Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang kamar
Sulit dijelaskan, hingga membuatnya merinding.
**
Ruangan itu adalah ruang kamar. Yang menurut prediksi Stella adalah kamarnya Callista.
Ruang yang di dominasi warna hitam putih terlihat elegan jika dipandang saat mood baik, namun terlihat dingin jika dipandang saat mood jelek. Seperti sekarang. Terlihat dingin dan misterius.
Callista membanting seluruh barang yang ada di meja riasnya, semuanya hancur berantakan. Dia menangis dalam diam, badannya bergetar. Fotonya dengan Romie. Hancur berkeping-keping di lantai.
Callista jatuh terduduk, tangannya terluka tergores pecahan kaca bingkai foto yang jatuh dilantai itu.
Tangisnya mulai terdengar dengan sesegukan. Menyakitkan bila didengar.
Aku pun hanya bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dadaku sesat melihat dan mendengar tangisnya.
"Callista.." kataku pelan sambil berjalan kearahnya, memeluk pundaknya dari belakang "Menangislah jika ingin, jangan dipendam. Berteriaklah jika ingin, jangan hiraukan yang lain. Hancurkan semua ini jika ingin, jangan khawatirkan apapun,..." mengambil nafas dalam-dalam "Tapi setelah selesai, mulailah menata hidup kedepan. Menjadi Callista yang baru." jelas Stella lembut dan sabar.
Tidak ada jawaban, hanya tangis dan nafas gusar tak beraturan yang terdengar dari Callista.
"Tenanglah, ayo berdiri. Tanganmu terluka Callista. Duduklah disofa aku akan bantu membersihkannya." membatu mengangkat tubuh Callista dan membopohnya ke sofa.
"Bisa kah aku minta tolong ambilkan aku minum? Aku akan membersihkan luka ku sendiri" jawab Callista serak
"Tentu, tunggu lah disini. Akan ku ambilkan air untukmu." Stella pun pergi meninggalkannya sendiri.
Callista pun berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajah dan tangannya yang berdarah. 'Bahkan luka tangan pun tidak sesakit hatinya ckc' gumamnya sinis. 'Lihatlah wajahmu sendiri, sungguh jelek dengan mata sembab seperti itu' 'Haishh bodohnya' omongnya sendiri sambil menggeleng kepala.
Callista pun kembali ke kamarnya, dan membalut lukanya dengan perban. Ia pun berdiri mengambil beberapa koper, memasukkan pakaiannya, serta membawa barang-barang dan dokumen penting sekalian.
"Hei maaf lama, aku mencari Bibi Asri dulu tadi. Ini, minumlah dulu." " Makasih."
"Apakah tas yang ini isinya dokumen-dokumenmu?" tanyanya setelah melihat tas kotak putih tertutup rapih dengan kode khusus untuk membukanya.
Callista menoleh "Ya itu isinya dokumenku semua, Oya pasportku masih aktif jadi aku bisa ikut denganmu ke sana." sambil berjalan ke kasur memasukkan baju-bajunya "Tapi gimana kalau kita pergi setelah proposal bisnis selesai di acc oleh Golden?" menutup koper lalu duduk melanjutkan "Prospek bisnis ini sangat penting. Ini salah satu jalan menuju tujuan kita. Jadi harus kita manfaatkan dengan baik."
"Kau benar, kita memang harus menyelesaikan bisnis ini dulu. Setelah itu baru kita kesana." balas Stella mengiyakan
"Rumahmu ini sangat nyaman, bagaimana kalau kita menyicil proposal nya disini sebentar? Lalu kita lanjutkan di mall nanti." usul Stella.
"Hmm boleh, kita kerjakan di ruang kerja ayahku saja. Yukk" berjalan keluar menuju ruang kerja. Membuka pintunya.
"Astaga, ini seperti kantor bukan ruang kerja" celoteh Stella masuk kedalam dan melihat sekeliling.
Ruang kerjanya berdesaign minimalis namun tenang, dengan kaca besar tanpa tirai menghadap kolam berenang, interiornya pun berwarna putih bersih.
"Ini desaignku untuk Ayah" "Ayo kita mulai, ini sudah mulai siang" berjalan duduk di meja kerja. Membuka laptopnya dan mulai mengerjakan.
Lima jam berlalu
'toktok' "Masuk"
"Nona, ini sudah jam 3 sore tapi Nona belum makan dari tadi. Makanlah ini Nona, Bibi sudah buatkan sup iga dan sate untuk Nona." menaruh nampan di meja sofa.
Callista menoleh melihat jam dan tersenyum "Bibi terima kasih, terlalu fokus jadi tidak memperhatikan jam. Nanti pasti dimakan, Bibi boleh kembali." "Baik Nona, Bibi permisi dulu."