Leonardo Torricelli adalah bos mafia paling ditakuti di seluruh Italia—dingin, berkuasa, dan tak pernah menunjukkan wajahnya pada siapa pun. Ia sudah punya istri dari pernikahan yang dipaksakan, dan sederet wanita yang datang lalu ia campakkan. Cinta bukan sesuatu yang ada dalam kamusnya.
Sampai suatu malam ia melihat Ayla.
Gadis lugu berdarah Italia itu hanya membantu di bar milik ayahnya sebelum kembali ke Kanada untuk mengejar mimpinya menjadi seorang guru. Ia tak tahu apa-apa tentang dunia hitam—hingga sang mafia menjeratnya lewat sebuah kontrak yang tak bisa ia tolak: satu tahun menjadi wanita simpanan Leonardo Torricelli, ditukar dengan utang ayahnya.
Ayla bersumpah tak akan pernah menyerahkan hatinya. "Kau bisa memaksaku ke ranjangmu," katanya, "tapi kau tak akan pernah mendapatkan hatiku."
Namun di balik pria yang mengisap cerutu dan menandatangani kematian tanpa berkedip itu, ada sesuatu yang mulai retak setiap kali ia menatap Ayla. Dan di balik ketegaran gadis yang selalu menyapanya dengan sopan berjarak itu, ada perasaan yang perlahan mengkhianati janjinya sendiri.
Cinta di antara seorang mafia dan perempuan biasa tak pernah datang tanpa harga. Akan ada peluru, pengkhianatan, air mata, dan pilihan-pilihan yang mengoyak hati. Ketika masa lalu, para musuh, dan sebuah rahasia besar mulai menghancurkan segalanya, keduanya harus memutuskan: apakah cinta yang terlahir dari sebuah kontrak sanggup bertahan melawan seluruh dunia yang ingin memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karla Arias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU TAK INGIN MEMAKSANYA
Lelaki itu melepaskan diri dari Ayla, tersenyum padanya, lalu berjalan menuju sebuah piano tua milik Donato di bar itu. Piano itu sangat kuno, tapi masih berfungsi dengan sangat baik. Torricelli duduk dan mulai memainkannya tanpa melepaskan pandangan dari Ayla. Para perempuan yang ada di sana mulai mengerumuninya dan menghela napas kagum. Ia lelaki yang sangat menawan, tentu saja membangkitkan gairah pada banyak wanita. Namun matanya hanya tertuju pada Ayla.
Ia mulai memainkan piano dengan sempurna. Lagu yang dimainkannya begitu romantis dan menggoda. Ia larut dalam alunan tuts dan memejamkan mata, sementara Ayla mengamatinya dengan takjub. Saat lagu itu berakhir, ia membuka mata; gadis itu masih di sana, menyimak dengan saksama, dan itu sangat menyenangkan hatinya. Begitu selesai, semua orang bertepuk tangan, dan ia menghampiri Ayla.
"Aku tak menyangka Anda bisa memainkan piano sesempurna itu."
"Kau kira karena aku berkecimpung di dunia mafia, aku cuma tahu soal senjata dan tak berpendidikan sama sekali?"
"Tidak, bukan begitu… aku cuma terkejut."
"Kamu bisa memainkannya?" tanyanya penasaran.
"Sedikit banyak, aku belajar sejak kecil."
"Aku ingin kamu memainkannya untukku."
"Aku janji besok pagi-pagi akan berlatih, dan malamnya akan kumainkan untuk Anda."
"Kalau begitu baik."
Ia meraih tangan Ayla dan menciumnya dengan lembut. Ia pulang lebih awal; ia datang hanya untuk melihat gadis itu.
Ayla termangu bingung dengan segala yang terjadi. Ia takut pada lelaki itu, dan membayangkan bahwa suatu hari lelaki itu akan menyentuhnya dan menariknya ke ranjang. Aneh baginya lelaki itu belum juga melakukannya, tapi ia merasa lega karena itu.
Setelah lelaki itu pergi, ia bergegas naik dan mulai menangis karena segala yang menimpanya. Tak pernah ia menyangka seorang mafioso akan tertarik padanya. Apa yang akan terjadi padanya sekarang?… Ribuan pertanyaan berkecamuk di benaknya, dan saat itu Fiorella masuk.
"Sudah kuduga kau akan berakhir merebut lelaki yang kuceritakan padamu," ujarnya berang.
"Fiorella, keluar dari kamarku! Aku tak mau bertengkar denganmu!"
"Kalau begitu jelaskan, apa yang kaulakukan mencium lelaki yang sudah kubilang kusukai!" teriak Fiorella sambil menarik Ayla dengan keras.
"Lepaskan aku! Aku tak akan menjelaskan apa pun padamu!"
Mereka mulai berkelahi, dan ayah mereka naik ke atas.
"Cukup, anak-anak! Fiorella, keluar dari sini!"
Fiorella menurut dan pergi sambil menangis, sementara Ayla kembali bersandar di jendela dengan murung dan menangis. Ayahnya merasa sedih melihat putrinya seperti itu, tapi ia tahu lelaki itu akan mendapatkan Ayla dengan baik-baik atau dengan paksa.
Keesokan harinya Ayla bangun pagi-pagi untuk berlatih.
"Kenapa kau bermain piano? Sudah lama sekali kau tak menyentuhnya," tanya Donato.
"Dia memintaku memainkannya untuknya," jawab Ayla tanpa semangat.
"Jangan begitu, Nak. Semoga saja lelaki itu segera bosan."
Malamnya Torricelli tampil lebih memukau dari sebelumnya, dengan setelan jas yang rapi jali, wangi, dan sangat menawan. Sementara Ayla mengenakan gaun hitam bertali yang sedikit memperlihatkan belahan dadanya. Gaun itu juga terbuka di bagian punggung dan panjangnya sampai lutut. Ia memakai sepatu hak hitam bertali di pergelangan kaki, rambut setengah diikat, riasan tipis, dan wangi.
Ketika Torricelli tiba dan melihat Ayla menuruni tangga, ia terpaku. Ia menunggunya di ujung tangga, dan gadis itu turun dengan anggun. Ia meraih tangan Ayla untuk membantunya turun. Sudut itu agak jauh dari meja-meja pelanggan lain, dekat area VIP yang khusus disiapkan Donato hanya untuk Torricelli agar bisa berduaan dengan Ayla. Para pengawal tinggal bersama Franco di meja-meja VIP untuk menjaga bos mereka. Tentu saja mereka tahu Ayla kini adalah perempuan baru bos mereka, dan mereka sama sekali tak bodoh.
Torricelli begitu terpesona pada Ayla hingga tak kuasa menahan diri. Ia meraih pinggang gadis itu, menariknya mendekat, dan menciumnya. Ayla membalas ciuman itu lalu cepat-cepat melepaskan diri. Setiap ekspresi gadis itu membangkitkan perasaan aneh dalam dirinya.
Ayla beranjak ke piano dan mulai memainkannya, sementara Torricelli mengamatinya sambil bersandar di dinding. Ayla bermain dengan sangat indah dan larut dalam musiknya. Lelaki itu terus menatapnya tanpa henti; setiap kali menatap, ia semakin menyukainya. Ia menyadari para tamu lain di bar memandang Ayla dengan mata penuh nafsu, dan itu mulai mengusiknya. Meski begitu, ia membiarkan Ayla menyelesaikan permainannya, dan begitu selesai, semua orang bertepuk tangan.
Di sisi lain, Fiorella dipenuhi kebencian. Ia tak tahan melihat adiknya mendapatkan lelaki itu dan tetap menjadi pusat perhatian.
Torricelli beranjak ke area VIP, dan semua anak buahnya pindah ke meja-meja lain. Ia menunggu Ayla sambil duduk, dan gadis itu pun datang.
"Kemarilah," ujarnya sambil mengulurkan tangan, lalu mendudukkan Ayla di lengan sofa.
"Aku tak menyangka kamu bisa bermain seindah itu. Lagi pula lagu tadi salah satu favoritku."
"Aku senang sekali Anda menyukainya," ujar Ayla malu-malu.
Ia melingkarkan tangannya di pinggang Ayla dan menariknya mendekat.
"Harus kuakui, kamu terlalu cantik."
Ia berkata begitu, dan tak kuasa menahan diri melihat bibir merah Ayla begitu dekat, lalu menciumnya. Saat menciumnya, ia menurunkan tangannya ke punggung gadis itu dan membelainya perlahan.
"Tidak pantas kita bertemu di sini. Ayahmu tak selalu bisa menyiapkan ruang VIP untuk kita, itu kerugian baginya."
"Ya, Anda benar."
"Jadi aku sudah memutuskan akan membeli sebuah apartemen untuk kita berdua, dan akan kuatasnamakan kamu."
"Jangan, tolong! Jangan atasnamakan aku, aku tak ingin Anda memberiku barang semacam itu!" ujar Ayla dengan enggan.
"Kenapa?" tanyanya, sangat terkejut melihat seorang perempuan menolak hadiah, apalagi sesuatu seperti apartemen.
"Aku akan lebih tenang begitu, tolong."
Ia mengangguk dan menghabiskan waktu sejenak bersama Ayla, hanya menciumnya dan membelainya. Meski ia seorang mafioso yang darahnya mendidih ingin bersama Ayla secara intim, ia bersabar.
Akhirnya mereka pun pamit. Ia mengucapkan selamat tinggal pada gadis itu, dan begitu keluar lalu naik ke mobil, Franco menanyakan keraguan yang mengganjalnya.
"Tuan… kenapa Anda begitu sabar padanya dan belum melakukan apa-apa dengannya? Dengan semua yang lain Anda langsung to the point dan segera meniduri mereka."
"Aku tak tahu. Aku bahkan tak tahu kenapa aku begitu lembut padanya. Yang kutahu, aku hanya tak ingin memaksanya," ujar Torricelli, dan Franco hanya mengangguk.