Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: RAHASIA TERBONGKAR
#
Hari Rabu sore. Dyon sama Ismi jalan pulang bareng dari sekolah—seperti biasa minggu ini. Mereka jalan pelan, ngobrol santai, sesekali ketawa.
Di persimpangan jalan, sebelum mereka pisah—Ismi ke arah rumahnya yang mewah di perumahan elite, Dyon ke arah gubuknya yang kumuh—Ismi berhenti sebentar.
"Dyon," panggilnya lembut.
"Iya?"
Ismi senyum—malu-malu. "Aku... aku seneng hari ini."
Dyon senyum balik. "Aku juga."
Tanpa mikir panjang—karena jalanan sepi, nggak ada yang lewat—Ismi pegang tangan Dyon. Jari-jarinya mengait dengan jari Dyon—hangat, lembut.
"Besok kita ke perpustakaan lagi yuk," kata Ismi.
"Oke. Jam berapa?"
"Habis sekolah langsung. Aku tunggu kamu di—"
Klik.
Bunyi kamera hape.
Dyon sama Ismi langsung nengok—cepat, kaget.
Di seberang jalan, ada seseorang. Cewek. Seragam SMA sama—tapi beda kelas. Rambut dikuncir tinggi, muka familiar.
Teman sekelas Ismi.
Namanya... siapa ya? Dyon lupa. Tapi dia pernah liat cewek ini bareng Ismi beberapa kali.
Cewek itu senyum—senyum jahat. Hape masih diacungin ke arah mereka. Jelas dia baru aja foto.
"Wah, wah, wah," kata cewek itu sambil jalan menyeberang. Suaranya nyinyir. "Ismi Nur Anisah... ternyata lo pacaran sama... si Sampah? Astaga, gue nggak nyangka!"
Ismi langsung lepas tangan Dyon—cepat, panik. "Sinta... ini... ini bukan—"
"Bukan apa? Bukan pacaran?" Sinta—nama cewek itu—ketawa keras. Dia buka hapenya, ngetik sesuatu. "Tenang aja, gue udah foto. Bukti jelas. Gue... gue bakal kirim ini ke group chat orang tua."
Jantung Dyon berhenti. "Jangan... jangan lakuin itu—"
"Kenapa? Lo takut?" Sinta nyengir—kejam. Matanya melirik Dyon dari atas ke bawah—meremehkan. "Harusnya lo tau diri, Sampah. Anak miskin kayak lo... nggak pantas dekatin Ismi. Keluarga dia kaya raya. Bapaknya pengusaha tambang. Sementara lo? Lo siapa? Anak jalanan yang tidur di gubuk!"
"Sinta, kumohon," Ismi nangis—air matanya langsung jatuh. "Jangan kirim foto itu. Kumohon... aku... aku mohon sama kamu..."
"Kenapa? Malu ya?" Sinta ketawa lagi. "Harusnya dari awal lo nggak pacaran sama orang kayak dia. Memalukan!"
"JANGAN HINA DIA!" Ismi teriak—suaranya pecah. "DYON... DYON BAIK! DIA NGGAK KAYAK YANG LO PIKIR!"
"Baik? Dia miskin, Ismi! MISKIN! Lo pikir cinta bisa makan? Lo pikir bapak lo bakal terima dia?!" Sinta geleng-geleng kepala. "Udahlah. Gue nggak mau buang waktu ngomong sama kalian. Gue... gue kirim foto ini sekarang."
Jari Sinta mulai ngetik—cepat.
"JANGAN!" Ismi mau ngerebut hape Sinta—tapi Sinta menghindar.
"Udah telat," kata Sinta sambil senyum puas. "Sent. Sekarang... sekarang semua orang tua tau. Termasuk... bapak lo."
Ismi terdiam. Muka pucat. Badan gemetar.
Sinta pergi—jalan santai sambil siul-siul kecil. Ninggalin Dyon sama Ismi yang berdiri di persimpangan jalan.
Hening.
Cuma suara kendaraan lewat—motor, mobil, angkot.
"Ismi..." Dyon pegang bahu Ismi—hati-hati. "Kamu... kamu—"
Hape Ismi bergetar. Bunyi nada dering—keras, nyaring.
Ismi ambil hape dari saku rok—tangannya gemetar. Layar menyala.
Nama di layar: **Ayah**.
Ismi menatap layar itu lama. Napasnya putus-putus.
Terus... dia angkat.
"Halo... Ayah?"
Suara ayahnya langsung meledak—keras, ngamuk. Dyon bisa denger dari jarak sejauh ini.
"ISMI NUR ANISAH! KAU DI MANA SEKARANG?!"
"Ayah, aku... aku baru pulang sekolah—"
"JANGAN BOHONG! AKU SUDAH TAU! AKU SUDAH LIHAT FOTONYA!" Ayahnya teriak—suaranya kayak gempa. "KAU... KAU BERANI PACARAN SAMA ANAK JALANAN ITU?! DASAR ANAK ANJING! BERANI SEKALI MACARIN ANAK GUE!"
Ismi nangis—keras. "Ayah, kumohon dengerin dulu—"
"NGGAK ADA YANG PERLU DIDENGERIN! KAU PULANG SEKARANG! SEKARANG JUGA! ATAU AKU JEMPUT KAU SENDIRI DAN AKU HABISIN ANAK ITU!"
Pip.
Sambungan diputus.
Ismi terdiam. Hape masih digenggam—erat, sampe tangan putih. Air mata ngalir deras—jatuh ke aspal.
"Ismi..." Dyon nggak tau harus ngomong apa. Dadanya sesak. "Aku... aku minta maaf. Ini... ini salah aku. Aku nggak seharusnya—"
"Bukan salah kamu," potong Ismi—suaranya serak. "Ini... ini salah aku. Aku... aku yang nggak hati-hati."
"Tapi—"
"Aku harus pulang," Ismi ngelap air matanya kasar—tapi makin banyak yang keluar. "Kalau... kalau aku nggak pulang sekarang, Ayah... Ayah bakal... bakal nyakitin kamu."
"Aku nggak takut—"
"TAPI AKU TAKUT!" Ismi teriak. Matanya menatap Dyon—penuh ketakutan. "Aku takut kamu diapa-apain! Aku... aku nggak mau kehilangan kamu!"
Dyon pegang kedua tangan Ismi—erat. "Ismi, dengerin aku. Apapun yang terjadi... kita hadapi bareng. Oke? Bareng."
Ismi geleng—cepat. "Kamu nggak kenal Ayah aku, Dyon. Dia... dia kejam. Kalau dia udah marah, dia... dia bisa ngapain aja. Dia punya koneksi. Dia bisa... dia bisa—"
Hape Ismi bergetar lagi. SMS masuk.
Ismi buka—tangannya gemetar.
Dari Ayah: **"Kalau dalam 10 menit kau belum sampai rumah, aku suruh orang ku cari anak itu dan bunuh dia. Pilih."**
Ismi langsung panik. "Aku... aku harus pulang. Sekarang."
"Ismi—"
"Maaf, Dyon," Ismi nangis—peluk Dyon cepat, erat. "Maaf... maaf banget. Aku... aku nggak tau ini bakal terjadi. Aku... aku mencintaimu. Tapi... tapi aku harus pulang."
Ismi lepas pelukan. Lari—cepat, ninggalin Dyon sendirian di persimpangan.
Dyon cuma bisa nonton punggung Ismi yang makin jauh. Makin kecil. Terus hilang di tikungan jalan.
Dia berdiri di sana—sendirian. Tangan masih di udara—kayak mau ngeraih sesuatu yang udah hilang.
Angin sore bertiup—dingin, bikin bulu kuduk berdiri.
*Kebahagiaan kami hanya bertahan seminggu.*
Dyon duduk di trotoar—lemas. Kepala ditaruh di lutut yang dipeluk.
*Dan neraka yang sebenarnya baru akan dimulai.*
---
Sementara itu, di rumah mewah keluarga Anisah...
Ayah Ismi—Pak Hendra, pengusaha tambang yang badannya besar, wajahnya keras—berdiri di ruang tamu. Tangan dilipat di dada. Di sampingnya ada Ibu Ismi—Ibu Sarah, dokter cantik tapi wajahnya dingin.
"Kau lihat fotonya?" tanya Pak Hendra ke istrinya.
"Lihat," jawab Ibu Sarah datar. "Memalukan. Anak kita... pacaran sama sampah jalanan."
"Aku akan putuskan hubungan ini," kata Pak Hendra—tegas. "Aku nggak akan biarkan anak ku jatuh cinta sama orang rendahan."
"Bagaimana caranya?"
Pak Hendra senyum—senyum yang kejam. "Aku ada cara. Cara yang pasti berhasil."
Pintu rumah terbuka.
Ismi masuk—napas ngos-ngosan, muka basah penuh air mata.
"Ayah... Ibu..." suaranya gemetar.
Pak Hendra menatap Ismi—dingin. "Duduk."
Ismi duduk di sofa—gemetar. Tangannya ngepal erat.
"Jelaskan," perintah Pak Hendra. "Siapa anak itu? Dan kenapa... kenapa kau berani pacaran dengannya?"
Ismi diam—nggak berani ngomong.
"AKU TANYA!" Pak Hendra membanting meja—bunyi keras, bikin Ismi loncat kaget.
"Namanya... namanya Dyon," jawab Ismi pelan. "Dia... dia teman sekolah ku. Dia... dia baik, Yah. Dia—"
"Baik?" Pak Hendra ketawa—sinis. "Dia miskin! Anak jalanan! Tidur di gubuk! Kerja serabutan! Apa yang baik dari orang kayak dia?!"
"Dia punya hati yang baik!" Ismi teriak—berani melawan untuk pertama kali. "Dia... dia lebih baik dari orang-orang kaya yang munafik!"
Tamparan keras.
Pipi Ismi merah. Panas. Sakit.
Ibu Sarah yang nampar—matanya tajam. "Jangan berani melawan Ayah mu."
Ismi menangis—diam, air mata ngalir.
"Mulai sekarang," kata Pak Hendra—tegas. "Kau dilarang bertemu anak itu lagi. Dilarang ngomong. Dilarang apapun. Kalau aku tau kau melanggar... aku akan bunuh dia. Mengerti?"
Ismi terdiam.
"MENGERTI?!"
"...Mengerti," bisik Ismi—suaranya hancur.
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Tapi cinta nggak semudah itu diputus. Dan aku... aku nggak akan menyerah. Meskipun harus melawan seluruh dunia.*