NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 KONFLIK DENGAN KROCO

Hari pertama perjalanan terasa seperti liburan.

Jalan tanah membentang lurus melewati padang rumput yang masih basah embun. Iyan berjalan di sampingku sambil bercerita tanpa henti: tentang bagaimana ia direkrut korps setelah tak sengaja menumbangkan seekor kroco dengan panci dapur, tentang Robert yang makan tiga porsi sarapan, tentang Dax yang katanya pernah menghilang di tengah rapat dan baru ditemukan dua jam kemudian tertidur di langit-langit.

"Oh ya...tadi kamu bilang kamu pernah latihan dengan robert dan gadamu patah tiga itu Kamu bohong apa tidak ?," kataku.

"tidak, demi, gadaku patah tiga," sumpahnya.

Vivi terbang berputar di antara kami, sesekali hinggap di bahu Iyan untuk mengoreksi ceritanya.

Aku tertawa lepas, dan untuk beberapa jam, aku hampir lupa bahwa langit di atas kami retak.

Menjelang tengah hari, kami tiba di tepi sungai lebar yang menjadi perbatasan wilayah Sendira. Airnya jernih dan mengalir tenang di antara bebatuan pipih. Iyan langsung menjatuhkan ranselnya dan merebahkan diri di rerumputan.

"Kita Istirahat dulu yuk," umumnya. "Kakiku rasanya sudah mau lepas."

Aku duduk di batu dekat air, membuka bekal dari Hana, dan baru menggigit sepotong roti ketika Vivi tiba-tiba berhenti di udara. Telinganya yang runcing bergerak-gerak.

"Kamu dengar itu tidak?"

Aku berhenti mengunyah.

Dari arah kanan, di balik deretan pohon rendah, terdengar teriakan samar. Bukan satu, tapi banyak. Disusul dentang logam dan suara parau yang kukenal: tawa kasar para kroco.

Aku sudah berdiri sebelum menyadarinya. "Iyan, kamu denger juga ?"

"Iya aku dengar." Ia melompat bangun, tangannya sudah menyambar sepasang gada di pinggang. Wajah santainya lenyap. "Itu bukan suara pasar."

"Ayo Ikut aku."

Kami berlari.

Desa itu kecil: belasan rumah kayu beratap jerami yang mengitari sebuah sumur tua. Dari atas bukit kecil di pinggirnya, kami melihat asap hitam mengepul dari salah satu lumbung. Warga berlarian ke segala arah sambil menggendong anak-anak mereka, dan di tengah lapangan desa, belasan kroco sedang menjarah gudang makanan.

Tapi mereka berbeda dari yang kulawan di kemah kemarin.

Kroco-kroco ini jauh lebih besar. Tingginya hampir sebahuku, tubuh mereka kekar berotot dengan kulit kelabu tebal seperti kulit badak. Di tangan mereka tergenggam kapak berat bergerigi dan pedang-pedang pendek berkarat. Salah satu dari mereka menendang pintu lumbung hingga hancur, sementara yang lain menyeret karung gandum ke arah gerobak.

"Mereka kayaknya bertubuh lebih besar," bisik Iyan.

"Mungkin karena makan lebih banyak," sahut Vivi dengan suara gemetar. "Atau karena yang ini bukan kroco biasa, melainkan kroco jenis baru kah ?"

"coba Arka, kamu hitung ada berapa?"

Aku menghitung cepat. "Sekitar dua belas. Mungkin lebih."

"Dua orang melawan dua belas ya...," gumam Iyan. Ia menarik napas panjang dan memutar gadanya.

"Baiklah, lumayan untuk hari pertama."

Aku menarik pedang dari punggung. "Ok jadi nanti Kamu ambil sisi kiri. Aku sisi kanan. Jangan sampai biarkan mereka mengepung kita."

"Ok dimengerti."

Kami baru akan menuruni bukit ketika salah satu kroco di tengah lapangan tiba-tiba menegakkan kepala. Mata kuningnya menatap tepat ke arah kami, dan lubang hidungnya mengembang seperti hewan yang mencium mangsa.

"GRAAAH!"

Teriakannya merobek udara. Seluruh kawanan menoleh serempak, dan sebelum aku sempat berkedip, dua belas pasang mata kuning menatap kami.

"Duh....mereka tahu," kataku.

"Ya Tentu tahu," balas Iyan. "Mereka itu kroco, bukan tuli."

Kawanan itu menerjang.

Kroco pertama sampai di hadapanku lebih cepat dari dugaan. Kapak raksasanya terayun dari atas.

TRANG!

Pedangku menahan bilah itu, dan seluruh lenganku bergetar sampai ke bahu. Tenaga makhluk ini hampir dua kali lipat kroco di kemah kemarin. Aku terdorong mundur satu langkah, tanah di bawah sepatuku tergores.

"Oi oi Kuat juga ya kroco satu ini..." desisku.

Kroco itu menyeringai, mengangkat kapaknya lagi. Aku menunduk, bilah kapak menyapu rambutku, lalu menusuk ke samping. Ujung pedangku menghantam rusuknya.

DENG!

Pedangku terpental seperti memukul batu. Kulitnya terlalu tebal.

"Hati hati iyan! Kulit mereka keras!"

"Aku tahu!" Dari sisi kiri, suara Iyan terdengar bersamaan dengan bunyi hantaman menggelegar. DUAKK! Gadanya menghantam kepala seekor kroco dan membuatnya terhuyung. "Jangan ditusuk, dihantam aja!"

Aku mengerti. Pedangku bukan senjata hantam, tapi aku masih bisa memakai berat tubuh. Kuputar langkah, kuayunkan bilah dari samping dengan seluruh tenaga pinggangku.

KLANG!

Tebasanku menghantam sisi kepala kroco itu, dan ia terhuyung dengan raungan marah. Percikan api menyembur dari titik benturan. Namun sebelum aku sempat menyerang lagi, dua kroco lain menerjang dari kanan, satu dengan pedang pendek bergerigi, satu lagi dengan kapak kecil di tiap tangan.

TRANG! TRANG! TRANG!

Tiga serangan beruntun menghujam pedangku. Aku menahan, menangkis, menahan lagi, sementara kakiku terus mundur. Pedang bergerigi itu menyerempet pipiku, meninggalkan garis perih. Kapak kecil menyambar dari bawah, dan aku melompat mundur setengah langkah sebelum bilahnya membelah lututku.

Jangan biarkan mereka mengitarimu.

Suara Cecilia terngiang. Aku berguling ke samping, menjauh dari lingkaran yang mulai menutup. Pedangku memotong udara dengan desing tajam, menghalau satu kroco yang mencoba menyelinap dari belakang.

"ARKA, DI SEBELAH KIRI!"

Teriakan Vivi membuatku menunduk refleks. Sebilah kapak menyapu tempat kepalaku tadi, dan BRAKK!, menghantam batang pohon di belakangku hingga serpihan kayu beterbangan.

Aku memanfaatkan celah itu. Pedangku menyabet dari bawah, menghantam siku kroco yang sedang mencabut kapaknya. Ia meraung kesakitan dan melepaskan genggaman. Satu tendangan keras ke dada mendorongnya jatuh terlentang menimpa kawannya.

"Ok dua tumbang sama aku!" teriakku.

"Aku sudah lima!" balas Iyan.

Kulirik sekilas. Iyan bertarung seperti badai kecil. Sepasang gadanya berputar tanpa jeda, menghantam, menangkis, dan menghantam lagi. DUAKK! BUKK! KLANG! Seekor kroco terlempar ke dinding lumbung, lalu yang lain jatuh berlutut setelah gada menghantam lututnya. Tapi wajah Iyan mulai berkeringat, dan napasnya memburu.

"Kamu lambat, Arka!" teriaknya sambil menepis kapak dengan sebelah gada.

"Aku cuma lagi menghitung doang!"

"Hitungnya belakangan aja sih!"

Tiga kroco menyerbuku sekaligus. Aku menahan satu kapak dengan bilah, menendang kroco kedua, lalu memutar tubuh menghindari pedang pendek yang menusuk dari belakang. Bilah itu menyobek jubahku, meninggalkan goresan dangkal di punggung.

Panas menyengat. Aku menggertakkan gigi.

"Mereka tidak akan berhenti," gumamku pada diri sendiri.

Aku menarik napas dalam-dalam. Dalam benakku, suara guruku di halaman latihan berbisik: Tubuh bergerak, pikiran tenang. Aku melangkah maju, tidak lagi menahan serangan, tapi membaca arah ayunan sebelum bilahnya turun.

Kapak pertama turun dari kiri. Aku merunduk. WUSSH! Bilah itu melewati rambutku. Tanganku mengayun ke atas, dan pedangku membelah sendi lengan kroco itu. Raungannya pecah di udara.

Kapak kedua menyambar dari kanan. Aku memiringkan tubuh, membiarkan bilahnya lewat, lalu menghantamkan siku ke wajahnya. BUKK! Ia terhuyung. Satu tebasan menyilang membuatnya ambruk.

Pedang pendek menusuk dari belakang. Aku memutar pedangku dalam lingkaran lebar, jurus pertahanan yang dulu tak berguna di lembah batu hitam. TRANG! Bilah pendek itu terpental, dan lawanku kehilangan keseimbangan. Satu tendangan memutar menyelesaikannya.

"Ok tujuh tumbang!" teriakku, napas terengah.

"Aku delapan!" balas Iyan. "Sembilan! Ah, sepuluh!"

Hanya tersisa dua.

Dua kroco terbesar berdiri di tengah lapangan, lebih tinggi dan lebih lebar dari yang lain. Salah satunya membawa kapak raksasa berkarat yang tampak lebih berat dari tubuh Iyan. Yang lain memegang dua pedang bergerigi, bilahnya penuh bercak darah kering. Keduanya menatapku dengan geraman rendah, tak lagi tergesa.

"Ok, sekarang tinggal pemimpin mereka," bisik Iyan, berdiri di sampingku dengan napas tersengal. Pelipisnya berdarah, dan satu gadanya retak.

"Kamu masih kuat kan?"

"Tentu aja, Aku kan lulus pelatihan dengan nilai rata-rata," jawabnya dengan bangga sambil menyeka darah. "Kuat atau tidaknya, aku harus kuat."

Aku nyaris tersenyum. "Kalo gitu ayo, kita terus lawan dengan sisa kekuatan kita"

"Setuju."

Kami melangkah bersamaan.

Kroco berkapak raksasa menyerbu Iyan lebih dulu. Kapaknya turun seperti palu penghancur.

DUUUARRR!

Iyan menyilangkan kedua gadanya untuk menahan, dan tanah di bawah kakinya amblas beberapa jari. Wajahnya meringis, gigi terkatup, otot lengannya menegang seperti tali busur.

"Berat... sekali..." desisnya.

"BERTAHANLAH IYAN...!" teriakku.

Aku sendiri baru saja menahan kedua pedang bergerigi yang menyambar bersamaan. KLANG! KLANG! Percikan api meloncat dari tiap benturan. Kroco itu mengayunkan bilahnya bergantian dengan kecepatan tak masuk akal, kiri, kanan, kiri, kanan, dan setiap ayunan menggetarkan lenganku sampai ke tulang.

Aku mundur, mundur, dan mundur lagi, sampai punggungku menyentuh dinding lumbung yang terbakar. Panasnya menjilat tengkukku.

Kroco itu menyeringai, mengangkat kedua pedangnya tinggi untuk tebasan penghabisan.

Itu kesalahannya.

Aku tidak menahan. Aku menyelinap ke bawah lengannya, ke dalam jangkauan yang membuat pedang panjangnya tak berguna. Satu tebasan dari bawah ke atas membelah pergelangan tangannya.

CRAKK!

Pedangnya terlepas dan jatuh berdenting. Ia meraung, mencoba meninju, tapi aku sudah berada di belakangnya. Pangkal pedangku menghantam tengkuknya sekuat tenaga.

BUUKK!

Ia ambruk seperti pohon tumbang.

"IYAN!"

Kupalingkan wajah. Iyan terdesak ke tanah, satu lutut menyentuh debu, kedua gadanya masih menahan kapak raksasa yang kini hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Matanya terpejam rapat, rahangnya bergetar.

Aku melompat. Pedangku menghantam gagang kapak dari samping.

TRANGG!

Kapak itu terpental ke kiri, dan Iyan terjatuh ke depan dengan napas memburu. Kroco raksasa itu menoleh padaku dengan geraman marah, lalu mengayunkan tinju sebesar kepala manusia.

Aku merunduk, tinju itu menyambar angin. Di saat yang sama, Iyan berguling bangun dan menghantamkan kedua gadanya ke lututnya.

DUAKK!

Kroco itu berlutut dengan raungan kesakitan. Dan di detik itu, aku melompat, menjadikan pundaknya sebagai pijakan, dan mengayunkan pedangku dari atas dengan seluruh tenaga tubuhku.

KLAAANG!

Bilahku menghantam pelipisnya. Kroco raksasa itu terdiam, matanya berputar, lalu roboh menghantam tanah dengan debuman yang mengguncang seisi lapangan.

Sunyi.

Hanya suara api yang berderak di lumbung dan napas kami berdua yang terengah.

"Apakah kita... menang?" tanya Iyan, masih berlutut di tanah dengan wajah penuh debu.

"Kurasa begitu."

Ia menatap sekeliling pada belasan kroco yang tergeletak, lalu tertawa pendek, tawa yang terdengar setengah lelah dan setengah tak percaya. "huh, rasanya aku mau pingsan."

Dari atas lumbung yang separuh hangus, Vivi terbang turun dengan wajah pucat tapi mata berbinar. "Kalian hebat! Aku tadi berteriak tiga kali, tapi kalian tidak mendengar satupun!"

"Kami mendengar semuanya kok" kataku sambil menyarungkan pedang. "Terima kasih ya vivi."

Dari balik pintu-pintu rumah, satu per satu warga desa mulai keluar. Mereka menatap tubuh-tubuh kroco, lalu menatap kami, lalu menatap satu sama lain. Seorang anak kecil bersorak lebih dulu, disusul yang lain, hingga seluruh desa dipenuhi sorak sorai dan tangis lega.

"Mereka akhirnya pergi! Mereka kalah!"

"Persediaan kita selamat!"

"Terima kasih, para pengembara!"

Aku tertegun. Aku belum terbiasa dipanggil begitu.

Seorang kakek berjanggut putih melangkah maju dengan tongkat kayunya. Punggungnya bungkuk, tapi matanya jernih dan hangat. "Oh ya...Aku kepala desa ini. Kalian menyelamatkan lumbung kami, dan itu berarti menyelamatkan musim dingin kami."

"Kami hanya kebetulan lewat aja kok dan lagi istirahat disungai ujung," kataku.

"wahahaha...Kebetulan yang Tuhan kirim." Ia memberi isyarat pada beberapa warga, yang segera datang membawa dua buntalan besar. "Ini ada perbekalan. Roti, daging asap, buah kering, dan beberapa ramuan penyembuh. Bukan balasan yang pantas sih, tapi hanya ini yang kami punya, terimalah ini sebagai ucapan terima kasih."

Aku menerimanya dengan kedua tangan. Buntalan itu hangat dan wangi. "Wah...Ini lebih dari cukup."

Iyan sudah membuka bagiannya dan menggigit sepotong roti. "Hmmm....Ini....ini enak sekali," gumamnya dengan mulut penuh.

Lalu Kami duduk di bawah pohon rindang di pinggir desa, makan bersama para warga yang tak henti menuangkan teh hangat. Anak-anak mengerumuni Vivi yang sombong menceritakan "pertarungannya". Iyan menjawab pertanyaan anak-anak soal gadanya yang retak, dan aku duduk diam, menikmati rasa hangat yang jarang kurasakan.

Selesai makan, kami berpamitan. Kepala desa menggenggam tanganku erat. "Kapan kapan kalau suatu hari kalian butuh sesuatu, desa kecil ini akan selalu ada."

"Ya...Kami akan ingat selalu," kataku.

Kami kembali ke jalan setapak menuju barat. Matahari mulai condong, dan jauh di cakrawala, hutan hijau Artheria baru tampak sebagai garis samar. Iyan berjalan sambil memijat bahunya yang pegal, Vivi tertidur di bahuku dengan perut kenyang.

kini kami akan kembali meneruskan perjalanan kami menuju kota artheria.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!