Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 BAPAK MENINGGAL DI ATAS SINAR BIMA
Bulan April 2043. Bapak berumur 62 tahun.
Sakit sudah 6 bulan. Tidak bilang ke siapa - siapa. Dia tetap melaut pada jam 4 pagi sama Bima , tetap angkat jaring 8 kg , tetap duduk di atas Sinar Bima sore - sore melihat anak - anak latihan Tendangan Sinta.
Sinta yang pertama sadar. Sore itu Bapak tidak berteriak "Jangan main di lumpur , rok kotor". Bapak cuma duduk di atas Sinar Bima , pegang kemeja nelayan Kroasia yang dari Simic , yang dulu dikasih ke Bima, sekarang Bapak pakai lagi karena Bima sudah kasih ke Ronald.
Bima melihat Bapak pucat. Bima yang umur 34 tahun , yang pernah gol lawan Argentina di Piala Dunia , yang pernah main di Glasgow , langsung panik seperti saat umur 12 tahun dulu waktu Bapak tidak pulang melaut.
"Bapak , ke puskesmas ya"
Bapak menggeleng. "Tidak. Di sini saja."
Ibu datang. 40 anak Tuminting yang sekarang jadi 80 anak karena Liga Tikala Putri , semua berhenti latihan.
Bapak memanggil Sinta. Sinta no 10 , yang paling kecil , yang tendangannya paling keras.
"Sinta , sini."
Sinta datang , jilbab penuh lumpur , sepatu no 38 warisan.
Bapak melepas kemeja nelayan Kroasia yang dia pakai. Kemeja yang sudah 20 tahun , bau ikan , bau laut , ada tambalan di bagian ketiak , ada tulisan "SIMIC 9" yang sudah pudar.
Bapak kasih ke Sinta. Bukan ke Bima , bukan ke Ronald. Ke Sinta.
"Ini untukmu. Dulu untuk Bima , Bima kasih ke Ronald , Ronald kebesaran. Kau yang paling kecil , tapi tendangan paling keras. Pakai ini kalau melaut. Atau kalau main bola di hujan."
Sinta pegang kemeja itu. Kebesaran , seperti semua sepatu warisan di Tuminting.
Bapak memanggil Ronald yang baru pulang dari Jakarta , Bima , Joshua , dan Yudi.
Bapak berkata pelan "Sinar Bima jangan dijual. Sampai kapanpun. Ini bukan perahu. Ini sekolah."
Habis itu Bapak tidur di atas Sinar Bima. Di atas perahu yang dia beli tahun 2005 dengan uang jual ikan , yang bocor 20 tahun , yang ditambal Bima , yang jadi sekolah bola untuk 80 anak.
Ibu pegang tangan Bapak. Bima pegang kaki Bapak. Ronald , Sinta , Joshua , Yudi , 80 anak , semuanya pegang perahu.
Pada jam 5 sore , hujan turun , seperti hari Sinta final di Liga Tikala.
Bapak tidak bangun lagi.
Tidak ada tangisan keras. Di Tuminting tidak ada tangisan keras kalau nelayan meninggal di atas perahu. Itu namanya pulang.
Yudi yang jadi Ketua Karang Taruna , yang biasanya berteriak , kali ini diam. Dia tulis di buku absen lusuh yang sudah 20 tahun.
BAPAK - NELAYAN TIKALA - UMUR 62 TAHUN - MENINGGAL DI ATAS SINAR BIMA - JAM 5 SORE - HUJAN TURUN - WARISAN : KEMEJA NELAYAN KROASIA SIMIC 9 UNTUK SINTA NO 10 - PESAN TERAKHIR : SINAR BIMA JANGAN DIJUAL
Malam harinya , tidak ada yang melaut. Semua 80 anak duduk di pinggir Tikala , tidak latihan. Sinar Bima diam di tengah , tidak bergoyang.
Bima tidak tulis di buku kecilnya. Pertama kali sejak dia berumur 12 tahun , Bima tidak tulis.
Besok pagi , pemakaman. Bapak dimakamkan di pemakaman nelayan Tuminting , menghadap laut , bukan menghadap Tikala. Biar bisa lihat Sinar Bima dari jauh.
Sore besoknya , latihan tetap jalan. Bima yang pimpin. Karena pesan Bapak : Sinar Bima jangan dijual , ini sekolah.
Sinta latihan pakai kemeja nelayan Kroasia Simic 9 kebesaran , di atas jilbabnya. Kemeja itu basah kuyup karena hujan , tapi dia tetap pakai. Tendangannya hari itu paling keras : 30 meter , masuk , tiang bambu patah lagi.
Bima melihat Sinta pakai kemeja Bapak , dia baru tulis di buku kecilnya.
BAPAK MENINGGAL DI ATAS SINAR BIMA. UMUR 62 TAHUN. WARISAN TERAKHIR KEMEJA SIMIC 9 UNTUK SINTA. BUKAN UNTUK SAYA , BUKAN UNTUK RONALD. UNTUK YANG PALING KECIL TAPI YANG PALING KERAS.
CATATAN : DULU BAPAK BELI SINAR BIMA UNTUK MELAUT. SEKARANG SINAR BIMA UNTUK SEKOLAH BOLA 80 ANAK. BAPAK TIDAK PERNAH SEKOLAH BOLA , TAPI BIKIN SEKOLAH BOLA.
JANJI : SINAR BIMA TIDAK AKAN DIJUAL. SAMPAI SAYA MATI JUGA DI ATASNYA NANTI.
#####################################
Cukup sampai disini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading