NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Kamar tidur utama keluarga Devandra malam itu terasa begitu mewah, hangat, dan tertutup rapat dari hiruk-pikuk dunia luar.

AC sentral menjaga suhu ruangan tetap sejuk nyaman, sementara lampu tidur berpendar lembut, memantulkan kemewahan interior klasik yang mendominasi ruangan tersebut.

Namun, keheningan malam yang menyelimuti justru berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di dalam batin Gladys.

Ia duduk termenung di tepi ranjang berukuran king size dengan gaun tidur malam berbahan satin lembut.

Pikirannya melayang-layang liar, tak bisa diajak kompromi.

Bayangan sasana tinju sore tadi, napas memburu Praduta, ciuman menuntut yang nyaris merenggut sisa kewarasannya, hingga ancaman dingin pria itu terus berkelebat silih berganti.

Rasa bersalah yang teramat pekat mencengkeram tenggorokannya, membuatnya merasa sesak di tengah ruangan yang begitu lapang.

Langkah kaki pelan mendekat dari arah walk-in closet.

Raka baru saja selesai mandi, mengenakan piyama tidur santai.

Pria itu menatap punggung istrinya dengan sorot mata penuh kelembutan.

Sebagai suami yang kini bertekad memperbaiki segalanya, Raka tidak ingin terburu-buru menuntut apa pun.

Raka duduk perlahan di tepi ranjang, tepat di samping Gladys.

"Pertanyaanku yang tadi, jangan kamu jawab sekarang," ucap Raka dengan nada suara yang tenang, merujuk pada tawarannya di dalam mobil tadi—memberikan Gladys kebebasan mutlak untuk memilih antara bertahan atau berpisah.

Sebelum Gladys sempat merespons, Raka merentangkan kedua tangannya, membawa tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.

Raka memeluk Gladys dengan tulus dan penuh kehangatan, menyandarkan kepala istrinya ke dada bidangnya, lalu mengecup puncak kepala wanita itu dengan lembut.

"Apapun yang kamu pikirkan, hilangkan dulu malam ini," bisik Raka menenangkan, mengusap punggung Gladys penuh kasih sayang.

"Aku tahu ini berat buat kamu. Tapi aku janji, perlahan-lahan aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan jadi suami yang pantas buat kamu, Gladys."

Kata-kata penenang itu mengalir begitu tulus, dibarengi dekapan hangat yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang istri.

Namun bagi Gladys, setiap sentuhan dan kebaikan Raka justru menghujam batinnya bagaikan ribuan duri beracun.

Air mata tanpa sadar menetes membasahi piyama Raka.

Gladys mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas dada suaminya, menahan isakan tangis yang mendesak keluar.

Di dalam dekapannya yang penuh cinta, Gladys merasa menjadi wanita paling munafik dan jahat di dunia.

Ia menerima kehangatan, perlindungan, dan ketulusan Raka, sementara jiwa dan pikirannya baru saja hampir menyerah pada pelukan pria lain—pada pelukan Praduta, musuh dalam selimut yang berniat menghancurkan suaminya sendiri.

Di tengah kegelapan kompleks pemakaman yang dibasahi rintik gerimis, Praduta menyeka air hujan yang menetes dari dahi dan pelipisnya.

Usapan jemarinya kasar, namun tatapan matanya tetap lurus menghujam batu nisan di hadapannya—penuh dendam kesumat yang bergetar hebat di ulu hati.

Seringai tipis dan dingin mengukir bibirnya yang masih membiru akibat luka bertarung.

Praduta merogoh saku celananya yang basah, menarik keluar ponselnya.

Cahaya layar berkedip terang memantul di wajahnya yang kaku.

Dengan jemari yang mantap, ia mengetik sebuah pesan teror psikologis singkat—sebuah umpan mematikan yang siap merobek malam tenang di kediaman Devandra dalam hitungan detik.

Sementara itu, di kamar tidur utama yang hangat, Gladys masih bergeming kaku dalam dekapan Raka.

Tubuhnya menegang bagai patung, menerima elusan lembut di punggungnya tanpa sanggup membalas dekapan tulus suaminya.

Setiap bisikan maaf dan janji manis yang diucapkan Raka terasa seperti godam yang menghantam kesadarannya.

Ting.

Cahaya terang mendadak memancar dari layar ponsel Gladys yang tergeletak di atas nakas samping ranjang.

Notifikasi pesan masuk membelah kegelapan remang kamar itu.

Mata Gladys membelalak seketika. Tanpa perlu membaca isinya, firasat buruk langsung mencengkeram tenggorokannya hingga ia sulit bernapas.

Sambil menahan napas dan berusaha agar Raka tidak menyadari perubahan gerak-geriknya, Gladys mengulurkan tangannya yang gemetar hebat ke arah nakas.

Dengan gerakan refleks yang panik, ia menyambar ponsel itu dan langsung membalikkan layarnya menghadap ke bawah, menekan erat benda pipih itu di atas kasur.

Jantung Gladys berdegup begitu kencang hingga terasa ingin melompat keluar dari dadanya.

"Ada apa, Gladys?" tanya Raka pelan, menyadari gerakan tiba-tiba istrinya dalam pelukan.

Raka mengurai dekapan mereka sedikit, menatap wajah Gladys yang mendadak pucat pasi.

Gladys menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha memasang senyuman tipis yang terasa begitu hambar di bibirnya.

"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya lelah," cicitnya lirih.

Raka tidak curiga. Merasa istrinya sudah mulai melunak, pria itu kembali merengkuh tubuh Gladys ke dalam dekapannya, menyalurkan kehangatan dan rasa aman hingga deru napas Raka perlahan berubah teratur menandakan ia telah jatuh tertidur pulas.

Namun, di tengah keheningan malam dan pelukan erat suaminya, Gladys tidak bisa memejamkan mata.

Ponsel yang ia balikkan di atas nakas terus berkedip-kedip, memancarkan cahaya redup berulang kali yang menandakan pesan masuk bertubi-tubi.

Rasa penasaran yang bercampur ketakutan akhirnya mengalahkan akal sehatnya.

Dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan Raka, Gladys menarik kembali ponsel tersebut dan membalikkan layarnya.

Jantungnya seolah copot seketika saat melihat foto dan pesan yang dikirimkan oleh Praduta.

Di layar terpampang sebuah foto Praduta yang berdiri di tepi jembatan sepi dengan sebilah pisau kecil terarah tepat di lehernya, disertai teror tulisan singkat yang menghujam tajam:

“Kalau kamu tidak datang ke sini sekarang juga dan menemui aku, malam ini kamu hanya akan melihat nama dan batu nisanku. Pilih suamimu, atau menyaksikan aku mati, Gladys."

Napas Gladys tercekat. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa membeku.

Ancaman gila itu nyata, dan Praduta benar-benar nekat melakukan apa saja untuk menghancurkan hidupnya.

Tubuh Gladys bergetar hebat di bawah selimut tebal.

Sorot mata gila Praduta di dalam foto itu seolah menembus layar, mencengkeram tenggorokannya hingga ia sulit bernapas.

Ia tahu Praduta sedang memainkan permainan manipulasi yang sangat kotor, namun ketakutan bahwasanya pria itu benar-benar nekat mengakhiri hidupnya membuat logika Gladys runtuh seketika.

Ia melirik ke samping. Raka tertidur begitu pulas, wajahnya yang biasa keras kini tampak tenang dan pasrah, satu tangannya masih melingkar protektif di pinggang Gladys.

Rasa bersalah yang teramat sangat menusuk dada Gladys.

Di sini ada pria yang tulus ingin memperbaiki hubungan mereka, sementara di luar sana, iblis dari masa lalunya menuntut kembalinya sang korban.

Perlahan, dengan ketelitian yang nyaris membuat napasnya terhenti, Gladys memindahkan lengan Raka dari tubuhnya.

Ia menyibak selimut tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu menginjakkan kakinya ke lantai yang dingin.

Gladys menyambar mantel panjang yang menggantung di sudut kamar, memakainya terburu-buru menyelimuti gaun tidurnya.

Dengan jemari gemetar, ia mengetik balasan singkat untuk Praduta.

[Jangan gila, Pra! Aku datang. Jangan lakukan hal bodoh itu!]

Setelah mengirim pesan tersebut, Gladys melangkah jinjit menuju pintu kamar, memutar gagangnya sehalus mungkin, lalu menyelinap keluar ke dalam koridor rumah Devandra yang remang dan sepi.

Udara malam yang dingin langsung menyambut kulit Gladys begitu ia berhasil keluar dari pintu utama kediaman Devandra tanpa suara.

Langkah kakinya tergesa menuruni undakan tangga halaman, berlari kecil menuju gerbang depan dengan napas yang memburu.

Ia tidak membuang waktu. Begitu taksi online yang dipesannya tiba, Gladys langsung membuka pintu mobil dan masuk dengan panik.

"Ke Jalan Melati atas, Pak! Dekat jembatan tua, cepat ya!" pintanya dengan suara bergetar pada sang sopir, sementara jemarinya terus mencengkeram ponsel dengan erat.

Taksi itu langsung melesat membelah jalanan kota yang lengang.

Namun, Gladys sama sekali tidak menyadari satu hal.

Di lantai dua, di balik tirai kamar tidur utama yang sedikit tersingkap, Papa Devandra berdiri tegak dalam kegelapan.

Pria paruh baya itu terbangun karena haus dan kebetulan melihat ke arah halaman bawah.

Sepasang matanya yang tajam menangkap sosok menantunya yang berlari tergesa-gesa menaiki sebuah taksi tengah malam buta.

Papa Devandra menyipitkan mata, raut wajahnya mengeras dalam keheningan kamar.

"Mau kemana kamu, Gladys, di jam sebelas malam begini?" gumam Papa Devandra pelan, sarat akan kecurigaan dan firasat buruk yang mendadak mencuat di dadanya.

Di dalam taksi yang melaju kencang, Gladys terus menggigit kuku jarinya, dihantui rasa takut yang luar biasa.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di dekat ujung jembatan tua yang sepi dan gelap, tempat yang sama persis seperti dalam foto yang dikirimkan Praduta.

Gladys membayar ongkos taksi terburu-buru, lalu turun.

Angin malam berhembus kencang, menerbangkan helai rambutnya.

Jalanan di sekitar jembatan itu begitu sunyi, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang berkedip lemah.

Dan di sana, berdiri membelakangi pagar pembatas jembatan dengan tangan memegang pisau kecil yang mengarah ke lehernya, Praduta menunggu kehadirannya.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!