Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: RAJA IBLIS SEBESAR GUNUNG MERBABU
Setelah berpikir sejenak dengan mata terpejam, Bima Samudra akhirnya menarik napas panjang dan berpamitan kepada semua orang yang ada di halaman Perguruan Anggrek Putih.
"Ayah, Paman, Bibi, dan semua tetua, izinkan aku berangkat sekarang. Aku mau menyusul dan menuntaskan Raja Iblis itu sebelum dia membuat kerusakan di Desa Ngargoyoso," kata Bima dengan suara yang tenang namun mantap.
Mendengar itu, suasana yang tadinya haru karena kebersamaan seketika berubah menjadi tegang dan penuh kekhawatiran.
Sambil dipenuhi rasa terkejut, semua istri Bima langsung memaksa untuk ikut.
"Suami ku, kami ikut...! Mana mungkin kami membiarkan mu pergi sendirian menghadapi monster sebesar itu...!" seru Amelia sambil memeluk lengan Bima dengan erat, disusul oleh Intania, Melinda, Tasya, Ayu Wandira, Sherly dan Salsa yang mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Dan bukan hanya para istrinya, orang-orang yang ada di sana juga mau ikut, termasuk para mertuanya sendiri, Pak Wijaya Kusuma, Bu Lastri, Raja Sima Ngusada, dan para tetua dari Solo dan Klaten.
Mereka semua sudah menganggap Bima sebagai keluarga dan darah daging sendiri, mana mungkin mereka membiarkan Bima bertarung sendirian mempertaruhkan nyawanya.
"Nak Bima, kami memang tidak sekuat diri mu, tenaga kami sudah tua. Tapi kami juga tidak mungkin membiarkan mu menerjang bahaya itu sendirian. Jika memang harus ada yang berkorban hari ini, biarlah tulang-tulang tua kami ini yang maju lebih dulu," jelas Pak Wijaya Kusuma, Ketua Perguruan Anggrek Putih, dengan suara bergetar namun penuh wibawa. Kata-kata itu langsung disetujui oleh semua orang di sana dengan teriakan lantang.
Mendengar itu, Bima benar-benar terharu di dalam hatinya. Dadanya terasa hangat dan sesak. Dia tak menyangka orang-orang di sini akan begitu peduli kepada dirinya yang pada awalnya hanyalah orang asing yang tersesat dari Gunung Lawu. Tapi bagaimana pun, mereka sekarang adalah ayah, ibu, dan keluarganya.
Bima menatap satu persatu wajah mereka yang penuh ketulusan, lalu tersenyum.
"Baiklah, Ayah dan Paman sekalian, aku sangat berterima kasih atas cinta kalian semua. Kalian boleh ikut denganku. Tapi kalian cukup menonton dari jauh saja, lihat bagaimana aku bermain-main dengan Raja Iblis jelek itu. Kalian baru boleh bertindak untuk membantu jika aku benar-benar dalam keadaan bahaya," kata Bima dengan nada yang berusaha mencairkan ketegangan.
"Baik, kami setuju...!" jawab semua orang serempak.
Karena perjalanan menuju Lembah Kematian di Gunung Merapi cukup jauh dan Bima ingin bergerak cepat sebelum Raja Iblis itu mengamuk ke desa-desa, Bima memutuskan untuk mengajak semua orang menaiki peliharaannya.
Orang-orang di sana juga setuju dan penasaran, tunggangan apa lagi yang akan dikeluarkan oleh Pendekar Sang Penakluk kali ini.
"Wussssssttt..."
Dalam sekejap, langit di atas Perguruan Anggrek Putih menjadi gelap sejenak.
Puluhan ekor Burung Phoenix Api dan Naga Langit raksasa keluar dari Gerbang Alam Jiwa milik Bima】. Aura mereka begitu agung dan mengerikan, bulu-bulu api dan sisik naga berkilauan di bawah sinar matahari sore.
Melihat itu semua orang jadi terkejut, kagum, dan sedikit ketakutan melihat puluhan binatang legendaris yang hanya ada di dalam legenda itu muncul nyata di depan mata mereka.
"Ayo kita berangkat sekarang...!" seru Bima.
Bima bersama ketujuh istrinya naik di atas punggung Anjani Langit, sang Ratu Naga Langit Gunung Bromo yang paling besar, sementara para mertuanya dan para tetua naik di atas punggung para Phoenix yang dipimpin oleh Sekar Lestari.
Binatang-binatang raksasa itu pun mengepakkan sayap mereka dan terbang bersamaan memenuhi langit Desa Ngargoyoso, pemandangan itu membuat semua warga desa yang melihat dari bawah berlutut dan berdoa karena mengira para dewa turun dari langit.
Karena kecepatan binatang-binatang legendaris itu yang bisa membelah angin, Bima dan rombongannya tiba di tempat tujuan dengan begitu cepat, hanya dalam beberapa hembusan napas.
Sesampainya di Lembah Kematian Merapi, terdengar suara gemuruh yang sangat mengerikan, suara amukan Raja Iblis yang membuat tanah bergetar dan batu-batu besar berjatuhan dari tebing.
Sosoknya benar-benar mengerikan, tingginya hampir setinggi Gunung Merbabu, tubuhnya hitam legam seperti arang, dengan dua tanduk besar yang melengkung di kepalanya.
Setelah melihat sosok Raja Iblis yang mengerikan itu, tiba-tiba Naga tunggangan Bima, Anjani Langit, berbicara dengan suara yang menggelegar di dalam benak Bima,
"Tuan ku Bima, Tuan tak perlu turun tangan dan mengotori tangan Tuan dengan darah kotor makhluk hina ini. Biarkan kami saja yang mencabik-cabik makhluk jelek ini menjadi serpihan...!"
"Tidak perlu, Anjani," jawab Bima dengan lembut sambil mengelus sisik naga itu. "Walaupun aku tahu kalian pasti mampu membunuhnya, aku tak ingin satu pun dari kalian terluka karena dia. Biarkan aku yang bermain-main dengan makhluk jelek ini sebentar."
Mendengar itu, para pelayan setia Bima yang ada di Alam Jiwa tak menyangka, ternyata Tuan mereka yang terlihat dingin di medan perang itu ternyata sangat menyayangi dan melindungi mereka semua seperti keluarga.
Saat semua orang masih dalam kengerian dan ketakutan melihat sosok Raja Iblis yang begitu besar, Bima sudah melayang turun dari punggung naganya.
Dia terbang mendekati Raja Iblis itu perlahan, tanpa mengeluarkan sayap Phoenix nya sama sekali, hanya dengan mengandalkan energi murninya. Hal itu membuat semua orang yang melihat dari jauh kembali kagum dan tak percaya.
Melihat ada manusia kecil yang berani mendekat, Raja Iblis itu pun berhenti mengamuk dan menatap Bima dengan mata merahnya yang sebesar rumah.
"Hai manusia kecil...! Apakah kau kesini untuk mengantarkan nyawa mu untuk ku santap...? Kau tahu siapa aku...? Aku adalah Raja Iblis Gunung Sewu...!" geram Raja Iblis dengan suara yang membuat gendang telinga pecah.
"Aku kesini untuk membantu mu menyusul jutaan kaum mu yang sudah aku bantai dan aku jadikan abu di lembah ini tiga hari yang lalu," kata Bima dengan suara santai sambil tersenyum mengejek Raja Iblis itu. Kata-kata itu membuat Raja Iblis menjadi sangat marah.
"Kau ingin tahu apa yang bisa kulakukan, anak manusia sombong...??"
"Wussssssssttt..."
Dalam sekejap mata yang tidak bisa diikuti oleh siapa pun, Bima menghilang dari pandangan, dan dalam sepersekian detik dia sudah kembali muncul di tempat yang sama, masih dengan senyum yang sama.
"Sebelum kau tahu apa yang bisa aku lakukan, aku punya sebuah hadiah kecil untuk mu, Raja jelek," kata Bima.
"Apa maksud mu, manusia...? Tak perlu bertele-tele...!" bentak Raja Iblis yang makin marah karena merasa dipermainkan oleh Bima.
"Ini untuk mu, terimalah..."
Bima lalu mengeluarkan sebuah tanduk besar berwarna hitam gelap yang mengerikan dan masih meneteskan darah hitam, lalu melemparkannya ke arah kaki Raja Iblis.
Semua orang yang menonton dari jauh berpikir Bima ingin bernegosiasi dan berdamai dengan Raja Iblis dengan memberikan upeti.
Tapi detik berikutnya, semua orang, termasuk para mertua Bima, sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
Bagaimana tidak, tanduk besar yang Bima berikan itu ternyata adalah tanduk kanan milik Raja Iblis itu sendiri, yang telah dia potong dengan Pedang Pembalik Langit tanpa disadari oleh siapa pun, bahkan oleh Raja Iblis itu sendiri.
Raja Iblis yang baru menyadari bahwa tanduk kebanggaannya hilang satu dan darah mengucur dari kepalanya, seketika menjadi bimbang. Ada rasa marah yang luar biasa, tapi di dalam hatinya yang paling dalam, dia juga mulai merasa gentar.
Siapa sebenarnya manusia di depannya ini, kenapa bisa begitu cepat sampai dia sendiri yang sekuat Dewa pun tidak menyadari kalau tanduknya sudah hilang...? Bagaimana jika tadi yang ditebas bukan tanduknya, melainkan lehernya...? Memikirkan hal itu, Raja Iblis yang angkuh itu pun jadi ngeri dan merinding.
Tapi dia berusaha menutupi ketakutannya, sebagai Raja Iblis yang sangat ditakuti di seluruh Nusantara, bagaimana mungkin dia bisa takluk begitu saja di depan seorang anak manusia.
"Bagaimana, Raja jelek, kau masih ingin bertarung melawanku...?" tanya Bima sambil tersenyum mengejek, melihat muka ketakutan Raja Iblis yang berusaha ditutup-tutupi.
"Jangan berpikir trik rendahan seperti ini bisa menakuti ku, manusia...! Kau hanya beruntung...!" kata Raja Iblis yang berusaha menutupi rasa takutnya dengan teriakan keras.
Seketika Raja Iblis itu meletuskan seluruh auranya yang mengerikan, aura hitam pekat yang membuat langit menjadi mendung. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya, karena dia sadar, yang dia hadapi kali ini bukan manusia biasa.
Melihat itu, Bima hanya tersenyum sinis dengan tenang.
"Wusssst... Wusssst..."
Bima kembali menghilang dalam sekejap, dan ketika dia muncul kembali, satu kaki dan satu tangan raksasa Raja Iblis yang sebesar pohon beringin itu sudah terpotong dan jatuh ke tanah dengan suara yang menggelegar.
Terdengar jeritan kesakitan yang sangat mengerikan dari Raja Iblis, sungguh dia tak pernah percaya seumur hidupnya, dia yang ditakuti dewa pun bisa dikalahkan oleh seorang manusia tanpa bisa memberikan perlawanan sama sekali.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara lembut dari dalam benak Bima, suara dari roh pedangnya.
"Tuan ku Bima, daging dan darah murni dari Raja Iblis ini sangat murni dan bagus sekali untuk makanan bagi para pelayan dan pasukan di Alam Jiwa mu. Energi iblisnya bisa meningkatkan kultivasi mereka," kata Ayu Lestari, roh dari Pedang Pembalik Langit.
"Benarkah begitu, Ayu...?" tanya Bima dalam hati.
"Iya, Tuan, sangat bagus untuk mereka," jawab Ayu Lestari.
"Baiklah, kalau begitu mari kita potong dia menjadi lebih kecil agar mudah dibagikan," kata Bima.
"Wusssst... Wusssst... Wusssst... Wusssst... Wusssst..."
Tanpa mempedulikan jeritan Raja Iblis yang menyedihkan dan penuh penyesalan itu, Bima dengan gerakan yang sangat elegan seperti seorang koki profesional, memotong-motong tubuh Raja Iblis yang sebesar gunung itu menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan rapi.
Detik berikutnya, Raja Iblis yang sangat ditakuti itu benar-benar tewas dengan mengenaskan, bagian tubuhnya sudah terpotong-potong menjadi tumpukan daging di lembah.
Melihat itu, Bima tersenyum puas, karena daging raksasa itu sangat banyak, karena ukuran tubuhnya yang sebesar gunung, itu akan membuat semua pelayannya di Alam Jiwa bisa makan dengan sangat kenyang dan meningkatkan kekuatan mereka.
Melihat Bima yang terbang kembali ke arah mereka dengan membawa tumpukan daging raksasa yang melayang-layang di belakangnya dengan energi telekinesis, orang-orang yang menonton itu hanya bisa menelan ludah dan tak tahu harus berkata apa. Rasa takut mereka telah berubah menjadi rasa kagum yang tak terhingga.
Sampai di depan Ratu Phoenix Sekar Lestari dan Ratu Naga Anjani Langit, Bima memberikan masing-masing satu potong besar daging murni Raja Iblis untuk mereka cicipi.
Kedua ratu binatang legendaris itu langsung menelannya dengan gembira, mata mereka berbinar karena energinya yang lezat, tak lupa mereka berterima kasih kepada Tuan mereka yang begitu baik dan perhatian.
"Terima kasih banyak, Tuan ku Bima...!"
Setelah itu, Bima menyimpan semua tumpukan daging yang sebesar bukit itu ke dalam Alam Jiwa miliknya dengan satu lambaian tangan.
"Nanti setelah kita pulang ke Desa Ngargoyoso, kalian semua bisa makan dengan puas di dalam sana," kata Bima kepada para pelayannya di dalam Alam Jiwa.
Mendengar itu, puluhan binatang-binatang di dalam Alam Jiwa, mulai dari Klan Lebah Emas Lembah Dieng yang dipimpin Sari, Klan Naga Langit, dan Klan Phoenix, jadi tidak sabar dan bersorak gembira ingin segera menyelesaikan urusan di luar.
Setelah melihat Bima yang baik-baik saja tanpa luka sedikit pun, semua orang, terutama para istri Bima, Amelia, Intania, Melinda, Tasya, Ayu Wandira, Sherly dan Salsa, langsung berlari dan memeluk Bima dengan erat sambil menangis bahagia.
"Ayo kita kembali sekarang, nanti kita bicara lagi dengan tenang di Perguruan Anggrek Putih," kata Bima sambil mengelus rambut para istrinya.
Mereka semua langsung terbang kembali menuju Perguruan Anggrek Putih dengan menaiki peliharaan Bima. Mereka terbang dengan sangat cepat karena para binatang itu sudah tak sabar ingin segera makan daging Raja Iblis.
Bima hanya tersenyum melihat tingkah lucu peliharaan-peliharaan setianya itu. Sementara para tetua dan mertua yang ikut, masih tak percaya dan masih syok, Bima mencincang Raja Iblis yang begitu ditakuti di seluruh benua Nusantara itu dengan begitu mudahnya, seperti memotong tahu.
Karena kecepatan binatang-binatang legendaris itu yang sangat tinggi, tak butuh waktu lama, hanya dalam waktu minum teh, semua orang sudah tiba kembali di halaman Perguruan Anggrek Putih.
Begitu mereka tiba, langsung saja ratusan orang-orang di perguruan, para murid dan warga, bertanya dengan cemas tentang situasinya. Mereka berpikir Bima dan yang lainnya gagal membunuh Raja Iblis karena mereka kembali begitu cepat, hanya sekitar satu jam.
Mulai timbul kekhawatiran dan bisik-bisik ketakutan di hati banyak orang.
Melihat banyaknya pertanyaan dan kekhawatiran dari semua orang, Bima hanya tersenyum tipis.
"Wusssst..."
Bima melemparkan sebuah kepala raksasa yang sebesar kontainer truk dari langit, kepala itu jatuh dengan keras di tengah halaman, hanya tersisa satu tanduk yang patah.
Melihat itu, sontak semua orang terkejut, menjerit, dan ketakutan melihat sosok kepala Raja Iblis yang sangat mengerikan dan masih menyisakan aura iblis.
Namun, seketika mereka menyadari bahwa Raja Iblis itu sudah benar-benar terbunuh dan menjadi mayat, seluruh halaman perguruan bersorak gembira dengan sangat meriah, tangisan bahagia pecah karena mereka akhirnya terlepas dari ancaman bahaya besar yang menghantui mereka.
Dan tak lupa, sesampainya di halaman yang aman, Bima segera mengembalikan pelayan-pelayannya kembali ke Alam Jiwa miliknya, karena mereka sudah terlihat tidak sabar dan terus meraung ingin segera makan daging Raja Iblis.
"Wusssst..."
Dalam sekejap, semua binatang raksasa itu menghilang, masuk ke dalam gerbang cahaya Alam Jiwa milik Bima yang terbuka di langit.
Sesampainya di dalam Alam Jiwa, Ratu Lebah Sari, Ratu Naga Anjani Langit, Ratu Phoenix Sekar Lestari, dan Kencana sang Kobra Emas Sungai Siangit, serta yang lainnya, ternyata juga belum berani makan sedikit pun, mereka menunggu perintah Tuan mereka. Mereka menata tumpukan daging Raja Iblis itu dengan baik dan rapi di dalam gudang joglo lantai tiga.
Tak lama kemudian, terdengar suara Bima yang lembut menggema di seluruh Alam Jiwanya.
"Kalian semua makanlah dengan puas, wahai keluarga ku. Semoga daging ini bermanfaat dan bisa meningkatkan kekuatan kalian semua untuk melindungi Aliansi kita," kata Bima.
"Terima kasih banyak, Tuan ku Bima Samudra...!" jawab mereka serempak dengan penuh hormat.
Setelah selesai berterima kasih, para pelayan itu pun akhirnya makan dengan tenang dan bahagia. Walau mereka adalah binatang legendaris, tapi karena telah berkultivasi selama ribuan tahun, kecerdasan dan perasaan mereka sudah sama dengan manusia, dan cinta mereka kepada Bima adalah cinta yang tulus seperti keluarga.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?