Penyesalan selalu ada di belakang, itulah yang di rasakan pria yang sekarang hidupnya berantakan.
Terlebih setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, “sudah ku katakan jangan pernah berani meninggikan suaramu padaku!” Bentak Nanang.
“Terus aku harus apa, selalu diam melihatmu menyakitiku, kamu tidak menafkahi ku aku diam, tapi berselingkuh kamu tak tau diri mas!” Jawab Sari marah.
Plak...
Sebuah tamparan di berikan pria itu, sedang sari merasa sudah tak bisa tahan lagi.
“Ceraikan aku mas, aku tak mau hidup dengan pria menyebalkan seperti mu!!” kata satinyang marah.
Apa yang di pilih Sari benar?
Atau keputusan ininakan di sesali keduanya?
Atau pilihan ini baik untuk mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak berhak bertanya
dokter pun menghampiri kedua pria yang membawa gadis muda itu, "permisi mas, apa dia habis mengalami penyiksaan lagi, tangannya ada luka bekas terkena benda panas hingga melepuh."
"kenapa kamu bertanya, kamu penasaran dengan istriku, apa ku menyukainya, dokter kerjakan saja tugas mu," marah Nanang.
"Nanang yang sopan, bagaimana pun dia itu dokter yang mengobati istri mu," saut Juragan Wawan.
"memang kenapa sih yah, begitu banyak orang yang sok peduli dengan istriku, memang di dunia ini tak ada lagi wanita ya," marah Nanang.
mendengar ucapan dari putranya itu, juragan Wawan memukul kepala putranya itu agar tenang.
"ayah bilang diam, sudah kamu lihat istrimu, sebenarnya ada apa dokter, kenapa dengan menantu saya?" tanya juragan Wawan.
"sebenarnya menantu anda hanya kecapekan,dan kondisi tubuhnya memang sedikit lemah dan memiliki riwayat darah rendah, dan sepertinya dia kurang istirahat," terang dokter muda itu.
"baiklah saya dan keluarga akan menjaganya lagi, tapi apa maksudnya dengan menyiksa lagi," tanya juragan Wawan.
"sebelumnya mereka berdua datang dengan kondisi yang cukup menghawatirkan, karena mbaknya memiliki luka robek dan juga ada bekas tamparan di pipinya," jawab dokter itu.
"apa, bekas tamparan?"
"iya pak, terlebih tamparannya sepertinya sangat keras, bahkan telapak tangan besar itu sampai membekas cukup ketara," terang dokter.
"baik dokter saya mengerti," jawab juragan Wawan menatap marah kearah Nanang yang langsung membuang muka.
sedang di tempat lain, Yuni baru pulang sekolah tapi motornya tiba-tiba mogok dan tak bisa menyala.
Fendi yang baru pulang dari notaris, dia melihat adik temannya itu kesulitan, dia pun turun dan berinisiatif membantunya.
"ada apa dengan motormu Yuni? lagi ngambek ya?" tanya pria itu.
"ah mas Fendi, ini mas sepertinya motorku ngambek lagi seperti biasa, padahal di rumah ada acara, dan Sari pun tak bisa di hubungi," kata Yuni panik.
"Sini biar aku lihat motornya," kata Fendi yang turun dari motor Honda Megapro berwarna hitam keluaran tahun dua ribu delapan itu.
Yuni pun mempersilahkan pria itu, dan dia tak mengira jika Fendi mau membantunya.
terlihat Fendi membongkar tempat busi, dan mengambil amplas kemudian menggosoknya.
"itu kenapa mas?" tanya Yuni yang memang tak mengerti
"sepertinya businya harus ganti, tapi aku mencoba mengakalinya agar setidaknya kamu bisa pulang tak jalan kaki nona," kata Fendi dengan senyum yang menawan.
hingga tanpa sadar Fendi sudah membuat gadis muda itu kesemsem kepadanya.
tapi mungkin perasaan itu tak akan bisa sama atau bahkan tak mungkin hubungan itu bisa terjadi.
Fendi pun mencoba menyalakan motor, dan tak terduga motor itu menyala dengan mudah di tangan pria itu.
"bagaimana bisa menyala kan," kata Yuni.
"terima kasih atas bantuannya kak, aku akhirnya bisa pulang," kata dengan senang hati.
"baiklah kamu jalan duluan, nanti aku ikuti dari belakang, takutnya nanti ada masalah lagi," kata Fendi.
"baiklah kak," jawab Yuni.
mereka berdua pun beranjak pergi, Fendi benar-benar mengikuti gadis itu hingga sampai ke rumah.
tapi saat dia sampai di rumah, dia heran karena ibu Wiwit sangat khawatir, padahal semua sudah berjalan dengan mestinya.
Fendi pun pergi setelah memastikan Yuni selamat dan aman, "ada apa Bu, kenapa ibu terlihat begitu khawatir, dan semua orang sepertinya berbisik sesuatu" tanya gadis itu
"tolong telepon ayah mu, tanyakan bagaimana kondisi Sari, tadi dia pingsan dan mimisan karena kelelahan," kata Bu Wiwit khawatir.
"apa? dia pingsan dan mimisan, ibu... dia itu memang punya tubuh lemah, pasti dia kelelahan karena terus bekerja dan tak makan dengan benar," kata Yuni yang ikut panik.
dia pun bergegas menelpon ayahnya, beruntung juragan Wawan sudah di luar jadi bisa menjawab telpon dari putrinya itu.
"assalamualaikum nduk, ada apa?" tanya pria itu dari sebrang telpon.
"ayah bagaimana kondisi Sari, apakah dia baik-baik saja?" tanya Yuni.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja, tapi kenapa kamu panggilnya kok Ngoko gitu, tapi dia belum sadar akibat obat, dan tolong bilang ibu mu, mungkin ayah akan mengantar Sari dan Nanang pulang, karena tak baik jika dia di rumah dan kembali sibuk membantu," kata juragan Wawan.
"iya ayah tak apa-apa, ibu tak mau jika dia makin sakit, ibu bahkan sampai kaget tadi," kata Bu Wiwit yang menyahut.
"baiklah terima kasih ya Bu atas pengertiannya, oh ya lain kali bilang pada adikmu berhenti menyiksa keluarga kita, sudah cukup dengan Nanang dan Yuni, jangan menantuku juga," marah pria itu.
"iya ayah ibu mengerti, dan akan mengatakan hal itu pada Rahma," jawab Bu Wiwit.
Sari membuka matanya dan kepalanya sudah tak pusing lagi, terlebih infus juga terpasang di tangan wanita itu.
"kenapa aku di sini dan di infus segala, aku belum mau mati ini,kenapa harus mendapatkan perawatan berlebihan seperti ini," gumamnya.
"sudah menurut saja, kamu itu kekurangan gizi, dan kenapa kamu makin terlihat kurus, memang aku sangat menyebalkan ya hingga membuatmu ngenes begini?" tanya Nanang.
"tidak mas, aku hanya tak nafsu makan akhir-akhir ini," jawab Sari.
"apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya Nanang senang
"tidak mungkin, aku baru selesai mens semalam, tak mungkin hanya karena tak nafsu makan, aku hamil," kata Sari yang tak habis pikir dengan pemikiran suaminya itu.
"siapa tau itu benar, soalnya kamu kan terlihat lemas sayang," kata Nanang dengan senang hati.
"tak mungkin karena hasil USG juga tak menunjukkan aku hamil, itu tandanya kita masih perlu berusaha lagi," kata sari dengan pelan.
"apa kamu sudah melakukan pemeriksaan dan kenapa tak mengajak ku?" tanya Nanang.
"aku melakukannya mendadak, bagaimana jika kita melakukan tes lagi lain kali," kata Sari.
"baiklah sayang, Agar kita segera mendapatkan momongan yang kita impikan," kata Nanang.
sedang dokter melihat Sari merasa iba, pria itu memang tidak mengenal Sari secara personal dan dekat.
tapi di lihat dari beberapa kali gadis itu masuk rumah klinik, itu menunjukkan jika gadis itu menderita.
"entah mengapa melihatnya terus dalam kondisi seperti ini membuatku terluka, apa peduliku hingga harus memikirkan orang yang tak ada hubungannya sedikitpun dengan ku," batin dokter itu.
setelah infus habis, mereka pun pulang, "jangan pulang ke rumah kami ayah, kita ke rumah ayah saja," kata Sari.
"kenapa kesana, kamu sedang sakit nduk, jadi tak perlu kamu memaksakan diri seperti ini," kata juragan Wawan.
"tidak ayah, saya tak ingin membuat ibu sedih dan mencoreng nama baik anda, aku harus menunjukkan jika aku baik-baik saja dan kami adalah mertua dan menantu yang kompak," kata Sari.
"biarkan ayah, aku akan menjaganya nanti, dan saat sampai kamu harus makan dengan lahap," kata Nanang yang memberikan syarat.
"iya mas, aku mengerti," jawab Sari.
akhirnya mobil itu datang di menit terakhir. pasalnya beberapa tamu dan jamaah muslimat sudah datang.
sebenarnya Bu Wiwit dan yang lain kaget, tapi Sari langsung masuk kedalam dan berdiri menemani ibu mertuanya menyambut kedatangan para ibu-ibu jamaah.
Sari tetap memasang wajah segar dan senyum manisnya yang terus mengembang,
dari jauh Nanang dan juragan Wawan tetap mengawasi wanita itu dengan seksama.