NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Senyum Sahabat

Dunia rasanya berhenti berputar. Aku terpaku di tempat, napas tertahan di tenggorokan, menatap sosok yang selama ini menjadi tempatku berbagi cerita, tawa, dan air mata. Dinda. Sahabatku sejak kami masih berjalan tertatih-tatih. Gadis yang dulu selalu memegang tanganku saat aku takut gelap, yang membawakanku makanan saat aku sakit, yang mendengarkan keluh kesahku berjam-jam tanpa pernah mengeluh. Dan sekarang... dia berdiri di sana, pisau beracun di tangannya, menatapku dengan tatapan yang asing dan dingin.

"Dinda..." suaraku bergetar, nyaris tak terdengar. "Apa yang kau lakukan? Ini aku, Aruna. Sahabatmu."

Dia tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Justru seolah ada dinding tebal yang berdiri di antara kami sekarang.

"Aku tahu siapa kau, Aruna. Dan itulah yang membuat ini semua begitu menyedihkan. Kau gadis paling baik yang pernah kukenal. Tapi kau buta. Kau tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan matamu. Dia bukan milikmu. Dia bukan bagian dari dunia kita. Dan kotak itu... kotak itu bukan mainan untuk diserahkan pada makhluk dari kegelapan."

"Dia bukan makhluk asing, Dinda. Namanya Orion. Dan dia... dia adalah separuh dari ceritaku. Sama seperti kau dulu."

Orion berdiri tegak di hadapannya, tidak marah, tidak mengancam. Hanya tenang.

"Kau pikir dengan mengambil kotak itu, kau akan menyelamatkan duniamu?" tanyanya lembut tapi tegas. "Kau hanya akan memperpanjang tembok pemisah yang sudah terlalu lama berdiri. Dan pada akhirnya, bukan perdamaian yang kau dapatkan, tapi ketakutan yang abadi."

"Kau tidak perlu mengajariku tentang duniamu," sahut Dinda tajam. "Aku sudah tahu segalanya. Sejak dulu keluargaku dipercaya untuk menjaga rahasia ini. Kami adalah penjaga yang tak terlihat. Tugas kami memastikan gerbang itu tetap tertutup. Memastikan tidak ada yang membawa kekuatan dari dunia itu ke sini. Dan sekarang... kau muncul. Mengubah segalanya. Membuat sahabatku lupa siapa dirinya sebenarnya."

Aku melangkah maju perlahan, meski Orion mencoba menahanku. "Keluargamu? Dinda... kau tidak pernah bilang apa-apa tentang ini. Selama bertahun-tahun kita bersama, kau menyembunyikannya?"

Air mata akhirnya jatuh di pipi Dinda. Pisau di tangannya sedikit gemetar, tapi tidak diturunkan.

"Aku ingin sekali memberitahumu. Tuhan tahu betapa beratnya menyembunyikan ini darimu setiap hari. Tapi aturannya jelas — tidak ada yang boleh tahu identitas penjaga. Bahkan sahabat sendiri. Aku menemanimu, aku melindungimu, karena kau keturunan garis cahaya. Kau satu-satunya yang bisa membuka kotak itu. Dan aku... aku hanya pengawal yang ditugaskan memastikan kau melakukannya pada waktu yang tepat, dengan cara yang benar."

"Jadi selama ini... persahabatan kita hanyalah tugas?" tanyaku, hatiku terasa seperti diiris perlahan.

Dinda terdiam lama sekali. Tatapannya melemah, dan untuk sesaat aku melihat kembali Dinda yang kukenal — gadis yang rapuh di balik keteguhannya.

"Awalnya iya. Aku diperintahkan untuk dekat padamu. Tapi waktu berlalu, dan kau... kau membuatku benar-benar peduli. Itulah sebabnya aku masih di sini, masih mencoba mencegahmu sebelum terlambat. Aruna, tolong... serahkan kotak itu padaku. Kembalikan ke tempatnya yang semestinya. Lupakan dia. Lupakan semua ini. Kita bisa kembali seperti dulu."

"Kita tidak bisa kembali, Dinda. Karena yang kau minta bukanlah melindungiku, tapi membuatku buta lagi. Aku tidak mau hidup dalam kebohongan. Bukan saat aku tahu kebenarannya. Bukan saat aku tahu Orion ada di sana, sendirian, menunggu ribuan tahun hanya untuk seseorang yang berani memegang tangannya."

Dinda menghela napas panjang, lalu perlahan mengangkat pisaunya lebih tinggi. "Kalau begitu... aku minta maaf. Benar-benar minta maaf."

Dia melangkah maju, bukan ke arahku, tapi melesat cepat menuju meja tempat kotak itu berada. Orion bergerak lebih cepat. Dia menangkis pergelangan tangan Dinda dengan satu gerakan halus, pisau itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berdentang ke lantai. Tapi Dinda tidak menyerah begitu saja — dia mengangkat tangannya, melambaikannya ke arah pintu jendela, dan tiba-tiba tirai jendela tertiup angin kencang yang tidak tahu dari mana datangnya, menutupi ruangan dalam kegelapan sesaat.

Saat cahaya kembali terang, Dinda sudah tidak ada di dalam ruangan. Hanya ada selembar kertas yang tergeletak di lantai, tertulis dengan tulisan tangannya yang bergetar:

"Ini belum selesai. Mereka tidak akan berhenti. Dan aku tidak yakin aku bisa melindungimu lagi, Aruna. Lari. Sebelum mereka mengirim seseorang yang tidak akan selembut aku."

Aku membaca tulisan itu berulang kali, lalu perlahan duduk di tepi tempat tidur, menutup wajah dengan kedua tanganku. Semuanya terasa berat. Sahabatku ternyata bukan sekadar sahabat. Keluargaku menyembunyikan rahasia. Dan sekarang, bahkan tempat yang kupikir paling aman di dunia ini pun terasa seperti punya mata yang mengawasi.

Orion duduk di sebelahku, tidak berkata apa-apa dulu. Dia hanya merangkulku, membiarkanku menyandarkan kepala di bahunya, membiarkanku menangis tanpa perlu merasa kuat.

"Rasanya semua orang di sekitarku punya rahasia besar yang tidak aku ketahui," isakku pelan. "Aku merasa bodoh, Orion. Aku merasa seperti boneka yang dimainkan tanpa pernah tahu tali mana yang menarikku."

Dia mengusap punggungku lembut, bibirnya mencium ubun-ubunku pelan dan menenangkan.

"Kau bukan boneka. Kau adalah jantung dari semua cerita ini. Justru karena kau sangat berharga, mereka semua berusaha melindungimu — entah dengan jujur atau dengan kebohongan. Tapi satu hal yang harus kau ingat: di antara semua orang yang menyembunyikan sesuatu darimu, aku tidak pernah menyembunyikan siapa aku. Dan aku tidak akan pernah. Apa pun yang terjadi, kau tahu di mana menemukan aku. Dan aku akan selalu ada di sana, menunggumu, tanpa syarat apa pun."

Aku mendongak, menatap matanya yang tenang di tengah badai yang mengelilingi kami. "Kau tidak marah pada Dinda?"

Dia menggeleng pelan. "Dia terjebak di antara tugas dan hatinya. Itu posisi yang paling menyakitkan. Dia lebih menderita daripada kita hari ini. Karena dia harus memilih antara kebenaran dan kewajiban yang dia yakini sejak lahir."

"Tapi dia akan kembali, kan? Mereka akan datang lagi."

"Ya. Dan saat mereka datang, kita harus siap. Bukan untuk melawan dengan kekerasan, tapi untuk menghadapi kebenaran dengan berani. Kotak itu tidak akan menunggu lama untuk terbuka. Semakin lama kita menunda, semakin berisiko. Mungkin... mungkin kita harus membukanya. Bersama-sama."

Hatiku berdebar kencang. "Kau yakin? Bagaimana kalau isinya sesuatu yang menghancurkan kita?"

Dia menggenggam tanganku erat, menatapku dalam-dalam.

"Kalau itu terjadi, kita hancur bersama. Lalu kita bangkit kembali. Selama kita berdua berdiri berdampingan, tidak ada rahasia yang terlalu besar, tidak ada bahaya yang terlalu menakutkan. Percayalah padaku, Aruna. Seperti aku mempercayaimu."

Aku menatap kotak itu di atas meja, yang kini berdenyut lembut seolah menunggu keputusan kami. Cahayanya berwarna keemasan dan keperakan bercampur menjadi satu — cahayaku dan cahayanya.

"Malam ini istirahatlah," katanya lembut, menarikku berdiri. "Besok pagi, saat matahari terbit penuh, kita buka bersama. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada yang disembunyikan."

Aku mengangguk pelan, lalu berjalan menuju tempat tidur. Dia duduk di kursi di sampingku, tidak berniat pergi.

"Kau tidak tidur?" tanyaku, mataku mulai terasa berat.

"Aku akan berjaga. Tidurlah, cahayaku. Tidak ada yang berani masuk ke sini selama aku terjaga."

Saat aku perlahan terlelap, pikiranku berputar pada satu hal: besok. Apa pun yang ada di dalam kotak itu, itu akan mengubah segalanya. Dan entah itu anugerah atau malapetaka, aku tahu satu hal pasti — aku tidak akan menghadapinya sendirian.

Tapi di luar jendela, di balik bayangan dinding rumah, sepasang mata menyala merah menyaksikannya. Mereka tidak sendirian. Dan mereka tidak sabar menunggu sampai pagi tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!