Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam semakin larut, namun Erlyn masih susah memejamkan mata. Di sampingnya, Iqbal terlelap tenang, napasnya terdengar teratur.
Sementara Erlyn, matanya terbuka lebar menatap kegelapan langit-langit kamar, pikirannya berputar tanpa henti.
Ponsel yang diletakkan di samping tempat tidur tiba-tiba bergetar pelan.
Erlyn menegang seketika. Ia menoleh perlahan, menatap layar yang menyala redup di tengah kegelapan. Jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih ponsel itu, memastikan gerakannya tidak membangunkan Iqbal.
Di layar tertulis pesan baru dari nomor yang sama. Kali ini disertai penanda lokasi, sebuah kafe kecil yang terletak di pinggiran kota, jauh dari keramaian, tempat yang sepi dan sepertinya tidak banyak orang yang lewat ke sana.
Erlyn menelan ludah. Ia mengenali tempat itu samar-samar. Jauh dari jalan utama, dikelilingi pepohonan lebat dan sepi. Tempat yang sempurna untuk bertemu tanpa diketahui siapa pun.
Jari-jarinya gemetar saat mengetuk lokasi itu, membuka keterangan lebih lanjut. Di bawahnya, tertulis kalimat yang membuat darahnya membeku:
"Ini tempatnya. Datanglah besok pagi pukul sepuluh sendirian. Kalau nggak datang atau kau terlambat, semua foto akan langsung dikirim ke nomor suamimu, atau ke semua kerabat yang bisa kutemukan. Kau pilih Erlyn, datang padaku, atau biarkan semua orang tahu siapa kamu sebenarnya."
Erlyn menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara. Matanya memanas, air mata menetes membasahi pipi tanpa ia sadari.
Ia tahu pria itu tidak bercanda. Enam belas tahun lalu, setiap ancaman yang diucapkannya selalu dilaksanakan. Om Hendi akan menepati janjinya yang mengerikan itu.
Ia berbaring kembali perlahan, menatap punggung Iqbal yang tenang. Hatinya terasa perih sekali. Ia tak akan membiarkan suaminya menerima foto-foto memalukan itu.
Iqbal yang begitu tulus, begitu baik, yang menerima apa adanya tanpa pernah bertanya tentang masa lalunya... ia tidak pantas dipermalukan seperti itu.
Namun pergi ke tempat itu sendirian, ke tempat yang sepi, bertemu pria yang dulu menguasai hidupnya... rasanya seperti kembali masuk ke dalam kandang harimau.
Erlyn menggigil memikirkannya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Hendi padanya di sana. Ia tidak tahu apakah ia bisa pulang kembali.
Erlyn memejamkan mata erat. Ia berusaha menenangkan napasnya, berusaha berpikir jernih.
Mungkin jika ia datang, ia bisa berbicara dengan Om Hendi. Mungkin ia bisa memohon. Mungkin ia bisa menawar waktu, berjanji untuk memberikan apa saja yang diinginkannya selama pria itu tidak menyebarkan foto-foto itu.
Setidaknya itu lebih baik daripada membiarkan Iqbal mengetahuinya dengan cara yang paling buruk.
Erlyn menoleh ke arah Iqbal, mengusap rambut suaminya pelan, takut membangunkannya.
"Maafkan aku, Mas..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar. "Aku harus pergi sebentar. Aku akan berusaha pulang. Tolong tunggu aku."
Ia tidak tahu apakah kalimat itu untuk Iqbal atau untuk dirinya sendiri.
***
Pagi pun tiba. Erlyn bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, bergerak pelan agar tidak terdengar.
Ia memakai pakaian yang sederhana, baju lengan panjang, celana panjang longgar, seolah takut ada mata yang melihat bentuk tubuhnya.
Saat Iqbal terbangun, ia menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Selamat pagi, Mas."
Iqbal menguap pelan, lalu menatap istrinya. Kerutan halus muncul di dahinya.
"Kamu sudah bangun sejak tadi? Wajahmu terlihat pucat. Kurang tidur lagi?"
"Sedikit saja kok Mas," jawab Erlyn, memalingkan wajah agar tidak terlihat gemetar. "Mas... pagi ini aku mau pergi sebentar ke rumah teman. Nggak lama. Nanti aku pulang sebelum siang."
Iqbal menatapnya, ada keraguan di matanya.
"Pagi-pagi sekali? Teman yang mana?"
Erlyn menelan ludah. Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya.
"Teman lama. Dia butuh bantuan. Katanya sedang kesulitan. Aku hanya sebentar kok."
Iqbal diam sejenak, menatapnya lekat. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya mengangguk pelan.
"Baiklah. Hati-hati ya. Kabari aku kalau sudah sampai."
"Iya, Mas."
Kata-kata itu terasa berat sekali diucapkan. Erlyn menunduk, tidak berani menatap mata suaminya lebih lama. Ia merasa seperti sedang menipu orang yang paling menyayanginya. Namun ia tidak punya pilihan lain.
***
Setelah mengantar Rara ke sekolah, Erlyn kembali ke rumah sebentar. Ia berdiri di depan pintu, memegang kunci dengan tangan gemetar.
Ia menatap ruang tengah, foto keluarga di dinding, kursi tempat Iqbal biasanya duduk. Semua begitu hangat. Dan ia harus meninggalkannya sebentar, masuk ke tempat yang tidak diinginkannya.
Ponsel bergetar lagi. Pesan dari Om Hendi:
"Sudah berangkat? Jangan membuatku menunggu."
Erlyn menarik napas panjang, mengunci pintu, lalu melangkah pergi. Jalan menuju kafe itu terasa jauh lebih panjang dari yang dibayangkannya.
Di dalam kendaraan umum, ia menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Pikirannya penuh dan kalut.
Semakin mendekati tempat itu, jalanan semakin sepi. Pepohonan tinggi tumbuh di sisi jalan, menaungi tempat itu dalam bayang-bayang.
Kafe itu tampak kecil, bangunannya terpisah dari bangunan lain, dikelilingi pagar tanaman yang rimbun. Hampir tidak ada kendaraan yang lewat di sana. Tidak ada orang yang terlihat di sekitarnya.
Erlyn berhenti di depan pintu kafe. Ia berdiri diam, menatap pintu kayu yang tertutup itu. Napasnya terasa sesak. Ia bisa berbalik sekarang. Ia bisa pulang. Tapi ia tahu apa yang akan terjadi jika ia melakukannya.
Dengan tangan yang dingin, ia mendorong pintu itu perlahan.
Suara bel kecil terdengar di atas pintu. Ruangan itu sepi, hanya ada satu meja yang ditempati, di sudut paling gelap, duduk seorang pria yang menoleh tepat saat ia masuk.
Itu Om Hendi.
Ia tersenyum, senyum yang membuat bulu kuduk berdiri, senyum yang penuh kepemilikan. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Erlyn mendekat.
"Kau datang tepat waktu," ucapnya pelan saat Erlyn berdiri di depan meja. "Aku tahu kau nggak akan berani mengecewakanku."
Erlyn tidak duduk. Ia berdiri tegak, tangannya meremas ujung bajunya.
"Katakan apa yang Om mau. Lalu biarkan aku pergi."
Hendi tertawa pelan, menunjuk kursi di hadapannya.
"Duduklah dulu. Kita punya banyak waktu untuk ngobrol."
Erlyn tidak bergerak. "Nggak. Katakan sekarang."
Wajah Hendi berubah sedikit, senyumnya menipis.
"Kau berani memerintahku sekarang? Ingat posisimu, Erlyn. Kau datang ke sini karena kau takut kehilangan suamimu. Karena kau tahu aku bisa menghancurkan kehidupan indahmu ini dalam satu detik."
Ia mengeluarkan ponselnya, menunjuk layar ke arah Erlyn. Di sana terlihat deretan foto yang siap dikirim.
"Satu sentuhan saja, dan semua orang akan tahu. Suamimu akan tahu. Kau mau itu terjadi?"
Erlyn menunduk, air mata hampir jatuh. Ia menarik napas panjang, lalu duduk perlahan di tepi kursi, menjaga jarak sejauh mungkin dari pria itu.
Hendi tersenyum kembali, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang besar.
"Bagus. Sekarang dengarkan aku..."
Namun sebelum ia berbicara lebih lanjut, ponsel di tangan Erlyn bergetar. Panggilan masuk dari Iqbal.
Jantung Erlyn meloncat. Ia menatap layar yang menyala dengan nama suaminya. Di depannya, Hendi menatap tajam.
"Angkat," ucapnya dingin. "Tapi jangan bicara soal kita. Katakan semuanya baik-baik saja. Kalau kau berani mengatakan sesuatu yang lain..." Ia mengangkat ponselnya sendiri, menunjuk tombol kirim.
Erlyn gemetar hebat. Ia menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinga.
"Halo... Mas..." suaranya bergetar.
"Erlyn? Kamu di mana? Kenapa suaramu terdengar gemetar?" tanya Iqbal dari seberang, nadanya cemas.
Erlyn melirik Om Hendi yang menatapnya tajam.
"Nggak.. nggak apa-apa, Mas. Aku... masih di tempat teman. Lagi ngobrol. Nanti aku pulang ya."
"Kamu yakin? Beneran kamu nggak apa-apa?" Iqbal terdengar ragu.
"Iya, mas. Jangan khawatir. Sebentar lagi aku pulang. Nanti aku kabari lagi." Erlyn mematikan panggilannya dengan cepat, menahan agar tidak menangis di sana.
Hendi tersenyum puas.
"Pintar. Begitulah seharusnya. Sekarang... kita mulai."
Erlyn menatapnya, matanya berkaca-kaca namun ia menahan agar tidak jatuh. Di lubuk hatinya, ia tahu, ia baru saja melangkah masuk ke dalam jaring yang tak mudah dilepaskan. Dan pintu di belakangnya perlahan tertutup rapat.
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.