Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DINGINNYA SELAT MALAKA
BAB 20: DINGINNYA SELAT MALAKA
Pendar cahaya ultraviolet di dalam ruang laboratorium bawah tanah VPCI memantul kaku pada dinding-dinding kaca.
Kristal mikro kebiruan yang menyelimuti jaringan jantung di dalam tabung akrilik tampak berpendar layaknya berlian cair. Bau uap nitrogen tipis yang membumbung dari kotak pendingin diplomatik bercampur dengan aroma antiseptik yang menusuk hidung, menciptakan atmosfer yang luar biasa hening dan sarat akan ketegangan baru.
Reno Devano berdiri mematung di samping meja otopsi nomor satu. Jemari bertelanjangnya menggantung beberapa milimeter di atas permukaan tabung akrilik. Ia menarik napas panjang, meresapi desir angin dingin dari sistem pendingin laboratorium yang berhembus lembut menyapu pelipisnya.
"Reno, tunggu sejenak," tegur dr. Sara Maheswari pelan, meletakkan tabung mikro-ekstraksi di nampan stainless steel. Sang dokter forensik melangkah mendekati Reno, menatap wajah mitranya dengan kecemasan yang amat jernih.
"Spesimen ini dipaparkan pada senyawa kri-toksin yang belum pernah tercatat dalam literatur medis dunia. Kita belum tahu efek resonansi kimianya terhadap saraf mukosa atau kulit bertelanjang saat psychometry-mu aktif."
Reno menoleh, menatap mata dr. Sara. Senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya. "Jika kita tidak membaca ingatan trauma di dalam organ ini sekarang, Sara, kapal pesiar di Selat Malaka itu akan menjadi kuburan mengapung sebelum polisi internasional menyadari apa yang sedang terjadi."
dr. Sara menelan ludah, lalu mengangguk lambat. Ia meraih tabung oksigen portabel dan meletakkannya tepat di samping tangan Reno, siap memberikan pertolongan medis jika efek racun krio-toksin itu memicu reaksi gawat darurat.
"Aku ada di sini. Jangan paksakan jika sarafmu mulai memuncak."
"Aku mengerti," bisik Reno.
Tanpa membuang waktu lebih lama, jemari bertelanjang Reno mendarat mantap di atas permukaan tabung akrilik yang mendingin.
DEG!
Hantaman psychometry kali ini datang bukan dalam bentuk gelombang panas atau ledakan memori yang membakar, melainkan sebuah ledakan rasa dingin yang mematikan dan menusuk hingga ke sumsum tulang!
Sensasi membeku meluncur kilat menyusuri pembuluh darah tangan kanan Reno, menghantam pusat kesadarannya bagaikan bilah es yang menghancurkan ruang dan waktu.
Dunia di sekeliling Reno meledak dalam kilatan memori empat puluh delapan jam yang lalu di tengah lautan.
Suara deru mesin kapal pesiar mewah MS Royal Sovereign bergema berat di balik dinding kabin VIP yang megah.
Di dalam kamar suite berlantai marmer hitam, seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar yang mengenakan kemeja sutra putih tampak terbaring kejang di atas ranjang.
Napas pria itu tersengal-sengal parah, bibirnya membiru kaku, dan di bawah kulit dadanya, terlihat pendar-pendar garis kebiruan yang merambat cepat seperti pembuluh darah yang membeku menjadi kristal.
Di samping ranjang, berdiri sesosok pria berjanggut tipis dengan setelan jas putih tanpa celah. Pria itu memegang sebuah alat semprot aerosol silinder perak berukir lambang mahkota berduri.
"Sampaikan salamku pada para elit di Zurich, Tuan Alexey..." bisik pria berjas putih itu dengan suara tenang, lembut, dan dingin tanpa cela sedikit pun.
"Jaringan 'Mata Timbangan' milik Raymond Devano mungkin telah runtuh di tangan VPCI. Tapi Orde 'Mahkota Kristal' tidak pernah membutuhkan racun amatir untuk menguasai pasar medis dunia."
Pria berjas putih itu membungkuk, menggunakan pisau bedah bermata intan untuk mengekstrak organ jantung korban yang sudah membeku sebagian hanya dalam waktu hitungan detik.
Namun, tepat sebelum kilas balik itu berakhir, pria berjas putih itu memutar kepalanya... menatap lurus ke arah sudut pandang Reno dalam bayangan tersebut. Pria itu menyunggingkan senyuman dingin yang sangat anggun, lalu berbisik dengan nada yang begitu jernih:
"Aku tahu kamu berada di dalam ingatan ini, Detektif Reno... Jika kamu ingin menyelamatkan tiga ratus penumpang VIP di kapal ini dari kematian kristal, datanglah ke Geladak Sembilan sebelum fajar menyingsing."
BRAK!
Reno tersentak hebat! Ia menarik tangannya dari tabung akrilik seraya terbatuk-batuk kasar. Frost atau lapisan es tipis mendadak membeku di ujung jemari tangannya yang bertelanjang, dan bibirnya memucat seketika akibat transmisi rasa dingin ekstrem dari memori tersebut.
"Reno!" jerit dr. Sara panik. Sang dokter forensik langsung menyambar kain hangat dan menempelkannya ke tangan Reno, seraya memasangkan sungkup oksigen ke wajah sang detektif.
"Bernapas perlahan! Jangan banyak bergerak!"
Napas Reno memburu, menghirup pasokan oksigen murni dengan rakus. Keringat dingin yang mengucur di dahinya membeku menjadi butiran halus. Namun, mata sang detektif memancarkan fokus tajam yang kian menyala.
"Kapal pesiar MS Royal Sovereign..." kata Reno dengan suara serak yang berat.
"Pria itu... dia menyebut kelompoknya Orde 'Mahkota Kristal'. Mereka menargetkan tiga ratus penumpang VIP di atas kapal itu malam ini!"
Pintu laboratorium mendadak terdorong terbuka kasar dari luar.
Dion dan Bara menerobos masuk dengan raut wajah yang luar biasa tegang. Dion memegang laptopnya yang menampilkan sinyal radar maritim internasional.
"Ren! Dokter Sara!" teriak Dion histeris. "Gue baru saja mendapat sinyal MAYDAY rahasia dari kapten kapal pesiar MS Royal Sovereign di perairan Selat Malaka! Seseorang telah mematikan seluruh jalur komunikasi navigasi kapal dan mengunci radar mereka dari luar!"
"Bara!" panggil Reno lantang, membuang sungkup oksigennya dan berdiri tegap meski fisiknya masih bergetar.
"Siapkan helikopter taktis dan tim amfibi sekarang juga! Kita berangkat ke Selat Malaka detik ini juga!"
"Siap, Bos!" sahut Bara tanpa ragu sedikit pun, langsung memutar tubuhnya untuk mengordinasikan personel.
dr. Sara menyambar dua tas perbekalan medis darurat, memuat seluruh indikator krio-toksin dan serum penawar suhu ekstrem ke dalamnya. Ia menatap Reno dengan pandangan membaja yang penuh keberanian.
"Aku ikut denganku ke atas kapal itu, Reno," tegas dr. Sara tanpa bisa dibantah. "Racun kristal itu bekerja pada tingkat molekuler darah. Tanpa analisis medis langsung di TKP, kamu tidak akan bisa menghentikan penyebarannya di antara para penumpang!"
Reno menatap dr. Sara lurus-lurus, mengangguk mantap seraya menyampirkan mantel hitamnya di bahu. "Ayo kita selesaikan ini, Sara."
Satu jam kemudian.
Helikopter taktis VPCI terbang rendah membelah kegelapan malam dan tiupan angin laut yang kencang di atas perairan Selat Malaka. Di bawah sana, di antara gulungan ombak hitam yang membanting, megah berdiri kapal pesiar raksasa MS Royal Sovereign. Seluruh lampu di kapal mewah bertingkat belasan itu tampak redup dan remang-remang, menciptakan bayangan raksasa yang mencekam di tengah lautan lepas.
WUUUSHHH!
Tali peluncur diturunkan dari helikopter. Reno, dr. Sara, dan Bara meluncur turun secara presisi, mendarat mulus di atas pad helikopter di Geladak Sembilan yang sepi dan dingin.
Aroma uap garam bercampur bau asing yang manis namun membekukan langsung menyengat hidung dr. Sara begitu kakinya menyentuh lantai geladak.
"Suhu udara di geladak ini drop sampai lima derajat Celsius secara tidak wajar," analisis dr. Sara seraya memeriksa termometer digital di pergelangan tangannya. "Sensor mengindikasikan adanya penyebaran partikel krio-toksin halus di udara terbuka!"
"Dion, bagaimana dengan posisi ruang kendali utama?" tanya Reno seraya menarik besi pertahanan dirinya.
"Ruang kendali utama ada di lantai dua di bawah aula ballroom utama," jawab suara Dion melalui earpiece.
"Tapi ingat, seluruh pintu kompartemen kapal ini sudah terkunci secara siber. Kalian harus bergerak cepat sebelum cairan pendingin utama kapal meledak!"
Reno dan dr. Sara menyusuri lorong porselen lantai sembilan yang sunyi. Namun, saat mereka melintasi pintu kaca ganda menuju Grand Ballroom, pemandangan di dalam aula raksasa itu membuat dr. Sara menahan napasnya dalam ketakutan yang murni.
Di dalam ballroom berdinding kristal yang megah, puluhan penumpang bergaun malam dan berstelan jas tampak duduk kaku di atas kursi-kursi mereka. Tubuh mereka membeku utuh, kulit mereka memancar pendar kebiruan di bawah temaram lampu gantung, dan di dada mereka masing-masing, terukir simbol mahkota berduri dari pendaran kristal es!
"Mereka... mereka semua sudah dieksekusi dari jauh," bisik dr. Sara dengan suara bergetar parah, jemarinya meremas tali tas medisnya.
"Bukan dieksekusi, Dokter cantik..."
Suara dingin, tenang, dan sangat anggun itu bergema dari arah panggung utama ballroom.
Dari balik tirai beludru merah yang terangkat, melangkah keluar pria berjas putih tanpa cela yang terlihat di dalam kilas balik psychometry Reno. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit putih memegang sebuah tongkat perak pendek bertakhtakan kristal biru raksasa.
Dialah pimpinan cabang Orde 'Mahkota Kristal'.
"Selamat datang di mahakarya milik kami, Detektif Reno Devano... dan Dokter Sara Maheswari," ujar pria berjas putih itu seraya membungkuk hormat dengan gaya aristokrat yang dingin.
"Orang-orang di ruangan ini tidak mati... mereka hanya dimasukkan ke dalam status henti napas krio-preservasi sempurna. Dan hanya VPCI yang bisa memutuskan apakah mereka akan bangun kembali atau membeku selamanya di dasar lautan ini."
Reno melangkah maju satu tindak, matanya menembus kegelapan panggung. "Sebutkan namamu dan matikan penyebaran racun aerosol ini sekarang!"
Pria berjas putih itu tersenyum anggun.
"Nama saya adalah dr. Julian Vance. Dan permainan baru kita di atas Selat Malaka... baru saja dimulai."
Pria itu menekan kristal biru pada tongkat peraknya, memicu raungan sirine darurat yang melengking di seluruh kapal pesiar!
Ketegangan puncak meledak seketika di tengah lautan yang dingin. Babak pertarungan baru melawan jaringan kejahatan medis Orde 'Mahkota Kristal' telah resmi membentang di hadapan Reno Devano dan dr. Sara Maheswari sebuah konfrontasi dramatis yang akan menguji batas terdepan antara sains forensik, keberanian abadi, dan ketajaman indra ke-6 sang detektif.