tapi ia tidak melakukannya. Atalie pergi karena ia ingin.
Renata beranjak menghampiri Atalie, "sudah berapa kali kamu kesana?" Ia memperhatikan raut wajah Atalie yang tampak ketakutan.
Atalie enggan menghitungnya walaupun sebenarnya ia ingat persis berapa kali ia pergi ke masjid untuk mengikuti kajian. Bahkan Atalie ingat pertama kali ikut kajian, saat itu Umar membahas tentang mencintai Allah.
"Sepertinya yang tadi itu bukan pertama kalinya kamu kesana."
Atalie mengangguk samar, ia mencengkram tas nya kuat-kuat takut membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Itu makanya kamu punya beberapa baju panjang yang bukan gaya kamu." Renata ingat ketika ia menemukan gamis panjang berwarna hitam milik Atalie.
"Itu akan jadi gaya Atalie."
"Maksud kamu?" Renata mengerutkan kening.
"Aku suka memakainya." Sejak Atalie mendapat banyak bekas luka di kakinya setelah pulang dari Ijen, ia terbiasa mengenakan pakaian panjang dan ia merasa nyaman. Meskipun sekarang bekas gigitan nyamuk itu mulai pudar, Atalie tetap mengenakan pakaian panjang yang menutupi sepanjang kakinya.
"Kamu suka?"
"Itu menutupi bekas luka di kaki Atalie."
"Oke, Mama nggak akan larang kamu pakai apapun tapi jangan sampai keluar dari koridor yang sudah Mama dan Papa tetapkan untuk kamu sejak lahir, dan itu terakhir kalinya Mama lihat kamu ada disana, jangan sampai Papa tahu hal ini."
"Iya Ma." Atalie mengangguk, ia lega karena kali ini Renata memaafkannya.
"Apa yang Papa nggak boleh tahu?"
Kepala Atalie mendadak pening mendengar suara papa nya dari arah belakang, ia hendak menoleh tapi lehernya terasa kaku. Bahkan sekarang tangan Atalie basah karena keringat dingin.
"Bukan apa-apa Pa." Renata memberi kode pada Atalie agar segera pergi dari sana.
Atalie segera pergi dari sana sebelum papa nya bertanya lagi. Atalie seperti maling yang tertangkap basah tapi anehnya ia justru berpikir untuk ikut kajian lagi. Padahal ia selamat dari papa nya hari ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Atalie menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, bagaimana caranya ia pergi ke masjid tanpa ketahuan. Ia iri pada Ayana dan Khanza karena mereka tak perlu sembunyi-sembunyi padahal tujuan mereka bukan murni untuk belajar tapi sekalian ingin melihat ustadz yang katanya tampan.
"Nggak perlu sembunyi-sembunyi karena mereka muslim." Atalie merubah posisi menyamping menghadap rak bukunya yang hampir penuh, sebentar lagi ia harus membeli rak baru atau memindahkan buku-buku yang sudah tidak ingin dibaca.
Rak paling atas Atalie meletakkan koleksi buku sejarahnya yang baru selesai dibaca. Jemari Atalie meraba setiap buku yang berjajar pada rak, ini adalah caranya menyembuhkan diri dari kemelut pikirannya. Biasanya selalu berhasil tapi akhir-akhir ini Atalie selalu gelisah. Hanya ketika berada di masjid Atalie merasa tenang. Padahal menurut Atalie itu hanya bangunan biasa.
Atalie sudah tamat membaca sejarah nabi Muhammad, kini ia menyimpan banyak pengetahuan di kepalanya. Sayangnya itu hanya bisa mengendap di dalam otak tanpa bisa Atalie manfaatkan.
Atalie mengganti rok panjang dan kemeja nya dengan baju rumahan, celana pendek di atas lutut dan tank top hitam. Ia tidak sabar membongkar belanjaannya setelah mandi sebentar lagi.
"Atalie." Suara Renata terdengar dari luar kamar.
"Ya Ma?" Atalie melangkah membuka pintu untuk mama nya.
"Mana kunci mobil kamu." Renata menengadah tangan pada Atalie.
"Buat apa Ma?"
"Mama cuma mau mastiin kalau kamu nggak pergi ke tempat aneh-aneh lagi." Renata tak bisa percaya jika Atalie tidak akan pergi ke masjid itu lagi.
"Itu bukan tempat aneh Ma." Atalie meralat ucapan mama nya, sama seperti Daniel, Renata juga mengatakan itu adalah tempat aneh.
"Maksud Mama tempat yang nggak semestinya kamu datangi."
"Harus banget ngasih kunci mobil?" Atalie mengerucutkan bibirnya memasang wajah memelas merayu Renata.
"Harus."
"Kan Mama dan Papa sendiri yang bilang aku boleh bawa mobil setelah 17 tahun, itu janji kalian lho."
"Hanya kalau kamu bisa pastikan untuk nggak pergi kesana lagi, sekarang kasih kunci mobil mu dulu."
Atalie meraih kunci mobil yang tergantung di dekat pintu, lagi pula mobil itu bukan satu-satunya kendaraan yang bisa membawa Atalie ke masjid. Bahkan Atalie bisa berjalan kaki kesana karena letaknya tidak jauh dari rumah.
"Tapi besok aku harus ke kampus Ma."
"Berangkat sama Papa." Renata mengacungkan kunci mobil Atalie sembari berlalu dari sana.
Atalie hanya bisa pasrah ketika Renata membawa kunci mobilnya.
Atalie baru saja menutup pintu kamar dan mengambil handuk untuk mandi. Ia harus menyegarkan pikirannya dengan guyuran air dingin. Namun ketukan pintu kembali terdengar.
"Kenapa Ma?" Atalie melihat mama nya kembali muncul dari balik pintu.
"Ada yang nyari kamu tuh di depan."
"Siapa?"
"Dosen kamu katanya."
Atalie mengerutkan kening, ia sudah ada janji dengan dosennya besok di kampus bukannya di rumah hari ini. Kenapa tiba-tiba dosennya kesini.
"Dosen yang mana?"
"Dosen Umar."
Atalie membelalak, dosen Umar? Bukankah tidak ada lagi dosen bernama Umar di kampus Atalie kecuali lelaki yang beberapa bulan terakhir memenuhi pikiran Atalie. Umar yang mengenalkan Atalie pada sosok Aisyah. Benar Umar yang itu? Atalie mendadak kalut padahal ia tidak berbuat salah.
"Bentar Ma, aku ganti baju dulu." Atalie menutup pintu dengan keras lalu melempar handuknya ke sembarang arah.
semangat terus kak Atali🥰