NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN OM

BERMAIN API DENGAN OM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.

Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.

Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Bella menghentakkan kakinya kesal begitu bayangan Christian menghilang di balik pintu dapur. Hatinya bergemuruh hebat menahan amarah. Seratus ribu rupiah sehari? Aturan jam delapan malam? Ini benar-benar penjara terselubung!

​Namun, ancaman Christian untuk mengadu pada sang mama sukses membuat nyali Bella ciut seketika. Jika Karin sampai tahu kelakuan liarnya, hukuman yang ia terima pasti akan jauh lebih mengerikan daripada sekadar dikurung di rumah oleh pamannya.

​Beberapa saat kemudian, setelah emosinya sedikit mereda, Bella memilih melangkah ke ruang keluarga. Ia sudah berganti pakaian dengan celana pendek santai dan kaus longgar, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk sambil menyalakan televisi. Sesekali ia melirik ke arah tangga lantai atas, memastikan apakah pria dingin itu turun kembali. Namun, suasana di atas tampak lengang.

​Bodo amat dia mau di kamar atau di mana. Yang penting sekarang aku bebas dari omelannya, batin Bella acuh tak acuh.

​Ia mengalihkan perhatian sepenuhnya pada layar ponsel di tangannya. Jemarinya bergerak lincah membalas pesan dari Clarisa yang sedari tadi menanyakan keadaannya setelah insiden semalam.

​Clarisa: Bell! Lo aman kan? Om lo nggak ngamuk-ngamuk kan waktu lo pulang?

Bella: Aman, Clarr. Walau hampir jantungan sih. Sumpah, uang jajanku sekarang dipangkas jadi seratus ribu sehari sama dia! Sial banget.

Clarisa: Hahaha sumpah demi apa? Ampun deh, om lo posesif banget kayak pacar posesif!

​Bella baru saja hendak mengetik balasan ketika suara bel pintu depan berbunyi nyaring.

​Dahi Bella berkerut. Siapa yang datang bertamu pagi-pagi begini? Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu utama. Sebelum ia sempat menggapai gagang pintu, Bibi Hani sudah terlebih dahulu membukanya dari dalam.

​"Eh, Den Vero..." sapa Bibi Hani sopan.

​Jantung Bella seketika berdegup kencang. Senyuman lebar langsung merekah di wajahnya. Sosok pria tinggi berjaket bomber hitam dengan senyum manis yang sangat ia kenal berdiri di ambang pintu.

​"Vero!" seru Bella girang, tanpa aba-aba langsung menerjang maju dan menghambur ke pelukan kekasihnya.

​Vero tertawa kecil, menyambut pelukan Bella dan mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kelembutan. "Hai, Sayang. Kaget ya aku datengin pagi-pagi?" tanya Vero, suaranya terdengar begitu merdu di telinga Bella.

​"Banget! Kamu kok bisa kesini? Katanya hari ini mau istirahat di rumah?" ucap Bella manja, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vero, melupakan sejenak segala aturan ketat yang baru saja dijatuhkan pamannya.

​Vero melepaskan pelukan mereka sejenak, lalu mengangkat sebuah paperbag berwarna hitam berukuran sedang yang dibawanya. "Aku sengaja mampir. Kemarin kan kita sempat salah paham gara-gara Kayla, jadi aku bawain ini khusus buat kamu. Biar kamu nggak ngambek lagi."

​Mata Bella berbinar senang. Ia menerima paperbag itu dan mengintip isinya—sebuah parfum bermerek mewah yang sudah diidam-idamkannya sejak minggu lalu. "Vero... ini kan mahal banget! Makasih banyak, ya!"

​"Buat kamu, apa sih yang enggak," bisik Vero lembut. Tanpa ragu, pria itu menangkup wajah Bella dan mendaratkan ciuman mesra di bibirnya.

​Bella terbuai, memejamkan mata menikmati kehangatan yang diberikan Vero, merasa seolah dunianya kembali sempurna. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di lantai atas, tepat di balik pembatas selasar kaca koridor, sepasang mata cokelat gelap sedang mengawasi pemandangan di bawah sana dengan tatapan yang jauh lebih dingin dari es.

​Christian Gerald berdiri tegak di lantai atas. Lengan kaos abu-abunya terlipat di dada, dan rahangnya mengeras sempurna. Sorot matanya menatap tajam ke arah pintu masuk, memperhatikan setiap gerak-gerik pria asing yang berani mencium keponakannya di dalam rumah yang kini berada di bawah pengawasannya. Suasana di sekitar Christian mendadak terasa membeku, memancarkan aura kemarahan tertahan yang siap meledak kapan saja.

Ciuman singkat itu terlepas, menyisakan senyum manis di bibir Bella. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di atas sana, suasana telah berubah menjadi medan perang yang sunyi.

"Masuk yuk, Ver," ajak Bella antusias, menarik lengan Vero untuk melangkah masuk ke dalam rumah.

Vero melangkah masuk sambil merangkul pinggang Bella, matanya menyapu sekeliling ruang tamu megah itu dengan tatapan menilai. "Sepi banget, Bell. Orang rumah pada ke mana?" tanya Vero, merasa cukup leluasa karena mengira mansion Allegra sedang kosong seperti biasa.

"Papa sama Mama lagi di luar negeri, Kak Nathan lagi dinas luar kota, dan..." Bella sempat teragak sejenak saat teringat sosok pamannya, namun ia langsung menepisnya.

Tanpa mereka berdua sadari, tepat di ujung anak tangga lantai atas, sesosok bayangan tegap melangkah turun secara perlahan. Christian mengenakan kaos abu-abunya, berjalan dengan langkah tenang tanpa suara.

Tidak ada rahang yang mengeras secara berlebihan atau sorot mata yang menyala-nyala di permukaan; pria itu menampilkan ekspresi datar, dingin, dan nyaris tak acuh seolah pemandangan di hadapannya hanyalah sesuatu yang biasa ia saksikan.

Christian berhenti di tengah anak tangga, melipat kedua tangannya di dada bidangnya.

"Ehm."

Deheman pelan itu mengudara, tenang namun cukup untuk membuat Bella tersentak kaget. Tubuhnya langsung menegang, dan ia reflek melepaskan rangkulan Vero. Sementara itu, Vero menoleh dengan cepat ke arah sumber suara, alisnya bertaut bingung saat mendapati seorang pria matang berpostur tinggi berdiri di tangga.

"O-Om Tian..." cicit Bella tertahan, wajahnya memucat seketika.

Christian menuruni sisa anak tangga dengan gerakan yang sangat terukur. Ia berhenti berjarak beberapa meter dari pasangan muda itu, tatapannya menyapu Vero sekilas dengan dingin sebelum beralih ke arah Bella.

"Rupanya ada tamu," suara bariton Christian mengalir datar, tanpa emosi yang meledak-ledak. "Saya tidak keberatan kamu membawa orang asing ke rumah, Arabella. Tapi pastikan batasan norma tetap dijaga. Jangan melakukan hal-hal yang melampaui batas di bawah atap rumah ini."

Pipi Bella memanas hebat karena malu. "O-Om... kita cuma ngobrol..." belatanya gugup.

Vero, yang merasa harga dirinya disentil, mencoba memasang senyum kaku. "Maaf, Om. Kami nggak bermaksud—"

"Saya tidak butuh penjelasan," potong Christian dingin, suaranya tetap tenang namun menusuk. "Saya tak peduli tentang apa yang kalian lakukan, tapi ingat akan batasan kalian."

Tanpa membuang waktu atau menunggu balasan lagi, Christian memutar tubuhnya. Ia kembali melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas dengan punggung tegap dan langkah yang tenang. Di luar, ia tampak begitu menguasai diri, seolah kejadian itu tidak memberikan efek apa pun pada kewibawaannya.

Namun, begitu pintu kamarnya tertutup rapat dan terkunci dari dalam, topeng dingin itu runtuh seketika.

Christian bersandar pada daun pintu, memejamkan mata erat-erat sementara napasnya mendadak memburu. Pemandangan saat Vero mencium bibir Bella tadi berputar kembali di kepalanya dengan kejelasan yang menyiksa.

Bayangan bibir merah itu, sentuhan tangan asing di tubuh keponakannya, serta desau gairah yang sempat ia rasakan semalam, mendadak berpadu dan memicu letupan hebat di dalam dirinya.

Darahnya berdesir panas, mengalir deras menuju pusat tubuhnya. Batang kejantanannya di balik celana kasurnya seketika menegang, bereaksi secara liar atas rasa cemburu dan sisa-sisa adiksi dari ciuman semalam yang belum tuntas.

"Tidak.. Ini salah.. Kendalikan dirimu Christian."

*

*

*

1
+1
bisa dipercepat alurnya 🌚🌚🌚
Mia Camelia
aduh makin rumit nih😔
Mita Paramita
nah gitu dong sih Vero mesti dikasih dipenjara biar sadar🫡 om Christ tegas banget buat lindungi Bella 😍
Mia Camelia
akhirnya bella di Terima keluarga nya😂
Mia Camelia
bella keras kepala banget sih😔😂
Mia Camelia
cristian udh mulai melindungi bella, 🤭
Ita Putri
pergi yg jauh sekalian Bella
kesel banget liat keluarga allegra
Ita Putri
pret lah....
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang
Mia Camelia
plis bella jangan kabur2an mulu, capek nih🤭🤭
+1
kejar om.. borgol kakinya 🌚
+1
mati🌚
MissSHalalalal: eh, jangan donk kak..
total 1 replies
Mita Paramita
😭😭😭
Mia Camelia
omg😨😨😨 ternyata bella anak punggut🤣
Mia Camelia
ya ampun, vero laknat banget ngejual bella😨😨😨😨
MissSHalalalal: apapun demi uang gak sih kak
total 1 replies
Mita Paramita
ternyata Bella selama ini jatuh cinta sama buaya darat 🤣🤣🤣
Mita Paramita
Bella bukan adik kandung Nathan gitu 🫡🫡🫡 makanya dicuekin... kakak jahat
Mita Paramita
mampir Thor dikarya terbarunya 🥳😍 semoga ceritanya sukses dan sampai tamat ya 🔥🔥🔥😍
MissSHalalalal: terima kasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!