Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Apa?
Mendengar hal itu, langkah Papa Aditya mendadak kaku. Pria paruh baya itu berbalik sepenuhnya dan membelalakkan mata menatap Althaf dengan raut wajah tak percaya, frustrasi di wajahnya kian membuncah.
"Kamu serius, Althaf? Kamu baru saja kenal perempuan itu, dia cuma kerja di pabrik dan kamu mau Papa membawa keluarga besar kita melamar ke rumahnya?" tanya Papa Aditya dengan suara tertahan.
"Sangat serius, Pa. Althaf tidak pernah semain-main ini dalam hidup Althaf," jawab Althaf mantap tanpa ada celah keraguan sedikit pun.
Papa Aditya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas berat yang sarat akan kepasrahan. Pria itu tahu betul, melarang Althaf saat ini hanya akan membuat putranya semakin nekat dan melangkah sendiri tanpa restu keluarga. Walau hatinya berat dan terpaksa melihat perbedaan status sosial yang membentang jauh, kasih sayangnya pada Althaf mengalahkan gengsinya.
"Terserah kamu, Kapan pun kamu mau... Papa dan Mama akan ikut. Tapi ingat Althaf, kamu yang harus bertanggung jawab atas segala pilihan dan keputusan hidupmu ini," jawab Papa Aditya akhirnya dengan nada menyerah.
Setelah melontarkan kalimat tersebut, Papa Aditya memutar badan dan melangkah keluar dari ruangan kerja Althaf, meninggalkan pintu yang tertutup rapat kembali. Althaf menyunggingkan senyum tipis, merasa satu langkah besar dalam perjuangannya telah berhasil dilewati.
Sementara itu, mobil sedan yang disediakan oleh sopir Althaf melaju mulus membelah jalanan kota Bandung menuju perkampungan tempat tinggal Ayara.
Di dalam mobil, Ayara duduk terpaku menatap keluar jendela, pikirannya benar-benar berkecamuk. Bayangan raut wajah dingin Papa Aditya saat menyuruhnya keluar dari ruangan terus berputar di dalam kepalanya, menegaskan betapa lebarnya jurang pemisah antara dirinya dan Althaf.
'Sudah kuduga... orang tua Mas Althaf pasti tidak akan menyukaiku,' batin Ayara ringkih.
Ada rasa sesak yang merayap di dada Ayara, namun ia berusaha menguatkan diri. Bagaimanapun juga, ia memang hanyalah seorang buruh pabrik yang tak pantas bersanding dengan pengacara terpandang.
Tak lama berselang, mobil berhenti di depan rumah. Ayara mengucapkan terima kasih kepada sang sopir, lalu melangkah masuk kedalam rumahnya.
Begitu sampai di ruang tamu, Ayara melihat Arlan sedang memperbaikinya sebuah lampu.
"Loh, Mbak... sudah pulang?" tanya Arlan.
Ayara tersenyum canggung, melepaskan tasnya lalu duduk bersimpuh di samping sang adik. "Iya, Lan... Mbak dari kantornya Mas Althaf."
Arlan pun menghentikan kegiatannya, menatap Ayara dengan tatapan bertanya-tanya. "Gimana, Mbak? Uangnya sudah diterima sama Bang Althaf?"
"Mas Althaf nggak mau uangnya. Tapi tadi Mas Althaf masih sibuk, jadi nanti Mbak bakal bicarakan lagi," ucap Ayara.
"Kalau gitu, uangnya Mbak Ayara bawa aja," ucap Arlan, diangguki Ayara.
Sore harinya, Ayara sedang bersantai di ruang tamu, sedangkan Arlan keluar bersama temannya membeli peralatan untuk memperbaiki lampu yang tadi ia perbaiki.
Saat Ayara tengah asik bermain ponsel, tiba-tiba Ibu Yati duduk disampingnya dan membuat Ayara terkejut. "Ada apa, Bu?" tanya Ayara.
"Nggak apa-apa, Mbak. Kamu lanjut aja main hp-nya," jawab Ibu Yati.
Ayara pun melanjutkan bermain ponselnya, namun ia merasa ada yang aneh dari sang ibu. Akhirnya, Ayara mematikan ponselnya, lalu menatap sang ibu.
"Kalau ada yang mengganggu pikiran ibu, ibu bilang aja," ujar Ayara.
"Nggak ada, Mbak," jawab Ibu Yati.
"Ibu nggak busa bohongin Ayara, Ibu itu kelihatan banget kalau lagi mikir sesuatu. Jadi, bilang ya, siapa tahu Ayara bisa bantu," bujuk Ayara.
"Jadi... gimana keputusan kamu?" tanya Ibu Yati gugup.
"Keputusan apa?" tanya Ayara.
"Soal lamaran Nak Althaf," ucap Ibu Yati.
"Soal itu... kayaknya Ayara bakal menolak lamaran Mas Althaf," jawab Ayara.
"Kenapa? Nak Althaf kelihatan sangat peduli sama kamu, bahkan pas dia minta izin Ibu, Ibu sangat terharu dan merestui kalian," tanya Ibu Yati.
"Bukan karena aku nggak peduli sama perasaan Mas Althaf, Bu..." Ayara menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di tenggorokannya.
"Tadi siang, aku pergi ke kantornya Mas Althaf, dan aku ketemu sama Ayahnya Mas Althaf." lanjut Ayara.
Ibu Yati mengerutkan kening, menatap putrinya dengan saksama. "Ayahnya Nak Althaf? Terus, apa yang terjadi, Mbak?"
"Ayahnya Mas Althaf kelihatan nggak suka sama aku, Bu...," suara Ayara mulai parau, matanya memanas menahan air mata yang mendesak hendak tumpah.
"Beliau menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan dingin, lalu menyuruhku keluar dari ruang kerja Mas Althaf begitu saja. Aku sadar siapa aku, Bu. Aku cuma buruh pabrik yang hidup pas-pasan, sementara keluarganya Mas Althaf adalah orang terpandang. Kalau aku memaksakan diri masuk ke keluarga mereka, aku cuma akan jadi beban dan bikin Mas Althaf malu." lanjut Ayara.
Ibu Yati terdiam sejenak, wanita paruh baya itu meraih tangan putrinya yang gemetar dan menggenggamnya erat-erat penuh kehangatan.
"Dengarkan Ibu, Ayara... Ibu tidak pernah melahirkan anak untuk direndahkan oleh siapa pun. Tapi, kalau kamu mundur hanya karena takut pada pandangan orang lain tanpa mendengarkan dulu penjelasan Nak Althaf, apakah itu adil untuknya? Nak Althaf sudah membuktikan ketulusannya berulang kali, bahkan berani meminta restu Ibu secara langsung. Jangan biarkan ketakutanmu sendiri merusak kebahagiaan yang sedang mengetuk pintu hatimu," ucap Ibu Yati dengan nada suara yang begitu menenangkan.
Ayara menunduk, air matanya menetes membasahi punggung tangan sang ibu. Hatinya bergemuruh hebat, bimbang antara mengikuti rasa mindernya atau mempercayai ketulusan Althaf.
"Ayara sudah yakin, Bu. Ayara yakin, Mas Althaf akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Ayara," ucap Ayara.
"Tapi...,"
"Bu... sudah ya, jangan bahas ini dulu," pinta Ayara.
"Yasudah, kamu istirahat aja kalau gitu," balas Ibu Yati.
Hari berganti hari, namun kebimbangan masih menggelayuti pikiran Ayara. Selama dua hari berikutnya, ia memilih tidak membalas pesan-pesan dari Althaf dengan alasan sibuk bekerja di pabrik. Rasa tidak percaya akibat pertemuan singkat dengan Papa Aditya di kantor hukum kemarin masih membekas kuat di benaknya.
Hari ini, Ayara pulang larut malam karena lembur. Setelah bersih-bersih, Ayara langsung merebahkan tubuhnya di kasur tipis kamarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan melihat Althaf yang menelponnya, lalu Ayara pun akhirnya mengangkat telepon tersebut.
[Akhirnya Ayara! Kemana saja kamu selama dua hari ini? Pesanku nggak kamu balas, teleponku juga nggak kamu angkat] - Althaf
^^^[Mas, untuk kedepannya... Mas Althaf nggak usah kirim pesan atau nelpon aku lagi ya, aku rasa pertemanan kita sampai sini saja. Dan, untuk lamaran Mas Althaf... maaf aku menolaknya, semoga Mas Althaf bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku] - Ayara.^^^
Setelah itu, Ayara langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan memblokir nomor Althaf.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita