Di Roma, satu nama diucapkan dengan bisikan dan rasa takut: Il Macellaio. Matteo Vitalle, Don 'Ndrangheta yang berdarah dingin, sudah lama mengubur hatinya, sejak perempuan yang dicintainya lenyap tanpa jejak sembilan tahun silam.
Ribuan kilometer jauhnya, di sudut kumuh sebuah kota, Ágata berjuang mati-matian demi satu hal: mengumpulkan biaya operasi yang akan mengembalikan penglihatan putra kecilnya yang buta sejak lahir. Terdesak ke tepi jurang, ia mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya, menjual diri kepada seorang pria kaya raya. Yang tak ia duga, klien pertamanya adalah hantu dari masa lalunya sendiri, sang Don yang paling ia takuti.
Satu malam itu membuka kembali luka lama, cinta yang membara, dan sebuah rahasia yang bisa meruntuhkan sebuah imperium: bocah cerdik berbola mata dua warna itu adalah darah daging Sang Jagal.
Namun bayang-bayang masa lalu tak pernah benar-benar mati. Pengkhianat dalam keluarga, perintah pembunuhan yang tak kunjung padam, dan seorang musuh yang bersembunyi di antara orang-orang terdekat, semuanya mengintai. Untuk melindungi perempuan dan anak yang nyaris direnggut takdir darinya, Matteo siap menjungkirbalikkan dunia dan membakar siapa pun yang berani menghalangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Darah
Sebelum Lorenzo sempat menggandeng tangan Pietro untuk berjalan menuju mobil, bocah itu tiba-tiba berhenti di tengah lorong. Ia memalingkan wajah ke arah tempat ia tahu Matteo berada, memiringkan kepala seolah memutar ulang setiap pecahan detik serangan di gelateria tadi.
"Gigante… penembaknya tidak berada dekat," ujar Pietro, suaranya berubah menjadi nada analitis, dingin, dan sangat presisi untuk anak berusia sembilan tahun.
Matteo, yang sudah bersiap kembali ke pintu pusat bedah, terpaku di tempat dan menatap putranya.
"Apa katamu tadi, Pietro?"
"Suara tembakannya… bukan senjata biasa," jelas bocah itu, meraba udara dengan jari-jarinya sambil menggambar ulang adegan itu di benaknya. "Ada thwip peredam, tapi gema keringnya dan jeda antara letupan dengan benturan di cangkir Mama hampir setengah detik. Penembaknya berada setidaknya sekitar lima ratus meter jauhnya."
Lorenzo dan Marco saling berpandangan, tercengang. Matteo melangkah mundur dua langkah, lalu berlutut agar sejajar dengan bocah itu.
"Lanjutkan, Nak," pinta Matteo, terkesan.
"Kalibernya… dari benturan pada struktur batu di belakang Mama dan siulan angin, itu tembakan berkaliber besar. Kaliber .50 atau .338 Lapua Magnum. Kalau ada gedung tinggi dengan pandangan bebas ke alun-alun, sekitar lima ratus meter atau satu kilometer dari sana… persis dari situlah tembakan itu berasal."
Lorong rumah sakit itu jatuh dalam keheningan total. Marco terbelalak, sementara Lorenzo membuka mulut tanpa tahu harus berkata apa. Itu bukan deduksi biasa; itu adalah pembacaan sempurna seorang ahli balistik.
Matteo meletakkan kedua tangannya yang berat di bahu putranya, menatap wajah mungil yang tertutup kacamata gelap itu.
"Pietro… bagaimana kau bisa tahu suara senjata? Bagaimana kau tahu soal kaliber dan jarak?"
Pietro mengangkat bahu kecil, menunduk ke lantai.
"Aku suka senjata. Karena aku tidak bisa melihat, aku sering mendengarkan video di YouTube tentang kelas menembak, uji kaliber, dan fisika balistik. Aku hafal suara hampir semua senapan dan pistol. Mama tidak suka… dia selalu menyuruhku mematikan video-video itu karena katanya itu bukan urusan anak-anak."
Senyum penuh kebanggaan sekaligus kekaguman muncul di sudut bibir Matteo, berbaur dengan kepedihan hari itu. Sang Don menyangga dagu bocah itu dengan lembut.
"Ibumu berusaha melindungimu dari duniaku, Nak… tapi ini tidak diajarkan di sekolah. Ini ada di dalam darahmu," ujar Matteo, suaranya yang berat sarat keyakinan. "Kau suka pedang, suka senjata, memahami strategi bahkan tanpa perlu melihat. Darah 'Ndrangheta mengalir di nadimu, Pietro. Kau seorang Vitalle."
Pietro menyerap kata-kata ayahnya, merasakan secercah keteguhan dan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Sekarang pergilah bersama Om Lorenzo dan Marco," Matteo mengakhiri sambil bangkit berdiri. "Om Marco-mu akan memakai jarak yang tadi kauhitung untuk menemukan gedung tempat bajingan itu menembak."
Marco mengangguk kepada bocah itu, jelas terkesan sekaligus malu karena telah gagal di hadapan anak yang begitu luar biasa.
"Bocah ini memberi koordinat yang tepat, aku akan memerintahkan tim menyisir semua gedung dalam radius seribu meter sekarang juga."
Pietro menggenggam tangan Lorenzo dengan lebih tenang kali ini, tetapi sebelum melangkah, ia berkata lantang kepada ayahnya.
"Telepon aku begitu Mama sadar, Gigante."
"Pasti, jagoanku, aku janji."
Perjalanan kembali ke mansion berlangsung dalam sunyi. Pietro duduk di bangku belakang SUV lapis baja, meringkuk di samping Lorenzo. Ia mendekap tongkat yang terlipat ke dadanya dan menyandarkan kepala ke jendela, mendengarkan deru mesin sambil mencerna semua yang telah terjadi.
"Sebentar lagi kita sampai, Pietro," kata Lorenzo sambil melirik lewat kaca spion dalam. "Kau sangat berani hari ini di rumah sakit tadi."
"Om Lorenzo…" Pietro berbicara pelan, tanpa bergerak. "Mamaku akan baik-baik saja, kan? Gigante tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya, kan?"
Lorenzo mengembuskan napas dalam, merasakan beratnya tanggung jawab di pundaknya.
"Ayahmu adalah pria terkuat yang kukenal, Nak. Dia tidak akan meninggalkan rumah sakit itu sampai Ágata selamat. Dan aku di sini untuk memastikan tak seorang pun bisa mendekatimu."
Sementara itu, di sisi lain kota Roma, Marco mengikuti persis koordinat yang diberikan bocah itu. Ia dan tim beranggotakan empat prajurit pengawal elite menyerbu puncak gedung apartemen yang terletak tepat lima ratus meter dari Piazza Navona, satu-satunya gedung setinggi itu yang memiliki garis pandang sempurna ke meja tempat keluarga itu menikmati gelato.
Angin kencang di teras mengacak-acak rambut Marco. Ia berjalan perlahan menyusuri lantai beton, sarung tangan kulit sudah terpasang, matanya mencermati lantai dengan saksama. Di dekat tembok pengaman, sesuatu berkilau di bawah cahaya matahari sore.
Marco berlutut dan memungut benda logam yang masih hangat itu: sebuah selongsong bekas tembakan kaliber .338 Lapua Magnum.
Ia mendekatkan selongsong logam itu ke matanya untuk mengamati ukiran di bagian dasar culot. Ketika ia melihat huruf-huruf kecil yang dicetak pada kuningannya, darah Marco membeku.
NG-ITALY-338-V
"Maledetto…" geram Marco, mengepalkan tinju di sekeliling selongsong itu begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.
Penomoran itu berasal dari satu lot eksklusif. Amunisi itu tidak dibeli di pasar gelap; ia keluar langsung dari gudang senjata bawah tanah 'Ndrangheta. Konfirmasinya ada di situ: penembak itu bukan hanya menggunakan meja Matteo di markas untuk mengeluarkan perintah, tetapi juga menggunakan gudang senjata keluarga itu sendiri untuk mencoba menuntaskan tugasnya.
Dengan dada terbakar amarah dan rasa bersalah karena gagal di posnya mencekik tenggorokannya, Marco turun dengan lift dan keluar lewat pintu belakang gedung, menuju sebuah gang sempit yang kotor.
Ia berjalan ke arah mobil pengawalan, tetapi mendadak berhenti saat melewati sebuah tong sampah logam besar.
Sebuah suara teredam menyusup di tengah kebisingan lalu lintas. Suara meong lemah? Tangisan?
Marco mengernyitkan alis dan melangkah mundur dua langkah. Di dalam kontainer sampah itu, sebuah kantong plastik hitam tebal bergerak-gerak.
"Apa-apaan ini…" gumam Marco.
Ia mengulurkan tangan, menarik kantong itu, dan meletakkannya di atas kap mobil. Dengan ujung pisau lipat, ia merobek plastik itu dengan hati-hati. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Di dalamnya, terbungkus kain lusuh berlumur darah kering, terbaring seorang bayi perempuan yang baru lahir. Tali pusarnya bahkan belum dipotong dengan benar; ia diikat secara ngawur dengan seutas benang. Bayi itu membiru kedinginan, mengembuskan napas-napas kecil yang lemah.
"Ya Tuhan… monster macam apa yang tega melakukan hal seperti ini?!" umpat Marco, dihantam gelombang kemarahan yang tak terkendali.
Ia mengangkat bayi perempuan itu dengan panik, menarik mantelnya untuk menutupi tubuh mungil yang membeku. Saat membetulkan celah kain untuk menghangatkan kaki-kaki kecil bayi itu, pandangan Marco jatuh ke selangkangan si bayi.
Di selangkangan kiri bayi itu, tercetak jelas sebuah tanda lahir yang sempurna, berwarna cokelat susu. Marco terpaku di tengah trotoar. Matanya terbelalak dalam keterkejutan total.
Itu bukan noda sembarangan. Itu adalah tanda genetik turun-temurun yang hanya dibawa oleh keturunan langsung dari persekutuan garis darah Vitalle dan Wisbech. Tanda yang sama yang dibawa Matteo dan Pietro.
Bayi di dalam sampah itu bukan orang asing. Ia seorang Vitalle.
"Tidak… ini tidak mungkin benar…" gumam Marco, jantungnya berdegup keras menghantam tulang rusuk saat ia mendekap bayi perempuan itu ke dadanya. "Anak siapa ini?!"
Tanpa membuang satu detik lagi, Marco berlari masuk ke mobil dengan bayi dalam gendongan dan selongsong tembakan di sakunya, memacu kendaraan membelah jalanan Roma menuju rumah sakit organisasi.