NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

Part 34

"Ada apa ini, Pak?" tanya Tina setelah sampai di depan mereka, ekspresinya tampak menuai tanda tanya, Tina hanya tidak mau bosnya mendapatkan masalah terlebih lagi posisi mereka sedang berada di kawasan kantor, di mana masih banyak karyawan yang akan datang.

"Tidak apa-apa kok, Sayang." Alfan tersenyum ke arah Tina yang terkejut mendengar panggilan sayang yang ditunjukkan untuknya.

"Aku cuma mau mengingatkan ke wanita ini, bila semua sudah jauh berbeda." Alfan menatap ke arah Diandra yang tampak kesal melihat Tina ada di sana, terlebih lagi saat Alfan merangkul pundak Tina seolah sengaja membuatnya marah.

Tidak mau melihat kemesraan mereka lebih lama lagi, Diandra memutuskan pergi dari sana tanpa mau berpamitan ke Alfan ataupun Tina. Sudah cukup hatinya terluka mendengar ucapan Alfan, tentu saja Diandra juga tidak mau membuat hatinya berdarah melihat mereka bersama.

"Sebenarnya ada apa ini, Pak? Kenapa Diandra ada di kota ini? Bukannya dia orang Surabaya ya?" tanya Tina sembari melepaskan tangan Alfan dari pundaknya, tatapan matanya tertuju ke arah Alfan yang tampak lega sekarang.

"Diandra dan keluarganya sudah pindah ke kota ini, Diandra juga ingin bekerja di kantor saya, itu lah alasan kenapa dia ada di sini sekarang." Alfan menatap ke arah punggung Diandra yang hampir menghilang ditelan jarak, tanpa menyadari bagaimana Tina merasa tak nyaman mendengar jawabannya.

"Bukannya dia sudah bertunangan ya, Pak?" Tina merapatkan bibirnya, merasa penasaran saja dengan kisah mereka.

"Pertunangan Diandra sudah dibatalkan." Alfan menjawab dengan nada putus asa, seolah fakta itu begitu membebani hidupnya.

"Apa Diandra mau bekerja di sini karena dia ingin mendekati Bapak lagi?"

"Mungkin. Tapi saya tidak akan bisa didekati apalagi sampai mencintai dia, itu sesuatu hal yang tidak mungkin saya berikan pada siapapun kecuali wanita yang sangat saya cintai." Alfan menjawab mantap, matanya yang sempat tertuju ke arah Diandra kini terarah ke arah Tina yang tampak diam dengan segala pemikirannya.

"Memangnya ... siapa wanita itu, Pak?" Tina sudah berusaha untuk tidak bertanya, namun hatinya terus-terusan merasa penasaran bahkan saat ia akan terlelap.

"Nanti kamu juga akan tahu." Alfan mengacak rambut Tina lalu pergi begitu saja, meninggalkan Tina yang sempat terkejut dengan kelakuannya. Kini, Tina justru merasa bila sikap Alfan mulai berubah, auranya tampak mudah bahagia seolah wanita itu akan datang lagi di kehidupannya.

"Apa Pak Alfan akan bertemu dengan wanita itu ya?" Tina sempat bertanya-tanya meski pada akhirnya ia menggeleng kuat.

"Lalu apa hubungannya denganku?" gumamnya tak habis pikir sembari menaikkan pundak, merasa tak mengerti saja dengan otaknya yang bisa-bisanya memikirkan hal konyol. Bila memang bosnya akan bertemu dengan wanita itu, lalu apa hubungannya dengannya, pikir Tina sembari mengangguk mantap.

"Tina," panggil Ria dari arah belakang bersama dengan Viona yang berjalan di sampingnya.

"Hai, kalian baru datang ya?" tanya Tina sembari tersenyum yang diangguki oleh mereka.

"Tadi kita ketemu Diandra di depan loh, Na." Viona menunjuk ke arah belakangnya, yang tentu saja membuat Tina penasaran kenapa mereka bisa mengenalnya.

"Kalian kenal sama Diandra?"

"Ya iya lah. Dulu, sebelum kamu kerja di sini, Diandra itu dekat banget dengan Pak Alfan, banyak yang bilang Diandra itu suka sama Pak Alfan, tapi Pak Alfan cuma anggap dia sebagai adik." Viona berujar serius.

"Terus?" tanya Tina lagi terdengar penasaran.

"Ya hubungan mereka jadi merenggang, kamu pasti sudah tahu lah, kamu kan calon istrinya Pak Alfan, dia pasti sudah cerita itu sama kamu."

"Iya sih, tapi katanya Diandra mau kerja di sini." Tina berujar tak yakin, membuat kedua temannya itu mendelik tak percaya.

"Serius?" tanya keduanya bersamaan.

"Iya. Memangnya kenapa?"

"Astaga, Na. Diandra itu cinta mati sama Pak Alfan, kalau dia sampai kerja di sini, otomatis kamu yang terancam, bisa-bisa kalian batal nikah." Mendengar ucapan Viona, Tina hanya menghela nafas, rencana pernikahan itu memang tidak pernah ada sejak awal, lalu kenapa ia harus merasa terancam, pikir Tina.

"Kalau memang harus batal, ya terus kenapa?" Tina menaikkan pundaknya yang tentu saja membuat kedua temannya merasa tak terima.

"Sebenarnya kamu ini cinta enggak sih sama Pak Alfan? Diandra itu bisa jadi ancaman terbesar kamu loh."

"Emh ... sebenarnya ada yang ganggu pikiranku selain itu, jadi aku kurang peduli dengan masalah Diandra, karena aku tahu Pak Alfan itu enggak akan suka sama dia."

"Memangnya apa yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Ria penasaran.

"Sebelum ini kalian tahu enggak Pak Alfan pernah dekat dengan siapa aja? Terutama wanita yang dia pacari?"

"Pak Alfan enggak pernah pacaran sih kayanya," jawab Viona tak yakin.

"Kalau wanita yang dia sukai, kalian pernah dengar?"

"Enggak juga sih. Kamu sendiri kan juga tahu semua karyawan di sini banyak yang ngira kalau Pak Alfan itu belok, mana mungkin kita bisa tahu Pak Alfan suka sama siapa sebelum sama kamu. Pak Alfan itu terlalu tertutup kalau sudah mengenai perasaan dia, semua karyawan termasuk kita aja hampir serangan jantung tahu kamu sama Pak Alfan mau nikah."

Tina hanya terdiam mendengar jawaban Tina yang diangguki setuju oleh Ria, mereka juga tampak penasaran kenapa Tina bertanya hal itu, mereka juga khawatir kalau mereka ada masalah.

"Kamu sama Pak Alfan enggak ada apa-apa kan?"

"Enggak ada kok. Aku pergi duluan ya," pamit Tina begitu saja lalu berlari masuk ke kantor, tepatnya ke ruangannya di mana ia akan bertanya sesuatu hal pada bosnya.

"Pak," panggil Tina setelah sampai di ruangannya, di sana Alfan sedang membaca sebuah map dengan tatapan seriusnya.

"Kamu ini dari mana saja? Kenapa enggak langsung masuk tadi?"

"Iya, Pak. Maaf. Tapi saya mau tanya sesuatu ke Bapak boleh?" Tina berjalan mendekat ke arah Alfan yang menutup map-nya lalu fokus dengan pertanyaan Tina.

"Apa?"

"Bapak bilang kalau Bapak sedang menjaga hati untuk seorang wanita kan?"

"Iya, kenapa?"

"Kalau Bapak dengan wanita itu bersatu dan bersama, perjanjian kita juga akan selesai kan, Pak? Jadi saya bisa dapat bayaran saya?"

"Kenapa kamu bertanya hal itu? Apa kamu membutuhkan uangnya? Saya bisa membayar kamu sekarang." Alfan bertanya serius ke arah Tina yang terdiam, bukan itu yang ingin ia bicarakan, ia hanya sedang membicarakan statusnya, hanya saja egonya terlalu gengsi untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Enggak kok, Pak. Saya cuma ingin memastikan perjanjian kita, tepatnya kapan perjanjian kita ini bisa berakhir."

"Kenapa? Kamu tidak nyaman berpura-pura menjadi calon istri saya di depan banyak orang?"

"Tentu saja, Pak. Membohongi orang kan juga bukan hal baik, sudah pasti saya merasa sangat tidak nyaman. Jadi kapan perjanjian kita akan berakhir? Apa setelah wanita yang Bapak cintai itu datang atau bagaimana, Pak?" Tina merapatkan bibirnya, entah kenapa hatinya merasa tak karuan saat menanyakan hal itu.

"Perjanjian kita akan berakhir ... secepatnya ... mungkin? Bukan setelah wanita itu datang ataupun menerima saya, karena saya sendiri tidak tahu dia akan bereaksi seperti apa nanti? Tapi kamu tenang saja, perjanjian kita pasti akan berakhir suatu saat nanti, jadi tolong bersabarlah!" Alfan menjawab tak yakin, hatinya terus saja merasa ragu dengan banyak hal terutama saat membayangkan Tina akan menolaknya.

"Oh begitu ya, Pak. Baiklah."

"Bekerjalah."

"Baik, Pak."

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!