NovelToon NovelToon
MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:64.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.

Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.

Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.

Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

REUNI TAK TERDUGA

Akhir pekan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sesuai dengan janji, Kakek Sudirja dan sang Nenek benar-benar datang pagi-pagi sekali ke rumah mungil Inayah. Mereka paham betul tabiat Abiyan yang selalu mencari celah untuk menghindar dari jangkauan keluarga.

Dan tebakan sang Kakek tepat sasaran. Saat deru mesin mobil Van hitam berukuran besar memasuki pekarangan, Abiyan yang baru saja siap dimasukkan ke dalam mobilnya oleh Bara, seketika memutar bola matanya malas.

"Kenapa Kakek harus datang sepagi ini sih?" gumam Abiyan pelan namun sarat akan kekesalan.

Rupanya, pendengaran tajam sang Kakek menangkap umpatan halus itu saat ia melangkah keluar dari Van. Kakek Sudirja menyunggingkan senyum kemenangan. "Firasat Kakek bilang kamu pasti berniat kabur meninggalkan kami, Abiyan! Sudah, sebaiknya kamu dan istrimu naik Van Kakek saja. Kasihan istrimu kalau harus duduk meliuk di mobil pendek milikmu untuk perjalanan jauh."

Van yang dibawa Kakek Sudirja memang sengaja disiapkan khusus. Interiornya didesain sangat luas dan mewah agar Nenek bisa beristirahat dengan nyaman selama menempuh perjalanan melintasi antarkota.

Abiyan mendesis pelan, gengsiannya langsung membumbung tinggi. "Cih, sombong sekali. Aku juga punya mobil Van seperti itu di mansion."

Hubungan Abiyan dan Kakeknya memang selalu diwarnai interaksi yang agak kaku. Cara mendidik sang Kakek yang sangat ketus dan tegas di masa lalu membentuk sikap Abiyan yang keras kepala, meski di relung hati terdalamnya, sang Kakek amat sangat menyayangi cucu laki-lakinya ini.

"Iya, kamu memang punya, tapi kan mobilmu ada di mansion! Nggak mungkin kita memutar arah ke sana dulu kan, Byan? Jadi manfaatkan saja apa yang ada di depan mata," balas Kakek Sudirja santai tanpa beban.

Melihat dua pria beda generasi itu mulai saling todong argumen, Inayah melangkah mendekat seraya menepuk bahu Abiyan. "Udah ayo, Mas, jangan berdebat terus sama Kakek! Lagian kan enak kalau perginya bareng-bareng begini, makin ramai."

Inayah tanpa ragu langsung naik terlebih dahulu ke kabin Van, mengambil posisi duduk di samping sang Nenek yang tersenyum menyambutnya. Sementara itu, Abiyan yang tak punya alasan lagi untuk menolak, hanya bisa pasrah saat Bara mendorong kursi rodanya memasuki kabin Van yang dilengkapi pendorong otomatis. Mau tidak mau, ia ikut bergabung. Bara kemudian mengambil alih kemudi atas perintah Kakek Sudirja, melajukan Van mewah itu membelah jalanan pagi.

Perjalanan jauh menuju kampung halaman Inayah terasa begitu singkat berkat suasana hangat di dalam kabin. Inayah yang pada dasarnya periang dan ceplas-ceplos mulai bercerita banyak hal tentang latar belakang keluarganya.

"Dulu Ayah tuh kerjanya narik oplet, Nek, sambil ngajar pencak silat di sanggar," tutur Inayah dengan mata berbinar. "Tapi semenjak pernah kena musibah kecelakaan lumayan parah, Ayah udah enggak dibolehin narik lagi sama Bunda. Jadi sekarang yang nyari nafkah ya Naya sama Bunda. Bunda buka warung nasi uduk di depan rumah. Walau hidup kami pas-pasan dan sederhana, tapi alhamdulillah kami sekeluarga saling menyayangi dan hangat banget."

Sang Nenek mendengarkan dengan penuh keharuan, tangannya tak henti mengelus lembut jemari Inayah. "Keluarga yang hangat itu harta paling bernilai, Nak. Nenek dan Kakek juga dulu merintis semuanya dari bawah, hidup prihatin dan serba kekurangan. Tapi karena kami saling jujur, percaya, dan menjaga kasih sayang, rezeki itu akhirnya mengalir sendiri. Kuncinya memang ada di rasa syukur."

Abiyan hanya diam mendengarkan obrolan tersebut dari kursinya. Ia menyerap setiap kisah kehangatan keluarga Inayah yang terasa sangat asing namun sekaligus menenangkan bagi jiwanya.

Tanpa terasa, roda mobil akhirnya memasuki kawasan perkampungan yang asri dan sejuk. Begitu Van berbelok memasuki pekarangan rumah orang tua Inayah, pemandangan indah langsung menyambut mereka. Sesuai dengan instruksi Bara sebelumnya, pekarangan rumah kayu yang luas itu sudah terpasang tenda-tenda hajatan megah bernuansa putih keemasan, dihiasi ukiran bunga yang cantik untuk acara resepsi esok hari.

Begitu Van berhenti sempurna, dua sosok paruh baya berbusana bersahaja keluar dari rumah dengan wajah berhias senyum lebar. Mereka adalah Pirman dan Royani, orang tua kandung Inayah.

Namun, saat Kakek Sudirja melangkah turun dari Van dan bertatap muka langsung dengan ayah Inayah, langkah kaki pria tua itu mendadak terhenti. Matanya membelalak lebar, mengamati raut wajah Pirman dengan saksama.

Abiyan yang menyadari perubahan raut wajah kakeknya memicingkan mata. "Ada apa, Kek?"

"Kakek... seperti kenal betul dengan wajah Ayah Inayah," gumam Kakek Sudirja ragu.

Di sisi lain, Pirman yang sedang bersiap menyambut tamunya pun mendadak terpaku di tempat. Pandangannya terkunci pada sosok Kakek Sudirja.

"Kamu... Pirman, kan? Pirman teman satu angkatan kuliah Abraham dulu?" tanya Kakek Sudirja memastikan dengan suara bergetar.

Mata Pirman membelalak kaget. "Eh? Apakah ini... Pak Sudirja? Ayahnya Bram?"

"Ah! Benar sekali! Apa kabar kamu, Nak?!" seru Kakek Sudirja gembira. Tanpa memedulikan status sosialnya sebagai konglomerat papan atas, ia langsung maju dan memeluk erat tubuh Pirman.

"Alhamdulillah, saya baik sekali, Pak! Masya Allah... bagaimana kabar Bapak dan keluarga?" balas Pirman seraya membalas pelukan hangat itu dengan penuh rasa hormat.

"Kami semua sehat, Nak. Oh, jadi Naya ini anak kandungmu, Pirman?" tanya Kakek Sudirja melepaskan pelukannya, menunjuk Inayah yang berdiri cengkerama di samping Nenek.

"Iya, Pak. Ini Naya, anak gadis saya satu-satunya. Jadi... Nak Abiyan ini cucu Bapak? Anaknya Bram?" tanya Pirman memastikan.

"Iya, dia cucuku, putranya Abraham," sahut Kakek Sudirja bangga.

Pirman menatap Abiyan dengan pandangan haru. "Pantas saja... Waktu pertama kali melihat Nak Abiyan, hati saya merasa sangat familier. Tapi saya lupa karena raut wajah Abiyan memang makin mirip dengan Bram sewaktu muda."

Ibu Royani yang berdiri di samping suaminya menyela seraya tertawa kecil. "Sudah, sudah! Bernostalgianya dilanjut di dalam rumah saja, Yah. Kok tamu-tamu agung malah dibiarkan berdiri di pekarangan begini."

"Ah, iya! Ayo Pak, Bu, silakan masuk ke rumah kami yang sederhana ini," ajak Pirman ramah seraya mempersilakan.

Namun, baru saja rombongan itu hendak melangkahkan kaki menuju anak tangga teras, sebuah suara bariton terdengar menggelegar mengucapkan salam dari arah gerbang depan.

"Assalamu'alaikum..."

Semua orang di pekarangan seketika menghentikan langkah dan memutar tubuh ke sumber suara.

Di sana, berdiri seorang pria dengan pakaian rapi, menatap lurus ke arah rombongan. Mata Inayah membelalak kaget, sementara raut wajah Abiyan seketika berubah dingin menajam.

Pria yang baru saja menginjakkan kaki di pekarangan itu tidak lain adalah Pasya.

1
Sastri Dalila
😅😅
Baek chanhun
syukurin badan sakit semua, di ceramahin, anak bini kahak makan dan malu.
thank thort 💪💪
Sastri Dalila
🤭
Sastri Dalila
😅😅
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍
Sastri Dalila
😅😅
Sastri Dalila
😅😅😅
Sastri Dalila
👍👍
Baek chanhun
next thort
Yusra Azizah
seru ceritanya
Oma Gavin
jgn terlalu lama kamu abyan cukup bukti segera bertindak keburu kakek mu langsung disikat habis sama yohanes
Naftali Hanania
ipar adalah "maut" 😁✌️🤦
Mutia
Abiyan, itu mama tirinya dipantau jg, jgn hanya fokus sm Paman Yohanes.
Cicih Sophiana
aq gak suka Inayah ngomong sama suami nya luh gue terus... dan banyak kata yg kasar yg gak pantas di ucapkan untuk suami menurut aq sih....
Cicih Sophiana
wah nanti klo ada apa apa nyonya seperti ini mah di bela mati matian atuh...👍😍
Ayu Padi
keren...lucu
Teh Fufah
co cwiiitttttt...
Cicih Sophiana
thor nama ibu tiri nya Abiyan Siska apa Lusi ya...
Cicih Sophiana
ya Inayah seperti nya terlalu kasar bahasa nya sama suami nya juga...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!