Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
“Tiga-empat-enam! Tiga-empat-enam! Tiga belas, Besar!” seru bandar dadu lantai satu sambil mengangkat mangkuk penutup kubus kayu ke udara.
Para kuli bersorak riuh. Beberapa orang menghempaskan puntung rokok ke lantai dengan umpatan kasar saat tumpukan uang receh mereka disapu oleh bandar kasino menggunakan tongkat pengeruk kayu.
Sora berdiri di baris kedua kerumunan, bersandar pada pilar beton ruko yang dilapisi tripleks stiker kayu tiruan. Matanya tidak menatap mangkuk dadu. Pandangannya memindai sekeliling ruangan dengan ketajaman yang terlatih.
Empat orang pengawal Jerry berpakaian preman tersebar di sudut-sudut strategis lantai satu: satu di samping pintu darurat belakang dapur, satu di samping dispenser air minum, dan dua di bawah bordes tangga menuju lantai dua. Di pinggang mereka semua terselip tonjolan pentungan kayu atau bilah belati di balik jaket.
Kamera CCTV dome hitam di sudut langit-langit berputar pelan setiap empat puluh detik sekali. Sora mengamati ritme putarannya. Kamera itu berhenti tepat dua detik di atas pintu tangga sebelum menyapu kembali ke arah loket kasir. Celah dua detik itu persis seperti yang dipetakan oleh Maya tadi sore.
Sora meletakkan satu keping cip merahnya ke atas kotak “Kecil” di meja dadu koprok.
Ia hanya ingin menguji koordinasi saraf tangan kirinya di bawah tekanan nyata. Saat mangkuk dadu diangkat dan dadu menunjukkan angka satu, dua, dan tiga (Kecil), Sora meraih cip kemenangannya dengan tangan kiri yang buntung.
Ujung jarinya mencengkeram dua keping plastik merah itu dengan stabil. Tidak ada getaran gemetar atau kejang saraf yang tersisa. Jahitan Dok Han dan latihan fisik selama tiga puluh enam jam terakhir telah mengembalikan fungsi dasar genggamannya hingga cukup prima.
Sora mengantongi kembali cipnya, lalu melangkah perlahan menjauhi meja dadu menuju area tangga berkarpet merah yang mengarah ke lantai dua.
Tepat saat kakinya hendak menjejak anak tangga pertama di bawah bordes, tengkuknya meremang. Naluri lamanya membunyikan tanda bahaya.
Sora menghentikan langkah di balik bayangan pilar beton, lalu mengangkat pandangan ke arah balkon lantai mezanin di atas kepala.
Di balkon lantai dua yang dibatasi pagar besi tempa bermotif sulur tembaga, sesosok pria bertubuh gempal setinggi seratus delapan puluh sentimeter sedang berdiri diam di keremangan lampu gantung. Rompi kulit tanpa lengannya memperlihatkan rajah sisik ikan koi yang merayap di otot lengannya yang kekar.
Rusli.
Algojo kasino itu tidak sedang menonton permainan dadu di bawahnya. Matanya yang sipit menyapu kerumunan manusia di lantai dasar dengan tatapan seekor anjing pelacak yang sedang mencium jejak buruan yang terluka. Di tangan kanannya, cincin kuningan tebal dengan tepi bergerigi berputar-putar pelan di jari telunjuknya, memantulkan kilatan cahaya kuning redup setiap kali logam bergesekan dengan tulang jarinya.
Klek, klek, klek.
Bunyi gesekan cincin kuningan itu seolah berdentang di telinga Sora melintasi seluruh kebisingan mesin slot lantai satu.
Rusli sedang gelisah. Kejadian lonceng kuningan di atap dua malam lalu dan kehadiran mobil audit konsorsium di pelataran depan membuat sang algojo bersiaga penuh di pos penjagaannya.
Sora menarik napas pendek, lalu menarik tudung topi petnya turun satu sentimeter lebih rendah menutupi matanya.
Tangan kanannya di dalam saku celana meraba remote silikon pengacau frekuensi buatan Gani, memastikan tombol silikonnya berada dalam jangkauan ibu jarinya. Di saku dalam jaket, syal biru Mila terasa menekan dadanya, menjadi penenang yang menjaga detak jantungnya tetap stabil.
Di lantai atas, meja rolet nomor tiga sudah mulai dibuka untuk para penjudi berkantong tebal.
Sora melangkah menaiki anak tangga karpet beludru merah, menyongsong meja permainan di mana hitungan balas dendam akan dimulai.