"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Tinggal Aida sendiri yang masih bertahan di meja makan yang dingin tersebut. Air matanya mengelir, tatapannya kosong. Ia menatap ke kursi yang biasa di duduki Elang. Mungkinkah setelah hari ini, kursi itu akan selalu kosong, ditinggal penghuninya.
Tangannya gemetar, meraih pinggiran meja untuk menyeimbangkan tubuh saat berdiri. Ia melangkah pelan, menaiki tangga, menuju kamar Elang.
Pintunya tidak dikunci, Ia membuka lebar, melihat koper besar sudah terbuka di atas ranjang, Elang sedang mengemasi pakaian dan barang-barang pribadi yang lain.
“Lang...” Panggilnya dengan suara tercekat.
Elang menghentikan tangannya, menoleh.
Aida berjalan ke arahnya, wajahnya basah.
“Jangan pergi, Nak. Jangan tinggalkan Mama." Aida memeluk Elang.
Tubuh Elang membeku. Ia melepas pelukan Aida, menatap, menyeka air matanya. "Maafin Elang, Mah. Elang gak bisa nurutin kemauan Papa dan Mama kali ini. Tolong, biarkan Elang menebus kesalahan Elang. Elang gak sanggup membawa rasa bersalah ini seumur hidup."
“Semua bisa diomongin baik-baik dan dicari jalan keluarnya. Mama mohon, jangan keluar dari rumah ini. Ini rumah kamu. Kamu tumbuh disini. Mama akan bujuk Papa supaya tetap mengizinkan kamu tinggal disini. Jangan pergi, Nak." Matanya menatap penuh permohonan.
Elang menarik napas. Ia menuntun Aida duduk di tepi ranjang. Kasur empuk yang harus ia tinggalkan sebentar lagi.
“Ma," ucapnya pelan. Jempolnya mengusap air mata di pipi Mamanya. “Aku harus pergi, Mah. Aku akan buktikan, aku bisa hidup tanpa dukungan Papa. Jangan sedih, kita masih bisa bertemu. Aku masih anak Mama sampai kapanpun. Aku tidak meninggalkan Mama, aku hanya pindah. Bukankah Mama sudah terbiasa tanpa aku. Aku 6 tahun di Jerman."
"Justru karena itu, Mama tidak mau lagi berpisah sama kamu."
"Sekali lagi, Elang hanya pindah, Ma." Elang meninggalkan Mamanya yang duduk di sisi ranjang, melanjutkan mengemas barang. Kenan belum memberi informasi, tak apa, seharian ini, ia bisa di toko dulu. Kalau kepepet, masih ada rumah Ilham, bisa ia numpang disana satu dua hari.
Aida ikut berdiri. Ia membantu, meski tangannya gemetar. Berat sekali. "Kamu akan tinggal dimana?"
"Belum tahu. Nanti Elang kabari Mama jika sudah dapat tempat tinggal." Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, matanya jernih. Tidak ada ragu. Tidak ada beban. Ia tersenyum meski tahu kedepannya, hidupnya akan sedikit lebih susah.
...----------------...
Hujan gerimis membasahi kaca mobil sore itu.
Wiper bergerak pelan. _Srek... srek...Tapi bukan itu yang diperhatikan Alisya, melainkan sepasang manusia yang berjarak beberapa meter darinya.
Di dalam mobil hitam, Alisya tidak mematikan mesin. Dari balik kemudi, matanya terpaku pada seberang jalan. Di sana ada toko bunga kecil. "Blossom florist" Toko bunga dengan papan kayu, lampu kuning hangat, dan karangan bunga ucapan selamat dari Kenan dan Eliana. Dadanya sakit, ia merasa tak hanya Elang, tapi Kenan dan Eliana, juga mengkhianatinya.
Di balik meja kasir, Ilona sedang merangkai buket bunga artifisial pesanan pelanggan. Ada lumayan banyak pesanan yang masuk, sedikit membuat kerepotan karena meski Elang ada disana, dia tak bisa membantu. Rambutnya diikat seadanya, agak berantakan, namun justru membuatnya terlihat cantik natural.
"Elang!" Ilona melotot. "Bisa minggir gak!" Ia salting gara-gara Elang duduk tepat di depannya, meletakkan siku di atas meja, bertopang dagu, menatapnya.
"Bokongku lengket di kursi, gak bisa kemana-mana." Elang cekikikan.
"Kamu gak kerja, seharian disini aja."
"Kan aku disini kerjanya." Ia tak memberi tahu Ilona jika sekarang, ia adalah penganggur sekaligus tunawisma. Mengenaskan.
"Kerja apaan coba, dari tadi diem mulu."
Elang terkekeh, yang diomongin Ilona seratus persen benar. "Ya udah, aku kerja." Elang ke belakang, mengambil segelas air putih dari galon, meletakkan ke atas meja. "Bu bos, minum dulu, biar gak dehidrasi."
Tawa Ilona pecah. Ada-ada saja kelakuan cowok satu itu. Ia mengambilnya, tak sengaja jari mereka bersentuhan beberapa detik, karena bertepatan dengan Elang yang hendak memindahkan gelas lebih mendekat ke arah Ilona.
Canggung beberapa saat, lalu keduanya tertawa bersama, memecah suasana.
Elang memutari meja, berdiri di belakang Ilona. "Biar gak dikatain gak ada kerjaan." Ia melepas kuncir rambut Ilona.
Ilona yang kaget, langsung menoleh.
"Aku rapiin." Elang tersenyum.
Jantung Alisya terasa ditusuk pelan. Meski jaraknya lumayan, tapi ia bisa melihat Elang mengikat rambut Ilona. Ekspresi keduanya memang tak terlihat, tapi yang dilakukan Elang, sudah jelas sekali menggambar jika hubungan mereka lebih dari sekedar rekan kerja.
Ia menggenggam setir sampai buku-buku jarinya memutih. Masih ingat Elang yang dulu. Elang yang biasa mengikat rambutnya saat ia sedang makan atau sibuk belajar. Elang tidak akan melakukan itu pada gadis yang tak dianggap spesial. Tapi gadis spesial itu, sekarang bukan lagi dirinya.
Pintu "Blossom florist" terbuka. Dua orang pelanggan masuk. Elang langsung menyambut dengan ramah. Memberi isyarat pada Ilona, agar ia saja yang melayani pembeli kali ini.
Dada Alisya sesak, tapi ia belum mau pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian setelah pelanggan tadi keluar, seorang pelanggan kembali masuk. Ingin mengambil buket yang dipesan pagi tadi.
Meski Elang sudah menyatakan putus, Alisya masih menyimpan harapan besar. Ia meyakinkan diri sendiri, jika Elang hanya butuh waktu. Yakin laki-laki itu masih mencintainya dan akan kembali padanya. Tapi yang ia lihat hari ini, mulai membuatnya ragu.
Ia mengambil ponsel, membuka galeri. Melihat kembali foto-foto lama bersama Elang, mengenang masa-masa indah. Foto-foto saat mereka masih bahagia. Namun sebuah foto, membuatnya menatap lebih lama. Foto yang diambil hampir dua bulan yang lalu, saat mereka bertunangan. Ia baru menyadari, jika senyum Elang disana terlihat agak kaku. Matanya juga seperti menyiratkan kegelisahan. Jangan-jangan, mereka sudah lama berhubungan di belakangnya. Ah sial! kenapa ia baru menyadari soal itu.
Ia menutup galeri dengan dada bergemuruh. Matanya menatap blossom florist, ada kilat kemarahan disana.
Di seberang, Elang keluar, membawa sebuah buket yang lumayan besar, memasukkan ke dalam mobil pelanggan. Pandangannya menyapu jalanan.
Alisya cepat-cepat menunduk, bersembunyi di balik kemudi. Jantungnya berdegup kencang, takut Elang melihatnya. Ia memakai mobil rental agar tidak dikenali.
Setelah cukup lama, ia mengangkat kepala. Elang sudah masuk ke dalam. Ia menggigit bibir. Air mata yang dari tadi ia tahan, akhirnya jatuh satu persatu. Ia merasa dikhianati.
biarlah elang menebus kesalahan'a dgn seumur hidup menemani ilona, & smoga ilona iklhas
apa elang bener" mencintai ilona apa cm kasihan krn ingin menebus kesalahan masa lalu'a✌
ngeri✌pasti SGT SYOK🥺
nangis bener-bener dengan ketulusan & cinta elang yang bukan sekedar mau bertanggung jawab...
beri kesempatan elang untuk menceritakan kejadian 8 Th lalu ILona.. apalagi silikonnya waktu dulu tidak sama dengan elang yang sekarang...
semoga Harimu Luluh dengan ketulusan Cintamu pad elang yang akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya ILona...
Semua tidak lepas dari takdir.. begitupun pertemuanmu dengan elang... 😭😭😭💙💛💙😘😘😘
prihatin dengan hubungan yang tulus tapai dinhancurkan hanya gara² masa lalu yang sebenarnya tidak mungkin akan bisa di ulang apalagi kembal... 😥😥😥
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik