“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Tamu dari Ibu Kota
Liu Chengfeng menatap sembilan puluh lima bayangan banteng yang memenuhi ruang tamu. Meskipun telah bertahun-tahun memimpin Menara Pertarungan dan menyaksikan banyak pendekar berbakat, ia belum pernah melihat pemuda dengan kekuatan sebesar itu di Alam Bela Diri Sejati.
Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
“Qin Xuan, sepertinya kami terlalu cepat menilaimu.”
Senyum pahit muncul di wajahnya.
“Dengan kemampuan seperti ini, kau memang pantas mengajukan persyaratan sendiri. Aku akan menyampaikan permintaanmu kepada para petinggi Menara Pertarungan. Aku yakin mereka akan menyetujuinya.”
Liu Chengfeng bahkan merasa seorang Sage mungkin akan tertarik menerima Qin Xuan sebagai murid.
Mencapai kekuatan sembilan puluh banteng saja sudah dianggap sebagai pencapaian yang hampir mustahil. Namun, Qin Xuan berhasil melampaui batas tersebut hingga mencapai sembilan puluh lima banteng.
Bakat seperti itu terlalu berharga untuk dilepaskan hanya karena persoalan keanggotaan.
Zuo Xuyue juga membutuhkan beberapa saat sebelum mampu berbicara.
“Aku mewakili Akademi Bela Diri Tianyuan menyetujui permintaanmu. Kau boleh bergabung dengan kedua organisasi. Aku yakin tidak akan ada tetua akademi yang menentangnya.”
Liu Yunshi menatap Qin Xuan dengan perasaan campur aduk.
Ia sudah mengetahui pemuda tersebut luar biasa sejak pertama kali bertemu. Namun, setiap kali merasa telah memahami batas kemampuannya, Qin Xuan justru menunjukkan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Qin Xuan tersenyum dan memberi hormat kepada kedua lelaki tua itu.
“Terima kasih atas pengertian kalian.”
Liu Chengfeng menggeleng sambil tertawa.
“Kau tidak perlu berterima kasih. Justru kami yang beruntung bisa mendapatkan pemuda sepertimu.”
Tidak seorang pun di antara mereka mengetahui bahwa Qin Xuan sebenarnya masih menyembunyikan sebagian kekuatannya.
Setelah pembicaraan selesai, mereka kembali membahas beberapa urusan keanggotaan sebelum akhirnya bersiap meninggalkan Keluarga Qin.
Di depan gerbang utama, Qin Xuan mengantar Liu Chengfeng, Zuo Xuyue, Liu Yunshi, dan para murid Akademi Bela Diri Tianyuan.
“Maaf, aku hanya bisa mengantar sampai sini,” kata Qin Xuan sambil merangkapkan tangan.
Liu Chengfeng tertawa ramah.
“Tidak masalah. Kalau ada waktu, datanglah ke Menara Pertarungan. Kita masih punya banyak hal untuk dibicarakan.”
Ia kemudian menoleh kepada Liu Yunshi.
“Yunshi, kalau sedang senggang, mampirlah untuk minum teh.”
Liu Yunshi tersenyum dan mengangguk.
Zuo Xuyue juga berpamitan kepada rombongan akademi. Karena sudah lama tidak bertemu Liu Chengfeng, ia memutuskan pergi bersamanya untuk berbincang lebih jauh.
Keduanya menaiki kereta mewah yang ditarik sepuluh ekor kuda.
Tidak lama kemudian, kereta tersebut meninggalkan gerbang Keluarga Qin.
Namun, saat kereta Liu Chengfeng bergerak menjauh, sebuah kereta lain yang ditarik empat kuda bertanduk datang dari arah berlawanan.
Kedua kereta itu berpapasan sebelum kereta yang baru tiba berhenti tepat di depan gerbang.
Di dalamnya, seorang lelaki tua berjubah abu-abu mengangkat tirai dan memperhatikan kereta mewah yang baru saja lewat.
“Kereta itu... bukankah milik Menara Pertarungan?”
Ia mengerutkan kening.
Dari bentuk dan kemewahannya, kereta tersebut tampak seperti kendaraan yang hanya boleh digunakan oleh seorang Penguasa Menara cabang.
Mengapa orang berkedudukan setinggi itu datang ke keluarga kecil di Kota Qingquan?
Lelaki tua itu teringat informasi yang diperolehnya sebelum berangkat.
Keluarga Qin kabarnya memiliki seorang pemuda dengan Tubuh Pembunuh Haus Darah bernama Qin Xingqiong.
Mungkin kedatangan Menara Pertarungan berkaitan dengan pemuda tersebut.
Setelah memastikan tulisan pada papan nama di atas gerbang, lelaki tua itu menurunkan tirai.
“Kita sudah sampai. Ming'er, turunlah.”
“Baik, Guru.”
Lelaki tua itu keluar dari kereta dengan langkah tenang. Ia mengenakan jubah brokat abu-abu keperakan, sementara rambut putihnya tersisir rapi hingga bahu.
Di belakangnya turun seorang pemuda tampan berpakaian mewah.
Pemuda tersebut tampak kurang senang sejak awal perjalanan. Namun, ketika melihat beberapa wanita berdiri di depan gerbang, ekspresinya langsung berubah.
Terutama saat pandangannya tertuju kepada Liu Yunshi.
Penampilan dan pembawaan wanita itu membuatnya terpikat. Ia tidak menyangka perjalanan ke kota kecil ini justru mempertemukannya dengan wanita secantik Liu Yunshi.
Tatapannya kemudian beralih kepada Li Jianmei dan beberapa murid perempuan lainnya.
Sikapnya yang terlalu terang-terangan membuat rombongan akademi merasa tidak nyaman.
Liu Yunshi sendiri hanya mengerutkan kening.
Sementara itu, lelaki tua berjubah abu-abu mulai memperhatikan orang-orang di depan gerbang.
Ketika melihat Liu Yunshi, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Meskipun wanita itu tampak masih muda, kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya membuat lelaki tua tersebut sedikit waspada.
Ia juga merasa pernah melihatnya, tetapi belum mampu mengingat di mana.
Qin Xuan memperhatikan kedua pendatang itu.
Ia tidak mengenali mereka.
“Maaf, kalian mencari siapa?” tanyanya.
Lelaki tua itu menatap Qin Xuan dengan saksama.
Pemuda di hadapannya memiliki penampilan yang menonjol dan pembawaan tenang.
Jangan-jangan ini Qin Xingqiong?
Ia mengelus janggutnya sebelum menjawab.
“Kami datang dari Keluarga Yang di ibu kota. Namaku Yang Ge. Aku ingin memastikan, apakah ini kediaman Keluarga Qin di Kota Qingquan?”
“Benar,” jawab Qin Xuan.
Namun, ia mulai merasa curiga.
Keluarga Yang dari ibu kota bukan nama yang asing baginya.
Keluarga tersebut memiliki hubungan pertunangan dengan dirinya sejak kecil.
Hanya saja, selama bertahun-tahun kedua keluarga hampir tidak pernah berhubungan.
Karena itu, kedatangan mereka secara mendadak membuat Qin Xuan bertanya-tanya.
Apalagi kedua tamu tersebut datang tepat setelah Upacara Besar Klan berakhir.
Liu Yunshi tiba-tiba teringat sesuatu.
“Yang Ge?”
Ia akhirnya mengenali lelaki tua tersebut.
Yang Ge merupakan Tetua Kelima Keluarga Yang di ibu kota. Meskipun tingkat kultivasinya tidak terlalu tinggi, kedudukannya cukup terhormat karena ia seorang Alkemis Bintang Tiga.
Seorang alkemis dengan kemampuan seperti itu memiliki pengaruh besar. Banyak pendekar kuat bersedia menjalin hubungan baik dengannya demi memperoleh pil yang mereka butuhkan.
Liu Yunshi segera merangkapkan tangan.
“Salam, Tetua Yang. Aku Liu Yunshi dari Akademi Bela Diri Tianyuan.”
Para murid akademi langsung menyadari identitas lelaki tua tersebut.
Mereka ikut memberi hormat.
“Salam, Tetua Yang!”
Yang Ge tampak terkejut mendengar nama Liu Yunshi.
Setelah mengingat kedudukannya sebagai pengajar akademi, ia segera tersenyum ramah.
“Rupanya Guru Liu. Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini.”
Ia kemudian menunjuk pemuda yang berdiri di belakangnya.
“Perkenalkan, ini muridku, Yang Ming. Kemampuannya dalam alkimia masih perlu diasah, tetapi belum lama ini dia berhasil lulus ujian Perkumpulan Alkemis dan memperoleh gelar Alkemis Bintang Satu.”
Yang Ge menoleh kepada muridnya.
“Ming'er, beri salam kepada Guru Liu.”
Yang Ming segera melangkah maju.
“Salam, Guru Liu. Namaku Yang Ming.”
Ia membungkuk dengan senyum lebar, tetapi tatapannya masih menunjukkan ketertarikan yang berlebihan.
Liu Yunshi membalas salamnya dengan sopan.
Beberapa murid akademi justru mulai membicarakan pencapaian Yang Ming.
“Dia sudah menjadi Alkemis Bintang Satu?”
“Usianya bahkan belum dua puluh tahun!”
“Bakat alkimianya pasti luar biasa.”
Kekaguman mereka bukan tanpa alasan.
Banyak alkemis baru berhasil lulus ujian setelah berusia lebih dari dua puluh tahun. Bahkan tidak sedikit yang membutuhkan waktu hingga usia dua puluh lima atau tiga puluh tahun.
Karena itu, pencapaian Yang Ming pada usia muda dianggap sangat menjanjikan.
Wei Wuxiu dan beberapa murid lainnya mulai mempertimbangkan untuk menjalin hubungan baik dengannya.
Berteman dengan seorang alkemis berbakat tentu dapat memberikan banyak keuntungan pada masa depan.
Liu Yunshi juga menunjukkan sedikit kekaguman.
“Tetua Yang memang pandai mendidik murid. Yang Ming sudah memperoleh gelar Alkemis Bintang Satu pada usia semuda ini.”
Yang Ge tersenyum puas mendengar pujian tersebut.
Namun, Liu Yunshi segera mengalihkan pembicaraan.
“Kalau boleh tahu, ada keperluan apa Tetua Yang datang ke Keluarga Qin?”
Ia sebenarnya sudah memperhatikan kebingungan Qin Xuan sejak tadi.
Karena itu, ia sengaja menanyakan tujuan kedatangan kedua tamu tersebut.
Yang Ge baru hendak menjawab ketika Yang Ming melangkah maju.
“Kami datang untuk menyelesaikan urusan pertunangan.”
Liu Yunshi sedikit mengangkat alis.
Yang Ming melanjutkan dengan nada bangga.
“Atas nama Nona Yang Xuan dari keluarga kami, Guru dan aku datang untuk membatalkan pertunangannya dengan Qin Xuan.”
Senyum di wajah para murid akademi langsung menghilang.
Mereka serempak menoleh kepada Qin Xuan.
Pemuda yang baru saja membuat Menara Pertarungan dan Akademi Bela Diri Tianyuan berebut merekrutnya ternyata sedang menghadapi pembatalan pertunangan.
Lebih mengejutkan lagi, pihak Keluarga Yang tampaknya sama sekali tidak mengetahui siapa Qin Xuan sekarang.
Liu Yunshi menatap Yang Ming dengan ekspresi sulit dipercaya.
Dengan bakat yang dimiliki Qin Xuan, bahkan keluarga kekaisaran mungkin bersedia menjodohkannya dengan seorang putri.
Namun, Keluarga Yang justru datang untuk memutuskan hubungan tersebut.
Yang Ge akhirnya menyadari perubahan suasana.
Ia memandang Qin Xuan dengan lebih saksama.
“Kalau boleh tahu, siapa nama Tuan Muda?”
Qin Xuan tidak menunjukkan kemarahan ataupun rasa malu.
Ia hanya menjawab dengan tenang.
“Kalau kalian tidak salah mencari orang, akulah Qin Xuan yang ingin kalian temui.”
......................
Bersambung...