NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keiran Marah

Baru saja tadi dia sedikit tersenyum dan menyapa keiran tapi rumor seperti itu sudah menyebar begitu saja.

sedikit merasa canggung tapi ya itu hanya sebuah rumor, hikari bahkan sangat ingin tau reaksi kei mendengar rumor yang seperti itu apa dia akan sangat kesal atau marah, justru itu membuat hikari sangat menunggu bagaimana reaksi nya.

di kantin sangat ricuh banyak yang membicarakan hikari sambil menatap hikari sekilas-sekilas, hikari agak terganggu tapi bagaimana lagi.

Teman-teman nya juga terus meminta penjelasan, tapi tidak ada yang percaya kalo mereka hanya sekedar temenan.

setelah beberapa saat hikari ingat kalo gurunya sempat memanggilnya untuk ke ruang guru setelah istirahat, hikari pun beranjak berdiri dan berpamitan dengan teman-temannya.

"aku harus ke ruang guru dulu ya, bye" ucap hikari segera meninggal kan kantin tersebut.

Hikari berjalan pelan menuju ruang guru setelah beberapa meter meninggal kantin, suasana nya jauh lebih tenang tidak ada keributan hanya ada beberapa orang yang sedang bermain-main.

Saat sedang berjalan hikari melihat seorang 6 pria yang saling berhadapan, entah apa yang di bicarakan mereka tapi suasana nya panas.

Hikari mendekati keenam pria tersebut dengan langkah yang sedikit melambat. Awalnya, dia tidak berniat ikut campur dengan urusan mereka. Namun, ketika pandangannya menangkap salah satu sosok yang berdiri di antara mereka, Hikari seketika menghentikan langkahnya.

Keiran.

Laki-laki yang baru saja menjadi bahan pembicaraan hampir seluruh siswa di sekolah itu ternyata sedang berdiri di hadapan beberapa pria dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Hikari mengerutkan keningnya. Dia mencoba memperhatikan keadaan mereka dari kejauhan. Keenam pria itu tampak terbagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan. Tiga orang berada di sisi Keiran, sementara tiga lainnya berdiri tepat di hadapan mereka.

Tidak ada yang terlihat sedang bercanda. Justru sebaliknya, suasana di antara mereka terasa begitu menegangkan.

Hikari sempat berpikir untuk melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru. Bagaimanapun, dia tidak mengetahui persoalan yang sedang terjadi. Namun, rasa penasarannya membuat kedua kakinya enggan bergerak.

Terlebih lagi, salah satu pria yang berada di hadapan Keiran tampak begitu emosi.

"Gue udah bilang, jangan ikut campur urusan gue!" seru pria tersebut dengan nada tinggi.

Keiran hanya menatapnya tanpa memberikan jawaban. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, seolah tidak terlalu tertarik menanggapi kemarahan pria di hadapannya.

Sikapnya yang begitu tenang justru membuat suasana semakin panas.

Hikari yang melihatnya mulai merasa tidak nyaman. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi dari cara mereka saling menatap, jelas ada persoalan yang belum terselesaikan.

"Lo pikir dengan diem semuanya bakal selesai?" lanjut pria itu.

Keiran menghela napas pendek.

"Terus lo mau gue ngapain?"

Jawaban singkat itu terdengar begitu santai, tetapi berhasil membuat pria tersebut semakin tersulut emosi.

Salah seorang teman Keiran segera maju sedikit, berusaha menghalangi pria itu ketika melihatnya mulai mendekat.

Hikari semakin penasaran.

Dia mencoba mengingat wajah ketiga pria yang berada di hadapan Keiran, tetapi sepertinya teman keiran yang sebelumnya di lapangan waktu itu. Dan mungkin 3 laki-laki lainnya berasal dari kelas lain.

Saat sedang memperhatikan mereka, tanpa sengaja salah satu pria menyadari keberadaannya.

"Ngapain lo di situ?"

Pertanyaan itu membuat Hikari sedikit terkejut.

Seketika keenam pria tersebut mengalihkan pandangan ke arahnya, termasuk Keiran yang sejak tadi terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitar.

Keiran tampak terdiam sesaat ketika melihat Hikari berdiri beberapa meter dari tempat mereka.

"Hikari?"

Hikari tersenyum canggung.

"Hai."

Sapaan sederhana itu justru membuat suasana menjadi semakin aneh.

Salah seorang pria yang berdiri di samping Keiran langsung melirik temannya, kemudian kembali memperhatikan Hikari dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

"Jadi ini cewek yang lagi dibicarain satu sekolah?"

Mendengar perkataan itu, Hikari langsung kehilangan senyumnya.

Ternyata rumor tersebut benar-benar sudah menyebar ke mana-mana.

Padahal, dia baru saja berbicara dengan Keiran beberapa kali. Bahkan mereka belum bisa dikatakan saling mengenal dengan baik. Namun, entah bagaimana orang-orang bisa membuat cerita seolah mereka memiliki hubungan khusus.

Keiran sendiri tampak tidak menyukai ucapan temannya.

"Udah, diem."

Pria itu langsung mengangkat kedua tangannya, seolah tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

Hikari memperhatikan Keiran sebentar sebelum akhirnya melangkah mendekat.

"Kalian lagi ada masalah?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Keiran justru terlihat sedikit kesal dengan pertanyaan tersebut. Bukan karena Hikari melakukan kesalahan, melainkan karena dia tidak ingin gadis itu terlibat dalam persoalan yang sedang dihadapinya.

"Bukan urusan lo," jawab Keiran datar.

Hikari terdiam.

Sebenarnya dia sudah menduga akan mendapatkan jawaban seperti itu. Sejak pertemuan mereka di taman beberapa waktu lalu, Hikari menyadari bahwa Keiran bukan tipe orang yang mudah bersikap ramah kepada orang lain.

Bahkan saat itu, laki-laki tersebut terlihat kecewa ketika mengetahui bahwa orang yang menghampirinya adalah Hikari.

Entah mengapa, Hikari justru semakin ingin mengetahui alasan di balik sikapnya.

"Ya, aku cuma nanya."

Keiran memalingkan wajahnya.

"Kalau nggak ada urusan, pergi aja."

Hikari mengangkat sebelah alisnya. Dia mulai merasa sedikit jengkel, tetapi memilih untuk tidak memperlihatkannya.

Sementara itu, pria yang sejak tadi berselisih dengan Keiran tampak memperhatikan interaksi mereka dengan senyum mengejek.

"Oh, jadi bener rumor itu?"

Keiran langsung menoleh.

"Jangan bawa-bawa dia."

Nada suaranya berubah lebih tegas.

Hikari yang mendengarnya sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya, dia melihat Keiran menunjukkan reaksi yang berbeda dari sikap dinginnya.

Pria tersebut terkekeh pelan.

"Gue cuma nanya. Kayaknya lo udah move on sama si pembunuh itu"

Keiran menatap tajam pria yang di hadapan itu sebelum dia meluncurkan tinju ke wajah pria itu.

Suasana yang semula hanya dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi keributan. Agatha yang baru saja menerima pukulan dari Keiran tampak kehilangan kendali atas emosinya. Dia mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan, kemudian menatap Keiran dengan penuh amarah.

"SIALAN LO KEI"

Tanpa memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk bereaksi, Agatha langsung menerjang Keiran dan membalas pukulan tersebut.

Buk!

Pukulan itu mengenai sisi wajah Keiran hingga membuat tubuhnya sedikit terdorong ke belakang. Namun, bukannya mundur, Keiran justru kembali maju dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal.

Dalam hitungan detik, keduanya sudah terlibat perkelahian yang semakin sulit dikendalikan.

Agatha mencengkeram kerah seragam Keiran, sementara Keiran berusaha melepaskan cengkeraman tersebut dengan mendorong tubuh Agatha menjauh. Keduanya saling melayangkan pukulan tanpa memedulikan keadaan sekitar.

Hikari yang menyaksikan kejadian itu seketika membeku.

Dia benar-benar tidak menyangka bahwa pertengkaran yang awalnya hanya berupa adu mulut bisa berubah menjadi perkelahian seperti sekarang.

"Keiran!" panggilnya spontan.

Namun, suaranya sama sekali tidak mendapatkan tanggapan.

Keiran tampak terlalu dikuasai amarah untuk menyadari bahwa Hikari masih berada tidak jauh dari tempatnya.

Sementara itu, salah seorang teman Agatha yang melihat temannya mulai terdesak segera maju untuk membantu. Dia menarik bahu Keiran dengan kasar, membuat laki-laki itu kehilangan keseimbangan sesaat.

Tindakan tersebut rupanya memancing kemarahan dua teman Keiran yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan.

Salah satunya langsung mendorong pria yang baru saja menarik Keiran.

"Jangan main keroyokan, anjing!"

Dorongan itu membuat pria tersebut tersandung beberapa langkah sebelum kembali maju dengan wajah penuh emosi.

Tidak membutuhkan waktu lama hingga pertengkaran yang awalnya hanya melibatkan Keiran dan Agatha berubah menjadi perkelahian antara keenam pria tersebut.

Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai, benturan tubuh, serta teriakan kemarahan mulai memenuhi lorong sekolah.

Hikari mundur beberapa langkah.

Kedua matanya bergerak mengikuti keadaan yang semakin kacau. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Keenam pria itu kini sibuk dengan pertengkaran masing-masing, bahkan tidak ada satu pun yang berusaha menghentikannya.

Beberapa siswa yang sebelumnya hanya berjalan melewati lorong mulai menghentikan langkah mereka.

Awalnya mereka hanya memperhatikan dari kejauhan, tetapi suara keributan yang semakin keras membuat lebih banyak siswa berdatangan.

Dalam waktu singkat, lorong yang tadinya cukup sepi mulai dipenuhi orang-orang yang penasaran.

Sebagian siswa tampak terkejut, sementara beberapa lainnya justru sibuk membicarakan kejadian tersebut.

Hikari semakin merasa gelisah.

Dia melirik ke arah ruang guru yang masih berada cukup jauh dari tempatnya berdiri. Sempat terlintas keinginan untuk segera memanggil salah seorang guru, tetapi ketika kembali melihat Keiran, langkahnya justru tertahan.

Laki-laki itu kembali terlibat perkelahian sengit dengan Agatha.

Seragam keduanya sudah terlihat berantakan. Keiran yang biasanya menunjukkan ekspresi dingin kini benar-benar tampak berbeda. Sorot matanya dipenuhi kemarahan, seolah perkataan Agatha sebelumnya telah menyinggung sesuatu yang sangat berarti baginya.

Hikari masih mengingat jelas ucapan pria itu.

Si pembunuh.

Dua kata tersebut terus berputar dalam pikirannya.

Siapa sebenarnya orang yang dimaksud Agatha? Dan mengapa Keiran sampai kehilangan kendali hanya karena mendengarnya?

Namun, Hikari segera menggelengkan kepalanya pelan. Sekarang bukan waktunya memikirkan persoalan tersebut.

Perkelahian di hadapannya jauh lebih mengkhawatirkan.

Agatha kembali mendorong Keiran hingga punggung laki-laki itu membentur dinding lorong. Keiran segera membalas dengan mendorong tubuh Agatha menjauh. Keduanya kembali saling menyerang, sementara teman-teman mereka masih terlibat pertengkaran tidak jauh dari sana.

Beberapa siswa mulai berseru meminta mereka berhenti, tetapi tidak seorang pun benar-benar berani mendekat.

Hikari menggigit bibir bawahnya dengan gelisah.

Dia tidak menyukai keadaan seperti ini.

Terlebih lagi, semakin lama perkelahian tersebut berlangsung, semakin besar kemungkinan salah satu dari mereka mengalami cedera.

"Keiran, berhenti!" serunya sekali lagi.

Sayangnya, suara Hikari tenggelam di antara keributan siswa yang mulai memenuhi lorong.

Keiran bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Hikari menarik napas panjang. Dia sadar bahwa mendekati orang yang sedang berkelahi bukanlah tindakan yang aman, tetapi melihat tidak ada seorang pun yang berusaha melerai membuatnya semakin khawatir.

Akhirnya, Hikari memberanikan diri melangkah mendekat.

Dia melewati beberapa siswa yang berdiri menghalangi jalannya. Pandangannya terus tertuju kepada Keiran dan Agatha yang masih saling berhadapan dengan penuh amarah.

"Udah! Berhenti kalian!"

Hikari mencoba mendekati keduanya dari samping.

Namun, keadaan terlalu kacau.

Agatha yang sedang berusaha menyerang Keiran kembali bergerak maju. Keiran segera menghindar sebelum mendorong tubuh pria itu menjauh.

Hikari yang sudah berada cukup dekat spontan mengulurkan tangannya, bermaksud menarik perhatian Keiran agar menghentikan perkelahian tersebut.

"Keiran, cukup!"

Tetapi Keiran tidak menyadari keberadaannya.

Dalam keadaan emosi, Keiran mengayunkan tangannya untuk membalas gerakan Agatha yang kembali mendekat.

Dan tepat pada saat itulah Hikari melangkah ke antara mereka.

Buk!

Pukulan Keiran tanpa sengaja mengenai wajah Hikari.

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!