NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Rumor Panas dan Misi Pertama

Langkah kaki Eca terasa berat banget waktu dia berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kelas barunya, XI MIPA 3. Bel masuk sekolah sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu, membuat suasana koridor yang tadinya ramai mendadak sepi dan senyap. Tapi, kesepian di luar koridor ternyata berbanding terbalik dengan kehebohan yang ada di dalam kelas begitu Eca mengetuk pintu dan melangkah masuk bersama seorang guru perempuan paruh baya bernama Bu Endang.

Begitu pintu terbuka dan Eca berdiri di depan kelas, seluruh pasang mata langsung tertuju padanya tanpa berkedip. Detik itu juga, suara bisik-bisik yang tertahan langsung memenuhi seisi ruangan bak lebah yang berdengung.

"Eh, itu kan cewek cupu yang tadi pagi numpahin kopi ke sepatu Angkasa?"

"Gila, berani banget dia cari mati di hari pertama masuk sekolah."

"Dandannya aneh banget lagi, ih nggak level banget masuk kelas unggulan kayak kita."

Eca cuma bisa menundukkan kepala dalam-dalam, merapatkan giginya menahan dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun. Tangannya mencengkeram erat tali tas ranselnya yang tadi sempat disita di ruang OSIS. Kebenciannya pada Angkasa makin menumpuk berkali-kali lipat. Gara-gara cowok arogan itu, penyamaran damainya sebagai murid yang tidak kasat mata resmi gagal total bahkan sebelum hari pertamanya dimulai.

"Harap tenang semuanya! Tolong perhatikan ke depan!" Bu Endang mengetuk meja guru dengan penggaris kayu beberapa kali, membuat suasana kelas sedikit lebih kondusif meskipun tatapan sinis dari murid-murid masih tertuju pada Eca. "Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswi pindahan baru dari SMA Wijaya. Silakan perkenalkan namamu, Nak."

Eca menarik napas panjang, lalu mengatur suaranya agar terdengar se-cupu dan se-gemetar mungkin, menyembunyikan nada ketus aslinya dengan sangat rapi. "H-halo semuanya... perkenalkan, nama saya Alesya Violetta Monica. Kalian bisa panggil saya Eca. Mohon bantuannya ya..." cicit Eca sambil membetulkan letak kacamata bulat tebalnya yang sebenarnya tidak melorot sama sekali.

Cemoohan pelan kembali terdengar dari barisan belakang kelas, tapi Eca memilih tidak peduli. Setelah diperintahkan Bu Endang, Eca berjalan cepat menuju satu-satunya bangku kosong yang tersisa di pojok belakang, tepat di sebelah seorang cewek berambut pendek yang penampilannya terlihat ramah dan tidak ikut mengejeknya.

Begitu Eca duduk dan menaruh tasnya, cewek di sebelahnya langsung mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar. "Hai, gue Nadya. Nggak usah terlalu dimasukin ke hati ya omongan orang-orang kelas, mereka emang hobi banget ngegosip kalau ada kejadian heboh."

Eca menjabat tangan Nadya dengan ragu namun merasa sedikit lega karena ada yang menyambutnya dengan baik. "Hai, Nad. Gue Eca. Makasih banyak ya."

"Tapi... seriusan lo tadi pagi numpahin kopi ke sepatunya Angkasa?" tanya Nadya langsung berbisik penasaran begitu Bu Endang mulai menulis materi pelajaran di papan tulis. "Lo tahu nggak sih, Angkasa itu orang paling berbahaya di sekolah ini. Bokapnya yang punya yayasan, dan dia itu ketua geng yang nggak pernah punya rasa ampun sama siapa pun yang berani ngusik ketenangannya. Lo beneran gapapa tadi pas diseret ke ruang OSIS?"

Eca tersenyum kecut di balik kacamata tebalnya. Gue nggak apa-apa secara fisik, Nad, tapi harga diri dan kartu pelajar asli gue yang ditahan sama cowok dajjal itu, jerit Eca dalam hati penuh frustrasi. "Iya, tadi cuma salah paham sedikit aja kok. Sepatunya juga udah aku bantu bersihin tadi di ruang OSIS sebelum ke sini," jawab Eca seadanya dengan nada yang sengaja dibuat lugu.

Selama tiga jam pelajaran ke depan, pikiran Eca sama sekali tidak bisa fokus pada rumus Fisika yang dijelaskan Bu Endang di papan tulis. Otaknya sibuk berputar keras memikirkan ancaman Angkasa. Kartu pelajar lamanya yang berisi foto aslinya yang manis, modis, dan tanpa kacamata sekarang ada di kantong celana cowok itu. Kalau sampai Angkasa menyebarkannya di mading sekolah, rahasia penyamarannya terbongkar, dan trauma perundungan di sekolah lamanya bisa saja terulang kembali. Eca tidak mau hal buruk itu terjadi lagi dalam hidupnya.

KRIIINGGGG!

Bel istirahat pertama yang dinanti-nanti seluruh murid akhirnya berbunyi nyaring. Namun bagi Eca, suara bel itu terdengar seperti lonceng kematian yang memanggil nyawanya. Pesan terakhir Angkasa di ruang OSIS langsung terngiang-ngiang dengan sangat jelas di kepalanya: 'Pastikan nanti pas jam istirahat, segelas Americano dingin sudah ada di meja gue. Jangan telat, Alesya.'

Eca langsung buru-buru memasukkan buku tulis dan pulpennya ke dalam tas dengan gerakan yang sangat tergesa-gesa.

"Ca, mau ke kantin bareng nggak? Sekalian gue kenalin sama kantin sini," ajak Nadya sambil berdiri dari bangkunya.

"Aduh, maaf banget ya, Nad. Gue ada urusan sebentar yang mendesak dan penting banget. Duluan aja ya, nanti gue nyusul!" tolak Eca panik. Dia langsung menyampirkan tasnya dan berlari keluar kelas sebelum Nadya sempat bertanya lebih lanjut.

Misi pertamanya sebagai asisten pribadi rahasia dimulai sekarang: mencari kopi Americano dingin di sekolah yang baru dia masuki hari ini. Eca berlari menuruni anak tangga menuju kantin pusat sekolah. Begitu sampai, suasana kantin sudah penuh sesak oleh lautan murid yang kelaparan dan saling berebut antrean. Eca mengedarkan pandangannya ke seluruh stan makanan dan minuman yang berjejer, tapi sialnya, kantin sekolah rata-rata hanya menjual es teh manis, jus buah, dan minuman saset instan. Tidak ada satu pun stan yang menjual Americano dingin yang sesuai dengan selera kelas atas cowok menyebalkan itu.

Keringat mulai bercucuran di pelipis Eca. Dia melirik jam dinding di koridor kantin. Waktu istirahat cuma 20 menit, dan sekarang sudah berjalan 7 menit!

Di tengah kepanikannya, tiba-tiba jalannya dihadang oleh tiga siswi dengan seragam ketat dan riasan wajah yang cukup tebal untuk ukuran anak sekolah. Di tengahnya berdiri seorang cewek berambut kecokelatan yang menatap Eca dengan pandangan meremehkan. Dia adalah geng cewek populer yang sejak tadi mengincar Eca karena cemburu melihat Eca berduaan dengan Angkasa di ruang OSIS.

"Oh, jadi ini cewek udik yang cari perhatian sama Angkasa tadi pagi?" cibir cewek di tengah sambil bersedekap dada. "Heh, cupu. Jangan mimpi lo bisa deket-deket sama Angkasa ya. Gaya lo nggak cocok banget di sini."

Eca mengepalkan tangannya. Kalau di sekolah lama, dia mungkin akan diam dan menangis. Tapi sekarang, waktunya sudah sangat sempit dan dia tidak punya waktu untuk drama tidak penting ini. Eca menarik napas dalam, menurunkan pandangannya, lalu menerobos mereka bertiga begitu saja. "Permisi, aku buru-buru," ucap Eca dengan nada datar.

"Heh! Berani ya lo nyuekin gue?!" teriak cewek itu kesal, tapi Eca sudah berlari menjauh menuju seorang siswa senior yang sedang memegang segelas minuman di dekat tangga.

"Permisi, Kak," Eca memberanikan diri bertanya dengan napas yang mulai memburu. "Kalau mau beli kopi Americano dingin di sekitar sekolah ini di mana ya yang paling cepat?"

Kakak kelas itu menatap Eca heran dari ujung rambut ke ujung kaki sebelum akhirnya menjawab, "Americano? Di kantin mana ada yang begituan. Tapi kalau lo mau, di dekat gerbang belakang sekolah ada kafe kecil yang jualan kopi-kopi kekinian. Biasanya anak-anak suka mesen lewat celah pagar belakang kalau malas keluar gerbang depan."

Mata Eca langsung berbinar mendengar secercah harapan itu. "Pagar belakang sebelah mana, Kak?"

"Jalan terus aja lewatin lab biologi di ujung sana, nanti ada taman belakang yang sepi. Pagar besi belakang sekolah langsung mepet sama jalan raya besar. Kafenya ada tepat di seberang jalan itu."

"Makasih banyak, Kak!"

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Eca langsung memutar arah dan berlari sekencang mungkin menuju area taman belakang sekolah. Napasnya mulai terasa putus-putus, dan kacamata bulat tebalnya beberapa kali melorot karena terendam keringat. Begitu sampai di taman belakang yang dikelilingi pohon-pohon rindang dan bersemak sepi, Eca melihat pagar besi hitam tinggi yang membatasi area sekolah dengan jalan umum. Di seberang jalan, memang berdiri sebuah kedai kopi kecil bernuansa minimalis dengan papan nama neon yang menyala.

Eca buru-buru mendekati celah pagar besi itu. Beruntung, ada seorang bapak-bapak ojek online yang kebetulan sedang mangkal dan bermain ponsel di dekat pagar pembatas.

"Pak! Pak! Tolongin saya dong, Pak! Tolong banget!" panggil Eca setengah berteriak dari balik pagar besi.

Bapak ojek online itu menoleh kaget, lalu buru-buru mendekati pagar pembatas. "Eh, ada apa, Neng? Ada yang bisa dibantu?"

"Pak, tolong beliin segelas Americano dingin di kafe seberang jalan itu sekarang juga, Pak! Ini uangnya, kembaliannya ambil aja buat Bapak, tapi tolong cepat banget ya Pak, saya bisa dihukum kalau telat!" Eca menyodorkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari celah pagar besi dengan tangan yang gemetar hebat karena panik setengah mati.

Bapak itu sempat bingung melihat penampilan cupu Eca yang ketakutan, tapi melihat lembaran uang dan wajah panik yang tidak main-main, dia langsung mengangguk cepat. "Oh, siap, Neng! Ditunggu sebentar ya, Bapak buatkan kilat!"

Bapak ojol itu langsung berlari menyeberang jalan menuju kedai kopi. Eca berdiri di balik pagar sambil terus-menerus melirik jam di ponselnya yang menunjukkan waktu istirahat tinggal sisa lima menit lagi! Jantungnya berdegup sangat kencang seperti sedang berpacu dalam taruhan nyawa. Lima menit berlalu... Tujuh menit... Waktu istirahat benar-benar tersisa kurang dari dua menit!

"Ayo dong, Pak, cepetan... kalau telat habislah riwayat gue..." gumam Eca panik sambil mondar-mandir di balik pagar pembatas hingga sepatunya menginjak rumput-rumput basah.

Akhirnya, bapak ojol itu kembali muncul dan berlari menyeberang jalan sambil membawa sebuah kantong plastik transparan berisi segelas kopi hitam pekat dengan es batu yang melimpah. "Ini, Neng, Americano dinginnya! Masih segar!"

"Makasih banyak ya, Pak! Bapak beneran penyelamat hidup saya hari ini!" seru Eca lega setengah mati. Dia langsung menyambar kantong plastik itu dari celah pagar, memutar tubuhnya, dan kembali berlari sekuat tenaga yang dia miliki menuju gedung utama, tepatnya menuju ruang OSIS di lantai satu.

Eca menaiki anak tangga dengan napas yang sudah habis dan dada yang terasa sesak. Kaki Eca rasanya sudah mau mati rasa dan kram, tapi dia terus memaksakan diri berlari menyusuri koridor agar tidak terlambat semenit pun dari ancaman sang iblis. Begitu sampai di depan pintu ruang OSIS, Eca langsung mendorong pintu kayu itu dengan keras tanpa sempat mengetuk lagi karena waktu di ponselnya sudah menunjukkan batas akhir.

BRAKK!

Pintu terbuka lebar dengan suara benturan yang cukup keras. Eca berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah yang sangat memburu, wajahnya memerah padam karena kelelahan, dan beberapa helai rambut kuncir duanya tampak berantakan keluar dari ikatannya akibat terpaan angin saat berlari.

Di dalam ruangan, Angkasa sedang duduk santai di sofanya bersama Arkan dan Bara yang sedang asyik mengobrol. Pandangan ketiga cowok itu langsung beralih serentak ke arah pintu, menatap Eca yang berdiri mengenaskan dengan penampilan acak-acakan.

Angkasa perlahan mengangkat tangan kirinya, melirik jam tangan hitam mewahnya dengan sangat lambat, lalu menatap Eca dengan senyuman tipis yang sangat dingin dan penuh kepuasan tersembunyi. "Sisa tiga puluh detik dari batas waktu yang gue kasih. Hampir aja kartu pelajar lama lo masuk ke mading utama sekolah, Alesya."

Eca tidak membalas sindiran itu karena tenaganya sudah habis. Dia berjalan cepat mendekati meja kaca dengan sisa-sisa tenaganya yang tersisa, lalu meletakkan segelas Americano dingin yang bagian luarnya sudah berembun tebal itu tepat di depan Angkasa.

"Ini... Americano dingin pesanan kamu. Pas, nggak telat," ucap Eca dengan nada ketus yang tidak bisa dia sembunyikan lagi karena saking lelah dan kesalnya.

Angkasa mengambil gelas plastik itu, memperhatikan embun esnya sejenak, lalu menyedot kopi hitam pahit itu perlahan tanpa ekspresi. Namun, sedetik kemudian, sudut bibir cowok itu terangkat sedikit, menunjukkan kepuasan yang sengaja dia tunjukkan untuk memancing emosi Eca.

"Rasa kopinya lumayan, sesuai selera gue. Tapi penampilan lo sekarang makin berantakan mirip gembel pasar," cibir Angkasa sengaja memanaskan suasana sambil meletakkan kembali gelas kopi itu ke meja kaca. Dia memajukan tubuhnya, lalu menunjuk sebuah tumpukan map tebal berwarna merah di sudut meja dengan jari telunjuknya. "Tugas pertama beli kopi selesai dengan nilai pas-pasan. Sekarang, bawa map-map materi Geografi ini ke kelas lo."

Eca menatap tumpukan map tebal itu dengan mata membelalak di balik kacamatanya.

"Maksudnya apa lagi ini?" tanya Eca menahan geram.

"Gue mau lo ringkas semua materi dari bab satu sampai bab tiga di buku tulis gue yang ada di dalam map itu. Dan pastikan tugas itu sudah selesai dan dikumpulin lagi ke ruangan ini sebelum bel pulang sekolah berbunyi nanti sore," ucap Angkasa santai, seolah-ubah tugas itu seringan membalikkan telapak tangan.

Eca mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Banyak banget! Ini sih namanya perbudakan berkedok asisten pribadi! Mana waktunya cuma sampai pulang sekolah lagi! teriak Eca dalam hati, menahan kekesalan yang sudah sampai ke ubun-ubunnya.

Namun sebelum Eca sempat protes atau mengambil tumpukan map itu, Angkasa tiba-tiba menyadarkan punggungnya kembali ke sofa, lalu menatap Eca dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat misterius dan penuh selidik.

"Oh iya, satu lagi, Alesya," ucap Angkasa pelan, membuat langkah Eca tertahan. Angkasa mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja kaca tempat gelas kopi berada. "Gue tahu kafe di seberang pagar belakang sekolah itu nggak nerima pesanan anak sekolah kalau jam pelajaran. Jadi... trik apa yang lo pakai buat dapetin kopi ini dalam waktu kurang dari lima belas menit dengan penampilan lo yang kayak gini, hah?"

Jantung Eca langsung berdesir tajam mendengar pertanyaan tak terduga itu. Dia membeku di tempat. Ternyata Angkasa tahu betul seluk-beluk kafe di belakang sekolah itu! Jika Angkasa sampai tahu kalau Eca memanfaatkan ojek online dan punya uang lebih untuk memberi tip, cowok itu pasti akan menyadari kalau Eca sebenarnya bukan cewek miskin atau cupu seperti yang dia bayangkan.

Lebih dari itu, tatapan mata Angkasa saat ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa cowok itu menyimpan rahasia lain tentang masa lalu Eca di sekolah lamanya yang belum dia ungkapkan sepenuhnya. Ada sebuah senyuman penuh teka-teki di wajah Angkasa yang membuat Eca mendadak merinding ketakutan. Permainan benci-jadi-cinta ini ternyata menyimpan misteri yang jauh lebih berbahaya dari yang Eca duga!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!