Sedang proses pembenaran naskah, isi, dan cerita. Sedang revisi bersekala besar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sea starlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Rehan
MALAM HARI
Di ruang tamu, Abdi sibuk menyiapkan hadiah yang sudah terbungkus kertas kado untuk Kasih. Padahal tidak ada acara ulang tahun hari ini, hanya saja itu hadiah spesial untuk putri tercinta. Nenek juga terlihat senang, pasti Kasih akan bahagia di berikan pakaian baru, begitulah fikiran Abdi dan Nenek. Sedangkan Nona terlihat muram duduk di sebelah Abdi, wajahnya sudah seperti kucing garong.
Abdi berulang kali melihat jam yang ada diarlojinya, dan berulang kali melihat kearah pintu, menunggu sosok bayangan wanita yang akan diberikan hadiah.
Kasih baru sampai di depan pintu, ia terlihat lelah akan ambisinya sendiri, sementara ia berdiri di situ memandangi lantai, rasa semangat 4-5 nya telah hilang walaupun ini bukanlah akhir dari segalanya.
Pelayan membukakan pintu untuk Kasih, dan Abdi segera menoleh siapa yang masuk. Barang kali itu adalah Kasih, Abdi bangkit dan benar saja yang telah datang adalah orang yang ditunggu, Kasih berjalan mendekati ruang tamu, saat papa memanggilnya. Wajahnya terlihat sedih dan wajah Papa terlihat sumringah.
"Ada apa pa?" Kasih bertanya saat sudah berhadapan dengan tiga orang itu.
"Kemarilah nak." Abdi menarik tangan kasih agar ikut dengannya duduk di sofa. "Papa punya hadiah untuk kamu." Abdi mengambil beberapa bungkus kado tadi dari atas meja.
Kasih menatap sebentar kado itu sembari merasa bingung, padahal ia tidak ulang tahun. "Kasih kan enggak ulang tahun, kenapa diberi hadiah?" agak sedikit malu Kasih mengambil kado itu dari tangan Abdi.
"Hehehe." Abdi terkekeh geli bersama Nenek lalu berbicara lagi. "Memang nya kalau mau beri hadiah mesti nunggu ulang tahun dulu?" Abdi mengelus rambut kasih.
Kasih pun tersipu malu menutup mulut. "Kasih buka ya?" ia membuka kado itu secara perlahan bercampur rasa deg'degan penasaran..
"Wooaahh."
Suara Kasih langsung pecah bila mengetahui apa isi dari sebagian kado, kenapa tidak. Bahwa kado pertama ia buka adalah satu set perhiasan berlian, matanya berbinar-binar melihat cahaya intan berlian dari kalung, gelang, cincin dan berbagai lainnya.
ia menatap wajah Nenek dan Papa secara bergantian dengan makna yang sama.
Lanjut kado kedua pula yang ia buka, saat sudah membukanya reaksi nya juga sama saat membuka kado pertama, tapi kali ini kado yang ia dapat sebuah gaun. Dan selanjutnya berbagai macam peralatan wanita, dari berbagai Gaun. Sepatu. Arloji Perak. Makeup. Hermes Birkin, dsb.
"Papa, apa ini semuanya untuk Kasih?" Kasih terlihat gembira ria memeluk semua barang-barang branded itu.
"Iya... itu dari mama dan papa." jawab Abdi, kalau Kasih bahagia apalagi dengan Abdi yang jauh lebih bahagia.
"Terimakasih." Kasih berdiri berputar disitu sambil memeluk semua barangnya, ia melompat seperti anak kecil yang mendapatkan sebuah mainan baru..
Idihh lihatlah, norak banget bagai baru pertama kali mendapatkan hadiah saja, segitu saja sudah senangnya selangit.. batin Nona.
Nona menggelidik jijik melihat tingkah asli putri kesayangan suaminya, bagi Kasih hadiah sebanyak itu adalah suatu hal yang paling luar biasa, tapi bagi Nona. Hadiah itu biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa, jika di fikirkan ia memiliki semua itu di kamar nya.
Dari kejauhan Anna dan Jasmine memantau sebuah sinetron di ruang tamu, rasa iri dan benci sudah terdapat di benak mereka, di atas lantai dua Anna dan Jasmine menyaksikan acar pemberian kado itu.
"Kak, lihat. Dia norak banget ya? tapi btw papa dan mama kok tidak beliin hadiah juga untuk kita?" kesadaran yang benar adanya dirasakan oleh Jasmine.
"Hah, biarkan saja, palingan itu barang murah." Anna berhenti menatap kasih dari kejauhan.
Mereka memang menganggap hadiah itu sangat kecil, murah, dan tidak ada harganya. Padahal tanpa sepengetahuan siapapun harga semua hadiah itu fantastis luar biasa, menurut Abdi untuk putrinya tersayang mana mungkin ia belikan barang murah.
***
Setelah mengantar Tuan muda pulang, Rehan pun kembali memutar mobil keluar dari kawasan rumah, ia ingin pergi ke salah satu tujuan untuk menyelesaikan misinya mencari keadilan, mobilnya membelah jalanan yang padat malam ini dengan kecepatan tinggi.
Ponsel Rehan terus saja bergetar di saku jasnya, saat ia menatap layar ponsel. Siapa yang menelepon? dan ternyata itu adalah Yura. Seketika membuat mood nya hilang, entah kenapa wanita itu kembali dan dari mana pula Yura bisa mendapatkan nomor ponselnya?
Mobil yang di kendarai Rehan pun tiba di depan restoran besar, konon katanya restoran itu sangat legendaris dan memiliki banyak pelanggan, rumor beredar juga makanan nya sangat enak enak, usai memarkirkan mobil Rehan pun berjalan memasuki restoran.
Didalam Rehan bertanya kepada seorang karyawan resto seraya ingin tau dimana bos mereka.
"Dimana Bos kalian?" dengan lantang itulah gaya bicara Rehan saat berhadapan di meja resepsionis.
"Ada diruang nya pak." ucap sang karyawan yang terlihat gugup.
"Dimana ruangannya?"
"Mari saya antar pak."
Si karyawan dengan rendah hati mengantarkan Rehan menuju ruang Bos.
Rehan berjalan beriringan bersama anak muda itu, sambil melihat keadaan restoran. Semua barang ditata dengan rapi, lukisan-lukisan banyak terpajang di dinding, satu nama tertera di setiap sudut gambar (Yura Agnesia) Nama itu sudah tak asing bagi seorang Rehan.
"Ceklek." (suara pintu)
Tanpa ingin memberikan salam atau sekedar ketuk-ketuk pintu, Rehan langsung menyelonong masuk, seorang pria tengah meminum segelas kopi duduk di meja kerja. Tempat sehari-hari untuk melakukan pekerjaan mengenai usaha kuliner nya.
"Sekertaris Rehan!" Bos yang memiliki nama Coky langsung berdiri hormat.
Nama Rehan cukup dikenal semua orang, dari berbagai kalangan, karena dia selalu bersama Tuan muda. Nathan selalu memperkenalkan Rehan terhadap semua orang yang pernah di temuin.
Rehan berjalan mendekati meja, tanpa ingin duduk berlama-lama ia mengeluarkan ponselnya. "Terima dia bekerja besok." ia melemparkan ponsel ke meja secara perlahan. Jangan sampai pecah.
Dengan cepat Coky meraih ponsel yang berisi foto wanita yang sudah ia lihat tadi siang. "Bukankah tadi siang anda meminta saya untuk menolak lamaran wanita ini? Atas perintah Tuan Nathan." Coky ingat betul siapa memutuskan rejeki orang tadi siang.
"Memang benar... tapi sekarang Tuan Nathan mencabut perintah itu." Rehan terpaksa berbohong atas nama Nathan karena kalau bukan begitu, Coky tidak akan percaya atas ucapannya.
"Tapi Tuan Nathan tidak mengatakan apapun, apalagi mengenai pencabutan ini, tanpa perintahnya saya tidak bisa melakukan apa yang anda pinta." Coky benar-benar tidak percaya walaupun Rehan sudah menggunakan nama Nathan.
Rehan merebut kembali ponselnya, jika dengan nama Nathan tidak berhasil maka ia harus menggunakan cara kasar. Rehan mengambil sebuah pisau lipat dari saku celananya untuk mengancam pria itu.
Rehan berjalan mendekati kursi di mana tempat keberadaan Coky, lalu ia menodongkan pisau itu ke leher Coky, ia merasa ketakutan rasanya ingin terkencing di celana Rehan merangkul kuat leher Coky.
"Terima wanita itu bekerja atau aku bunuh kau hari ini, apa kau belum pernah mengetahui silsilah latar belakang hidupku." aksi Rehan sangat menakutkan ditambah dengan ancamannya.
Glek, seteguk dua teguk Coky menelan ludah yang terasa pahit, tanpa ia ketahui. Rehan sangat menakutkan dari Nathan, air kemihnya terasa mengapung di saluran bawah pusarnya.
"Ba... ba... baik, saya akan menerima wanita itu bekerja dan menyuruhnya bekerja besok." ucapan Coky secepat kilat mengehentikan aksi dramatis Rehan.
Rehan melepaskan cengkramannya, ia melipat kembali pisau yang ia bawa sehari-hari untuk melindungi diri dan Tuan muda, ia menarik nafas lalu berjalan kembali keasal tempatnya.
"Baiklah, hubungi nomor ini dan jangan katakan kepada Tuan Nathan kalau saya ada sangkut pautnya dengan masalah ini, begitu juga jangan katakan pada wanita itu."
Rehan melemparkan sebuah kertas yang berisi nomor telepon rumah, nomor itu bisa langsung tersambung ke telepon yang berada di kamar Nathan, dan biasanya nomor itu digunakan untuk memanggil pelayan.
"Saya permisi dulu." tanpa ada rasa segan Rehan undur diri meninggalkan Coky yang terlihat pucat.
Coky menjatuhkan diri di kursinya, mengingat kejadian menyakitkan yang telah dialaminya malam ini, ia meraih kertas itu seraya menatap isinya. Dirinya sangat lemas akibat ancaman Rehan, jika ia menolak permintaan Rehan, bisa saja tadi nyawanya akan hilang diusianya yang terbilang muda.
BERSAMBUNG