Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Tebal Rara
Setelah menyelesaikan salat, Raya melipat mukenanya dengan rapi. Hatinya masih terasa berat, tetapi setidaknya pikirannya sedikit lebih tenang setelah mencurahkan segala keresahan dalam doa.
Ia kemudian keluar dari kamar.
Perutnya mulai terasa lapar. Raya berniat turun ke dapur dan menyiapkan sarapan sebelum memulai aktivitasnya. Namun, baru beberapa langkah menuruni tangga, suara gaduh dari arah dapur membuat langkahnya terhenti.
Raya mengernyitkan kening.
‘Jangan-jangan yang di dapur, Rara.’
Ia melanjutkan langkahnya hingga sampai di lantai bawah. Suara peralatan dapur yang beradu semakin terdengar jelas.
Begitu tiba di depan dapur, langkah Raya kembali terhenti.
Ia berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Pandangannya tertuju pada punggung yang sangat dikenalnya.
Rara.
Wanita itu sedang berdiri di depan kompor.
Beberapa saat kemudian, Rara seolah menyadari keberadaan seseorang. Ia berbalik.
“Mbak Raya...”
Raya mengarahkan pandangannya pada wajan di atas kompor.
“Masak apa?” tanyanya dingin.
“Oh, ini...” Rara menunjuk wajan tersebut. “Rara masak nasi goreng.”
Raya melirik meja makan yang sudah dipenuhi beberapa peralatan.
“Hanya itu saja?”
“I-iya, Mbak.” Rara tampak sedikit gugup. “Oh, maaf, ya, Mbak. Rara masak untuk dua porsi. Rara takut kalau Mbak datang, makanan Rara malah dibuang.”
Raya tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa. Mbak akan makan di luar.” Ia mengangkat bahu. “Kalau begitu, habiskan saja, ya? Lagian, buat apa punya uang banyak kalau enggak untuk di nikmati sendiri?”
Raya hendak berbalik sembari tersenyum miring.
‘Bahkan suasana hatiku sudah hilang untuk memasak.’
Namun, baru beberapa langkah ia bergerak, suara Rara kembali terdengar.
“Mbak Raya, tunggu.”
Suara Rara membuatnya harus menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh.
“Katakan.”
“Mbak...” Rara terdengar ragu sejenak. “Bisa nggak belikan Rara kendaraan?”
Raya tak langsung menjawab. Ia hanya menunggu kelanjutan dari mulut wanita tak tahu malu itu.
“Mas Zevan nggak ada uang, Mbak,” jawab Rara.
Raya akhirnya menoleh.
“Kalau begitu, tunggu saja sampai Mas Zevan gajian.”
“Tapi Rara butuh secepatnya, Mbak. Yang bekas nggak apa-apa, Mbak. Kalau menunggu Mas Zevan gajian, akan lama.” Rara buru-buru melanjutkan. “Terus...” Ia berhenti sebentar. “Dosen bilang Rara juga harus punya laptop sendiri buat menyimpan skripsi.”
Raya terkekeh pelan.
Ia kemudian berbalik sepenuhnya hingga menghadap Rara.
“Kalau kamu sadar diri, kamu kerja, Ra. Jangan mengandalkan orang lain buat memenuhi keinginanmu.”
Rara menjawab cepat, “Tapi Rara sedang hamil, Mbak. Bukannya Mbak bilang Mbak akan bertanggung jawab?”
Raya terdiam sesaat. ‘Itu lagi andalannya.’
“Iya, aku masih ingat ucapanku dulu,” jawab Raya tenang. “Tapi sekarang kondisinya berbeda, Ra.”
Raya menarik napas sebelum melanjutkan.
“Sudah, ya. Kalau mau minta sesuatu, minta sama Mas Zevan. Aku nggak akan kasih apa yang kamu kebutuhanmu.”
Rara tampak hendak menyela, tetapi Raya lebih dahulu membalikkan tubuhnya.
“Kalau nggak bisa...” Raya berhenti sejenak, lalu menoleh sedikit. “Kerja.”
Setelah mengatakan itu, Raya kembali melangkah meninggalkan dapur.
Ia tidak ingin memperpanjang percakapan.
Tidak ingin kembali mendengar permintaan demi permintaan yang selama ini selalu ia penuhi.
Raya terus melangkah meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi. Ia melewati ruang tengah, kemudian membuka pintu depan dan berjalan menuju mobil yang terparkir di pelataran rumah.
. . .
Sesampainya di samping kendaraan, Raya membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia meletakkan tas di kursi sebelah, lalu menutup pintu.
Begitu berada di balik kemudi, Raya menyandarkan punggungnya pada jok. Ia mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya.
Permintaan Rara kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
Kendaraan.
Laptop.
Biaya kuliah.
Seolah-olah setelah semua yang terjadi, Rara masih menganggap Raya sebagai tempat untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Raya terkekeh hambar.
“Beginilah kalau hewan sudah dikasih tempat yang nyaman. Lupa dari mana jati dirinya dulu sebelum di pungut.”
Ia menggeleng pelan, lalu menatap lurus ke depan melalui kaca depan mobil.
Raya menghela napas sekali lagi. Ia kemudian memasukkan kunci dan menyalakan mesin.
Brum...
Suara mesin mobil memenuhi kabin.
Raya memastikan sabuk pengamannya terpasang, kemudian menginjak pedal gas secara perlahan.
Mobil pun bergerak meninggalkan pelataran rumah.
Raya tidak lagi menoleh ke belakang.
.
Kepergian Raya meninggalkan suasana hening di dapur yang hening.
Rara masih berdiri di tempatnya dengan kepala tertunduk. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh, sementara matanya mulai memburam ketika air mata memenuhi pelupuk mata.
Ia segera menarik napas panjang.
“Rara...”
Suara Zevan dari belakang membuat Rara tersentak kecil.
Ia segera mengusap pipinya, memastikan tidak ada air mata yang tersisa, lalu memaksakan senyum sebelum berbalik.
“Mas,” sapanya lembut. “Ayo makan malam dulu.”
Rara menyerok nasi goreng ke atas piring. Terlihat asap tipis masih mengepul, serta aroma khas nasi goreng tercium.
Ia lalu berjalan menuju meja makan dengan membawa dua porsi piring di tangannya.
“Raya belum turun, Ra?” tanya Zevan.
Rara tersenyum tipis. “Sudah, Mas.” jawab Rara lembut.
“Tapi kenapa nggak ada di meja makan bersama kita?”
"Oh, baru saja Mbak Raya pergi keluar.”
“Pergi ke mana Raya?” tanya Zevan.
“Kayaknya makan di luar.” Rara menunjuk meja makan. “Padahal Rara sudah masak tiga porsi untuk kita makan bertiga, tetapi Mbak Raya menolak dan milih buat makan di luar.”
“Nanti Mas tegur Mbak kamu,” ujar Zevan.
Rara segera menggeleng. “Nggak perlu, Mas. Biarkan saja. Lagian sekarang seleranya Mbak Raya sudah beda Mas.”
Ia kemudian mengambil salah satu piring berisi nasi goreng dan menggesernya ke hadapan Zevan.
“Mas, makan dulu keburu dingin.”
Zevan menarik kursi dan duduk. Rara ikut duduk di sebelahnya.
Beberapa saat mereka hanya terdiam. Rara memainkan ujung sendoknya sebelum akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.
“Mas...”
“Hm?”
“Boleh nggak Rara kerja?” tanya Rara penuh hati-hati.
Zevan menghentikan gerakan tangannya.
“Kamu mau kerja apa?”
“Apa saja, Mas.” Rara menatapnya. “Rara mau beli kendaraan buat ke kampus sama beli laptop.”
Zevan menghela napas pelan. “Kalau begitu, minta ke Raya saja, Ra.”
Rara lalu tersenyum tipis sambil menggeleng.
“Nggaklah, Mas. Rara takut merepotkan Mbak Raya. Apalagi Mbak Raya sudah bilang nggak mau tanggung Rara lagi.”
Rara menggenggam sendoknya lebih erat sembari menundukkan kepalanya. Namun ia berusaha mencuri pandang ke arah Zevan untuk sekadar melihat ekspresinya.
“Kamu ini, Ra. Kamu perhatian sekali.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Mas akan pinjam uang ke kantor. Katakan saja berapa harganya.”
Rara langsung mengangkat wajah. “Mas yakin?”
“Yakin, Ra.”
Mendengar jawaban itu, senyum Rara perlahan mengembang.
Ia kemudian meraih tubuh Zevan dan memeluknya erat.
“Terima kasih, Mas.”
Rara memejamkan mata sejenak dalam pelukan itu.