NovelToon NovelToon
Goresan Takdir

Goresan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:46.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Family Man

"Sasa ten pundi, Bu? (Sasa ada dimana, Bu?)" Tanya Astri siang itu.

Setelah pekerjaannya selesai, Astri langsung minta di antar ke rumah orang tuanya, kemudian ia meminta supir pribadi suaminya untuk kembali ke Perusahaan suaminya.

"Masih tidur itu di kamar tamu. Susnya juga istirahat disana." Jawab Ratri.

"Kamu kapan sampai, Nduk? Kok ibu gak dengar suara mobil?" Tanya Ratri setelah putrinya itu duduk di sebelahnya.

"Tadi diantar sama supirnya Raden Mas, Bu. Aku ndak diizinkan bawa mobil sendirian sama Raden Mas." Jawab Astri.

"Lho, kenapa? Bukannya repot kalau cuma ada supir satu?" Tanya Ratri.

"Raden Mas khawatir aku kenapa-napa di jalan. Supirku baru mulai bekerja besok." Jawab Astri yang membuat ibunya tersenyum-senyum.

"Syukur ya, Nduk. Suamimu itu sayang banget sama kamu. Gak seperti Mbakyu Marini. Waktu acara jamuan makan itu, kalau saja tidak ada Mbah Harti, rasanya pingin Ibu tarik itu, sanggulnya. Bisa-bisanya dia berbicara seolah menantunya cuma Serayu saja. Padahal acara makan malam itu untuk menyambut kedatanganmu di keluarga mereka toh, Nduk." Kata Ratri dengan ekspresi kesalnya.

Wanita paruh baya itu kemudian menghela nafas. Ia meraih tangan putrinya yang duduk di sebelahnya, lalu menggenggam tangan itu dengan lembut.

"Pasti berat ya, Nduk, di banding-bandingan seperti itu?" Tanya Ratri.

"Ndak apa-apa kok, Bu. Ibu mertuaku kan memang seperti itu. Kita maklumi saja ya, Bu." Ujar Astri.

"Yang terpenting bagiku, Suami dan anakku menyayangiku, Bu. Mas Daksa juga selalu membelaku kalau ada keluarga yang memojokkanku." Kata Astri sambil tersenyum.

"Ibu senang dengarnya, Nduk." Kata Ratri yang nampak lega.

"Sasa merepotkan ndak, Bu?" Tanya Astri.

"Enggak. Sama sekali enggak. Sasa itu pintar dan penurut sekali. Bocahnya juga santun dan gak neko-neko." Jawab Ratri.

"Ibu senang sekali ada dia disini. Kalau boleh, maunya malah setiap hari saja dia main kesini, biar Ibu ada temannya." Kekeh Ratri.

Wajah Ratri yang masih Ayu di usia yang sudah menginjak lima puluh tahun itu terlihat bahagia ketika menceritakan mengenai Sasa saat berada di rumah. Bahkan, Ratri juga tak segan memamerkan kedekatannya dengan Cucunya itu pada teman-temannya.

"Jadi tadi sempat ikut Ibu arisan di lingkungan?" Tanya Astri.

"Iya. Yo masak mau Ibu tinggal to, Nduk? Wong ya baru sampai juga." Jawab Ratri.

"Ibu senang sekali akhirnya bisa membawa cucu ke acara arisan. Seperti ibu-ibu yang lain." Imbuh Ratri.

"Bunda..." Terdengar suara Sasmaya yang memanggil Astri. Sasmaya kemudian menghampiri Astri yang sedang mengobrol dengan ibunya.

"Bunda kapan datangnya? kok gak bangunin Sasa?" Tanya Sasmaya.

"Barusan, Nduk. Bunda barusan sampai, lalu mengobrol dengan Mbah Uti." Jawab Astri sambil meraih tubuh Sasa dan mengecupi putri sambungnya itu.

"Bunda kangen, hampir seharian ndak liat Sasa." Kata Astri yang benar merasa rindu pada putrinya. Satu minggu tinggal dan beraktifitas di tempat yang sama, membuat Astri merasa mulai memiliki ikatan pada Sasmaya.

"Bunda..."

"Dalem, Cah Ayu." Jawab Astri.

"Sasa mau menginap di rumah Mbah Uti, boleh atau tidak?" Tanya Sasmaya.

"Besok pagi, Sasa mau menemani Mbah Uti senam di taman bersama dengan teman-teman Mbah Uti." Kata Sasa yang membuat Astri menyipitkan mata lalu menatap ke arah Ibunya yang justru tersenyum-senyum.

"Pasti Ibu yang minta." Tebak Astri.

"Wong Sasa mau kok. Ya to, Nduk?" Kata Ratri yang melempar pertanyaan pada Sasmaya. Dengan cepat, Sasmaya pun menganggukkan kepalanya.

"Bunda ndak bisa kasih izin sekarang, Nduk. Sasa harus minta izin dulu ke Ayah." Jawab Astri.

"Kalau Ayah gak kasih izin, gimana, Bunda?" Tanya Sasmaya dengan wajah lesu.

"Nanti biar Mbah Uti yang bicara, kalau Ayahmu gak kasih izin." Sahut ratri yang membuat Astri membulatkan mata ke arah Ibunya.

"Ampun ngoten niku to, Bu. (Jangan seperti itu to, Bu). Mas Daksa pasti sungkan menolak permintaan Ibu." Kata Astri.

"Nah justru itu! mosok putune meh nginep nggone Mbah e dewe, ra oleh to? (Masak cucunya mau menginap di tempat Mbahnya sendiri, gak boleh to?)" Kata Ratri.

"Ah, Ibu... Pokoknya tolong jangan memaksa keputusan Mas Daksa kalau semisal Mas Daksa ndak mengizinkan." Kata Astri dengan tatapan penuh permohonan.

"Lah! Kowe ki piye to, Nduk. Wong bocahe wae gelem kok. (Lah! Kamu ini bagaimana to, Nduk. Orang anaknya saja mau kok)" Keluh Ratri.

Seperti Nenek pada umumnya, Ratri juga ingin sekali memanjakan Sasa. Ia juga ingin menghabiskan banyak waktu dengan cucunya yang pintar dan menggemaskan itu.

"Aku tau, Ibu sayang dengan Sasa. Tapi jangan sampai mengganggu aturan yang sudah diterapkan oleh Mas Daksa. Bagaimanapun, kita harus menjaga wibawa Mas Dasa didepan putrinya, Bu." Astri mencoba memberi pengertian pada ibunya.

Ratri pun menghela nafas panjang. Ia akhirnya setuju dengan apa yang diucapkan putrinya.

Bagaimanapun, ia harus tetap menjaga wibawa menantunya agar tak runtuh di depan putrinya karena ia yang ikut campur di dalam keputusan Raden Daksa.

Waktu sudah sore ketika Raden Daksa sampai di kediaman mertuanya. Kedatangannya tentu untuk menjemput anak dan istrinya yang berada disana. Raden Daksa langsung di antarkan oleh emban yang ada di rumah orang tua Astri menuju ke taman belakang rumah.

Disana, ia melihat Sasmaya yang sedang berada di pelukan Bapak mertuanya. Keduanya tampak tertawa bersama sambil melemparkan makanan untuk ikan-ikan koi di kolam.

Hati Raden Daksa menghangat. Hal ini hampir tidak pernah ia lihat di rumah keluarganya. Para pria selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan para wanita selalu sibuk dengan didikan aturan keluarga.

Mereka jarang menghabiskan waktu bersama, untuk sekedar mengobrol seru atau bercengkrama. Di rumah keluarga Soeradiningrat, mereka terbiasa dengan obrolan yang serius.

Keluarga Soeradiningrat dan Kartawidjaja memberikan bentuk kasih sayang dengan cara yang berbeda dan Raden Daksa bersyukur karena putrinya bisa merasakan kasih sayang yang begitu hangat di rumah istrinya.

"Lho, Raden Mas! Kok malah bengong di situ?" Tanya Tirta yang baru menyadari keberadaan Raden Daksa. Astri dan Ibunya pun langsung menoleh ke arah Raden Daksa yang sedang berjalan ke arah mereka.

"Mas udah dari tadi?" Tanya Astri. Ia sudah berdiri dan menyambut tangan suaminya untuk menyalami.

"Barusan, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa. Ia kemudian menyalami ibu mertuanya dan adik iparnya. Setelah itu, menghampiri Bapak mertuanya dan Sasmaya.

"Mas Daksa bisa kelihatan berbeda ya, Mbak." Kata Tirta sambil menatap Kakak iparnya dari kejauhan.

"Maksudnya?" Tanya Astri.

"Dia bisa sangat lembut kalau di rumah. Tetapi sangat tegas dan terlihat kaku di pekerjaan. Aku pernah beberapa kali berada di projek yang sama dengan Mas Daksa. Makanya aku cukup tau tentang hal itu." Kata Tirta yang di jawab senyuman oleh Astri.

"Iya. Memang dia orang yang lembut dan penyayang." Jawab Astri yang masih saja menyunggingkan senyumnya.

1
Santi Seminar
panas membara
Fisca vis vis
novel ini bnyak adegan mantap2nya 🤣, mngkin karna raden daksa pak duda sndiri di bnding tokoh novel yg lain jdi dibuat beda 🤣🤣🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
novel yang ini lebih byk adetan mantap2nya dr yang sebelum nya. pasangan hp mereka.
Rahmawati
hareudang hareudang
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ealah, kenapa gini terus adrgannya
This Is Me
Jadi kepikiran, apakah Yg dikandung istrinya itu anak Dwipa?
🤔🤔
ika
Peh ...
othor kie...🤣😄
Sukarti Wijaya
cuaca sudah panas tambah panas...🤭😄🤣
Intan Nurwulan
Hareudang gini ka othor,,jdi pengen honeymoon lg😂😍
citraalief
fanasss oeyyyy.... fanasss...🤣🤣🤣 maternuwun Kak sampun up seng puanass... puanassss🥰🙏
Reni Setia
hot hot haredang 😄😄
citraalief
😘 Semangat Up Kakk👍🙏💪
Nur Wakidah
pasangan teruwuuuuu😍😍😍😄😄😄
Rahmawati
itulah rasa iri timbul karna ketidakadilan, , tambah lope lope deh sama raden daksa
This Is Me
Astri & Daksa pasti jadi pasangan ortu idaman 🩷🩷
Rahmawati
astri. harus rajin olahraga biar bisa ngimbangi raden Daksa yg sll on fire😂
This Is Me
Terlalu lama puasa nih🤣
Reni Setia
raden Daksa lagi maruk,,, maklum duda lama 😄😄
🟢Rafifah
bsk sblm honeymoon terakhir mantap2 ny di kolam renang nich pasti seru
ika
wadowwww🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!