Karena alasan cinta, Aisha mengubur cita-citanya dan menikah muda dengan Aarick. Namun sayang, ternyata cinta saja tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Di mana dia menyentuhmu! Apa selama ini kau selingkuh di belakangku?" teriakan Aarick menggema di dalam kamar.
"Apa kau akan melepaskan aku jika aku menjawab iya?"
"Aisha!!"
Sejak pertengkaran itu Aarick semakin bersikap dingin, bahkan rasa cemburunya sudah menyakiti Aisha dan janin yang dikandung istrinya.
Bagiamana akhir rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT2. Bab 19
"Kamu akan segera menjadi milikku." Sekali lagi Aarick mengusap bibir Aisha yang sudah hampir membengkak karena ulahnya. Ciuman pertama ini akan menjadi moment spesial untuknya. "Tidak terlalu buruk, kamu pandai mengimbangiku," bisikkannya membuat Aisha malu, gadis ini menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aarick.
Aarick semakin menegang, namun ia berusaha untuk menguasai diri, dirinya tidak boleh melakukan hal yang lebih jauh lagi, jangan sampai ia merenggut kesucian Aisha dan mengecewakan semua orang. Jangan sampai ucapan Elang menghancurkan semuanya.
"Aku harus pergi sebelum papamu menikahkan kita secara paksa," ia tersenyum saat mengucapkannya, namun ntah mengapa hatinya masih gelisah seperti ada sesuatu yang akan merusak kebahagiaan mereka. Tapi apa?
"Bukannya itu yang kakak mau?" Aisha bergumam sembari menarik Aarick menuju balkon kamarnya. "Kita masih dipingit, jadi jangan nekat datang ke sini lagi," ucap Aisha.
"Akan aku langgar semua peraturan asalkan aku bisa ketemu sama kamu," ia mengecup singkat bibir Aisha sebelum melarikan diri dari kamar Aisha.
"Dasar keras kepala," gumam Aisha, ia masih berdiri di sana memastikan Aarick benar-benar pergi dari rumahnya.
***
Sementara di sebuah gedung yang sudah lama terbengkalai, tampak seorang laki-laki duduk di lantai yang kotor dengan kedua tangan dan kaki diikat tali dan sudah lebih dari dua jam matanya ditutup kain hitam panjang hampir menyerupai dasi.
"Sial! Aarick lepaskan, aku!!!"
Suara teriakan Elang menggema di ruangan pengap dan gelap gulita ini, hanya beberapa orang penjaga pintu yang mendengar teriakannya, ia terus mengumpat dan memaki Aarick.
"Aku akan membunuhmu kalau kau berani menyentuh adikku!!"
Sekeras apapun ia berteriak tidak akan ada orang yang datang menyelamatkannya, Elang tidak tahu kalau tempat ini letaknya cukup jauh dan terpencil dari kota.
"Aarick!! Lepaskan aku bangs*t!"
"Diam!!!"
Elang memasang telinga demi mencoba mengenali suara ini. "Di mana Aarick pengecut itu?" Elang berteriak dan terus meludah. Ia sangat muak dengan tingkah Aarick yang sampai sekarang belum juga menampakkan diri, malah justru menyuruh orang untuk menghajarnya.
"Bos kami tidak bisa datang ke sini, lebih baik kau diam sebelum mulutmu kami sumpal pakai kaos kaki!"
"Brengsek!" Elang masih saja memaki ketika beberapa orang di sana menertawakannya.
"Rencana berubah, malam ini bos nggak bisa datang, jadi pastikan dia nggak bisa melarikan diri," ucap salah seorang yang ukuran tubuhnya lebih besar dari Elang.
"Merepotkan!"
"Lepaskan aku brengs*k!"
"Diam!!"
Bug!!
Rahang Elang dipukul sampai ia tersungkur hingga kini wajahnya sudah menyentuh lantai. Dengan susah payah ia kembali duduk ke tempat semula.
Elang tertawa, "Kalian pikir aku takut? Cepat panggil Aarick pengecut itu!" Ia masih terus melawan tanpa ada rasa takut sedikitpun ia mengumpat dan berteriak.
"Kau yang pengecut!" Ia mencengkram kerah kemeja Elang. "Sekali lagi kau bicara, kupotong lidahmu!" Dengan kasar ia menghempaskan Elang sampai punggungnya membentur tembok.
"Sudah cukup! Bos cuma minta kita kasih pelajaran sama dia, bukan malah membunuhnya di sini!"
Mereka merasa ini sudah cukup, wajah Elang sudah memar dan kini tiba waktunya untuk meninggalkan Elang seorang diri. Lima laki-laki yang dibayar untuk membawa dan menyakiti Elang ini pergi dan mengunci Elang dari luar.
"Keluarkan aku dari sini!" Elang terus meronta dan berteriak, namun sayang tidak ada yang bersedia melepaskannya. Elang yakin jika semua ini adalah ulah Aarick Erlangga.
Musuh dalam selimut, ya seperti itulah kenyataannya.
Sore tadi ia sengaja datang ke rumah Ariel untuk bersilahturahmi, meskipun hubungannya dengan Aarick dan Aditya tidak baik namun Elang masih menghargai Ariel dan Anggun yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri.
Keluarga itu masih menyambutnya dengan baik, menganggapnya seperti anak yang baru saja pulang dari perantauan, begitu juga dengan Aarta yang masih bergelayut manja di lengannya, padahal anak itu bukan adik kecilnya lagi tetapi sedikitpun tidak sungkan duduk di sampingnya. Ya! Itu yang membuat Elang betah di rumah Erlangga.
"Berani juga kau menampakkan batang hidungmu di sini," ucap Aarick pelan, suaranya terkesan dingin karena tidak suka Elang ada di rumahnya.
Elang menjatuhkan puntung rokok di atas rumput taman lalu menginjaknya dengan kasar, matanya memicing melihat Aarick yang duduk di hadapannya, cuma ada mereka berdua di bangku taman karena yang lain baru saja membubarkan diri untuk membantu Anggun menyiapkan makan malam.
"Aku datang bukan untuk bertemu seorang pengecut dan pengkhianat," ia tersenyum sinis sengaja menyinggung Aarick. "Mamamu sudah menyiapkan baju untuk aku pakai di hari pernikahanmu nanti, jadi aku datang untuk mengambilnya."
Aarick mengernyit melihat Elang yang tampak tenang bahkan kedua ujung alisnya hampir menyatu berusaha mencari kebohongan di wajah Elang.
"Apa yang kau rencanakan?" Aarick tahu kalau Elang tidak mungkin semudah ini merestuinya. "Kau tidak akan bisa menghancurkan pernikahanku!" Aarick mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia memukul Elang yang justru sudah memainkan ponselnya.
"Kau tidak mencintai adikku, kau cuma ingin menghancurkan masa depannya!"
"Omong kosong!"
"Kau cuma mau membalasku, Aarick. Kau pengecut karena sudah memperalat adikku!"
"Tutup mulutmu!"
"Kenapa? Bukankah memang itu kenyataannya? Kau mau membalasku, kau sengaja mendekati adikku dan menunjukkan kalau kau lebih hebat dariku, kau cuma beramin-main dengan Aisha...."
Aarick tertawa, kini keduanya saling menatap dan siap untuk menghancurkan satu sama lain.
"Jadi ... kau sudah membaca pikiran dan rencanaku?" Aarick menepuk bahu Elang. "Kau benar... aku cuma memeralat Aisha Bella untuk menghancurkanmu. Aku tidak benar-benar mencintainya, semua ini hanya sandiwara saja. Kau lihat ... aku bisa mendapatkan apa yang aku mau," ucap Aarick dengan lantang. Namun hatinya terasa sakit saat mengucapkanya.
Elang menepis tangan Aarick. "Aisha akan tau siapa dirimu yang sebenarnya, dan aku akan ada di hadapanmu untuk menyaksikanmu menangisi pernikahan yang tidak terlaksana." Giliran Elang menepuk lengan Aarick. "Bukan aku ... tapi Aisha yang akan menggagalkan pernikahan ini." Elang beranjak pergi meninggalkan rumah Erlangga.
"Kau tidak bisa mengancamuku, Elang!!!" teriak Aarick.
***
Elang tidak bisa menghindari lima pria berbadaan kekar yang menghalangi jalannya, kebetulan petang itu jalanan terbilang sepi, tidak ada seorangpun yang melintasi lokasi kejadian. Hingga sampailah ia di tempat ini.
Elang masih berusaha melarikan diri, dengan pergerakan yang terbatas ia meraba apapun yang ada di sekitarnya.
"Aku bersumpah, kau tidak akan bisa menikahi adikku tanpa ijin dariku," gumamnya dengan rahang yang mengeras.
***
Hai, aku boleh curhat sedikit? Sebenarnya Mantan Tercinta 2 masih dalam tahap revisi. Makanya jarang up, maklum aku masih belajar nulis. Jadi ya gitulah ceritanya garing.
ya, besok mereka menikah.