NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Tamu tak di undang.

Kantin utama SMA Taruna Bakti siang itu benar-benar penuh sesak. Namun, pemandangan di meja pojok dekat jendela kaca besar menjadi alasan utama mengapa area itu terasa lebih bising dari biasanya. Ratusan pasang mata terus mencuri pandang ke arah dua orang yang sedang duduk berhadapan di sana.

Aletha menatap mangkuk baksonya dengan canggung, sementara di depannya, Langit sedang menyantap nasi gorengnya dengan gerakan tenang dan elegan. Sapu tangan biru dongker milik Langit yang kemarin dipakai Aletha kini sudah dicuci bersih dan terlipat rapi di samping laptop Langit.

"Langit, lo sengaja ya milih meja di tengah-tengah begini?" bisik Aletha tajam, menundukkan kepalanya agar tidak terlalu mencolok.

"Satu kantin ngeliatin kita kayak lagi nonton satwa langka tahu nggak!"

Langit tidak mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

"Kalau gue milih meja di pojokan yang gelap, gosipnya bakal berubah jadi kita lagi mesum di sekolah, Kurcaci. Pilih mana?"

"Lo..."

"Langit!"

Sebuah suara melengking yang terdengar sangat manja dan familier dari arah koridor masuk kantin mendadak memotong kalimat Aletha. Suara itu begitu nyaring hingga membuat beberapa murid di sekitarnya menoleh.

Seorang gadis bertubuh semampai dengan seragam sekolah yang dimodifikasi super ketat melangkah anggun membelah kerumunan kantin. Rambut panjangnya yang dicat cokelat madu bergelombang indah, bergerak selaras dengan langkah kakinya yang penuh percaya diri.

Wajahnya cantik dengan riasan yang sedikit lebih tebal dari standar sekolah, membawa tas tote bag desainer mahal di pundaknya.

Valerie Clarissa.

Si ratu pemandu sorak sekaligus anak konglomerat rekan bisnis utama keluarga Voss yang baru saja kembali dari liburan panjangnya di Paris selama dua minggu. Di belakangnya, dua orang dayang sirkel elitnya mengekor dengan wajah penuh kemenangan.

Jantung Aletha mendadak berdesir tidak enak. Ia tahu betul siapa Valerie. Sejak kelas satu SMA, Valerie selalu mengklaim secara sepihak bahwa dirinya adalah satu-satunya cewek yang pantas bersanding dengan Langit karena latar belakang keluarga mereka yang setara.

Set.

Tanpa permisi atau basa-basi, Valerie langsung menggeser duduknya dan mengambil tempat tepat di sofa sebelah Langit. Jarak mereka begitu dekat hingga lengan mereka hampir bersentuhan. Aroma parfum mawar yang menyengat langsung memenuhi udara di meja itu, menyingkirkan wangi mint kesukaan Aletha.

"Langit! Kamu beneran tega ya sama aku?!" rengek Valerie manja, langsung menggelayutkan kedua tangannya di lengan seragam Langit tanpa memedulikan tatapan murid-murid di kantin.

"Aku baru balik dari Paris pagi ini, dan pas masuk sekolah tiba-tiba mading penuh sama kertas emas pertunangan kamu! Ini pasti cuma prank kan, Langit? Kamu nggak mungkin tunangan sama cewek berisik ini!"

Valerie melemparkan tatapan mata yang teramat sinis dan meremehkan ke arah Aletha. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mencemooh.

"Lagian, Om Wirawan sama Tante Karina seleranya kok mendadak turun begini, sih? Dari dulu kan harusnya aku yang dijodohin sama kamu."

Mendengar sindiran yang kelewat blak-blakan itu, dada Aletha mendadak terasa berdenyut perih. Rasa panas yang asing tiba-tiba membakar dadanya. Ada perasaan tidak rela dan cemburu yang begitu pekat menyergap hatinya melihat tangan Valerie yang memeluk erat lengan Langit.

'Gila ya ini cewek, dateng-dateng langsung nyari ribut!' amuk Aletha dalam hati, tangannya mengepal kuat di bawah meja.

Namun, sebelum Aletha sempat membuka mulut untuk membalas, Langit bergerak dengan gerakan tegas yang tak terduga. Cowok tegap itu menarik lengannya dengan sekali sentakan kuat, memaksa pegangan tangan Valerie terlepas seketika. Wajah datarnya kembali berubah menjadi tripleks sedingin es.

"Jaga jarak lo, Valerie," desis Langit dengan nada suara bariton yang teramat tenang namun sarat akan intimidasi yang menusuk telak.

"Dan jaga mulut lo kalau masih mau sirkel bisnis bokap lo aman di bawah kendali keluarga Voss."

Valerie tertegun, wajah cantiknya sempat memucat selama setengah detik karena terkejut mendapat penolakan sedingin itu di depan umum. Namun dengan cepat, ia memajukan tubuhnya lagi, memasang wajah cemberut yang dibuat seimut mungkin.

"Langit, kamu kok jahat banget sih sama aku? Kita kan udah kenal dari kecil! Kamu lupa waktu kita liburan bareng di Bali tahun lalu?"

Valerie sengaja menekankan kata 'liburan bareng' sambil melirik Aletha penuh kemenangan, berniat memanasi mental gadis itu.

Aletha menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Informasi tentang masa lalu mereka yang kelewat dekat membuat benteng pertahanan egonya runtuh. Ia berdiri dari duduknya dengan gerakan kaku, tidak sanggup lagi berlama-lama berada di atmosfer yang menyesakkan ini.

"G-gue... gue mau balik ke kelas duluan. Tiba-tiba kenyang," ucap Aletha gagap, suaranya cicitan pelan. Ia buru-buru menyambar ranselnya tanpa menunggu jawaban dari Langit.

Namun, baru saja Aletha melangkah dua kali, sebuah tangan panjang berbalut seragam putih-abu-abu bergerak lebih cepat. Langit menyambar pergelangan tangan Aletha dengan cengkeraman yang lembut namun sangat kokoh, menahan gerakan gadis itu secara mutlak.

Langit berdiri dari duduknya, membuat tubuh tingginya yang menjulang langsung memberikan sekat pelindung di antara Aletha dan Valerie. Mata hazel-nya menatap Valerie dengan pandangan sedingin malaikat pencabut nyawa.

"Perjanjian pertunangan itu resmi dan tertulis di depan hukum keluarga besar kami, Valerie. Dan lembaran emas di mading itu adalah bukti mutlak kalau Aletha adalah satu-satunya cewek yang punya hak penuh atas gue di sekolah ini," ucap Langit dengan suara rendah yang terdengar begitu berat dan menggema jelas di tengah keheningan kantin yang mendadak mencekam. Langit merapatkan tubuhnya di samping Aletha, merangkul pinggang ramping gadis itu dengan protektif di depan mata semua orang.

"Jadi, jangan pernah berani lo menyentuh atau mengganggu tunangan gue lagi. Paham?"

Valerie mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya yang dicat merah bergetar hebat. Ia menatap Langit dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa syok dan cemburu yang membakar dada, lalu beralih menatap Aletha dengan kilat dendam yang teramat pekat. Menyadari bahwa Langit benar-benar pasang badan secara absolut demi Aletha, ego ratu pemandu sorak itu hancur berkeping-keping.

"Ayo balik kelas, Kurcaci. Udah nggak kondusif di sini," perintah Langit lembut, nadanya melunak hanya saat berbicara pada Aletha.

Langit menuntun Aletha berjalan membelah kerumunan kantin yang masih mematung syok, meninggalkan Valerie yang berdiri sendirian di meja dengan napas memburu menahan malu dan dendam tersembunyi. Di sepanjang jalan koridor menuju kelas, Aletha tidak melepaskan rangkulan tangan Langit di pinggangnya.

Rasa cemburu yang sempat membakar dadanya perlahan mencair, digantikan oleh debaran baru yang jauh lebih manis dan membahagiakan. Musuh bebuyutannya siang ini baru saja membuktikan bahwa batas wilayah Langit adalah mutlak miliknya seorang.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!