Gadis lugu yang pandai menyembunyikan luka dihati nya, ceria itulah dia, namun siapa sangka Arana yang dikenal ceria itu sering menyendiri, memendam perasaan nya sendiri.
Ia yang sering memperdulikan orang lain dibanding dirinya sendiri. Kebahagian nya ia anggap belakangan.
Hujan. Ara sangat suka, disaat ia suka menyendiri, rintik rintik nya menemani dirinya, hingga ia berpikir akan mencari sosok pelangi untuk nya.
Mampukah ia mencar pelangi tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aniya Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
"Lo gak tau fashion ya, ini model jaman sekarang tau, lo norak jadi cewe!" balas wanita itu, lalu melepas high heels nya dan mengejar Ara sampai ke kamar Lion.
"Lion ada orang gila yg nyari Lion, Lion maling cangcut nya ya?" ucap Ara memberi tahu Lion.
Hingga wanita itu mendengar nya dan menghampiri Ara dan ingin sekali menjambak rambut Ara kuat-sekuat kuat nya.
"Lila?" beo Lion, Lila yg merasa nama nya disebut, berhenti dan mengarah menghampiri Lion.
"Aku kesini mau jenguk kamu baby.."ucap nya mengelus wajah lion dengan kuku nya yg warna warni bak nenek lampir.
Namun Lion menghentikan pergerakan tangan Lila dengan kuat. Lalu menghempaskan nya.
Lila seperti tak merasa puas, ia tertawa.
"Aku kangen kamu nyentuh aku--"
"Kamu orang gila kayak nya, yuk Ara anterin ke rumah sakit jiwa biar kamu sembuh"ajak Ara menarik tangan Lila untuk bangun.
Lila menghempas nya.
"Lion! Pecat aja pembantu kamu, dari tadi dia gituin aku mulu.. liat baju aku.. basah karna dia!" sinis Lila manja menatap Ara tajam sedangkan menatap Lion manis.
"ihh..kamu kayak uler tauk! Ganti kulit nya cepet bangettt, ohya, kamu uler jenis apa?" tanya Ara ke Lila, Lila melotot.
"Dari pada lo, benalu!"
"Gak papa aku jadi benalu kan nempel sama Lion, Lion juga gak ke beratan tuh, kalo kamu uler ihh serem kayak muka kamu tuh, didempul ya? Bisa putih gitu" ucap Ara tanpa dosa.
Sungguh Lion ingin tertawa terbahak-bahak mendengar nya.
"Lo ngeselin banget ya! Sini biar gue cekek lo sampe mati!" ucap Lila karna dirinya gerammmmm sekali ingin membunuh dan memotong-motong tubuh Ara dan akan disumbangi ke anak anjing.
"Lila" cegat Lion, Lila yg hendak bangkit pun mengurungkan niat nya, dan menatap Lion dengan manis namun bukan tatapan manis yg Lion lihat, melainkan Lila yg seperti menggoda diri nya.
"Mending lo pergi" usir Lion, membuat Lila ternganga terkejut.
"Hahahahahha" tawa Ara menggelegar dikamar Lion. Lila menatap Ara sengit, Ara diam, namun tawa nya tidak ingin terhenti.
"Okeoke.. Ara diem.. hahaha"
"Huuuffh.. Ara diem oke.. Ara diem hahaha suuuttt uhh mulut ini ga bisa diem haha..."
Lila menatap Ara dengan tatapan kesal nan jengkel.
"Uler nya pergi dulu.. hush..hush.."usir nya menggeser tubuh Lila, dan menepati tempat Lila yg tadinya duduk ditepi ranjang disamping Lion, kini dirinya lah yg berada ditempat itu, sedangkan Lila yg tergeser hampir terjatuh.
"Lo!!---oke Lila lo sabar.. ni benalu harus lo kasi tau tempat nya dimana" suara yg tadi nya ingin meninggi kini dirinya berbisik untuk dirinya sendiri.
"Lion kita berdua makan yuk.. ntar ketiga nya setan" ucap Ara melirik Lila, tangan nya yg sudah menyendokan ke arah mulut Lion.
Lion melahap nya.
Namun saat sendok itu masuk kedalam mulut Lion, Sendok itu ditarik kuat oleh Lila.
"Awgh!" rintihan itu keluar dari bibir Lion, bibir nya berdarah.
"A..--aa.. ma--aaf Lion.. Aku.. Aku ga sengaja.." Lila tergagap-gagap karna kira nya sendok itu sudah keluar dari mulut lion. Ternyata tidak.
"Lo tau pintu keluar dimana kan? Awhhh" kode usir Lion, memegangi sudut bibir nya yg lecet dan berdarah.
"Bi..biar aku.. aku obatin kamu dulu..ya"
"Gue bilang pergi!" ucap Lion dengan nada sedikit meninggi, membuat tubuh Lila kaget, ia mengambil tas kecil nya dan pergi dengan terburu-buru.
"Awhh" rintih Lion.
"Aku.. aku ambilin--"
"Lo ngapain masih disana ha?! Pergi gue bilang!" usir Lion yg menatap ke arah pintu yang masih ada Lila.
"Itu.. high heels gue.. ketinggalan...oke gue ambil.." ucap nya lalu mengambil benda itu dan berlari kabur.
"Lion jangan galak-galak... kasian uler nya takut" ucap Ara yg sudah kembali dari mengambil kotak pt3k.
Lion tidak menjawab. Bibir nya terluka.
"Sini biar Ara obatin.."
Namun Lion menghentikan pergerakan tangan Ara yg ingin memegang pipi nya.
Mata lion mengarah ke dahi Ara yg benjol berwarna merah.
"Obatin kening lo dulu" suruh Lion.
"Nanti aja.. Lion dulu.."
"Gak. Lo dulu"
"Em.. gimana kalau.. Ara ngobatin bibir Lion, Lion ngobatin kening Ara?" tawaran dari Ara. Boleh juga, Lion menerima nya.
Kini kedua nya mengobati luka bersama.
Lion mengobati kening Ara dengan telaten, saat Ara mengeluh sakit, Lion meniup nya dengan lembut.
Berbeda dengan Ara, jika Lion mengeluh sakit dirinya akan mengelus pipi Lion.
Kelihatan romantis ya. Apa ini uwu-uwu an? Help alergi uwu-uwuan.
"Dah" ucap Lion yg sudah memakaikan perban di kening Ara dengan rapih.
Lalu Lion dikejutkan dengan Ara yang mendekati dirinya sampai dirinya menumbur kepala ranjang.
Karna Ara yang juga belum selesai mengobati sudut bibir nya, Lion menelan saliva nya karna mendapati wajah Ara yang dekat dengan nya.
Ara yang merasa dilihati, menatap ke Lion. Mata nya seketika membulat karna ia tak tahu ia sangat dekat dengan Lion. Ara langsung menjauhkan tubuh nya namun Lion menghentikan nya.
Lion terfokus dengan bibir Ara, Ara menelan saliva nya gusar saat Lion perlahan demi perlahan mendekati nya.
"WOY WOY WOY!" kedua nya langsung menjauh dan melihat ke pintu bersamaan.
Ori dan Gusti.
Ara terperanjat dan langsung bangun.
Suasana hening sampai Lion membuka suara.
"Lo berdua ngapain balik lagi?" ucap Lion.
"Lo seharusnya bilang makasih! Kalo kita dua kagak balik lagi Ara pasti udah dibawah lo" ucap Ori.
"Bener tuh" sahut Gusti.
"Ya.. yaudah, ngapain masih disitu? Udah sana" usir Lion, sudah ia tebak sohib nya itu pasti akan balik lagi.
"Si anjim!" umpat Gusti.
"Kita berdua balik lagi bukan karna apa, nih duit lo, untung masih inget, kalo gak udah gua bawa kabur" ucap Ori. Lalu menaruh sekoper kecil dinakas kamar Lion.
"Yaudah" Lion menjawab singkat, karna ia tahu Gusti dan Ori tak bisa hidup tanpa diriinya. Asekk.
"Si anjim ngomong yaudah doang" umpat Ori pelan, namun didengar oleh Lion.
"Yaudah! Yok Gus" Ori merangkul Gusti berpura-pura ingin pergi.
"Lo berdua gak mau?" Lion mengetes.
"Ya.. ya mau lah! Mau bayar sewa baju cheers" jawab Ori.
Mau tapi gengsi ya..
"Nih" jawab Lion.
Gusti dan Ori berbalik, dengan gaya sandiwara cuek nya.
"Ambil 30, 20 buat lo berdua, 10 buat panti" ucap Lion, Ara terkejut.
Lion? Begitu? Tetapi kenapa dengan nya berbeda? Lion malah menghitung nya sebagai hutang.
"Ion kebanyakan" Ori ragu menerima.
"Kek sama siapa aja, ambil" Lion menjawab.
"Yaudah gua ambil ya" Lion mengangguk.
"Lah? Lo gak mau pulang? Betah bener" Gusti beralih melihat Ara. Ara gugup, bingung untuk menjawab, ia hanya menunduk.
"Itu... itu Ara--"
"Lo ambil minum gih, gua haus, mereka juga mau" suruh Lion, Ara mengangguk. Sedangkan
Ori dan Gusti mengernyit tak mengerti.
Setelah merasa Ara sudah pergi, Gusti dan Ori mendekat.
"Ion? Dia gak pulang? Ntar bokap nyokap dia nyariin gimana?" tanya Gusti.
"Rumah dia disini" jawab Lion.
"Maksud lo?"
"Ara tinggal sama gue" jawab Lion.
"WHAT THE--" Gusti langsung membekap mulut Ori.
"Lo kalo ngumpat yang bagus dulu ngapa, astagfirullah gitu" ujar Gusti.
"Astagfirullah..." Ori beristigfar.
"Gue ganteng" lanjut nya.
"Gak ada akhlak" sembur Gusti.
"Kok bisa? Dia diusir emang sama orang tua nya? Terus gak ada lagi yang mau nerima dia? Terus dia ngedeketin lo? Terus dia ngemis minta tinggal sama lo?" Ori berumpama.
"Mulut jaga Ri, dia gak seburuk itu" Lion beraut wajah datar.
"Ya.. ya maap, siapa tau kan, buktinya tuh Selin yang sahabat dia sendiri dilukain? Mangkanya dia dapet karma"
"Ara gak sejahat itu hiks.. Ara gak ngelakuin apa apa" ketiga nya langsung menoleh, kaget nya mendapati Ara dipintu, dengan menunduk menangis tangan nya memegang nampan berisi air putih.
Gusti langsung mengambil alih nampan tersebut dari tangan Ara
.
"Ara gak ngelakuin apa apa.. hiks.." Ara menangis. Ori merasa tak enak hati.
"Ya.. itu maksud gua.. bukan.." Ori mendekati Ara.
"Gini Ra, apa yang lo lakuin kemaren itu banyak akibat nya, Selin sahabat lo, dia di rawat dirumah sakit, cuma karna cowo lo nyelakain sahabat lo, ada cara nya Ra, bukan gitu" ucap Gusti.
"Tapi Ara gak ngelakuin apa apa Gusti, Ara gak ngelakuin apa apa hiks.."
"Coba lo ceritain Ra" ucap Gusti.
Ara pun mulai menceritakan dari ia diajak Selin keruang seni dan tentang kejutan yang ia maksud, Lion pun mendengar nya, dan disaat hari ulangtahun nya, Selin mengirimi nya pesan untuk ke ruang seni, sampai disana ia dikejutkan dengan keadaan Selin yang sudah memburuk, lalu tiba-tiba Saga datang, terdapat dua siswi juga yang menuduh nya.
"Ara gak tau apa-apa" ucap Ara, selesai menceritakan kejadian kemarin.
"Kok tiba-tiba ada Saga sama dua cewe itu?" Gusti mulai curiga.
"Kek udah direncanain, padahal kemaren banyak anak basket, tapi kenapa cuman Saga yang dipanggil?" tambah Ori.
"Besok, lo berdua deketin dua cewe itu, cari tau, mungkin mereka disuruh" ucap Lion.
"Oke. Lo tenang aja Ra, ada kita kita yang ada sama lo" ucap Gusti, Ara tersenyum terenyuh.
"Kalian percaya sama Ara?"
"Percaya" ketiga nya bersamaan.
Ara menghapus air mata nya, ia kini tak sendirian.
"Makasi" Ara tersenyum terenyuh.
"Besok lo kesekolah Ra, jangan mau lo dibilang takut, tunjukin kalo lo gak salah" ucap Lion.
"Iya Ra, ada gua sama Gusti kalo mereka macem-macem" ucap Ori.
"Tapi Lion nya...?"
"Ara gak bisa ninggalin Lion, Ara gak mau" tolak Ara.
"Gue bisa jaga diri Ra" jawab Lion.
"Ciee yang mulai khawatir cieee..." goda Gusti
up ya kak, karyanya bagus🐣
jangan lama"y😉😉