Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Suka
Pagi ini Bunga terus diberondong rentetan pertanyaan oleh kedua sahabatnya yang kini sedang mengapitnya di lorong toilet. Baru saja dia keluar dari dalam toilet untuk membasuh mukanya Rasel dan Deni sudah menunggu di depan.
"Na! jawab, eike nggak percaya ye sama Bian nggak ada apa-apa," desak Deni yang diangguki oleh Rasel.
"Nggak mungkin kalian nggak ada apa-apa tapi Bian berani narik lo gitu." Rasel menambahi apa yang tadi dikatakan oleh Deni.
Cowok lemah gemulai itu sudah bercerita tentang kejadian di dalam lift tadi pagi kepada Rasel. Alhasil tingkat keingintahuan keduanya menjadi-jadi saat ini.
Bunga menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Gadis itu menghela napas terlebih dahulu sebelum membuka mulutnya.
"Gue ciuman sama dia," jujur Bunga membuat keduanya melotot secara bersamaan.
Wajah Rasel dan Deni saat ini persis seperti patung berdiri tanpa ada pergerakan sama sekali. Keduanya begitu terkejut dengan pengakuan Bunga barusan.
Bunga melirik dengan malas. Lalu tanpa berucap kata lagi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih mematung di tempatnya.
"Una jelasin!!" teriak keduanya sadar akan keterkejutan.
"Bahaya kalau Bunga udah mau ciuman sama anak seumurannya, itu berati dunia sedang tidak baik-baik aja," celetuk Rasel seraya berlari mengejar Bunga.
"Cel tungguin! kaki eike gempor ini!" teriak Deni yang berlari paling belakang.
Bruk
Rasel menabrak Bunga yang tiba-tiba berhenti mendadak.
"S*al!" umpat Rasel mengelus keningnya.
Bunga menatap lurus ke depan. Dimana Bian dan Seyna sedang berjalan bersamaan. Sesekali keduanya terlibat obrolan dan saling tawa. Entah kenapa melihat itu membuat Bunga merasa lain. Senyum miring di wajah Bunga terlihat melihat pemandangan di depannya itu.
"Bagus banget, paginya udah nyium gue sekarang sama cewek lain," gumam Bunga yang kebetulan masih dapat didengar oleh Rasel yang berdiri tepat di sebelahnya.
Rasel menatap ke arah Bian dan Seyna yang sudah berjalan ke atas tangga. Gadis itu menggeleng melihat Bunga yang masih berdiri di tempatnya.
"Na..lo cemburu!" ucap Rasel to the point.
Bunga menoleh ke arah Rasel. Lalu menggeleng. "Lo tahu sendiri selera gue kayak gimana," jawab Bunga kembali berjalan.
Rasel hanya mengangguk, tetapi aneh saja seorang Bunga mau saja diambil ciumannya oleh anak seumuran mereka. Rasel sendiri jadi curiga. Bunga paling anti dalam hal itu, bahkan gadis itu beberapa kali menolak ajakan dari salah satu anak DPR untuk menemaninya.
"Ya ampun eike baru sampai udah pada jalan lagi!" keluh Deni seraya mengelap keringat di pelipisnya.
Istirahat pertama. Bunga memilih untuk langsung keluar kelas. Dia berniat ke taman belakang sebelum kedua sahabatnya menemuinya, karena Deni pasti akan terus bertanya sebelum dia menjelaskan. Dan Bunga malas untuk menjelaskan sesuatu yang menurutnya tidak penting itu. Tidak penting tetapi selalu ada dalam pikirannya saat ini.
"Ada yang udah masuk aja nih!" ucap Jian melirik ke arah Bunga.
"Eh udah masuk ya putri tidurnya? pantes Ji di kelas bau-bau apa gitu," jawab Nida salah satu teman Jian.
"Emang bau apa Nid?" Sani ikut-ikutan memancing.
"Bau Bunga, tapi bunga bangkai!" Jian menjawab dengan nada keras.
Gelak tawa terdengar dari kedua teman Jian. Tetapi untuk tidak untuk siswi/a lain yang masih berada di kelas. Mereka tidak berani menertawakan Bunga secara gamblang, mereka tersenyum simpul tetapi juga tidak membenarkan apa yang dikatakan oleh Jian dan teman-temannya.
Bunga mengambil tisu, lalu dielapnya wajah yang sebenarnya tidak berkeringat itu. Gadis itu beranjak dari duduknya, berjalan dan melempar tisu yang baru saja digunakannya itu tepat di depan wajah Jian dan teman-temannya.
Jian dan kedua temannya melotot tidak terima. Sementara Bunga tersenyum miring. "Pinter gue buang sampah pada tempatnya!" teriak Bunga seraya berjalan keluar.
Kali ini Jian tidak terima. Karena ucapan Bunga itu beberapa teman kelasnya yang melihat menertawainya. Gadis itu berlari mengejar Bunga.
"Si*lan lo ya!" Jian menarik rambut Bunga dari arah belakang. Membuat Bunga mau tidak mau harus meladeni Jian dan kedua cunguknya itu.
Bugh
Dengan sengaja Bunga menyiku perut Jian sampai membuat gadis itu memekik sakit.
"Bunga si*lan lo! kalian cepet bantuin gue!" teriak Jian kepada kedua temannya.
Pada akhirnya kedua teman Jian berusaha untuk membantu Jian melawan Bunga. Tetapi keduanya tidak begitu berani. Terbukti dari keduanya yang cuma berwajah cemas di depan pertengkaran Bunga dan Jian.
Kedua gadis itu sudah saling menarik rambut. Sesekali Bunga berusaha mencakar Jian, begitu juga dengan Jian.
Para siswa/i saling berdatangan melihat tontonan gratis itu. Mereka saling bersorak mendukung satu sama lain.
"Asli gue jijik banget harus ngeladeni mulut sampah kayak lo!" kesal Bunga melepskan tarikan tangannya pasa rambut Jian. Gadis itu sedikit mendorong tubuh Jian dengan rambut yang tadi dipegagnya.
"Lo pikir gue nggak jijik? gue lebih dari jijik harus pegang bunga bangkai kayak lo!" timpal Jian membuat Bunga menatap tajam.
"Ba**t!" ucap Bunga tepat di depan Jian. Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan Jian yang sedang mengumpatnya kesal.
Dan di sinilah sekarang Bunga. Gadis itu sedang berlari di memutari lapangan sampai 20 kali, begitu juga dengan Jian yang mendapat hukuman yang sama. Sedangkan kedua teman Jian hanya disuruh untuk memutari lapangan sebanyak 10 kali.
"Kalian jangan berhenti sampai hukumannya selesai!" ucap Pak Bambang tegas.
"Iya pak!" jawab mereka kompak.
Kebetulan disaat itu geng Bian berjalan menuju kanti. Mereka melihat sang pujaan hati yang sedang berlari mengitari lapangan.
"Anj*y pemandangan indah banget ini!" Andre berdecak kagum melihat Bunga yang sedang berlari.
Bayangkan saja mata cowok itu tidak jauh dari dada Bunga yang terus naik turun seiring dengan pergerakannya.
"Si oncom udah ngiler aja kalau liat gituan!" Roni menutup muka Andre dengan telapak tangannya.
Mencium bau tidak sedap dari telapak tangan Roni membuat Andre protes. "Nj*rr tangan lo bau got gitu!" kesal Andre seraya menampilkan wajah ingin muntah.
Oki dan Roni saling pandang nyengir. "Roni baru aja cebok tadi Ndre," beritahu Oki membuat Andre seketika merasa mual di perutnya.
"F**k, bia**b lo Ron!" maki Andre seraya berlari untuk menuju ke toilet.
"Kalian sini!" suruh Pak Bambang membuat mereka menghampiri guru yang sedang berdiri di tepi lapangan.
"Kenapa pak? mau ngutang?" tanya Roni membuat Pak Bambang menampilkan wajah sangarnya.
"Kamu ini nggak ada sopan santunnya sama guru! saya kasih nilai-"
"Iya pak ampun pak, elah becanda doang baper!" potong Roni sebelum Pak Bambang melanjutkan ucapannya tadi.
Oki tertawa dan langsung ngicep ketika mendapat pelototan dari Pak Bambang. Sementara Bian, cowok itu sedari tadi terus diam, memperhatikan Bunga yang sedang berlari di lapangan sana. Tangannya mengepal melihat paha mulus Bunga yang sesekali terlihat karena pergerakannya. Bian selalu tidak suka jika ada yang meliha keindahan yang gadis itu miliki.
"Kalian gantikan aku mengawasi mereka, sudah ada 5 putaran Bunga dan Jian kurang 15 kali putaran."
"Wow...mantab!" komentar Roni dan Oki secara bersamaan.
"Itu yang dua Sani dan Nida kurang 5 kali putaran lagi, ingat jangan sampai ada yang curang dari mereka. kalau ada apa-apa kalian beritahu saya!" jelas Pak Bambang yang langsung mendapat hormat dari Roni dan Oki.
"Siap pak," jawab keduanya kompak.
"Ya sudah saya tinggal dulu, jangan ribut kalian!"
Setelah kepergian Pak Bambang, Bian melirik ke arah Roni dan Oki secara bergantian. Niatnya ingin pergi, tetapi kedua sahabatnya sudah lebih dulu mencegahnya.
"Eitsss kemana lo man? nikmati pemandangan yang indah ini, noh liat neng Bunga bodinya aduhai pengen gue uyel-uyel rasanya!" celetuk Roni dengan wajah mengesalkannya.
Bian mengepalkan tangannya kuat. Telinganya terasa panas setiap kali mendengar ocehan teman-temannya yang terus berkhayal tentang Bunga.
"Weh...bang**t lo Ron! gue muntah beneran!" Andre datang dengan nada marah kepada salah satu sohibnya.
"Beneran muntah ye? jangan-jangan ye hamidun lagi," ledek Roni dengan nada bicara tiruan khas Deni.
Gelak tawa terdengar dari mereka. "Ba**t lah kalian! gue lemes banget ini!" Andre mengeluh seraya duduk di pinggir lapangan. "Mending liatin obat gue," gumamnya memandangi Bunga.
"Halah..otak lo! sekali-kali harus di loundry biar nggak ngeres mulu!" Oki mencibir seraya ikut bergabung.
"Gila ya si Bunga bisa gede gitu! coba gue jadi sabunnya!" gumam Oki dengan otak nakalnya.
"Kalian setop!" teriak Bian membuat teman-temannya menatapnya heran. "Lha..baru berapa putaran doang Ian, kenapa disuruh berhenti?" protes Oki.
"Udah 20 kali," jawab Bian pergi dari tempat itu.
"Hah masa sih? yah...baru mapan di sini udah selsai aja!" keluh Andre membuat Oki dan Roni tertawa mengejek.
"Makan tuh tangan bekas cebokan gue!" ledek Roni yang lagi-lagi memancing emosi Andre.
"Breng**k kalian!" Andre belari menghampiri Bian yang sudah lebih dulu pergi.
Brak
Bunga terlonjak kaget melihat kedatangan Bian yang tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.
"Kelu-"
"Jalan!" perintah Bian seraya menatap ke arah Bunga.
Terdengar helaan napas dari gadis itu. Tetapi dia mulai menyalakan mesin mobilnya. "Gila," gumamnya lirih.