Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Percikan Obsesi
Malam di kamar apartemen Siska terasa memudarkan sisa-sisa harapan yang pernah ia raut. Pipi kirinya masih menjejakkan rasa panas akibat tamparan keras Rendy beberapa jam lalu. Di depan cermin rias yang menyala terang, Siska menatap bayangannya sendiri seraya mengusap lembut kulit pipinya yang agak memar. Air mata yang tadinya menetes kini berganti menjadi kilatan kegelapan yang penuh dendam.
Bagi Siska, Rendy bukan lagi sosok pria idaman yang menjanjikan masa depan cerah. Pria itu sudah hancur—terjerat utang, terancam kasus hukum, dan yang paling memuakkan, kini terobsesi membabi buta pada Alya.
"Dasar pria tidak tahu diri," bisik Siska sinis pada bayangannya sendiri, suaranya parau namun sarat ketajaman. "Dulu kamu mengemis cinta padaku, membual akan mencampakkan Alya demi aku... Sekarang, setelah kamu sadar Alya punya segalanya, kamu malah menamparku dan merengek mengejar perempuan itu kembali?"
Siska mengepalkan tangannya rapat-rapt di atas meja rias. Pikiran piciknya mulai berputar liar. Mengapa Alya selalu mendapatkan segalanya? Mengapa Alya—wanita yang dulu selalu dianggapnya sebelah mata—kini justru memiliki segalanya yang amat dinantikan Siska? Harta, penghormatan, kebebasan, dan yang paling membuat Siska terbakar cemburu: perlindungan mutlak dari seorang Kai Aditya.
Ketampanan Kai, kekuasaan yang ia genggam, cara pria itu memandang Alya dengan binar menghormati dan mencintai... semua itu kini menjadi target baru dalam kepala Siska.
"Kalau Alya bisa memikat pria sekelas Kai Aditya..." jemari Siska mengusap bibirnya sendiri, menyunggingkan senyum penuh obsesi yang beracun, "...kenapa aku tidak? Apa kurangnya aku dibanding wanita itu? Apapun yang Alya sukai, apapun yang Alya miliki, aku juga harus merebutnya. Termasuk Kai Aditya."
Bagi Siska, merebut Kai bukan sekadar perkara uang atau status. Itu adalah pembuktian tertinggi untuk menghancurkan harga diri Alya secara mutlak, sekaligus membalas dendam pada Rendy yang telah membuangnya.
Keesokan harinya, koridor lantai dua kantor pusat Nusantara Industri Utama diselimuti ketegangan yang pekat. Berita mengenai retaknya hubungan Rendy dan Alya serta desas-desus pemeriksaan anggaran operasional sudah menjadi rahasia umum.
Pukul sepuluh pagi, Alya sedang berdiri di depan mesin pembuat kopi di area pantry executive. Ia mengenakan atasan blus warna krem dipadu rok span hitam yang sangat rapi, tampak makin langsing dan memancarkan aura kepercayaan diri yang tak tergoyahkan.
Derap langkah kaki berhak tinggi mendekat. Siska melangkah masuk ke dalam pantry. Kali ini, wanita itu mengenakan gaun ketat berwarna pastel yang sedikit menyingkap lekuk tubuhnya, riasan wajahnya dibuat sangat tebal untuk menutupi bekas memar sekaligus memamerkan kesan godaan yang berani.
Siska berjalan menghampiri mesin kopi, berpura-pura mengambil cangkir di sebelah Alya.
"Selamat pagi, Alya," panggil Siska dengan nada suara yang sengaja dibuat ramah dan terkesan polos.
Alya menghentikan pergerakan tangannya yang sedang menekan tombol kopi, lalu menoleh pelan. "Selamat pagi, Siska."
Siska menyunggingkan senyuk manis yang beracun, melirik Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Luar biasa ya kamu sekarang, Al. Makin hari makin terlihat bersinar. Apalagi sekarang... di sampingmu ada Pak Kai Aditya yang selalu siap menjaga dua puluh empat jam."
Alya tersenyum tipis, matanya yang jernih menatap lurus ke dalam pupil mata Siska. Alya bisa membaca dengan sangat jelas aroma iri hati dan busuknya niat yang tersimpan di balik kata-kata itu.
"Pak Kai memang pria yang sangat bertanggung jawab dan menghargai komitmen, Siska," jawab Alya datar namun tajam. "Sesuatu yang sangat langka ditemukan pada pria-pria di sekitar kita, bukan?"
Sindiran Alya yang mengarah langsung pada Rendy membuat sudut bibir Siska sedikit kedutan. Namun Siska menahan amarahnya. Ia justru memajukan tubuhnya satu tapak lebih dekat ke arah Alya.
"Tapi tahu tidak, Al?" bisik Siska seraya berpura-pura merapikan kerah gaunnya sendiri. "Pria sekelas Kai Aditya itu... biasanya punya standar yang sangat tinggi. Laki-laki sukses, kaya, dan sempurna seperti dia tidak akan puas hanya dengan satu jenis keindahan. Kadang, mereka butuh variasi... sesuatu yang lebih menarik, lebih berani, dan lebih sanggup memuaskan ekspektasi mereka."
Alya menaikkan sebelah alisnya, tidak sedikit pun merasa terintimidasi oleh provocasi murah itu. Ia mengambil cangkir kopinya yang sudah terisi penuh, lalu bersandar santai di tepi meja pantry.
"Variasi maksudmu?" terkekeh Alya pelan—sebuah tawa dingin yang membuat Siska merasa terpojok. "Siska, pria sejati seperti Kai tidak mencari 'variasi' murah yang bisa dibeli dengan modal godaan dangkal. Pria seperti Kai mencari karakter, kesetiaan, dan martabat. Sesuatu yang jelas tidak ada pada wanita yang hobi merusak hubungan orang lain."
Wajah Siska seketika menegang, kemerah-merahan menahan malu dan amarah yang meledak di dalam dada.
"Kamu jangan terlalu percaya diri dulu, Alya!" desis Siska, menanggalkan topeng ramahnya. Matanya membelalak penuh dengki. "Kamu pikir Kai Aditya betul-betul mencintaimu?! Kamu cuma batu loncatan buat dia untuk menguasai proyek perusahan ini! Laki-laki mana pun pasti akan bosan kalau cuma melihatmu terus! Kita lihat saja... sejauh mana ketahanan Kai sewaktu dia dihadapkan pada wanita yang benar-benar tahu cara melayani pria!"
Alya menatap Siska dengan raut rasa kasihan yang mendalam. Ia tidak sedikit pun emosi, justru merasa geli melihat betapa dangkalnya jalan pikiran wanita di depannya ini.
"Kalau begitu, silakan dicoba, Siska," tantang Alya dengan senyuman paling elegan. "Coba saja goda Kai. Gunakan semua jurus yang pernah kamu pakai untuk merebut Rendy dariku dulu. Biar kamu sendiri yang paham... bedanya emas murni dengan sampah."
Tanpa menunggu balasan dari Siska yang berdiri membeku dengan rahang tertutup rapat oleh rasa murka, Alya melangkah pergi meninggalkan area pantry dengan keanggunan yang mutlak.
Sore harinya, peluang yang ditunggu-tunggu oleh Siska akhirnya tiba.
Kai Aditya mendatangi kantor pusat untuk menghadiri rapat penutup proyek bersama jajaran direksi. Begitu rapat selesai di ruang rapat utama lantai tiga, para direktur melangkah keluar satu per satu. Alya sendiri sedang ditahan oleh Pak Handoko—salah satu komisaris—di dalam ruang rapat untuk menandatangani beberapa dokumen mendesak.
Kai melangkah sendirian menyusuri koridor kaca menuju lift VIP.
Melihat kesempatan emas itu, Siska yang sudah bersembunyi di balik belokan koridor segera beraksi. Ia sengaja melonggarkan kancing teratas gaunnya, mengacak sedikit rambutnya agar berkesan dramatis, lalu melangkah cepat ke arah Kai seraya membawa seberkas dokumen tebal.
Tepat saat Kai berada dua langkah di depannya, Siska secara sengaja berpura-pura tersandung tumit sepatunya sendiri.
"Aah!" jerit Siska dengan suara manja yang mendesah.
Tubuhnya dijerat jatuh sengaja memiring ke arah dada Kai, sementara berkas di tangannya sengaja dihamburkan ke lantai marmer. Siska berharap Kai akan menangkap pinggangnya secara refleks, menciptakan momen romantis yang penuh kontak fisik seperti di dalam adegan drama.
Namun, Kai Aditya bukanlah pria bodoh.
Dengan refleks luar biasa sebagai pria yang terlatih, Kai mendadak mundur dua langkah ke belakang secara sergap, membiarkan tubuh Siska kehilangan tumpuan sepenuhnya.
BRUK!
Siska tersungkur kasar menghantam lantai marmer yang dingin. Lutut dan siku tangannya terantuk keras, menciptakan bunyi benturan yang cukup nyaring di koridor yang sepi.
"Aww! Sakit..." ringis Siska jujur, rasa sakit di lututnya kali ini sungguh-sungguh nyata, bukan akting lagi.
Kai berdiri tegap dua meter di depan Siska. Kedua tangannya berada tenang di dalam saku celana jasnya. Wajah tampan Kai sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan atau keterkejutan—yang ada di dalam matanya hanyalah jijik dan dingin yang membekukan darah.
Siska mendongak dengan mata berkaca-kaca yang dibuat-buat, menatap Kai dengan tatapan penuh kelemahan yang biasa memikat Rendy.
"P-Pak Kai..." cicit Siska dengan suara parau yang mendesah, mengulurkan tangannya yang gemetaran ke arah Kai. "Tolong saya... Kaki saya sepertinya terkilir... Sakit sekali, Pak..."
Kai tidak bergeming satu senti pun. Ia menatap tangan Siska yang terulur di udara seolah tangan itu adalah benalu beracun.
"Mbak Siska," panggil Kai dengan nada suara yang begitu rendah, tajam, dan memotong seperti bilah baja. "Sandiwara murah seperti ini bahkan tidak layak ditampilkan oleh figuran kelas bawah."
Siska membeku di lantai, matanya membelalak kaget. "P-Pak Kai... Maksud Bapak apa? Saya sungguh-sungguh jatuh—"
"Dengar baik-baik," potong Kai tanpa memberi ampun, langkah kakinya maju satu tapak, memancarkan aura tekanan (pressure) yang begitu masif hingga membuat Siska sulit bernapas. "Saya sudah membaca seluruh rekam jejakmu. Saya tahu persis siapa kamu, bagaimana caramu menusuk Alya dari belakang, dan bagaimana caramu menjual dirimu pada Rendy demi uang."
Siska menelan ludah secara kasar, wajahnya yang tadi dipoles riasan mahal kini pucat pasi bagaikan kertas polos.
"Kamu pikir saya tidak bisa melihat niat busukmu saat kamu sengaja menjatuhkan diri ke arah saya?" sambung Kai, senyum sinis yang teramat dingin terukir di bibirnya. "Tubuhmu, wajahmu, dan seluruh trik godaan murahanmu itu... sungguh membuat saya merasa mual."
Kata 'mual' yang keluar langsung dari mulut Kai menghantam harga diri Siska hingga hancur berkeping-keping. Siska merasa telanjang di hadapan pria ini, seluruh topeng kecantikannya terkelupas tanpa tersisa.
"Pak Kai... Tolong jangan bicara begitu..." bisik Siska terbata-bata, rasa malu yang membakar membuatnya ingin melesat lenyap ke dalam bumi. "Saya... saya cuma mau berkenalan lebih dekat dengan Pak Kai... Saya bisa memberikan apa yang Alya tidak bisa berikan pada Bapak! Saya bisa—"
"Cukup!" bentak Kai dengan satu kata tegas yang menggelegar di koridor, menghentikan kalimat menjijikkan Siska.
Kai menundukkan badannya sedikit, mengunci pandangan Siska dengan binar mata yang membara oleh amarah yang amat mematikan.
"Jangan pernah berani menyebut nama Alya dari mulut kotor itu lagi," desis Kai penuh ancaman mutlak. "Alya adalah wanita berharga yang bahkan tidak pantas dibandingkan dengan debu di bawah sepatu kamu. Kamu tidak punya satu persen pun dari keindahan, kehormatan, dan martabat yang dimiliki Alya."
Kai berdiri tegap kembali, lalu mengeluarkan saputangan dari saku jasnya dan menyapu tangannya sendiri—meski ia sama sekali tidak menyentuh Siska—seolah-olah udara di sekitar Siska telah mencemarinya.
"Kalau kamu masih berani melintasi jalur saya, atau mencoba menyentuh Alya lagi dengan niat busukmu..." ujar Kai dingin seraya melangkah melompati berkas-berkas Siska yang berserakan di lantai, "...saya pastikan bukan cuma kariermu yang hancur, tapi keberadaanmu di kota ini akan terhapus sepenuhnya."
Tepat saat Kai hendak melangkah menuju lift, pintu ruang rapat terbuka. Alya melangkah keluar seraya membawa berkasnya.
Alya terhenti sejenak, melihat Siska yang tergeletak mengenaskan di lantai marmer dengan lutut memar dan mata bersimbah air mata malu, sementara Kai berdiri anggun di dekatnya.
Alya menatap Kai, lalu menatap Siska. Sebuah senyuman tipis yang sangat penuh kemenangan terukir di bibir Alya.
"Ada apa ini, Kai?" tanya Alya tenang seraya melangkah mendekati Kai.
Kai seketika mengubah raut wajah dinginnya menjadi begitu lembut saat menatap Alya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Alya secara protektif di depan mata Siska yang masih terkulai di lantai.
"Tidak ada apa-apa, Sayang," jawab Kai penuh kasih sayang, mengecup pelis Alya secara terbuka tanpa ragu. "Cuma ada sampah yang mencoba menyumbat jalan, tapi sudah saya bersihkan."
Alya melirik Siska yang sedang menggigit bibirnya rapat-rapt, menahan tangis kehancuran harga dirinya yang tak tertahankan.
"Oh, kasihan sekali," tutur Alya dengan nada bernada sindiran yang amat halus. "Siska, bukankah tadi pagi aku sudah mengingatkanmu? Emas murni dan sampah itu berada di kelas yang sangat berbeda. Kamu tidak akan pernah bisa merebut apa yang memang tidak pantas untuk kamu miliki."
Kai merangkul Alya lebih rapat, lalu berjalan bersama wanita itu menuju lift VIP yang sudah terbuka.
"Ayo kita pergi, Alya. Saya sudah memesan tempat makan malam yang tenang untuk kita," ajak Kai lembut.
"Ayo, Kai," balas Alya penuh rasa bahagia.
Pintu lift VIP tertutup rapat, menyisakan Siska sendirian di koridor dingin tersebut. Wanita itu terisak histeris dalam kekalahan yang paling memalukan seumur hidupnya. Obsesinya untuk menjadi seperti Alya dan merebut Kai tidak hanya gagal total, tapi justru menjadi cambuk yang meremukkan seluruh harga diri dan impian serakahnya hingga tak tersisa.