Entah suatu kemalangan atau permainan takdir untuk Faranisha Gayatri, menjelang hitungan jam pelaksanaan akad nikah dengan sang kekasih yang telah menjalin kasih selama 3 tahun dengannya, pihak mempelai pria malah membatalkan pernikahan tanpa alasan. Sebagai gantinya, hadirlah sesosok pria yang bersedia menjadi pengganti mempelai pria.
Ialah Naufal Kenan, sosok pria yang sangat sensasional. Seorang dokter spesialis bedah dan penyakit dalam dengan segudang prestasi dan pencapaian. Berparas tampan, kaya raya nan dermawan. Dan ternyata, ialah sosok pria yang menjadi cinta pertama Fara. Cinta yang dulu hanya bisa dipendamnya dalam diam tanpa dapat tersampaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Panti Asuhan
Malam harinya, lepas shalat maghrib, Kenan mengajak Fara ke panti asuhan Al-rahman. Selain untuk melepas rindu dengan Ayudia, sang ibu panti serta anggota keluarga panti lainnya, Kenan juga bertujuan mengenalkan Fara sebagai istrinya.
Seperti biasa, Kenan adalah orang yang saat sedang berpergian lebih suka disupiri dari pada mengemudikan mobil sendiri. Jadilah Kenan dan Fara ke panti asuhan dengan disupiri oleh sang supir yang menurut Fara seperti robot semi otomatis.
Setelah sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di tujuan. Ini memang bukan kali pertama Fara berkunjung ke panti asuhan Al-rahman, ia sudah beberapa kali ke sini bersama Farzan sebagai donatur ketika ada acara amal. Namun tetap saja Fara terkagum-kagum setiap menginjakan kakinya di sini, masih tak menyangka ini adalah sebuah panti asuhan. Bukan hanya Fara, siapapun pasti akan berpikir begitu.
Mobil berhenti tepat di depan bangunan panti yang lebih pantas disebut mansion itu. Nah, ini baru mansion asli, bukan imitasi seperti unit apartemen Kenan. Mansion kok, 1 lantai. Lihatlah betapa megahnya bangunan berlantai tiga di depannya ini. Bahkan jika dibandingkan, bangunan ini masih lebih megah dibandingkan mansion keluarga Sanjaya, mantan keluarga pengusaha nomor 1 di Indonesia. Ya, manatan. Sejak insiden skandal antara Bagus dan Sherina, keluarga Sanjaya bukan lagi keluarga pengusaha nomor 1, PT. Sanjaya benar-benar sudah tidak tertolong. Sedangkan Mahmud, sedang dalam sidang pelengseran jabatan. Sungguh naas.
"Hmm?" Fara menatap bingung pada Kenan yang masih diam saja berdiri di sampingnya setelah keduanya keluar dari mobil.
Kenan balas menatap Fara sekilas, lalu melirik tangan kanannya yang berkecak di pinggangnya meminta untuk digandeng.
Fara mengikuti arah pandang Kenan, namun tidak paham dengan kode yang diberikan suaminya itu. Ia hanya terbengong dengan kedua alis saling bertaut erat.
"Gandeng." akhirnya Kenan membuka suara juga, ia berucap dengan intonasi sedikit kesal.
Fara menyengir baru tercerahkan. Malu-malu bercampur ragu, ia melakukan seperti yang diperintahkan Kenan, menggandeng tangan sang suami.
"Humps..." Kenan menyempatkan mendengus sebelum menuntun Fara, melangkah menuju bangunan megah di depan mereka.
Ding dong...
Kenan menekan bel pintu.
Ceklek...
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tampak sesosok wanita paruh baya sepantaran Farzan, dengan pakaian serba tertutup serta berkerudung panjang.
"Assalamualaikum Bunda." ucap Kenan dengan suara yang terdengar begitu syahdu.
Ya, wanita paruh baya itu adalah Ayudia, yang lebih dikenal dengan panggilan 'Bunda Ayu'. Wanita yang mengasuh Kenan sejak bayi dan sudah dianggapnya sebagai seorang ibu.
"Waalaikumsalam Nak." balas Ayu tak kalah syahdu sembari tersenyum teduh.
Lantas Kenan menyalami Ayu, diikuti Fara setelahnya.
"Hmm? Ini siapa Nak?" tanya Ayu pada Kenan seraya menunjuk Fara dengan ekor matanya.
Kenan tersenyum canggung sembari melirik kanan kiri sekilas, sebagai isyarat keadaan yang tidak mendukung untuk memulai pembicaraan "Nanti saja di dalam Kenan jelasin, Bun."
Memahami isyarat Kenan, Ayu tersadar "Ah ya, maaf. Saking penasaran, Bunda sampai lupa menyuruh kalian masuk." ia ikut tersenyum canggung "Ya udah, ayo masuk!"
Mereka bertiga pun masuk ke dalam, dengan Ayu di depan serta Kenan dan Fara mengekor di belakang, berdampingan tanpa melepaskan gandengan tangan mereka yang sejak tadi.
Ayu menuntun mereka ke ruang makan, yang ternyata sudah berkumpul anggota keluarga panti baik pengasuh maupun anak-anak panti. Di meja makan, berbagai jenis makanan sudah terhidang rapih.
"KAK KENAN!!!"
"OM KENAN!!!"
"PAPA!!!"
Seru anak-anak panti kegirangan memanggil Kenan dengan sebutan berbeda-beda. Namun yang paling mengejutkan Fara adalah panggilan 'Papa'. Ia bahkan terhenyak hingga tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Papa?" gumamnya lirih sembari mendelik pada Kenan.
Otomatis Kenan juga menghentikan langkahnya akibat tersentak oleh Fara yang tiba-tiba berhenti. Menoleh, tatapannya bertemu dengan delikan sang istri "Ada apa?" tanyanya bingung setengah berbisik.
"Apa maksudnya mereka manggil kakak dengan sebutan papa?" tanya balik Fara yang membuat Kenan sontak menepuk jidatnya sendiri.
"Ken, ada apa?" belum sempat Kenan menjawab pertanyaan Fara, Ayu menginterupsi yang ternyata wanita paruh baya itu sudah duduk bergabung dengan anggota keluarga panti lainnya di meja makan.
Kenan menoleh pada Ayu "Gak apa-apa Bun." lalu berbisik pada Fara "Nanti Kakak jelasin, kamu jangan mikir macam-macam. Itu gak seperti yang kamu pikirkan."
Lantas Kenan kembali menuntun Fara melanjutkan langkah ke meja makan. Meskipun tidak puas dengan jawaban Kenan, Fara tetap dengan patuh mengikuti langkah sang suami.
Bergabung di meja makan, Kenan duduk tepat di samping Ayu, sedangkan Fara duduk tepat di samping Kenan. Mereka duduk mengerumuni meja panjang itu dengan leter U.
Sesaat Fara duduk, hampir semua pasang mata tertuju padanya dengan tatapan penuh tanya. Baik itu para pengasuh serta anak-anak panti yang baru akan beranjak remaja hingga yang sudah menginjak kedewasaan. Sedangkan yang masih belia, pandangan mereka tertuju pada Kenan dengan tatapan memuja serta kerinduan. Meja makan itu sangat panjang, sekitar 10 meter. Jika dihitung sekilas, semua orang, baik para pengasuh serta anak panti, mungkin jumlahnya mencapai 50an kepala. Sungguh ramai.
Dulu, waktu Kenan masih tinggal di sini, jumlah anak panti bahkan tidak pernah mencapai 10, sangat berbeda dengan sekarang. Entah karena populasi anak terlantar serta anak yatim piatu yang semakin meningkat, atau karena fasilitas panti yang memadai. Itupun, saat Kenan akan meninggalkan panti untuk memulai hidup mandiri, hanya tersisa 3 orang anak panti. Selebihnya, ada yang sudah lebih dulu meninggalkan panti seperti Kenan, ada pula yang diadopsi. Sebenarnya, pernah ada sebuah keluarga yang cukup kaya ingin mengadopsi Kenan. Namun Kenan tidak mau, ia lebih memilih tetap tinggal bersama Ayu yang sudah dianggapnya sebagai seorang ibu. Lihatlah betapa loyalnya seorang Kenan, bahkan sejak ia masih kecil, keloyalannya sudah terbukti.
"Ehem..." Ayu berdehem membuat perhatian semua orang tertuju padanya "Karena semua orang sudah datang, maka sebaiknya kita mulai makan malamnya. Yang ingin berbicara, nanti saja setelah makan."
"Baik Bun." sahut semua orang serempak, termasuk Fara setelah sedikit ragu, ikut menyahut.
Mereka pun memulai sesi makan malam setelah Kenan yang diperintahkan oleh Ayu, memimpin doa sebelum makan. Meskipun ramai, sesi makan tetap berlangsung khidmat dan tenang. Dari sini, sangat jelas tersirat betapa disiplinnya para anak-anak panti dididik. Meskipun sesekali terjadi kegaduhan antara anak balita yang saling merebut makanan, hanya dengan deheman dari Ayu sekaligus menyebut nama-nama mereka, anak-anak tersebut langsung berhenti berdebat. Namun itu tidak buruk dan wajar untuk anak-anak seperti mereka, malahan terkesan sebagai penghibur, mewarnai sesi makan malam itu. Sehingga mampu melukiskan senyum hangat di bibir Kenan maupun Fara.
Usai makan, mereka beralih ke ruang keluarga. Ruangan yang luasnya sama atau mungkin sedikit lebih luas dibandingkan ruang pelataran di kediaman Farzan. Berkumpul di sana, semua orang duduk melantai di atas karpet sintetis berbahan lembut nan empuk yang membentang di seluruh inci lantai ruangan itu.
Kini posisi duduk mereka membentuk lingkaran dengan Kenan dan Fara serta beberapa anak balita yang berebutan duduk di pangkuan Kenan, duduk di tengah-tengah lingkaran. Dengan posisi itu, mereka pun memulai pembicaraan. Diawali dengan senda gurau serta saling melepas rindu antara Kenan dan para anggota keluarga panti.
Hingga tiba pada acara inti, dimana Kenan menyampaikan masuk kunjungannya bersama Fara. Kenan memulai dengan kilas balik. Mulai dari memperkenalkan Fara sebagai istrinya, dan terakhir menceritakan kronologi pernikahannya dengan Fara tanpa menutupi apapun. Kenan memang sejatinya orang yang tidak suka berbohong, terlebih pada orang-orang terdekatnya, apa lagi pada mereka yang sudah di anggapnya sebagai keluarga, seperti Ayu. Sungguh tidak mungkin Kenan berbohong, meskipun berat.
"Huuffhh..." Ayu menghembuskan nafas panjang setelah mendengarkan semua penuturan Kenan yang terkesan miris menurutnya "Jadi, apa rencana mu selanjutnya, Nak?"
Sembari tetap tenang dan bersikap biasa saja, Kenan tersenyum "Kenan akan berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan pernikahan Kenan, Bun. Bagi Kenan, pernikahan adalah sekali seumur hidup, jika Tuhan menghendaki."
Ayu balas tersenyum "Bunda setuju. Bunda akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Dan Bunda akan selalu mendoakan, semoga kebahagiaan senantiasa selalu bersamamu."
"Amin, terima kasih Bun."
ini kog ketus...
batal
pernikahan barat
why
apa sdh selesai ceritanya 😊