Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Pintu Merah Berkarat
Bianca tidak berteriak. Itu yang paling mengejutkan Nala.
Perempuan itu hanya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, satu tangan mencengkeram kusen, dan menatap mereka berdua seperti orang yang baru saja ditampar di depan umum, untuk kedua kalinya dalam satu malam.
"Damar," katanya. Suaranya bergetar. "Fotografernya nunggu."
Damar tidak bergerak. Nala bisa merasakan napasnya yang masih belum teratur, bisa merasakan panas tubuhnya hanya beberapa senti dari tubuhnya sendiri.
Nala yang bergerak lebih dulu. Dia merapikan kain kebayanya, menyentuh sanggulnya sekali untuk memastikan masih di tempatnya, lalu menunduk sopan ke arah ujung lorong.
"Permisi, Mbak."
Dia tidak berjalan ke arah Bianca. Dia berjalan ke arah sebaliknya, ke ujung lorong yang lain, yang mengarah lebih dalam ke rumah.
Di belakangnya, dia mendengar Bianca berkata sesuatu dengan suara tinggi, dan Damar menjawab dengan satu kata pendek yang tidak tertangkap telinganya. Dia tidak menoleh.
***
Bagian dalam rumah Menteng sunyi seperti museum yang sudah tutup.
Lampu-lampunya hanya separuh menyala. Lantainya ubin kunci bermotif lama, dingin di bawah selopnya. Musik dari pendapa semakin samar, sampai akhirnya yang terdengar hanya detak jam dinding entah di ruangan mana.
Kalau ada yang bertanya, dia akan bilang dia mencari toilet dan tersesat. Rumah sebesar ini, siapa yang tidak tersesat.
Lorong itu berbelok. Di dinding sebelah kiri, berjajar foto-foto berbingkai kayu yang sama, dipasang dengan jarak yang sama, dari ujung ke ujung.
Nala berhenti.
Foto pertama: seorang bayi di pangkuan perempuan cantik berkebaya putih. Di leher perempuan itu, liontin teratai merah. Dia mengenali liontin itu sebelum dia mengenali wajahnya.
Foto kedua: balita yang sama, berdiri di depan kue ulang tahun. Foto ketiga, keempat, kelima. Seorang anak laki-laki yang tumbuh dari tahun ke tahun, selalu di depan kue, selalu di bulan yang sama. Di bawah setiap bingkai, sebuah label kecil dari kuningan. Tanggal dua puluh tiga Oktober, dan tahunnya.
Dia menghitung sambil berjalan. Satu tahun. Dua. Sepuluh. Tiga belas.
Lalu ada celah.
Tiga paku kosong di dinding. Tiga bekas persegi yang warnanya sedikit lebih terang dari cat di sekitarnya, tempat bingkai pernah tergantung lalu diturunkan.
Foto berikutnya: seorang pemuda berusia tujuh belas tahun, berdiri di depan kue ulang tahun dengan wajah yang tidak tersenyum sama sekali. Matanya gelap dan keras. Mata Damar.
Empat belas, lima belas, enam belas. Tiga tahun yang hilang dari dinding ini.
Nala menyimpan angka-angka itu di kepalanya, di tempat yang sama dengan semua angka lain yang sudah dia kumpulkan selama dua tahun.
Lorong itu berakhir di sebuah pintu.
Pintu kayu tua bercat merah, catnya sudah mengelupas di banyak tempat, dan engselnya dimakan karat. Gembok besi menggantung di grendelnya. Di bawah pintu itu tidak ada cahaya. Di sekitarnya tidak ada lampu. Seolah seluruh rumah ini sepakat untuk melupakan bahwa pintu itu ada.
Nala mengulurkan tangan.
"Jangan."
Dia menoleh. Damar berdiri di ujung lorong, di antara foto dirinya yang berumur tiga belas dan tiga paku kosong itu.
Dia berjalan mendekat dengan langkah tenang, terlalu tenang. Lalu dia berdiri di antara Nala dan pintu merah itu, punggungnya hampir menyentuh catnya yang mengelupas.
"Saya mencari toilet, Pak."
"Toilet ada di sayap barat."
"Saya tersesat."
Damar menatapnya. Tidak ada sisa ciuman di lorong timur tadi di wajahnya. Tidak ada apa-apa.
"Jangan melewati batas, Anala," katanya. "Tidak di rumah ini."
***
Perjalanan pulang ke Pondok Indah terasa lebih panjang dari biasanya.
Pak Ujang menyetir tanpa menyalakan radio. Jalan Sudirman sudah lengang. Lampu-lampu jalan lewat satu per satu, menerangi wajah Damar di kursi sebelahnya lalu meninggalkannya dalam gelap lagi.
Mereka tidak bicara sampai mobil melewati Bundaran HI.
"Eyang menanyakanmu," kata Damar tiba-tiba, tanpa membuka mata.
"Apa yang Bapak jawab?"
"Solo. UI. Beasiswa. Orang tua sudah meninggal."
"Itu benar."
"Aku tahu."
Hanya itu. Damar tidak bertanya lagi, dan Nala tidak menambahkan apa-apa. Semua yang dia katakan barusan memang benar. Kebohongan yang paling bagus selalu dibangun dari kebenaran, dan dia sudah menyusunnya bata demi bata selama dua tahun.
Nala menatap jendela. Di pantulan kaca, dia bisa melihat profil laki-laki itu. Hidung yang lurus. Rahang yang keras. Kemeja batik cokelat yang dipilihkan Bianca, kancing teratasnya sudah dibuka. Kepalanya bersandar ke jok, matanya masih terpejam, dan untuk sesaat dia terlihat lelah. Hanya lelah. Seperti laki-laki biasa yang baru pulang dari pesta keluarga yang tidak dia inginkan.
Nala memperhatikan pantulan itu terlalu lama.
Lalu dia memaksa dirinya mengingat. Bukan pesta. Bukan lorong timur. Bukan tangan yang tadi pagi mengaitkan kalung di tengkuknya dengan sangat pelan.
Dia mengingat kuburan.
Laki-laki ini, pikirnya. Laki-laki inilah yang membuat semua orang yang kucintai mati.
Jarinya mencengkeram tas di pangkuannya. Kukunya menekan kulit tas itu sampai meninggalkan bekas.
Damar membuka mata. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa, Pak."
Dia memejamkan matanya lagi. Nala menatap jalan di depan sampai mobil berbelok masuk ke kompleks.
***
Pagi berikutnya, Sentul berkabut tipis.
Gedung pertemuan di kawasan Proyek Bukit Selatan masih berbau cat baru. Ada dua deret kursi untuk peserta, satu meja panjang untuk tujuh orang juri dari pihak pemilik lahan dan konsultan luar, dan layar besar di dinding.
Nala menyalakan laptopnya dua puluh menit sebelum giliran presentasi, untuk terakhir kalinya memeriksa angka-angka.
Lalu dia melihatnya.
Riwayat akses berkas. Dokumen Strategi Penawaran Bukit Selatan, versi final. Terakhir dibuka: kemarin, pukul tiga sore lewat dua belas menit.
Kemarin pukul tiga sore, dia sedang duduk di ruangan Damar, ditanya soal jaket.
Dia menatap layar itu tanpa berkedip. Seseorang membuka laptopnya ketika dia tidak ada di meja. Seseorang punya cukup waktu untuk menyalin isinya.
"Peserta berikutnya, Gema Group."
Seorang laki-laki berdiri dari deretan kursi di seberang. Jas abu-abu gelap. Rambut sedikit terlalu panjang. Dia berjalan ke depan dengan santai, satu tangan di saku, dan sebelum memulai presentasinya dia sempat menoleh ke deretan kursi Hadiwijaya dan mengangguk.
Ke arah Nala. Bukan ke arah Damar.
Arka. Laki-laki di lorong tadi malam. Laki-laki berjas merah muda di Batam.
Bos Gema Group.
Tapi bukan itu yang membuat darah Nala berhenti mengalir. Yang membuatnya berhenti adalah laki-laki muda yang berdiri di belakang Arka, membawa map dan laptop, membungkuk sopan kepada para juri seperti seorang asisten yang baik.
Fajar.
Laki-laki yang lima hari lalu berlutut di depan brankas Damar. Laki-laki yang dia kejar sampai basement.
Fajar tidak menoleh ke arahnya. Dia menatap lurus ke depan, ke layar, dengan wajah datar. Tapi Nala melihat lehernya yang menegang.
Di sebelahnya, Reza mencondongkan badan dan berbisik. "Itu Fajar, kan? Yang kabur minggu lalu?"
"Iya, Pak."
"Sialan."
Presentasi Gema berlangsung lima belas menit. Nala tidak perlu mendengarkan semuanya. Dia hanya perlu melihat slide kedua. Kerangka strateginya, urutan tahapnya, bahkan diagram arus kasnya. Semuanya miliknya. Dibungkus dengan warna yang berbeda, dengan logo yang berbeda, tapi tetap miliknya.
Lalu angka itu muncul di layar besar.
Penawaran Gema Group: dua persen lebih rendah dari harga yang Hadiwijaya siapkan.
Bisik-bisik menyebar di antara para juri. Salah satu dari mereka mengangguk-angguk dan menulis sesuatu di kertas.
Reza mendesis pelan. "Mampus kita."
Nala tidak menoleh ke Reza. Dia menoleh ke sisi kirinya, ke laki-laki yang sejak tadi duduk diam tanpa ekspresi.
Damar tidak menatap layar. Dia menatapnya.
"Masih bisa?" tanyanya. Suaranya rendah, hanya untuknya.
Nala menatap angka di layar itu sekali lagi. Lalu dia menutup laptopnya.
"Bisa."