NovelToon NovelToon
Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Dewinisme

"Kau istriku, Laura!"

Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.

"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.

Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.


Update setiap hari kecuali minggu.

Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Langit senja disini sedikit kelabu.

Tak ada semburat sinar megah dari sang mentari itu.

Aku masih begini.

Menikmati senja berkutat dengan kata kata.

Sedari kemarin kurindui wajahmu.

Hingga kini masih begitu.

Kau!

Dengan segala ketidaktauanku tentangmu.

Begitu mengusik sanubariku.

Seolah ingin waktu lekas berlalu.

Dan membawaku pada pertemuan sakral denganmu.

Menghirup kembali aroma samar yg mengudara dari balik pakaianmu.

Ah kekasihku..

Tidakkah kau tau,

Aku disini begitu ingin bertemu.

Begitu ingin mendekapmu.

Mengeratkan kembali perasaan itu.

Mengecupi setiap inci wajahmu.

Hingga kau jengah dan menatapku sendu.

Pagi itu,

Akan aku tuntaskan rinduku padamu.

Waktu sudah menunjukan waktu hampir tengah malam, gadis bermata coklat gelap tampak masih terjaga di bilik kamar asrama seorang diri. Matanya sibuk membaca ulang tulisan yang baru saja ia buat.

Kamar persegi panjang untuk dua orang itu terasa sunyi tanpa kehadiran Gisel, teman sekamarnya. Gadis bongsor itu ternyata sedang berada di daerah Dago, tempat dimana ia menginap selama Laura di Jakarta. Hal itu Laura baru ketahui ketika ia sampai di asrama tadi sore, Laura yang melihat tak ada Gisel di dalam kamar, langsung menghubungi temannya itu.

Dan Laura kini tahu bahwa Gisel sedang berada di rumah salah satu kerabat orangtuanya, di Dago. Gisel begitu senang ketika Laura mengatakan bahwa dirinya sudah berada di asrama, ia mengatakan bahwa besok pagi dia akan langsung pulang ke asrama.

"Terlalu sentimentil tidak ya?" gumam Laura seorang diri.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Laura mem-posting tulisan baru itu di laman blog pribadinya.

Laura menyeruput lemon tea hangat yang ia buat tadi. Rasa manis gula dan asam dari lemon menyatu menciptakan sensasi rasa segar di lidah. Membuat matanya semakin awas, sama seperti saat ia melihat komentar masuk di laman tulisan barunya.

Bimasakti.

Akun itu berhasil membuat Laura tak sabar untuk segera membaca isi komentarnya.

Malam mulai merangkak.

Aku terbelenggu oleh tumpukan berkas yang usang.

Diam tak mampu beranjak.

Aku termenung dengan pandangan menyalang.

Menatap langit tak berbintang sambil bergumam,

'Oh sayang, kemana kau pergi?

datanglah.. meski hanya lewat bayangan'

Isi komentar dalam bentuk prosa itu menerbitkan senyuman di wajah cantik Laura. Kata-kata disana, terasa manis ketika Laura membacanya perlahan. Laura mencecap kembali lemon tea hangatnya, sebelum jarinya menari di atas permukaan keyboard. Tapi sepersekian detik jemarinya berhenti. Laura tampak berpikir sebelum kemudian ia memutuskan untuk mengirim pesan melalui ponselnya pada Bimasakti.

To Bimasakti:

Kemarin aku menghubungimu, tapi ponselmu tak bisa dihubungi. Dimana kau?

Pesan itu terkirim. Laura didera rasa penasaran yang tak berkesudahan pada sosok Bimasakti. Bagi dirinya, Bimasakti masih menyimpan kemisteriusan yang samar. Pertemuannya beberapa hari yang lalu di rumah sakit Jakarta, membuat Laura semakin ingin mengetahui banyak hal tentang lelaki itu. Satu pesan masuk di ponsel Laura.

From Bimasakti:

Maafkan aku.

Saat ini aku dan teman ormas sedang sibuk membuat strategi perang melawan pihak perusahaan. Menjawab panggilanmu sama artinya merusak konsentrasiku.

"Cih, dasar sok sibuk!" dengus Laura sebal membaca isi pesan dari lelaki itu. Gadis itu kembali membalas pesan Bimasakti.

To Bimasakti:

Sekarang kau menjadikanku alasan?!

Menyebalkan!

Pesan terkirim. Laura beranjak dari meja belajarnya untuk merebahkan diri di ranjang setelah ia mematikan laptopnya.Tak berselang lama, ponselnya berdering. Panggilan dari Bimasakti langsung menarik perhatian Laura. Ia menjawabnya.

"Halo" sapa Laura

"Laura?"

"Ya. Aku disini."

"Maafkan aku tak bisa menjawab panggilanmu kemarin." ucap Bimasakti penuh sesal.

"Ok, aku mengerti." Laura tersenyum penuh pemakluman. "Kau sedang dimana?" tanya Laura ketika mendengar keriuhan di tempat Bimasakti. Terdengar beberapa orang berbicara dengan nada suara yang bisa dibilang cukup keras.

"Aku sedang di markas. Kenapa?" Bimasakti belum menyadari keriuhan ditempatnya terdengar oleh Laura.

"Apa yang kalian lakukan tengah malam begini?" tanya Laura melihat jam dinding kamarnya.

"Kami sedang menyamakan argumen untuk siap melanjutkan perlawanan pada pihak perusahaan." Bimasakti menjelaskan sembari berjalan sedikit kearah luar markas untuk menghindari keriuhan di dalam.

"Banyak pekerja yang tewas karna kecelakaan kerja di perusahaan-perusahaan besar dan kecil Laura. Kami berusaha memaksa mereka untuk bertanggung jawab." ucap Bimasakti ketika tak mendengar suara Laura.

"Aku turut berduka. Semoga usaha kalian membuahkan hasil yang berarti." Laura bersimpati dengan tulus.

"Terima kasih." Bimasakti tersenyum mendengar ucapan Laura. "Jadi, bisa kau ceritakan untuk siapakah prosa yang tadi kau buat?" tanyanya menggoda.

Laura tampak berpikir sejenak. Dia ragu untuk menceritakan prosanya, karna nyatanya pada saat Laura merangkai bait kata itu, benaknya memang sedang dipenuhi oleh wajah Bimasakti. Harus kah ia katakan separuh dari bait itu ditujukan khusus untuk lelaki yang saat ini sedang berbicara dengannya?

Ah, rasanya memalukan sekali. Laura tak seberani itu untuk mengatakan yang sebenarnya. Mau dipasang dimana mukanya jika nanti bertemu lagi dengan lelaki itu?

"Untuk siapapun." jawabnya singkat.

"Maksudmu?" tanya Bimasakti merasa tak puas dengan jawaban Laura.

"Untuk siapapun yang sedang merasa rindu pada pasangannya Bimasaktiiii.." ucap Laura penuh penekanan.

"Ah sial." umpat aktivis itu diseberang sana.

"Sial?!" Laura menajamkan pendengarannya.

"Ya, sial! aku tak memiliki pasangan. Jadi prosa itu tentu tak pas untuk ku." jawabnya kesal.

Laura tertawa terbahak mendengar ucapan Bimasakti yang ia anggap absurd.

"Apa yang kau tertawakan?" Bimasakti heran namun ia merasa terpancing untuk menyeringai ketika tawa renyah Laura sampai pada pendengarannya.

"Tentu saja aku menertawakan mu." ucap Laura berusaha menghentikan tawanya.

"Tidak sopan." dengus Bimasakti. "Harusnya kau buatkan aku prosa yang sesuai dengan situasiku saat ini." pintanya kemudian.

"Situasi apa yang kau maksud, huh?!" selidik Laura penasaran.

"Ehem!" Bimasakti merasa gugup seketika, dia berdehem sebelum mulai menjelaskan.

"Buatkan aku prosa tentang seseorang yang merindukan orang lain. Seseorang ini menaruh hati padanya tapi ia tak cukup percaya diri untuk mengatakannya." ucapnya dengan nada grogi yang coba ia tahan.

Laura diam mendengarkan ucapan Bimasakti. Entah mengapa, jantungnya berdetak cepat. Laura merasa sesuatu mulai merambat naik dalam relung hatinya, seperti perasaan yang menyeruak hadir mencoba menampakkan eksistensinya tanpa bisa Laura cegah. Laura merasa apa yang diceritakan Bimasakti, adalah cerminan dari apa yang saat ini ia rasakan pula.

"Laura? Kau disana?" pertanyaan Bimasakti mencairkan kegugupan yang melanda Laura tadi.

"Yes. I'm here." sahutnya singkat. "Lalu siapakah seseorang yang sedang dirindukan itu?" tanyanya harap-harap cemas.

Bimasakti tersenyum lembut diseberang sana, dia ragu untuk mengatakannya.

"Kau akan mengetahuinya suatu saat nanti." ujarnya penuh teka teki

Mendengar jawaban ambigu seperti itu. Membuat Laura menyadari akan satu hal yang ia yakini saat ini, kenyataan bahwa ia maupun Bimasakti masih terlalu lihai dalam hal menyembunyikan sesuatu. Jawaban dari Bimasakti tadi membuat Laura bertanya-tanya, siapakah seseorang yang dirindukan itu? apakah Bimasakti sedang tertarik pada wanita lain?

Oh ayolah Laura, kau baru mengenalnya kemarin. Bagaimana bisa kau mengetahui siapa yang sedang berada dalam hati dan benak lelaki itu?

Laura tak tahu ketakutan apa yang membuatnya merasa sedikit gelisah ketika ia memikirkan kembali pertanyaan yang mulai memenuhi benaknya. Ada rasa ingin menuntut jawaban yang pasti dari Bimasakti, namun disisi lain ia tidak ingin membuat Bimasakti merasa tak nyaman dengan keinginannya.

Di ujung pelataran malam, kedua manusia itu terus berbincang tentang banyak hal. Mereka melupakan kondisi tubuh yang menuntut waktu untuk beristirahat. Sampai pada saat tiba-tiba rasa kantuk menyerang Laura yang menyebabkan dirinya menguap lebar, hingga suara menguap itu terdengar oleh telinga Bimasakti yang waspada.

"Tidur sana, kau sudah mengantuk." ucap Bimasakti sembari tersenyum lembut.

"Ya, sepertinya aku harus tidur. Ini sudah dini hari." Laura melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 02.00 dini hari.

"Ya. Aku juga akan kembali kedalam, terlalu lama aku meninggalkan mereka." Bimasakti terkekeh merasa tak enak sendiri. Untung tadi saat ia meninggalkan rapat, rapat sedang di break. Dan ketika rapat dimulai kembali, Bimasakti telah selesai dengan argumen beserta dokumen yang ia berikan pada masing-masing anggota. Saat ini sepertinya rapat sudah diakhiri oleh Laras.

"Baiklah." jawab Laura.

"Laura?" ucapan Bimasakti menghentikan Laura untuk mematikan panggilannya.

"Ya?"

"Apa ayahmu masih di rumah sakit itu?" tanya Bimasakti.

"Tidak, ayahku sudah pulang. Dan aku kini sudah kembali ke Bandung." jawab Laura santai.

"Bandung?" tanya Bimasakti kemudian.

"Ya. Aku kuliah di Bandung, Bimasakti." Laura lupa bahwa selama ini ia tidak pernah bercerita mengenai kuliahnya di Bandung.

Lelaki itu terdiam sejenak, entah apa yang ia pikirkan.

"Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti." ucap Bimasakti setelah cukup lama terdiam.

Dini hari menjelang begitu cepat bagi dua orang yang tenggelam dalam rasa nyaman yang hadir diantara mereka. Laura tertidur setelah memutus panggilan Bimasakti, dan nampaknya Bimasakti pun melakukan hal yang sama. Mereka terlelap dalam buai perasaan asing yang secara samar memenuhi hati keduanya. Ada rasa rindu yang tiba-tiba menderu, berharap suatu saat mereka akan saling bertemu.

🍁🍁🍁

"Lauraaaa!" panggil Gisel, begitu ia melihat Laura berjalan menuruni tangga pagi hari itu.

Gisel yang masih berdiri di ambang gerbang asrama berlari menghampiri Laura dan menabrakkan diri dalam pelukan hangat temannya itu. Laura tersenyum sambil mengusap lembut punggung Gisel.

"Aku rindu padamu." ucap Gisel manja.

"Ya Ampun, lihat wajahmu itu." Laura melepas pelukan untuk menatap teman manjanya. "Kau seperti anak kucing yang kehilangan induknya." Laura menyeringai meledek sikap manja Gisel.

"Bagaimana ayahmu? Apa sudah membaik?!" tanya Gisel tak peduli ledekan Laura.

"Ya! Maka dari itu aku bisa kembali kesini." ucap Laura santai.

"Kau akan kemana?" Gisel memperhatikan penampilan Laura yang menggunakan pakaian rapi dan membawa tas selempang, seperti hendak pergi. "Bukankah ini hari sabtu? Kau tidak ada jadwal kuliah, bukan?" Gisel mengingat jadwal perkuliahan Laura yang tertempel di pintu lemari pakaian.

"Aku ingin pergi ke toko buku." jawab Laura santai.

"Oh No! kau akan meninggalkanku lagi?!" Gisel menatap tajam Laura yang terlihat menyeringai. "Aku ikut!" ucapnya tegas tanpa bantahan.

"Kau tidak lelah?" tanya Laura kemudian.

"Astaga Laura, jika urusannya dengan berjalan-jalan, tidak ada istilah lelah." Gisel memutar bola matanya malas. "Ayo, kita bersenang-senang hari ini." Gisel langsung menarik lengan Laura keluar dari gerbang asrama kampus.

🍁🍁🍁

Sabiel terjaga dari tidur lelapnya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang masih gelap karna gorden kamar masih tertutup rapat. Sinar mentari tampak membayang dibalik gorden kelabu kamarnya. Sabiel tahu, pasti hari sudah beranjak siang sejak tadi.

Lelaki itu tampak diam masih dengan posisi tidurnya yang telentang. Benaknya mencoba mengingat kembali kepingan mimpi yang terasa nyata saat ia terlelap.

Dalam mimpinya, Sabiel melihat dirinya sedang berdiri di tengah jembatan kayu yang tampak rapuh. Di atas kepalanya bulan purnama bersinar terang. Mata Sabiel melihat sosok rusa putih yang bersinar di ujung jembatan. Mata rusa itu menatap lembut pada Sabiel yang berdiri dengan berpegang pada tali-tali pembatas jembatan kayu. Sabiel ingin beranjak dari tempatnya, dia ingin menghampiri rusa putih yang tampak anggun dengan tanduk serupa cabang pohon yang meruncing disetiap ujungnya. Namun langkahnya tertahan, kakinya tak bisa bergerak. Mata Sabiel membulat ketika ia baru menyadari bahwa kedua kakinya terikat pada sebuah akar pohon tua besar yang berdiri kokoh di ujung jembatan sisi seberang yang lainnya. Akar-akar itu melilit erat kedua pergelangan kaki Sabiel, hingga menimbulkan jejak melingkar yang tampak lebam.

Sabiel membuang nafasnya kasar. Apa maksud dari mimpi aneh itu? Sebelumnya Sabiel belum pernah bermimpi seperti mimpinya semalam. Dan mengapa mimpi itu terasa nyata? Seolah-olah jeratan akar pohon dalam mimpi itu benar-benar terasa olehnya. Bahkan disaat kesadarannya sudah seratus persen kembali.

Sabiel mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam mimpi itu. Sesuatu yang membuatnya gelisah akan masa yang harus dia hadapi dikemudian hari.

Rusa putih itu, mengapa Sabiel merasa bahwa rusa itu sedang berdiri menantinya?

Ada apa sebenarnya? Apakah mimpi itu pertanda? Atau hanya ilusi alam bawah sadar semata?

Dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan, Sabiel beranjak dari tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar dengan ponsel yang ia letakkan pada telinganya.

"Laura?" sapanya lembut pada gadis cantik di seberang sana.

🍁🍁🍁

...Hai semuanya, ...

...Bagaimana? masih menarik kah? ...

...semoga ya... hihihi.. ...

...Jangan lupa Like, Koment, dan Vote nya ya.. 😍😍😍...

1
mociii
thor kok aku tb" kepikiran kalo novel ini terinspirasi dr dosen yg kamu suka ya😭
mociii
DIHHH "GADISKU?"
mociii
gapernah semuak ini sm novel
mociii
jujur garela gue laura yg perawan disandingin sm laki yg udah ga perjaka
Qaisaa Nazarudin
Ini kah yg Sabiel inginkan? Di perebukan oleh 2 wanita..Dia mah enak dapat 2 lobang,Egois emang..
Qaisaa Nazarudin
Pekerjaan Bimashakti itu mmg terlalu berisiko buruk,kenapa gak cari pekerjaan lain aja sih..
Qaisaa Nazarudin
Biarkan aja dia memberikan poto mu itu ke Ayah mu,Ayah mu juga udah tau kan kalian udah menikah, Apa lagi yg kau takuti Laura,Heran deh dengan sikap oon dan leletnya Laura..
Qaisaa Nazarudin
Sabiel bersikap TEGAS ke Laura tapi tidak TEGAS ke Intan...
Qaisaa Nazarudin
Itu bukan CINTA namanya,Tapi OBSESI..Sabiel terlalu terobses dengan Laura,Hingga menghalal kan segala cara utk mendapatkan Laura,Sedangkan Intan di biarkan selingkuh..
Qaisaa Nazarudin
Asal kamu tau Faizal itu gak ada apa-apa nya, Itu semua harta isteri nya..Kamu tgu aja saat isteri nya bertindak,Faizal akan jadi Gembel,Dan saat itu lah kamu akan mencari dan mengemis pada Sabiel..
Qaisaa Nazarudin
Laura..Laura..Kamu terlalu santuy menghadapi Sabiel yg gila,Ini awal hari yg buruk untuk mu..
Qaisaa Nazarudin
Bagi Bima dan Laura ini hanya PERPISAHAN sementara,Tapi bagi Sabiel ini PERPISAHAN sebenarnya..
Qaisaa Nazarudin
Laura terlalu memandang REMEH Sabiel,Gak ada rasa curiga dan hati2 terhadap Sabiel ya..
Qaisaa Nazarudin
PONDOK KENANGA,Disitu lah Sabiel akan menyekap Laura..Aku bukannya gak suka Sabiel sama Laura,Tapi Sabiel itu terlalu pengecut dgn Intan,Kalo Intan tau Sabiel ounya hubungan dgn Laura Pasti Intan akan menyakiti Laura,Dan menganggap Laura PELAKOR,Padahal dia yg duluan selingkuh,Tapi seakan dia yg tersakiti,Apa Sabiel tdk memikirkan semua itu? Jangan terlalu Egois Sabiel...
Qaisaa Nazarudin
Tapi sayangnya harus terhalang dgn dosen mu yg gila itu,Kamu harus hati2 Laura dgn Sabiel..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya bukan Laura yg kau mata-matain Sabiel,Tapi isteri kamu..ckk
Qaisaa Nazarudin
Lha Dosen menyamar..😂
Qaisaa Nazarudin
SKAKMATT buat Sabiel,Laura tau dia cuman di jadikan PELARIAN,Makanya selesaikan dulu masalah mu denga Intan,SIAPA juga gak akan mau di sebut PELAKOR,Sadar gak kamu Sabiel..
Qaisaa Nazarudin
ITU KARENA INTAN CUMAN MENGANGGAP KAMU HANYA ATM BERJALAN,KAMU NYA AJA YG BODOH MASIH MAU BERPEGANG DGN JANJI MU,SEDANGKAN INTAN MANPAATIN JANJI MU ITU UNTUK MENGIKAT MU,DASAR BEGO..
Qaisaa Nazarudin
Laura mulai punya rasa dengan Bimasakti,Sedangkan Sabiel mengejar Laura,Bakal ada yg di kurung dlm sangkar emas nih kayaknya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!