Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Menjelang sore kegiatan sudah sedikit santai. Rin melihat jadwal malam ini di ponselnya. Ternyata malam ini ada dress code karena akan diberikan penghargaan bagi panitia yang sudah bekerja sama selama hampir sebulan ini.
Sore itu setelah pulang dari kampus, Rin dan Ara berjalan-jalan sebentar menikmati sore. Mereka membeli latte dan duduk di pinggiran danau.
"Jadi? Sebenernya lo suka nggak sih sama Al?" tanya Ara to the point.
"Hmmm... Suka tapi gue ngerasa nggak pantes aja sama dia,"
"Dari mananya nggak pantes?" tanya Ara hampir keselek latte.
"Yah gue nggak secantik Vivian mantannya itu,"
Ara langsung melotot "Emang Al nyari yang kayak Vivian? Padahal kalo gue liat Al itu juga suka curi-curi pandang ke elo. Tapi gue kesel kalo dia nggak bisa batasin diri dengan Vivian,"
"Makanya gue pikir dia masih pengen balikan sama Vivian tapi... Kalo gue ceritain soal Vivian yang ninggalin Al dulu...." Rin ragu.
"Kenapa? Kenapa?" Ara kepo. Dia berlari mendekati Rin mau dengar.
Rin menceritakan apa yang diberitahu Jonas tadi siang di rooftop. Soal Vivian yang ngambil popularitas dari Al. Rin ceritakan semua yang dia ketahui.
"Menurut gue bisa aja kayak gitu, lihat aja Vivian sekarang sibuk deketin Al. Sejak T&T udah bisa berdiri sendiri. Gue rasa Vivian mau naikin popularitas lagi, secara ini cuma acara kampus doang dia bela-belain ikut,"
"Kan dia diundang!"
"Kita nggak pernah tahu Rin itu dia memang diundang atau dia pake jalur orang dalam biar bisa manggung bareng Al! Gue nggak mau berprasangka gimana-gimana tapi dunia kayak gini hal lumrah pake jalur-jalur begitu"
"Jadi? Gue harus gimana?" tanya Rin.
"Kalo lo suka, lo kasih sinyal aja Rin. Gue rasa Al juga paham kok,"
"Malu ah!"
"Yeee malu kenapa? Lu tuh cantik Rin, nggak dibuat-buat. Natural aja. Siapa yang nggak suka elu? Dah sekarang kita pulang, gue dandanin lu buat malam ini. Minimal bikin Al terpesona dulu!" ucap Ara semangat.
"Apaan sih!" tapi wajah Rin ikut memerah. Ara tertawa dan terus meledek Rin sampai sahabatnya tersipu malu. Sampai akhirnya Rin setuju untuk didandani.
Sampai di rumah, Ara mendadak jadi stylist Rin. Mulai dari baju sampai hair do dia yang kerjakan.
"Dress code nya berbau budaya. Gue pake baju kebaya modern aja kali ya..." Rin berpikir sambil melihat ke lemari pakaiannya.
"Boleh tuh, tapi kenapa dress codenya malah gitu?"
"Katanya bakal ada penghargaan gitu, nggak ngerti gue!" ucap Rin.
"Ini bagus! Bawahannya ini! Dan untuk make up sama rambut lo, serahin ke gue! Mandi sana!" Ara mendorong tubuh Rin.
Tidak butuh banyak waktu karena Rin pasrah dengan apa yang dilakukan Ara. Rambut yang biasanya diikat sekarang dibiarkan terurai, sebelah kanannya diberi hairpin berbentuk bunga. Make upnya natural, kebaya modern dengan lengan 7/8 berwarna soft pink, bawahannya dipadukan dengan rok hitam, dan memakai sepatu sling back warna hitam. Terlihat anggun tapi tetap bebas bergerak sebagai panitia.
Rin pergi dengan menggunakan taksi online bersama Ara. Sesampainya di kampus panitia di kumpulkan di aula.
"Malam ini, selain acara puncak. Kita juga mau memberikan beberapa penghargaan untuk panitia. Itulah sebabnya saya sebagai ketua pelaksana meminta kepada teman-teman untuk mengenakan pakaian yang menunjukkan budaya negara kita," ucap ketua pelaksana, matanya berhenti sejenak saat menatap Rin. Tidak hanya ketua pelaksana, bahkan beberapa mahasiswa dan dosen memandang Rin sampai tak berkedip. Karena Rin jarang berdandan dan terbiasa memakai pakaian kasual, jadi saat dia memakai kebaya terlihat lebih anggun.
"Malam ini, tugas panitia tidak terlalu berat. Kita sama-sama memantau aja. Karena ini tinggal acara puncak jadi teman-teman bebas tapi tetap stand by kalau ada sesuatu yang urgent!" ucapnya lagi.
Rin bernapas lega, dia tidak lagi harus kesana kesini mengurus hal-hal kecil sampai besar. Rin mau menikmati malam ini bersantai di depan panggung atau di stand bazar bersama Ara.
Pukul delapan malam, satu per satu penampilan mulai disuguhkan. Semua orang menikmati acara malam itu. Tidak ada lagi panitia yang repot mondar mandir, tidak ada lagi suara perintah. Yang ada hanya tawa bersama.
"Nggak mau kesana?" tanya Ara menunjuk ke penonton yang tak lagi duduk tapi ikut berlompatan mengikuti irama musik.
"Nggak deh, gue nggak PD. Lo tau mereka pada ngeliatin gue! Apa gue over malam ini?" tanya Rin.
"Nggak! Justru lo tambah cakep makanya mereka ngeliatin elo. Percaya sama gue!" ucap Ara.
"Malu gue!" Rin menyeruput minumannya.
"Oke, kita sambut penampilan selanjutnya dari cewek yang di tunggu-tunggu. Solois kita...Viviaaaaaannnn!" suara MC dan sorak sorai penonton mengiringi langkah kaki Vivian ke atas panggung.
Rin memperhatikan dari jauh dan semakin merasa dirinya nggak ada apa-apa dibanding Vivian yang dinanti-nanti fansnya.
"lo cantik Rin... Eh kok gue nggak ada lihat member T&T ya?" Ara melirik kemana-mana.
"Ya nggak ada, mereka pasti persiapan di back stage,"
Ponsel Rin sebenarnya bergetar terus dari tadi. Dia tahu itu dari Al. Rin sedang menghindari bertemu Vivian dan member T&T karena merasa dirinya tidak setara dengan mereka.
Satu lagu telah selesai dibawakan oleh Vivian. Semua penonton bersorak saat Vivian memanggil Al untuk naik ke atas panggung.
"Nekat banget sih ini," komentar Ara.
"Biarin aja, ini panggung mereka!" ucap Rin.
"Terimakasih Al, akhirnya kita satu panggung lagi," suara Vivian mendayu-dayu saat akhirnya Al naik ke atas panggung.
Semua histeris saat Al sampai di panggung.
"Malam ini ada request, nyanyi bareng. Gimana Al?" tanya Vivian, menyerahkan mic ke Al.
"Maaf, saya nggak bisa nyanyi" Al tersenyum ke arah penonton, bukan ke Vivian.
"Temenin di panggung dulu ya, sapa penggemar yang masih setia dengan AlVIan. Mana tepuk tangannya?" sorak sorai dan tepuk tangan terdengar jelas.
"Kalo aku jadi dia aku nenggelamkan diri ke panggung, pura-pura pingsan!" ucap Ara.
"Maaf semuanya, kaki saya lagi nggak enak buat berdiri lama. Saya serahkan ke Vivian sebelum nanti kami menampilkan beberapa lagu yang mungkin udah kalian kenal sekaligus kami mau mengenalkan satu lagu baru, yang bakal kami bawain untuk pertama kalinya di sini," penonton semakin heboh dan tak sabar. Lalu Al pamit untuk turun dari panggung dengan sedikit pincang.
Al yang terlihat sakit, Rin yang cemas. Apa kaki Al sakit lagi? Kemarin kayaknya udah oke.
"Dia bisa tampil nggak ya dengan kaki kayak gitu?"
"Mau lihat lebih dekat?" tanya Ara. Rin menggeleng
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok