Kisah antara Deven dengan keluarganya yang telah membuang dirinya membuat dirinya berada di tengah tengah keluarga George dan Xeyla yang dipenuhi dengan musuh musuh
Selain kisah Deven disini juga ada kisah Clarine dan kedua saudara kembarnya yang terpisah dengan kedua orang tuanya karena salah satu musuh terbesar kedua orang tua nya yang iri akan usaha kedua orang tua nya yang sangat maju
Banyak pengorbanan dan air mata yang harus di lalui oleh Clarine untuk menyingkirkan satu persatu musuh musuh nya untuk mencapai kebahagiaan nya
Sedangkan Deven harus berjuang untuk menyingkirkan amarah dan kecewa di dalam hatinya untuk memaafkan keluarga nya yang telah membuang dirinya
Bukan hanya hal itu saja Deven harus menghadapi saudara kembarnya yang membencinya karena kehadirannya membuat perhatian keluarganya teralih
Bagaimana kah perjuangan satu keluarga untuk menggapai kebahagiaan?
Pastinya akan membutuhkan banyak pengorbanan untuk hal itu
Apakah mereka bisa menghadapi hal ini sampai selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembicaraan bersama Arley
Tok.. tok.. tok
Suara ketukan di pintu ruangan Arley
Tak lama pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik yang berjalan mendekat ke arah Arley
"Bagaimana keadaan mu sekarang " tanya Clarine lirih
Ada apa dengan dirinya mengapa seperti orang lagi sedih batin Arley
"Aku sudah mulai membaik dan kata dokter hari ini aku bisa pulang" jawab Arley
"Ok biar aku yang antar kamu pulang" ucap Clarine dengan lirih sambil menunduk
"Hah!! kau tidak lagi salah minum obat bukan" tanya Arley yang merasa aneh
"Biarkan aku menebus kesalahan ku" ucap Clarine lirih sambil mendongakkan kepalanya terlihat matanya yang berkaca kaca membuat sedikit hati Arley tercubit
"Kau ini kenapa kemarin kau masih angkuh dan sinis kenapa sekarang kau tiba tiba berubah" ucap Arley
Clarine menghepaskan tubuhnya di kursi samping ranjang Arley dengan kasar
"Bisakah kita menyelesaikan masalah kita" tanya Clarine
"Heh!!" sinis Arley
"Aku akan mengembalikan seluruh harta dan perusahaan milikmu" ucap Clarine memberi tawaran
"Aku tidak sedikitpun menyentuh maupun menggunakan uangmu" jelas Clarine lagi
"Lalu kau kemanakan uang hasil dari perusahaan ku" tanya Arley tak mengerti
"Aku donasikan sebagian ke beberapa panti asuhan juga panti jompo dan sebagian lagi aku gunakan untuk membeli beberapa rumah sebagai asetmu" jelasnya
Arley menghembuskan nafas dengan kasar ternyata selama ini hanya salah paham
"Tapi kenapa kau tiba tiba berubah seperti ini" pertanyaan yang mengganjal di hatinya sedari tadi
"Musuhku bukan hanya dirimu dan jika masalah kita yang hanya salah paham ini akan membuat konsentrasi ku akan pecah " ucap Clarine
"Kau ada masalah" tanya Arley dengan tidak berdosa
"Tentu saja ada masalah jika tidak ada masalah maka tidak akan ada musuh" ucap Clarine sedikit geram
"Ah iya iya aku yang salah pertanyaan nya" ucap Arley sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal
"Maksudku siapa musuhmu itu" tanya Arley
Bukan menjawab pertanyaan Arley kini Clarine menitikkan air matanya
Dia tahu hal ini hal baru baginya menangis di depan seorang musuh
Namun sekuat kuatnya bahu seorang wanita dalam menangani masalahnya dia tetaplah wanita
Dia juga bisa menangis kala kesedihan yang dia tahan dan rasakan saat ini
"Eh kenapa kau menangis" ucap Arley yang bingung dia harus apa
Ketukan di pintu membuat Clarine menghapus air matanya dengan kasar
"Maaf mengganggu sebelum anda pulang anda harus makan dan minum obat terlebih dahulu setelah itu dokter akan memeriksa keadaan anda baru anda bisa diijinkan pulang" ucap seorang suster
"Iya" ucap Arley singkat
Suster tersebut meletakkan nampan yang berisi makanan dan juga obat tak lupa segelas air di atas nakas kemudian pergi meninggalkan ruangan Arley
Arley mencoba mengambil makanan itu namun dengan cepat Clarine menyambarnya
"Bagaimana bisa kau makan dengan salah satu tanganmu di infus seperti itu biar aku suapi" ucap Clarine
Senyum Arley sedikit mengembang melihat sikap Clarine secara tidak langsung memperhatikan dirinya
Entah mengapa setiap berada di dekat wanita itu jantungnya selalu berdebar namun dia tidak mengakuinya karena dia selalu menganggap Clarine seorang musuh
"Buka mulutmu" perintah Clarine
Arley membuka mulutnya dan dengan telaten Clarine menyuapi Arley
Setelah selesai Clarine meletakkan mangkuk kosong yang tadinya berisi bubur di atas nakas
"Mulutmu cemong" ucap Clarine dengan menahan tawanya
"Tertawa saja tidak ada yang melarang" ketus Arley yang merasa malu dan berusaha menghapus noda di bibirnya
"Makanya kalau makan hati hati" ucap Clarine dengan terkekeh sambil menghapus noda di bibir Arley menggunakan tisu
"Kan kamu yang suapi kenapa jadi aku yang salah" ketus Arley
"Kamu kalau cemong makin ganteng" ucap Clarine sambil tertawa
"Ganteng dari mananya" gerutu Arley
"Kalau dilihat dari ujung sedotan" lanjut Clarine
Atau otak ku yg cetek ya
Tp semangat buat author dah nulis
sekedar komen ya Thor
Thor, Sd apaan ya ☝️☝️☝️
dan Ray....hendaknya menepi, kalau memang ingin mengambil hp itu