NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Tawanan Hasrat Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Petualangan / Mafia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Carolini Rodrigues

Pada malam badai, hidup Beatrice runtuh dalam satu ketukan pintu.

Ayahnya, sang penjudi, terjerat utang enam juta euro kepada Matteo Vitale, mafioso paling ditakuti di Sisilia. Pria dingin yang matanya sebiru langit sebelum badai itu tak menginginkan uang. Ia menginginkan Beatrice.

Untuk menyelamatkan nyawa keluarganya, Beatrice menyerahkan dirinya sebagai "pelayan" di rumah besar Matteo, sebuah benteng penuh pengawal bersenjata. Hari-harinya diatur oleh perintah, tatapan yang menelanjangi, dan kemarahan yang bisa meledak kapan saja. Namun semakin ia melawan, semakin Matteo kehilangan kendali. Dan semakin Matteo mendekat, semakin Beatrice takut pada hal yang paling tidak ia duga: dirinya sendiri.

Di balik pintu-pintu terkunci, ada rahasia yang jika terbongkar bisa menghancurkan segalanya. Di luar tembok, musuh-musuh Matteo sudah mengincar kepala siapa pun yang ia cintai.

Seberapa jauh seorang pria sanggup memiliki? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan sebelum ia berhenti ingin pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolini Rodrigues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

POV Matteo

Aku tiba di rumah pukul sepuluh malam. Sebelumnya aku sempat mampir ke rumah ayahku untuk memberinya kabar terbaru dan melihat perkembangan operasi yang akan berlangsung tengah malam.

Antonio sudah menungguku di pintu.

"Selamat malam, Tuan."

"Sudah kaulakukan yang kuperintahkan?"

"Sudah, Tuan. Dia tidak keluar dari kamarnya seharian."

"Bagus. Suruh Joana menyiapkan makanan untuknya dan taruh di nampan. Aku sendiri yang akan membawanya. Aku di ruang kerja sampai selesai."

Antonio mengangguk dan pergi.

Aku berjalan ke ruang kerja, menuang minuman, duduk di kursiku, dan menyalakan cerutu.

Kita lihat apakah dia sudah lebih tenang sekarang.

Lima menit kemudian Joana memberi tahu semuanya sudah siap. Ia menawarkan diri membawa nampan itu, dan aku mengangguk. Kuisi gelasku dengan wiski, lalu aku mengikutinya ke lantai atas. Kubuka pintu, dan semuanya tenang. Kunyalakan lampu meja kecil. Aku tak mau mengagetkannya.

"Taruh di sana."

Joana meletakkan nampan di meja kecil.

"Kau boleh pergi."

Begitu Joana keluar, aku duduk di kursi berlengan dan memandanginya tidur.

Kulihat wajahnya terluka. Aku menggeleng, tak percaya bahwa akulah yang melukainya.

* * *

POV Beatrice

Aku sedang tidur, lalu membuka mata dan melihat lampu menyala, lampu yang bukan aku yang menyalakan. Aku menatap ke depan dan melihatnya duduk di hadapanku. Aku buru-buru duduk di tempat tidur dan menyandar ke kepala ranjang.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Ia tak menjawab. Sebaliknya, ia menghabiskan seluruh isi gelasnya.

"Aku membawakan makanan untukmu."

"Aku tidak mau."

"Sial, kenapa kau harus sekeras kepala ini?"

Beatrice meringkuk makin dalam di tempat tidur. Matteo berdiri, berjalan menghampirinya, dan duduk di dekatnya. Tangannya terulur ke wajah Beatrice.

"Maaf soal ini. Aku tidak bermaksud melukaimu."

Ia membelai wajahnya. Beatrice menatapnya sambil berusaha tidak terbuai oleh sentuhannya. Dari pipi, jarinya bergeser ke bibir Beatrice. Beatrice menaruh tangannya di atas tangan Matteo, berusaha mencegahnya melakukan apa pun.

"Kau kenapa?"

"Apa?"

Matteo lalu menangkap bibirnya dalam ciuman cepat dan putus asa. Beatrice berusaha mendorongnya, tetapi Matteo tak bergeming. Setelah beberapa detik, tangan-tangan yang tadi mendorong itu justru menariknya lebih dekat. Ciuman itu berubah lambat dan penuh gairah. Tangan Matteo menjelajah tubuhnya. Beatrice mengeluarkan erangan tertahan. Ketika Matteo menyelipkan tangan di antara kedua kakinya, Beatrice berdiri mendadak.

Masih terengah dan benar-benar kehilangan arah, ia berkata:

"Keluar!"

Matteo bangkit dan berjalan menghampirinya.

"Kenapa kau menyangkal bahwa kau tertarik padaku sama seperti aku tertarik padamu?"

"Aku tidak merasakan apa pun padamu."

"Oh ya?"

Ia melangkah lebih dekat, mengurung Beatrice di dinding.

"Kumohon!"

"Katakan kau tidak merasakan apa-apa saat kusentuh."

Tangannya turun dari leher Beatrice ke payudaranya. Napas Beatrice tersengal. Tangan itu terus turun melewati perut, pinggang, dan akhirnya sampai di antara kedua kakinya.

Beatrice melengkung karena sentuhannya.

"Katakan kau tidak menginginkanku."

"Tuan..."

"Ya?"

"Lepas... lepaskan aku!"

Matteo menyelipkan tangannya ke dalam celana pendeknya, dan Beatrice menggeliat.

"Kumohon, jangan!"

(Setetes air mata jatuh.)

Matteo pun menarik diri.

"Tunggu. Kau?"

Beatrice memalingkan wajah.

"Kau sudah 25 tahun. Tidak mungkin kau masih perawan."

"Tinggalkan aku sendiri, kumohon!"

"Kau..."

"Tuan, pergilah saja!"

Matteo menatapnya tak percaya, lalu keluar dan mengunci pintu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!