Kehidupan seorang pengacara tampan yang sukses dan termuda begitu banyaknya rintangan untuk menghadirkan buah hatinya. Setelah sang istri mengalami keguguran dan hampir meninggal, membuat pria itu trauma untuk memiliki anak lagi.
Dan setelah banyaknya rintangan yang kedua pasangan itu lewati akhirnya Tuhan memberikan buah hati yang tidak terduga. Keluarga Syein begitu lengkap dengan hadirnya penerus keluarga Syein Biglous yang kembar tiga.
Bagaimanakah nasib Jeerewat ketika ia melewati masa-masa kehamilan yang di kelilingi dengan keluarga yang sangat posesif padanya ?
Apakah kehidupan mereka akan tetap bahagia kedepannya atau sebaliknya, silahkan simak cerita ini yah.
Cerita ini adalah lanjutan dari cerita "Istri Seksi Milik Pengacara Tampan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Kesalahan Jac
Tuan Reindra dan Tuan Indrawan pun melancarkan aksinya, mereka sudah menyiapak segelas minuman dari dapur dan membawanya ke meja makan. Beruntung kali itu Alfy masih berada di kamarnya, semua sudah berkumpul kecuali Alfy.
Tak lama kemudian Alfy pun turun di ikuti pelayan yang baru saja memanggilnya. Semua melihat wajah tersenyum Alfy dengan liciknya.
Makan malam tanpa suara Alfy semua begitu menimkmati makan mereka, Alfy yang sudah meneguk air di gelasnya tanpa ragu segera menghabisi air itu. Tuan Reindra dan Tuan Indrawan kompak di bawah meja makan.
Semua merasa curiga dengan dua pria itu mengapa mereka menyiapkan minuman sendiri untuk Alfy. Beberapa saat setelah makan malam Alfy terus menguap hingga pria itu tak kuat lagi melangkah ke atas tangga.
"Sayang, ada apa?" tanya Jee yang menahan tubuh suaminya ketika ingin rebah.
Alfy sudah tidak lagi menjawabnya, kini pria itu tampak memejamkan matanya begitu terlelap.
"Tidak apa-apa, Jee. Suaminya hanya tertidur saja." ucap Tuan Reindra yang mendekat ke arahnya dan menggeledah saku celana Alfy.
Terlihat matanya yang tertawa puas mendapat sebuah kunci kamar, yah kunci itu adalah kunci kamar cucu mereka. Dengan berlari Tuan Reindra dan Tuan Indrawan pun segera menuju kamar cucunya.
Semua yang melihat tingkah kedua pria itu hanya menggelengkan kepala. Benar-benar gila apa tidak ada hari tanpa bermain dengan cucu.
"Aku tidak bisa jika terus membiarkan mereka terus seperti ini." gumam Nyonya Syein yang kesal dan segera melangkah menuju kamar cucunya.
Di dalam sana kedua kakek itu tampak berganti-gantian menggendong cucunya yang sedah terlelap. Nyonya Syein menggelengkan kepalanya karena kekesalannya pada sang suami.
"Pah, letakkan cucuku! mereka sedang istirahat. Kalau begini terus kasian mereka sedang istirahat kalian bisa membuatnya sakit." Suara Nyonya Syein terdengar galak di telinga kedua pria itu.
Tuan Reindra dan Tuan Indrawan segera meletakkan cucu mereka dengan wajah yang menekuk kesal. Keduanya pun berdiri di depan Nyonya Syein seakan tidak ingin meninggalkan ruangan itu.
"Apa lagi yang kalian lakukan? ayo keluar!" lanjut Nyonya Syein yang membulatkan matanya.
Entah kali ini Nyonya Syein berusaha melindungi cucunya atau karena kekesalannya pada dua pria itu sudah memberi obat tidur pada putranya. Tuan Reindra dan Tuan Indrawan pun meninggalkan ruangan dengan langkah yang begitu berat.
Jee kini di bantu pelayan membawa Alfy ke kamar, sementara yang lainnya juga ikut masuk ke kamar masing-masing. Malam itu tidak ada yang boleh ke kamar cucu mereka selain Jee dan pelayan. Begitu perintah dari Nyonya Syein.
Hingga tengah malam pun rumah besar itu tidak terlihat satu orang berlalu lalang. Nyonya Syein yang merasa kehausan malam itu pun keluar dari kamarnya.
"Astaga apa yang di lakukan tidur di sini?" gumam Nyonya Syein yang melihat Jac terlelap di sofa itu.
Perlahan Nyonya Syein membangunkanya, pria itu tampak enggan untuk membuka matanya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya hingga tatapannya benar-benar sempurna pada wajah Nyonya Syein.
"Ny-nyonya, maafkan saya." Suara terkejut pria itu.
"Ada apa ? mengapa kau tidur di sini?" tanya Nyonya Syein bingung.
"Em...saya harus pulang tengah malam ke rumah Nyonya, kalau tidak Syanin akan mual-mual dan mengusirku nanti." jelas Jac dengan wajah datarnya.
Nyonya Syein tercengang sungguh kasihan sekali nasib pria di hadapannya ini. "Yasudah pulanglah. Ini sudah tengah malam, kau besok harus bekerja lagi, kan?" lanjut Nyonya Syein.
Jac pun melihat jam di tangannya, benar kata Nyonya Syein jam sudah menunjukkan hampi setengah satu malam. Itu artinya ia sudah bisa pulang semoga saja Syanin sudah terlelap.
Jac pun segera beranjak menuju tempatnya bersama Syanin sementara Nyonya Syein kini sudah menuju dapur untuk mengambil minum. Kepalanya menggelengkan beberapa kali. Sungguh keanehan setiap hari tak ada habisnya di rumah itu. Apa para pria di rumahnya memang satu fikiran seperti anak-anak kecil. Dimana sifat tegas mereka semua mengapa tidak ada lagi yang terlihat? apa memang begitu asli dari mereka jika dalam kehidupan sehari-hari.
"Ah syukurlah dia sudah tidur, aku juga sangat ngantuk sekali." ucap Jac yang segera merebahkan tubuhnya.
Tidur panjang pun kembali di lanjutkan hingga waktu subuh kembali membangunkan jac dengan cepat. Jam lima subuh pria itu berlari cepat keluar kamar sebelum Syanin bangun. Seperti yang terjadi kemarin subuh ia terus melihat istrinya muntah karena Jac terlambat pergi dari rumah itu.
"Ah aku kesiangan, sepertinya mandi dan bersiap di rumah utama saja." ucap Jac yang berlari dengan baju tidurnya membawa beberapa pakaian di tanganya.
Syanin yang baru saja menyadari sosok suaminya yang tidak ada, perlahan membuka matanya. Ia mencari-cari di segala sudut ruangan masih tak ada juga tanda pria itu. Perlahan Syanin pun turun dari tempat tidurnya, ia beberapa kali mengusap pelan matanya.
"Di mana dia?" gumam suster Syanin.
Wajahnya menekuk kesal karena tidak menemukan suaminya. "Apa kali ini aku tidak melihatnya di pagi hari?" tanyanya terdengar menyedihkan.
Suster Syanin meneteskan air mata karena kecewa tidak bisa melihat Jac ketika bangun. Wanita itu segera menghubungi Jac, namun sayang pria itu yang sudah terlelap lagi di ruang tengah rumah utama tak mendengar dering ponselnya.
"Mah, mengapa dia tidur di sini?" tanya Tuan Reindra yang baru saja terbangun dan ingin berolahraga bersama istrinya.
"Mungkin ini karena permintaan Syanin, Pah. Sejak tadi malam ia juga tidur di sini dan pulang tengah malam menunggu istrinya tidur dulu." jelas Nyonya Syein pada suaminya.
"Mengapa bisa seperti itu, Mah?" tanya Tuan Reindra bingung.
"Istrinya mual jika melihatnya, Pah." jawab Nyonya Syein yang membuat Tuan Reindra tertawa terkekeh.
"Wah Jac malang sekali nasibmu jika begitu. Sepertinya anakmu tahu jika ibunya mencintai pria menyeramakan hehe." Suara Tuan Reindra yang segera di senggol dengan lengan Nyonya Syein.
"Hus, Papah ini."
Nyonya Syein yang mendengar ponsel Jac kembali berdering segera membangunkannya. Jac pun terkejut ketika sadar ada yang mengganggu tidurnya.
"Ponselmu bunyi, Jac." Suara Nyonya Syein mengejutkannya.
Seketika Jac terbangun dari tidurnya melihat kehadiran Tuan Reindra dan istrinya. "Maafkan saya, Nyonya, Tuan." jawab Jac menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, sudah angkat saja ponselmu itu." sahut Tuan Reindra tertawa.
Jac mengernyitkan dahinya dalam ketika melhat panggilan dari istrinya. "Apa Syanin? ada apa dia menelfonku? apa ada yang salah lagi astaga." gumam Jac mengomel dalam hatinya.
"Ada apa?" tanya Jac datar.
"Pulang!" Suasa suster Syanin terdengar menangis.
"Hah Pulang? ada apa mengapa kau menangis?" Jac terlihat panik kali ini.
Dengan segera pria itu pun beregegas pulang dengan langkah kaki jenjangnya ia berlari. Wajahnya sangat cemas entah terjadi apa dengan istrinya apa perutnya sakit. Begitu yang ada di dalam fikiran Jac kali ini.
Sesampainya di rumah Jac segera berlari menuju kamar, belum sempat pria itu melontarkan pertanyaan tiba-tiba suster Syanin sudah memeluknya dengan erat. Suara tangis pun pecah di dalam dekapannya.
Jac bingung dan hanya membalas pelukan istrinya. "Kau mengapa pergi begitu cepat?" tanya suster Syanin yang sudah melihat penampilan Jac dengan jas rapi itu.
Ia merasa bingung. "Bukankah kemarin kau yang memintaku pergi subuh?" tanya Jac lagi.
"Tapi aku tidak mau lagi seperti itu, aku tidak bisa melihatmu tidak ada ketika aku bangun." Suara manja suster Syanin membuat Jac menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Sungguh wanita memang suka seenaknya sendiri, kemarin saja ia terus di buat bersalah karena suster Syanin terus muntah berkali-kali. Semua tentu karena Jac yang masih ada di hadapannya lalu mengapa dengan pagi ini? mengapa semuanya jadi berubah lagi.
dengerin novel ini aja bisa nangis anjai
sedih banget menusuk hati kepergian jee
ya ampunn
jee
plis bikin prart ke 3 jee
bikin sakit keritis dan sembuh kembali aja
gak rela jee meningal ya tuhan