NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Dimas menggenggam kertas itu selama lima menit penuh tanpa membacanya.

Kertas itu hanya selembar kecil, catatan dari Reyhan yang diselipkan di bawah helmnya sebelum ia pulang malam kemarin. Tidak ada salam, tidak ada penjelasan. Hanya satu kalimat dengan tulisan tangan tegak yang tidak pernah membuang kata.

*Besok setelah jam tutup, tolong tetap di warung. Ada yang perlu kamu dengar.*

Ia membacanya sekali di parkiran, sekali lagi di atas motor, dan sekali lagi di kamar kosnya yang pengap, sambil menatap dinding dengan perasaan tidak enak yang tidak punya nama. Reyhan tidak pernah menulis catatan seperti itu. Reyhan hanya bicara, pendek dan datar, atau tidak bicara sama sekali.

Besok malamnya, ia datang jam sembilan seperti diminta.

Warung sudah sepi. Kursi-kursi dibalik di atas meja, kompor mati, dan lampu dapur hanya menyala di satu sudut. Di meja makan paling belakang, di bawah cahaya kuning yang temaram, duduk tiga orang: Reyhan dengan kemeja digulung sampai siku, Mbak Sari dengan tangan terlipat rapat di pangkuan, dan Teh Lilis yang menatap meja seperti sedang menghafal seratnya.

Dimas berhenti di ambang pintu. Dadanya menegang.

"Duduk, Dim," kata Reyhan.

"Ada apa, Mas?"

"Duduk dulu."

Dimas duduk. Kursi plastik itu berderit pelan, dan bunyi sekecil itu terdengar seperti retakan di ruangan yang terlalu sunyi.

Reyhan tidak langsung bicara. Ia menatap Mbak Sari, yang menarik napas panjang dan tetap menatap meja. Lalu ia menatap Dimas, dan berkata dengan suara yang lebih pelan dari yang pernah Dimas dengar darinya.

"Dim, surat itu. Yang dulu kamu bawa. Yang empat tanda tangan."

Jantung Dimas berdetak satu kali lebih keras. "Kenapa, Mas?"

"Kamu bilang kamu dikasih orang."

"Iya, Mas. Tapi saya udah janji nggak bakal..."

"Dim." Suara Mbak Sari memotong, serak dan hampir tidak terdengar. "Orangnya saya."

Hening.

Dimas tidak bergerak. Ia menatap Mbak Sari, lalu Reyhan, lalu kembali ke Mbak Sari, seperti seseorang yang mendengar bahasa yang ia kenal tapi tidak bisa menerjemahkan. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.

"Saya yang ngetik surat itu," lanjut Mbak Sari, dan suaranya mulai bergetar. "Di warnet, malam sebelum rapat. Saya yang kasih ke kamu. Saya yang bilang itu dari orang yang peduli sama keadilan. Dan tanda tangan keempat, yang cuma coretan itu..." Ia menelan ludah. "Itu saya."

Dimas menatapnya tanpa berkedip.

"Saya tahu kamu lagi sakit hati," kata Mbak Sari pelan. "Anin nolak kamu, dan kamu ngira itu karena Mas Reyhan. Saya tahu itu. Dan saya manfaatin."

Kata *manfaatin* jatuh di antara mereka seperti piring pecah.

"Jadi..." Suara Dimas keluar kecil dan asing. "Jadi aku... aku selama ini..."

"Kamu nggak salah, Dim," kata Reyhan.

"Jangan." Dimas mengangkat tangan, matanya masih menatap Mbak Sari. "Jangan bilang aku nggak salah, Mas."

Ia berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dan jatuh dengan bunyi nyaring, tapi tidak ada yang bergerak untuk menegakkannya.

"Aku ngelempar surat itu ke meja Mas!" Suaranya pecah. "Aku bilang Mas pilih kasih! Aku bilang di depan semua orang! Di depan *dia!*" Napasnya memburu. "Aku bikin dia berdiri di situ, di tengah ruangan, dan bilang dia siap pergi! Dan aku diem aja!"

"Dim..."

"Aku kira aku bela temen!" Air matanya jatuh tanpa ia sadari. "Aku kira aku bela yang bener! Aku kira Mas Reyhan yang salah, dan aku cuma berani ngomong yang nggak ada yang berani ngomong!" Ia menatap Mbak Sari dengan mata merah. "Dan ternyata aku cuma... cuma dipake. Aku cuma kemarahan yang dipinjam."

Mbak Sari tidak menjawab. Air matanya jatuh diam-diam ke atas pangkuannya, dan bahunya yang selama ini tegak, kini turun sampai hampir tidak terlihat.

"Maaf," bisiknya. "Maaf, Dim."

"Maaf." Dimas tertawa, pendek dan pahit. "Mbak minta maaf ke aku? Yang Mbak rugiin itu bukan aku."

Hening yang jatuh sesudah itu begitu panjang sampai terdengar tetes air dari keran dapur.

"Mbak tahu aku sayang sama dia," lanjut Dimas pelan, hampir pada dirinya sendiri. "Mbak tahu. Dan Mbak ngasih aku kertas itu, dan Mbak tahu aku bakal bawa."

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena aku iri, Dim." Mbak Sari mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya Dimas melihat perempuan yang selama enam tahun menjadi tiang di dapur itu hancur tanpa topeng. "Aku iri sama anak yang nggak salah apa-apa. Dan aku nggak punya alasan yang bagus."

 

Teh Lilis menangis keras, terisak-isak dengan bahu yang bergetar, dan tidak ada yang menyuruhnya berhenti.

"Aku juga, Mas Dimas," katanya di sela tangis. "Fotonya... Teteh yang motret. Waktu hujan itu. Teteh nunjukin ke ibu-ibu arisan, Teteh nggak bermaksud... Teteh pikir cuma seru-seruan... Terus ceritanya nggelinding, Teteh nggak bisa narik lagi..."

Dimas menatapnya. Rahangnya mengeras, tapi matanya tidak lagi menyala. Yang tersisa hanya sesuatu yang lebih sunyi dan lebih lelah, seperti seseorang yang baru saja memukul dinding sampai tangannya sendiri yang sakit.

"Jadi semuanya," katanya pelan. "Semuanya dari dalam sini."

"Iya."

"Bukan dari luar. Bukan dari orang yang benci dia. Dari kita."

Tidak ada yang menjawab. Dan di dalam diam itu, Dimas mengerti bahwa itulah bagian yang paling menyakitkan: bukan musuh yang menjatuhkan Anindya, melainkan orang-orang yang tiap pagi berbagi sambal dan lap dan gelak tawa di dapur yang sama.

Reyhan, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara.

"Dim." Suaranya rendah. "Saya yang memecat dia."

Dimas menoleh.

"Bukan Mbak Sari. Bukan Teh Lilis. Bukan kamu." Reyhan menatap meja, dan jari-jarinya mengetuk kayu sekali, dua kali, tiga kali, lalu berhenti. "Surat, foto, bisik-bisik, semuanya cuma bahan. Yang menyalakan api, dan yang menyuruh dia keluar dari pintu itu, saya sendiri."

"Mas..."

"Saya tidak akan minta kamu memaafkan siapa pun malam ini." Reyhan mengangkat wajah. "Saya cuma mau kamu tahu. Dan kalau kamu ingin pergi dari warung ini, saya tidak akan menahan."

Dimas menatapnya lama. Lalu ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, kasar dan cepat, dan duduk kembali dengan bahu yang jatuh.

"Aku nggak mau pergi dulu," katanya akhirnya. "Aku mau... aku harus selesaiin sesuatu."

"Apa?"

"Aku harus ketemu Anin."

Hening.

"Aku mau bilang langsung. Bukan lewat Mas. Bukan lewat Mbak Sari." Suaranya serak tapi mantap. "Aku yang bawa surat itu. Aku yang harus minta maaf."

Reyhan mengangguk perlahan. Ada sesuatu di wajahnya yang bergerak, bukan senang, bukan lega, tapi sesuatu yang lebih mirip rasa hormat pada seseorang yang memilih jalan yang lebih berat.

"Dia mungkin tidak mau mendengarkan."

"Aku tahu."

"Dan mungkin kamu akan mendengar hal-hal yang menyakitkan."

"Aku tahu, Mas." Dimas berdiri, menegakkan kursinya yang jatuh dengan tangan yang masih gemetar. "Tapi aku pernah ngelempar kertas ke meja dan bilang itu keadilan. Sekarang giliran aku nerima akibatnya."

Ia menatap Mbak Sari terakhir kali. Tidak dengan benci. Tidak dengan maaf. Hanya dengan tatapan seseorang yang sedang belajar membawa sesuatu yang tidak bisa diletakkan.

"Mbak harus ke sana juga," katanya pelan. "Dan Teh Lilis."

"Iya," bisik Mbak Sari. "Kami tahu."

 

Setelah Dimas pergi, ruang makan itu hening lama.

Mbak Sari dan Teh Lilis juga pulang, dengan langkah yang berat dan wajah yang tidak bisa dibaca. Reyhan duduk sendirian di meja paling belakang, di bawah lampu kuning yang temaram, dengan tangan terlipat di atas kayu.

Di dalam dadanya, sesuatu yang selama berbulan-bulan hanya berupa penyesalan perlahan menemukan bentuk lain. Bukan lega. Tidak ada yang lega malam ini. Tapi sebuah kejelasan yang dingin dan jernih, seperti air yang mengendap setelah lama diaduk.

Ia tidak bisa mengembalikan apa yang sudah ia rusak. Ia hanya bisa memastikan bahwa tidak ada seorang pun di dapur ini yang akan pernah lagi menyimpan sesuatu sebesar itu sendirian.

Esok paginya, tanpa pengumuman dan tanpa rapat, Reyhan melakukan sesuatu yang kecil. Ia menempelkan selembar kertas di papan pengumuman dekat pintu belakang, tepat di tempat yang dulu menggantungkan peraturan baru berisi larangan.

Kertas itu hanya berisi tiga baris, ditulis tangan.

*Kalau ada yang tidak adil, bilang langsung ke saya. Kapan pun. Tanpa surat.*

*Tidak ada yang akan dimarahi karena bicara.*

*Dan tidak ada yang akan dipecat karena jujur.*

Ia menatap kertas itu cukup lama, lalu menempelkannya dengan selotip dan pergi ke dapur tanpa menunggu seorang pun membacanya.

Bersambung ke Bab 28...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!