Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 13
BAB 13
Iring-iringan prajurit di bawah komando Senopati Wira melangkah beriringan membelah kegelapan lorong kedaton. Di barisan paling depan, Raden Jayendra dan Putri Kirana berjalan mantap dengan tatapan lurus ke depan, mengawal gulungan kain dan perisai dada sakral yang kini terikat kuat di dada Jayendra. Di belakang mereka, dua prajurit berbadan tegap mengapit ketat tubuh Ki Tumenggung Reksa yang terkulai lemas dengan kedua tangan terikat rantai besi.
Derap langkah prajurit dan dentang senjata logam berhenti tepat di depan gerbang kayu berukir Sanggar Sewaka Utama. Di dalam ruangan megah tersebut, suasana terasa sangat mencekam. Udara pekat oleh aroma kemenyan dan minyak cendana yang menyamarkan bau racun. Sang Raja duduk bersandar lemah di atas singgasana; wajahnya pucat pasi akibat racun dosis rendah yang disusupkan secara halus ke dalam cawan minumannya oleh faksi Patih.
Di samping singgasana, Patih Mahisa berdiri tegak dengan jubah kebesarannya. Tangannya sudah memegang gulungan lontar—dekrit darurat yang siap dibacakan untuk mengambil alih tampuk kekuasaan dengan dalih Sang Raja sudah tidak mampu memimpin.
BRAAK!
Pintu jati Balairung terbuka lebar secara mendadak. Senopati Wira melangkah masuk terlebih dahulu, memimpin puluhan prajurit berzirah lengkap yang langsung menyebar mengepung seluruh sudut ruangan. Para adipati dan pejabat keraton yang hadir di Balairung seketika geger.
Patih Mahisa membelalak kaget. Raut wajah tuanya yang culas berubah murka bercampur panik.
"Senopati Wira! Apa-apaan ini?!" teriak Patih Mahisa, suaranya melengking tinggi menguasai Balairung.
"Kenapa kau membawa prajurit berkerumun dan menodai persidangan agung?! Segera amankan Raden Jayendra dan Putri Kirana! Mereka membawa busana sihir terlarang untuk membunuh Sang Raja!"
"Tahan..." titah Sang Raja dengan suara serak, memotong seruan Patih Mahisa. Matanya yang sayu namun menyisakan sisa wibawa menatap Putri Kirana, lalu beralih tajam ke arah Senopati Wira. "Katakan, Senopati... apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?"
Sebelum Senopati Wira menjawab, Putri Kirana melangkah maju ke tengah balairung. Bersama Raden Jayendra, ia melepaskan mahakarya kerajinan logam-tenun itu dari dada Jayendra lalu membentangkannya di atas karpet beludru merah, tepat di hadapan Sang Raja dan para adipati.
"Ini bukan media sihir atau senjata makar, Ayahnda Raja," tegas Putri Kirana, suaranya bergema jernih memecah keheningan ruangan. "Ini adalah Pelindung Dada Agung—kolaborasi kerangka ukiranlogam buatan Raden Jayendra dan kain tenun serat sakral hamba. Benda inilah yang dicoba direbut dan dimusnahkan oleh Patih Mahisa!"
Raden Jayendra melangkah maju satu pijakan, menatap Patih Mahisa dengan pandangan dingin bertumpu pada presisi analitisnya.
"Patih Mahisa telah memalsukan tuduhan makar atas nama hamba dan Putri Kirana," seru Raden Jayendra nyaring. "Semua dilakukan demi mengalihkan perhatian dari niat utamanya: memanipulasi kelemahan fisik Baginda Raja dan menggulingkan takhta! Senopati Wira baru saja meringkus Ki Tumenggung Reksa di pelataran dan menyita bukti konspirasi mereka!"
Senopati Wira maju berlutut dengan satu kaki di hadapan singgasana. Dengan kedua tangannya, ia menyerahkan kantong kain tebal berisi kepingan emas asing serta gulungan surat perjanjian rahasia berstempel cap lilin pribadi Patih Mahisa.
"Hamba menyaksikan sendiri pengakuan Tumenggung Reksa, Baginda Raja!" tegas Senopati Wira. "Patih Mahisa adalah dalang utama pengkhianatan malam ini!"
Bisik-bisik ketakutan dan seruan amarah langsung meledak di antara para adipati. Melihat siasat jahatnya terbongkar telanjang dan dukungannya dilucuti di depan publik, Patih Mahisa gelap mata. Keputusasaan menyeret jiwanya ke jurang kebuasan.
Dengan gerak refleks yang nekat, ia mencabut keris berukir naga emas dari balik jubahnya dan melompat menerjang lurus ke arah Sang Raja yang tak berdaya di atas singgasana!
"Raja tua yang lemah! Kau tidak layak memimpin kerajaan ini lagi!" raung Patih Mahisa histeris.
"Ayahnda Raja!" teriak Putri Kirana panik.
SRING!
Bukan para prajurit pengawal yang sempat merentangkan dada, melainkan Raden Jayendra yang bergerak secepat kilat. Tanpa ragu sedikit pun, ia membanting tubuhnya melintasi anak tangga singgasana, mengangkat lempengan logam perunggu buatan tangannya untuk menangkis langsung sabetan keris Patih Mahisa!
DENTANG!
Bunga api memercik keras saat mata keris emas Patih Mahisa menghantam permukaan logam perunggu berlapis sutra itu. Benturan keras tersebut mematahkan bilah keris sakral Patih Mahisa menjadi dua bagian!
Sebelum sang Patih sempat membalas, Senopati Wira dan tiga prajurit pengawal melompat menindih tubuh Patih Mahisa. Mereka mengunci kedua tangannya ke lantai batu Balairung hingga sang Patih tidak berkutik.
"Seret Mahisa dan Ki Tumenggung Reksa ke penjara bawah tanah!" titah Sang Raja dengan napas memboru, berdiri tegak menguasai ruangan. "Lucuti seluruh jubah kebesarannya! Dialah pengkhianat sejati yang haus akan takhta ini!"
Balairung kembali hening. Sang Raja berjalan turun perlahan dari singgasananya. Tangannya yang bergetar menyentuh lempengan logam perunggu dan tenun sutra yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari tikaman keris.
"Kau tidak hanya menyelamatkan nyawaku, Raden Jayendra... tetapi juga menyelamatkan negeri ini dari pertumpahan darah," bisik Sang Raja haru. Beliau mendongak, menatap Jayendra dan Kirana yang berdiri bersisian. "Mulai hari ini, fitnah makar itu gugur! Statusmu sebagai pangeran taklukkan dihapuskan. Kau adalah Empu Agung Keraton, dan negerimu bebas dari upeti! Dan kau, Kirana... kebebasan memilih takdir serta pasanganmu kini berada penuh di tanganmu sendiri."
Saat mata Raden Jayendra dan Putri Kirana bertaut, pendar cahaya keemasan dari busana perisai di lantai mendadak meluap kembali. Gelombang getaran elektro-spiritual yang dahsyat berdenyut keras, membiaskan ruang dan waktu di sekitar raga mereka.
GZZZZT!
Sensasi melayang yang hebat merenggut kesadaran mereka. Pemandangan Balairung Kedaton, aroma cendana, dan sorak-sorai para adipati terurai menjadi jutaan partikel cahaya yang tersedot kembali ke lorong waktu abad ke-21.
Klinik Pratama Desa, Abad ke-21.
Beep... Beep... Beep...
Aroma pekat cairan antiseptik menyengat indra penciuman Maya saat kesadarannya ditarik secara paksa kembali ke alam nyata. Matanya terbuka perlahan, mengerjap silau oleh pijar lampu neon putih di langit-langit ruangan. Tangannya tertancap selang infus.
"Mbak... bersyukur sudah siuman," suara lembut perawat berkerudung hijau menyapa dari samping ranjang. "Mbak dan Mas di sebelah itu pingsan hampir empat jam di selasar candi. Mbah juru kunci yang memanggil ambulans karena panik."
Maya menoleh ke sebelah kanannya. Di atas ranjang nomor dua yang hanya dipisahkan oleh tirai biru yang tersingkap, Rendra sedang terduduk pasrah seraya memegangi pelipisnya. Kemeja flanelnya tampak kusut dan rambutnya sedikit berantakan.
Saat Rendra menoleh, manik mata mereka saling terkunci rapat dalam keheningan klinik yang sunyi. Rendra berdeham pelan, melepaskan selang oksigen dari hidungnya.
"Kau... baik-baik saja?" tanyanya dengan suara serak yang berat. Maya menarik napas panjang, berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap datar.
"Aku baik-baik saja. Cuma efek hipotermia angin malam candi."
"Bukan sekadar hipotermia, Maya," potong Rendra pelan namun tajam, menatap Maya lurus-lurus.
"Kau tahu persis apa yang baru saja kita alami di sana. Kita tidak sedang bermimpi."
Maya menggigit bibir bawahnya. Gengsi profesionalnya sempat berontak, tetapi memori visual tentang cara Rendra yang berada dalam raga Raden Jayendra menempakan kerangka ukiran logam untuk memeluk kain tenun sutranya terlalu nyata untuk ditampik
Rendra melangkah mendekat seraya menyodorkan sebuah buku bersampul kulit tebal dari atas meja. Maya menyambut uluran buku sketsa kulit milik Rendra tersebut, memasukkannya ke dalam tas dengan genggaman mantap, lalu melangkah keluar dari klinik menuju kegelapan malam.
Ia harus segera kembali ke kota untuk menghadapi kenyataan pahit yang belum ia ketahui—tanpa menyadari bahwa sabotase Victor dan Clarissa telah berputar kencang, dan buku sketsa di dalam tasnya kini menjadi satu-satunya pelampung penyelamat yang tersisa.