NovelToon NovelToon
Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.

Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.

"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.

"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.

Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 Misi Berhasil

Mendengar penuturan Arjuna tentang  infeksi bakteri yang mengakibatkan anak-anak serta orang dewasa terkena serangan demam masal.

Membuat Sagara fokus dengan penemuan itu. Walau bagaimanapun dirinya merasa bertanggung jawab dengan kejadian yang menimpa wilayah Poskotisnya. 

“Apakah bisa dilakukan pengecekan sampel air sungai yang dikonsumsi oleh warga, dok? Untuk lebih pasti dibandingkan analisis data.” 

“Tentu saja bisa Kapten. Justru hal itu yang akan saya lakukan,” balas Arjuna. 

“Jika mendapatkan izin. Kami ingin melakukan pengecekan sampel air sungai hari ini juga.” 

“Baik, akan saya siapkan segala keperluan menuju sungai hari ini juga.” 

Sagara beserta tim langsung menyiapkan segala kebutuhan menuju sungai. Setelah semua kebutuhan sudah masuk ke mobil. 

Akhirnya tim sidak dengan ditemani tim Sagara dan juga Alunar menuju aliran sungai.

“Pakai sabuk ini agar tidak kedodoran!” perintah Sagara sambil menyodorkan sabuk yang sejak tadi dirinya pegang. 

Ya, karena fokus tentang kejadian menimpa masyarakat serta menyiapkan akomodasi. Membuat Sagara mondar-mandir sambil menggenggam sabuk miliknya untuk mengikat kemeja kebesaran Alunar 

“Sepertinya tidak perlu, Kapten. Karena sudah memakai rompi,” tolak Alunar saat akan menaiki mobil taktis menuju desa terjadinya wabah. 

“Rompi itu tidak selalu kamu gunakan saat bertugas, dokter Alunar. Pakailah!” 

“Baik.” 

Karena malas berdebat tidak penting. Alunar mengambil sabuk dari tangan Sagara untuk dirinya kenakan. Interaksi manis itu tidak lepas dari pandangan Arjuna yang mulai sejak tadi terus menatap kedekatan mereka berdua. 

“Arisandhi!” 

“Siap, Ndan.” 

“Apakah semua keperluan untuk menuju desa tempat wabah sudah siap?” 

“Sudah siap, Ndan. Satu mobil taktis dan empat motor trail.” 

“Titip markas dan juga barak kesehatan. Jika ada sesuatu langsung hubungiku.” 

“Sial, Ndan.” 

Dengan dipimpin langsung Sagara. Tim sidak dan juga Alunar menuju ke tempat wabah. 

Namun, saat Alunar akan masuk ke mobil taktis yang membawa tim sidak. Sagara dengan cepat menarik tas Alunar. 

“Mau kemana?” 

“Masuk ke mobil. Bukankah kita harus menuju kesana sekarang juga?” 

“Benar, tapi kamu naik motor trail bersamaku. Di dalam mobil sudah ada Oka yang mendampingi tim sidak.” 

“Baiklah,” jawab Alunar pasrah karena untuk saat ini fokusnya untuk masyarakat sekitar. 

“Agar terbiasa dengan medan pedalaman Kalimantan.” 

Apapun dilakuin Sagara untuk menguatkan segala tindakannya. Padahal yang sebenarnya dirinya tidak bisa melihat Alunar dengan Arjuna. 

“Pakai helm!” 

Tanpa menunggu persetujuan dari Alunar. Sagara langsung memakaikan helm dokter cantik pencuri hatinya. Pemandangan manis yang mampu mengalihkan perhatian Arjuna di dalam mobil. 

“Lihat apa, dok?” tanya Oka mengalihkan perhatian Arjuna dari kedekatan Sagara dan Alunar. 

Seperti biasa hanya senyuman yang diberikan Arjuna. Sebuah tindakan manis yang justru membuat orang mengalami kesulitan menilai seseorang. 

“Apakah kita langsung berangkat?”’

“Benar, dok.” 

Mobil taktis yang membawa tim sidak dengan dikawal motor trail sudah mulai berangkat menuju desa terjadinya wabah. Dari dalam mobil, lagi-lagi Oka menangkap Arjuna yang terus memperhatikan Sagara dan Alunar naik motor trail di depan mobil mereka. 

Jika Sagara meluapkan rasa cemburu dengan marah-marah. Tapi, hal sebaliknya yang ditunjuk oleh Arjuna. 

Setelah melewati jalanan terjal, perkebunan, dan juga hutan. Akhirnya tim sidak sampai juga di desa terjadinya wabah.

“Apakah masyarakat masih mengalami demam?” tanya ketua sidak setibanya di desa. 

“Masih, demam ringan. Bisa reda dengan menggunakan obat. Karena kami sudah memberikan vaksin untuk melakukan pencegahan,” jawab Alunar. 

“Cepat juga ternyata upaya preventif di kesatuan Anda, Ndan,” puji ketua sidak sambil berlalu melewati Sagara. 

“Antarkan kami ke sungai sumber air mereka!” 

“Siap, dok. Tapi, kita tidak bisa menggunakan kendaraan untuk ke tempat tersebut.” 

“Tidak masalah.” 

“Berarti tim harus mengganti sepatu PDL terlebih dahulu, dok. Karena medan yang akan kita lewati cukup curam dan ekstrim.” 

“Siap, Ndan. Kami akan mengikuti saran Anda.” 

“Oka! Siapkan perlengkapan untuk tim sidak.” 

“Siap, Ndan.” 

Oka bersama tim langsung mengeluarkan sepatu dan juga rompi untuk dikenakan tim sidak. Tidak ingin tujuan datang untuk melakukan pemeriksaan sampel justru berujung celaka. 

Kata tidak masalah yang diucapkan oleh ketua tim sidak. Ternyata hanya sebatas ucapan manis di mulut saja. Menembus hutan pedalaman. Tidak seringan berjalan di lapangan kosong. 

Baru saja masuk melalui perkebunan dan menembus hutan. Ternyata suara kembang kempis terdengar sangat jelas dari mulut mereka. 

“Apakah masih jauh, Ndan?” tanya ketua tim untuk kesekian kalinya. 

“Lumayan, dok. Apakah dokter masih kuat untuk menuju ke sana? Atau kami yang akan membawakan sampel air sungai untuk diteliti?” saran Sagara tidak tega. 

Dari keempat tim sidak. Hanya Arjuna yang paling muda dan bertenaga. Sisanya berusia paruh baya yang sebentar lagi masuk lanjut usia. 

“Ide bagus, Ndan. Dokter Arjuna yang akan ikut untuk memastikan keaslian sampel.” 

Karena ketiga tim sidak mulai menyerah dengan Medan yang dilewati. Jadi, Sagara memutuskan untuk membagi tim menjadi dua. Satu kembali ke desa dan satunya lagi menunggu ke sumber mata air. 

“Ikutlah bersama Oka, dokter Alunar! Biarkan aku yang menemani dokter Arjuna mengambil sampel sumber mata air,” perintah tegas Sagara pada Alunar yang dijawab gelengan kepala. 

“Tapi saya ingin ikut, Kapten,” jawab Alunar yakin. 

Masuk ke pedalaman hutan pada malam hari sudah ia lakukan. Jadi, untuk keadaan sekarang jelas tidaklah sulit.

“Sebagai seorang dokter penanggung jawab. Jelas saya yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa pasien.” 

“Baiklah, berarti saya akan menambah tim.” 

Dengan ditemani empat orang tim dari Sagara. Kini Alunar dan juga Arjuna kembali melanjutkan perjalanan. 

Sesuai dengan ucapan Sagara. Jika perjalanan ditempuh lebih dari satu jam untuk sampai ke tempat tujuan. Hingga akhirnya tibalah ke sumber air yang dicurigai sumber terjadinya infeksi bakteri. 

“Untuk yang dikonsumsi penduduk berada di bagian bawah,” jelas Sagara kepada Arjuna sambil menunjuk aliran sungai. 

“Jadi, jika dokter ingin melakukan pemeriksaan sampel pembanding bisa diambil melalui tiga titik sumber. Tim kami akan membantu.” 

“Siap, terima kasih banyak, Kapten.” 

Jika Sagara dan Arjuna lebih fokus dengan sumber air yang akan diteliti. Lain halnya dengan Alunar. Dirinya terus mengawasi hutan sekitar sungai tempat dirinya berada. 

“Kalau tidak salah keseluruhan rombongan ini ada tujuh orang. Aku, Kapten Sagara, Mas Arjuna, dan 4 anggota. Kenapa tadi aku sempat melihat delapan?” gumam Alunar bertanya-tanya. 

“Apa aku sedang menghayal karena kelelahan? Aku yakin tadi ada delapan. Apa yang aku lihat penduduk pedalaman?” lanjut Alunar sambil mengawasi sekitar. 

“Aku rasa tidak. Karena di rombongan ini yang memakai pakaian sipil hanya aku dan Mas Arjuna. Apa dia juga menggunakan 

Karena keyakinan terlalu kuat dirasakan Alunar. Membuat Alunar mencari jawaban dari pertanyaannya. Hingga langkah kakinya terhenti saat berada di depan aliran sungai yang deras karena hujan beberapa hari terakhir. 

“Bahaya juga ini kalau sampai tergelincir terus jatuh. Aku harus hati-hati karena tidak bisa berenang,” gumam Alunar yang membuat sosok misterius menyunggingkan senyumnya dari balik semak-semak. 

Mata sosok misterius itu mulai mengawasi sekitar. Menatap pergerakan tim Sagara yang masih dalam jarak dekat satu sama lain. Hingga suara milik Sagara yang kencang mengalihkan pandangannya. 

“Dokter Alunar! Jangan jauh-jauh dari anggota lain! Tetap berada di tempat sama!” 

“Siap, Kapten!” 

“Untuk kalian jaga dan selalu awasi dokter Alunar!” 

“Siap, Ndan.” 

Karena sumber air yang tinggi terlalu berbahaya untuk Alunar. Maka, Sagara lah yang memutuskan untuk membantu Arjuna naik mengambil sampel air. 

Kepergian Sagara dan Arjuna menjauh dari Alunar inilah. Melebarkan senyum sosok misterius itu. 

“Inilah waktunya,” gumam sosok misterius mengawasi sekitar. 

“Dokter Alunar ingin pergi kemana?” tanya seorang prajurit saat melihat Alunar menjauh. 

“Mengambil sampel air bagian bawah.” 

“Biarkan saya saja, dok. Tolong berikan gelas sampel.” 

“Apakah tidak merepotkan Anda?” 

“Sama sekali tidak, dok. Justru jika kenapa-kenapa dengan Anda, kami bisa kena omel,” seloroh prajurit menggoda Alunar yang kini memalingkan wajahnya menyembunyikan wajah merahnya. 

“Terima kasih banyak. Ini gelasnya.” 

“Siap, dok.” 

Setelah kepergian salah seorang prajurit. Kini, di tempat tersebut Alunar hanya berdua dengan seorang prajurit. Tentu hal ini cukup mudah untuk memuluskan rencananya. 

Ciiit… ciiit. 

“Suara apa itu?” gumam Alunar mendengar suara hewan tercekik. 

Alunar berdiri mencari sumber suara. Matanya mengawasi sekitar hutan tempat dirinya berdiri. Jiwa penolongnya benar-benar diuji saat ini. 

“Anda ingin pergi kemana, dok?” 

“Sepertinya ada hewan butuh pertolongan, Sersan,” jawab Alunar khawatir. 

“Anda tidak diizinkan menjauh dari tempat ini, dokter. Tolong kerjasamanya.” 

Ciiiit….! 

Bukannya mereda suara mendecit hewan. Justru semakin kencang. Tentu membuat Alunar semakin tidak tenang. 

“Sepertinya saya harus menyelamatkan hewan itu, Sersan. Mendapatkan izin atau tidak.” 

Alunar dengan sangat hati-hati menyeberang batu kali yang licin. Mencari sumber hewan yang membutuhkan pertolongan. 

“Dokter Alunar jangan kemana-mana! Biarkan saya saja yang mencari, dok.” 

“Terima kasih banyak, Sersan!” 

Prajurit satu-satunya yang menjaga Alunar kini sudah tidak ada. Tinggal Alunar berdiri sendirian yang saat ini menjadi targetnya. 

“Selamat tinggal, putri Jenderal Faza. Kabar tenggelam kamu akan memenuhi surat kabar esok hari.” 

Dengan niat jahat memenuhi pikiran. Laki-laki misterius itu mendekati Alunar dengan tali di tangannya. 

Alunar yang merasakan keberadaan seseorang dari belakang. Langsung membalikkan tubuhnya. Dengan kemampuan ilmu bela diri yang dimiliki. Alunar langsung mencekal tangan sosok misterius itu. 

“SIAPA KAMU?” 

BUGH! 

Serangan demi serangan diberikan Alunar. Namun, sialnya batu untuk pijakan licin. Membuat tubuh Alunar sedikit goyah hingga terjungkal jatuh ke sungai dalam. 

Byur…!

“Tolong!”

Alunar yang tidak bisa berenang mencoba meraih apapun. Bukannya tangannya berhasil meraih apapun untuk pegangan. Justru kakinya terjerat tumbuhan rambat yang menarik tubuhnya semakin dalam. 

Dengan senyum di sudut bibirnya. Sosok laki-laki misterius itu pergi meninggalkan sungai yang alirannya kencang. 

“Misi berhasil dilaksanakan. Ternyata misi kali ini sangatlah mudah,” gumam laki-laki misterius itu pergi meninggalkan tempat kejadian perkara. Pergi menjauh sebelum kedatangan pasukan gabungan TNI-POLRI maupun tim evakuasi. 

1
ika
dredeg aku....
syora
alhamdulillah alunan slamat
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
Danny Muliawati
jangan terlalu benci nanti cinta loh 😜
Danny Muliawati
pasti jodoh ini mah 😄
ika
who is?
musuh siapa ini?
ika
akhir nya update juga...
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
Cichio23: siap kakak
total 1 replies
ika
hahaha....

kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
ika
ga sabar nunggu mereka jadian 🤭🤭🤭
ika
jreng jreng jreng....

silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
syora
benci bd tipis sm cinta
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
ika
wes ta lah ...
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
syora: setujuuuuu pkai👍👍👍👍👍tar klau alunan bnr" bnci blik
habis dah saga
total 1 replies
ika
lanjut kan saja Sagara...
mpe kpn kamu seperti itu???
syora
setuju posisi blh kapten tp klau nggak bs profesional buat apa
Fatimah Zubaedah
duh Sagara...Awas nanti jatuh cinta,cinta kepada alunar
ika
ayahmu yg jahat Sagara, kamu ga tau kan cerita nya?
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
Cichio23: Masa sih, Kak? Othor loh belum tahu🤭😄
total 1 replies
syora
padahal kamu blm tahu almarhum ayah dl seperti apa
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
ika
tegang cuy....
Fatimah Zubaedah
tahan nafas thorr bacanya😄
syora
aduhhh kapten saga jgn trlalu menuruti ego
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi
ika
ngeri ya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!