Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Ketemu Caca
Valeska menahan isaknya, menatap Nek Izah dengan mata yang merekah merah. "Tapi saya rasanya enggak enak banget sama Nenek..."
Nek Izah tersenyum makin lebar, mengusap bahu Valeska dengan lembut. "Ndak apa-apa, Nduk. Simpan uangnya ya? Kamu itu sudah mau berusaha kerja, mau mengalahkan gengsimu sendiri, Nenek sudah bangga banget lihatnya. Sekarang kamu masuk ke dalam, mandi, terus istirahat. Jangan dipikirkan yang aneh-aneh lagi."
Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali, Valeska melangkah pergi. Dia membuka pintu kontrakannya yang berderit pelan, melangkah masuk ke dalam ruangan cat hijau pudar yang kini kembali diselimuti kegelapan dan kesunyian.
Klek.
Valeska mengunci pintu dari dalam. Dia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin itu, lalu perlahan meluncur turun hingga terduduk di atas lantai semen.
Suasana ruangan terasa begitu senyap. Hanya ada detak jarum jam dinding tua milik kontrakan dan deru angin malam dari luar.
Dengan jemari yang bergetar hebat, Valeska merogoh saku roknya, menarik keluar ponsel pintarnya yang kini layarnya retak tipis di sudut bawah. Dia menatap layar hitam itu penuh harap, menekan tombol daya berkali-kali untuk melihat apakah ada notifikasi yang masuk.
Nihil. Tidak ada panggilan masuk, tidak ada pesan singkat.
"Ma... Papa..." gumam Valeska lirih, suaranya pecah di tengah kegelapan. Air matanya menetes satu per satu, membasahi layar ponsel yang dingin. "Mama udah sampai belum? Kenapa enggak ada kabar sama sekali? Papa gimana di sana...?"
Valeska memeluk kedua lututnya kencang-kencang, menyembunyikan wajah sembapnya di sana. Isak tangis yang sedari tadi dia tahan di depan Elang dan Nek Izah akhirnya meledak sepenuhnya di kamar sepi itu.
"Gue enggak kuat..." bisik Valeska bergumam pada dirinya sendiri, suaranya tercekik oleh rasa sakit yang memuncak di dada. "Gue enggak kuat hidup sendirian kayak gini..."
Rasa sepi ini sebenarnya bukan hal baru bagi Valeska. Sejak kecil, Papa dan Mamanya memang selalu sibuk dengan bisnis, rapat, dan perjalanan luar negeri. Dulu, Valeska juga sering ditinggal sendirian di rumah mewahnya.
Tapi dulu... situasinya berbeda.
"Dulu... kalau gue kesepian, gue bisa belanja," gumam Valeska meremas rambutnya frustrasi, tangisnya makin menjadi-jadi. "Gue bisa beli barang apa aja, bisa jalan-jalan sama geng gue, bisa nyenengin diri sendiri pakai uang Papa... Tapi sekarang?"
Valeska mendongak, menatap sekeliling kontrakan sempitnya yang muram dengan tatapan kosong.
"Sekarang gue enggak bisa nyenengin diri sendiri lagi..." bisiknya hampa. "Gue enggak punya kuasa apa-apa. Baju mahal gue enggak guna, teman-teman gue kabur semua, uang gue habis... Semuanya hilang, Ma... Semuanya hilang..."
Di dalam ruangan yang dingin dan sepi itu, Valeska meringkuk sendirian di atas kasur kapuk tipis. Dia memeluk ponselnya rapat-rapat di dada, menangis sampai matanya bengkak dan napasnya tersengal-sengal, meratapi kenyataan bahwa sang Ratu SMA Nusantara kini tak lebih dari seorang cewek kesepian yang kehilangan seluruh dunianya.
Sementara itu, di sebuah warung kopi sederhana di dekat persimpangan jalan tak jauh dari SMA Nusantara, asap rokok tipis melayang di bawah remang lampu jalan.
Elang duduk santai di atas bangku kayu, menyandarkan punggungnya ke tembok cat terkelupas. Di depannya, Marco dan Leo sedang asyik bermain Mobile Legends di ponsel mereka masing-masing, diselingi umpatan dan gelak tawa khas anak nongkrong.
"Woy, Lang! Defense woy! Turet atas mau hancur itu!" teriak Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari layar HP.
"Biarin aja, elo yang jalan ke sana. Gue lagi tunggu cooldown," sahut Elang tenang, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas cangkir kopi hitam yang mulai dingin.
Marco meletakkan HP-nya di atas meja kayu dengan helaan napas kasar setelah layar ponselnya menampilkan tulisan Victory. Dia meraih gelas es tehnya, lalu menatap Elang dengan raut wajah penasaran.
"Eh, Lang," panggil Marco sambil menyulut rokok. "Gue denger-denger tadi sore lo jalan bareng si Valeska ya? Anak-anak kelas pada heboh bilang lo nganterin tuh cewek bangkrut."
Leo yang mendengar nama Valeska langsung ikut mematikan game-nya dan mendongak, matanya membelalak kaget. "Serius lo, Lang?! Si Ratu Iblis yang kemarin ngamuk-ngamuk di kelas itu? Ngapain lo masih mau urusan sama dia? Bukannya dia udah diinjak-injak sama geng si Jena?"
Elang menyeruput kopinya pelan, merespons santai tanpa ada riak emosi di wajahnya. "Gue cuma nganterin dia ke kafe tempat gue kerja. Dia butuh gawean."
"Hah?! Valeska kerja di kafe?!" Leo sampai tersedak es tehnya sendiri. "Gila lo! Cewek manja yang biasa nyuruh-nyuruh ART itu mau cuci piring?! Paling besok juga udah kabur gara-gara kuku cantiknya patah!"
"Dia bertahan kok," potong Elang singkat. "Hari pertama dia udah nyelesaiin tumpukan piring kotor."
Marco mengamati raut wajah Elang yang datar. Sebagai teman dekat, Marco tahu betul Elang bukan tipe cowok yang suka ikut campur urusan orang lain—apalagi cewek bertemperament buruk seperti Valeska.
"Lang... lo beneran cuma mau bales budi ke Papanya, atau lo emang ada rasa kasihan sama tuh cewek?" tanya Marco penuh selidik, suaranya melunak. "Lo tahu sendiri kan, di sekolah dia tuh musuh bersama sekarang. Lo deket-deket sama dia, bisa-bisa ikut kena getahnya dari geng cowok-cowok lain atau si Caca nanti mikir yang aneh-aneh."
Elang menyandarkan kepalanya ke tembok, menatap lurus ke arah jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan night shift.
"Gue enggak peduli apa kata orang di sekolah," sahut Elang datar, nada suaranya berubah dingin dan tegas. "Papanya pernah selamatin masa depan gue lewat beasiswa itu. Sekarang pas Papanya kena masalah, gue cuma jalanin amanat. Gue kagak ada rasa apa-apa sama Valeska. Mau dia nangis, mau dia menderita, itu konsekuensi dari hidup dia yang dulu."
"Tapi kalau dia menyerah sekarang dan makin hancur..." Elang menghentikan kalimatnya sejenak, mengingat wajah sembap Valeska yang tadi memegang erat amplop gaji lima puluh ribu rupiahnya. "...gue cuma mikir, kasihan Papanya di penjara kalau tahu anak tunggalnya jadi gembel di jalanan."
Leo menggeleng-gelengkan kepala. "Batu banget emang tuh cewek. Tapi ya... jujur aja, kasihan juga sih lihat dia sekarang. Dari puncak langsung jatuh ke dasar selokan."
"Biarin aja," balas Elang sambil mengambil kunci motornya di meja. "Biar dia ngerasain sendiri gimana rasanya jadi orang biasa. Kalau dia kuat, dia bertahan. Kalau kagak kuat, ya seleksi alam."
Elang berdiri dari bangkunya, merapikan jaket kusamnya. "Gue balik duluan. Besok jam pertama ada ulangan Matematika."
Marco dan Leo cuma melambaikan tangan pasrah melihat Elang yang mulai menyalakan mesin motor matic-nya. Elang memutar gas perlahan, keluar dari parkiran warung kopi menuju jalan raya yang mulai senggang.
Di tengah perjalanan pulang, Elang melipirkan motornya ke pinggir jalan di depan sebuah minimarket Indomaret. Baru saja dia hendak masuk untuk membeli minuman dingin, pintu kaca otomatis minimarket terbuka.
Sesosok cewek dengan seragam SMA Nusantara yang dibalut kardigan rajut warna krem melangkah keluar sambil memegang kantong plastik kecil berisi cemilan.
"Eh? Kak Elang?" panggil Caca kaget, matanya berbinar begitu mendongak dan melihat Elang berdiri di depan pintu. "Kok malam-malam ada di sini?"
Elang menghentikan langkahnya, menatap Caca dengan raut santai. "Baru habis nongkrong sebentar sama Marco dan Leo di depan. Lo sendiri ngapain malam-malam sendirian di Indomaret?"
"Beli camilan buat nemenin belajar," sahut Caca sambil pamer kantong plastiknya. "Besok kan ada ulangan harian Biologi, Kak."
Elang manggut-manggut. Tiba-tiba teringat pesan dari temannya tadi, sudut bibir Elang terangkat tipis. Dia menatap cewek di depannya itu dengan pandangan jahil.
"Wah, Biologi ya? Kebetulan banget," ujar Elang tiba-tiba. "Ca, besok jam pertama gue ada ulangan Matematika nih. Ajarin gue dong?"
Caca membelalakkan matanya, menatap Elang lurus-lurus dengan raut muka bingung yang kebangetan polos.
"Hah?! Gimana sih Kak Elang?!" pekik Caca gemas, memiringkan kepalanya. "Kan Caca masih kelas sepuluh, Kak! Kak Elang itu udah kelas sebelas! Jelas Caca belum belajar materi kelas sebelas lah, gimana cara ngerjainnya?!"
Elang terkekeh renyah, melipat kedua tangannya di dada sambil menundukkan sedikit badannya agar sejajar dengan tinggi Caca.
"Ya kan siapa tahu aja lo bisa, Ca," goda Elang dengan suara pelan dan dalam. "Soalnya tiap kali lihat lo, otak gue mendadak fokusnya cuma ke lo doang, materi Matematika di kepala gue langsung hilang semua."
Mendengar gombalan super maut dari Elang yang sama sekali tak terduga itu, pipi Caca seketika berubah merah padam seperti buah tomat matang. Dia langsung menutup wajahnya dengan kantong plastik Indomaret yang dipegangnya, melangkah mundur satu tindak karena salah tingkah parah.
"Ih! Kak Elang apaan sih!" gerutu Caca malu-malu, suaranya melengking pelan. "Enggak jelas banget dari tadi sore ngegombalin Caca terus! Tau ah, Caca mau pulang!"
Elang tertawa kencang—suara tawa lepas yang sangat jarang diperlihatkannya di sekolah atau di depan Valeska. Cowok itu menyamakan langkah kakinya dengan Caca yang berjalan cepat menundukkan kepala.
"Eits, jangan buru-buru," cegah Elang sambil memegang ujung tali tas sekolah Caca pelan. "Jalanan udah sepi begini. Ayo gue anterin balik, lagian udah malam. Kalau ada apa-apa di jalan, nanti siapa yang mau gue godain lagi?"
"Kak Elang!" pekik Caca lagi, makin menyembunyikan senyum di balik kardigan kremnya.
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan kota, Elang menuntun motornya perlahan di samping Caca yang melangkah malu-malu. Untuk sejenak, semua masalah menguap dari pikiran Elang, tergantikan oleh kehangatan kecil bersama cewek polos yang selalu sanggup membuat hari-harinya terasa jauh lebih ringan.