Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi perlahan menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar rawat, membawa kehangatan yang lembut.
Begitu kelopak mataku terbuka sepenuhnya, pemandangan di samping brankarku seketika membuat hatiku berdesir hangat. Ternyata Kak Ethan sama sekali tidak pulang ke rumah semalam. Pria itu memilih untuk menginap di rumah sakit demi menjagaku. Ia tertidur dalam posisi duduk yang tampak sangat tidak nyaman di atas kursi besi, dengan kepala bersandar pada tepian tempat tidurku.
Namun, yang paling membuat dadaku membubung oleh rasa bahagia adalah tangan kanan Kak Ethan yang besar dan hangat. Pria itu tertidur sambil menggenggam erat telapak tangan kiriku—seolah ia sangat takut jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan kembali lenyap dari dunia ini.
Kak Ethan memegang tanganku ..., ucapku lirih dalam hati, menatap wajah lelahnya dengan air mata haru yang menggenang. Setelah belasan tahun dikurung dalam kebencian, kehangatan kecil ini terasa begitu magis bagiku.
Kringgg!
Keheningan pagi itu mendadak pecah oleh dering nyaring dari ponsel Kak Ethan yang diletakkan di atas meja nakas. Suara berisik itu membuat Kak Ethan tersentak kaget. Ia langsung membuka matanya, mengerjapkan pandangan yang masih diselimuti kantuk, lalu buru-buru menyambar benda pipih tersebut agar tidak mengganggu istirahatku.
Ia melihat ke arah layar digitalnya. Ternyata yang menelepon adalah Olivia, adik bungsu kami.
Kak Ethan sempat melirikku sekilas. Begitu menyadari aku sedang menatapnya, ia langsung memalingkan muka seolah cemas ketenangannya terganggu. Dengan gerakan tergesa-gesa, ia bangkit dari kursi dan melangkah lebar keluar dari ruang rawat untuk mengangkat telepon tersebut di koridor.
Pintu kaca kamar rawatku yang tebal tidak tertutup rapat, membuat suara bariton Kak Ethan samar-samar masih bisa kutangkap dari dalam sini.
"Tidak usah datang. Aku sedang di rumah sakit sekarang," ucap Kak Ethan dengan nada ketat dan berbisik di seberang telepon, menjawab rentetan pertanyaan Olivia yang panik menanyakan mengapa kedua kakaknya tidak pulang semalaman. "Dan ingat, jangan beri tahu siapapun tentang hal ini."
Klik.
Suara gagang pintu bergerak dan sosok Kak Ethan kembali melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu berjalan mendekat ke arah brankarku. Sisa ketegangan dari obrolannya dengan Olivia di luar tadi masih tercetak jelas di garis wajahnya yang tampak lelah.
Ia menarik kembali kursi besi di samping tempat tidurku, lalu duduk bersandar. Matanya menatapku lurus, penuh dengan jalinan emosi yang rumit.
"Kak ...," ucapku lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung. "Kenapa Kakak melarang Olivia datang? Dan... kenapa tidak boleh ada yang tahu kalau kita di sini?"
Kak Ethan mengembuskan napas panjang. Pria itu menunduk sejenak, menatap jemarinya yang saling bertautan, sebelum akhirnya mendongak dan menatapku dengan sorot mata yang teramat serius."
Aku melarangnya karena aku tidak ingin Olivia terlibat dalam pusaran takdir ini, Bella," jawab Kak Ethan dengan suara baritonnya yang merendah, terdengar begitu protektif. "Dan aku menyembunyikan keberadaanmu dari Charles dan Aaron untuk sementara waktu karena mereka belum siap menerima kenyataan yang sebenarnya."
Ia menjeda kalimatnya, lalu perlahan meraih kembali telapak tangan kiriku yang kini bersih dari guratan ghaib. Genggamannya kali ini terasa jauh lebih erat dan posesif.
"Selama belasan tahun, Charles dan Aaron hidup dalam ketakutan dan kebencian karena mengira kamulah yang mencabut nyawa Kakek, Papa, dan Mama. Jika mereka tahu kamu berhasil lolos dari tanggal kematianmu kemarin, mereka hanya akan mengira kutukanmu sedang merencanakan petaka baru bagi keluarga Adipta," lanjut Kak Ethan, tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang amat dalam. "Aku tidak mau mereka datang ke sini hanya untuk melemparkan makian atau tatapan menghakimi saat tubuhmu bahkan belum pulih. Aku ingin melindungimu, Bella. Setidaknya... sampai aku tahu bagaimana cara menghentikan kutukan di tanganmu ini sepenuhnya."
Mendengar penjelasan panjang lebar itu, dadaku mendadak terasa begitu penuh. Air mata hangat kembali merebak di sudut mataku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, kata "melindungimu" keluar dari bibir Kak Ethan dan ditujukan khusus untukku—si anak pembawa sial yang selama dua puluh dua tahun ini selalu dibuang ke kerak paling bawah.
Beberapa saat kemudian, Kak Ethan pamit keluar ruangan sebentar. Ternyata, ia pergi untuk menemui pelayan rumah sakit yang sedang mengantarkan nampan berisi bubur untuk sarapan pagiku. Setelah mengambil alih nampan tersebut, ia melangkah masuk kembali ke dalam ruang rawatku.
"Dokter bilang kondisi lambungmu masih kurang baik, jadi kamu hanya bisa makan ini dulu," ucap Kak Ethan.
Ia mendudukkan dirinya di kursi besi samping brankarku, lalu membuka penutup mangkuk makanan yang diantarkan pelayan tadi. Isinya memang hanya bubur putih polos yang tampak hambar, sangat berbeda jauh dengan hidangan lezat yang kusiapkan di meja makan rumah dua hari lalu.
"Terima kasih banyak, Kak Ethan," ucapku tulus sambil menerima mangkuk bubur hangat itu dari tangannya.
Aku menyendok bubur itu perlahan, meresapi rasa hangat yang perlahan mengalir ke tenggorokanku. Sembari mengunyah dalam diam, pandanganku tertuju pada sosok kakak sulungku yang kini sedang memperhatikan setiap gerakanku dengan raut wajah yang tak lagi sedingin dulu.
Seingatku, ini adalah kedua kalinya Kak Ethan peduli padaku ..., bisikku lirih dalam hati.
Kenangan masa kecil yang teramat jauh kembali melintas samar di benakku. Rasa hangat yang menjalar di dadaku saat ini terasa persis seperti belasan tahun yang lalu—sebelum malam kecelakaan mengerikan itu merenggut Papa dan Mama, dan sebelum seluruh saudaraku memutuskan untuk mengubur keberadaanku di dalam kegelapan gudang lantai tiga.
"Kak Ethan ...," panggilku pelan, meletakkan sendok buburku kembali ke dalam mangkuk. Aku mengumpulkan keberanian untuk menyuarakan rasa penasaran yang mengusik pikiranku sejak tadi. "Kenapa kemarin Kakak mau mengangkat telepon dariku? Bukankah selama ini Kakak tidak pernah mau menerima panggilanku, dan ... tidak pernah peduli padaku?"
Mendengar pertanyaan itu, Kak Ethan seketika tertegun. Pria itu mendadak terdiam, mengunci pandangannya pada mangkuk bubur di depanku.
Di seberang tempat tidur, gejolak emosi yang teramat besar sebenarnya sedang mengamuk di dalam dada Kak Ethan.
Aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku ..., batin Kak Ethan dalam keheningan yang menyiksa. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku bisa begitu memedulikannya, padahal selama bertahun-tahun ini aku selalu mengabaikan keberadaannya. Malam itu ... rasanya seolah-olah aku memiliki firasat buruk yang teramat sangat, seakan ada sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi padanya. Aku tahu, jika seandainya kemarin aku tidak mengangkat telepon itu, aku pasti akan menyesal seumur hidupku.
Aku memperhatikan perubahan raut wajah Kak Ethan dengan kening berkerut heran. Kakak sulungku itu tampak membeku, tenggelam dalam lamunan panjang yang seolah menyembunyikan badai penyesalan setelah mendengar pertanyaanku.
"Kak? Kak Ethan?" panggilku sekali lagi, mencoba membuyarkan keheningannya.
Kak Ethan tersentak sedikit. Ia mengerjapkan matanya, lalu dengan cepat menetralkan kembali ekspresi wajahnya menjadi datar dan kaku—topeng andalannya untuk menutupi kerapuhan. Ia mendeham pelan sebelum akhirnya membuka suara.
"Aku ... aku hanya melihat pesan yang kamu kirim," ucap Kak Ethan akhirnya dengan suara bariton yang diusahakan tetap tenang.
"Permintaan pertemanan itu ... Kakak tidak menerimanya," ucapku lirih. Pandanganku turun menatap jemariku sendiri, mengingat bagaimana akun media sosialku diabaikan olehnya selama bertahun-tahun.
Kak Ethan tampak terkejut mendengar kalimatku. Guratan canggung dan gugup yang teramat langka seketika menghiasi wajah tegasnya. Pria yang biasanya selalu lugas itu kini tampak salah tingkah di depan brankarku.
"Waktu aku lihat pesannya ... aku tidak sempat membalasnya karena saat itu aku sedang rapat," ucap Kak Ethan canggung. Suara baritonnya terdengar sedikit terbata-bata saat mencoba membela diri.
Aku menatap wajahnya yang kembali ditarik kaku.
Apakah dia sedang membohongiku? Aku tidak tahu. Hanya dia sendiri yang tahu apakah kalimatnya itu bohong atau tidak, batinku pasrah.
Namun, sedetik kemudian, aku mengembuskan napas pendek dan memaksa hatiku untuk berdamai dengan keadaan. Tapi ... setidaknya dia sudah datang merawatku di sini. Dia bahkan menyelamatkan nyawaku tadi malam. Bagiku, itu semua sudah lebih dari cukup.
Aku mengulum senyum tipis yang sarat akan kepasrahan, menepis jauh-jauh rasa curiga yang sempat merayap di benakku. Diabaikan selama belasan tahun di gudang lantai tiga membuatku sadar bahwa kehadiran Kak Ethan di sisiku pagi ini adalah sebuah mukjizat yang tidak boleh kusia-siakan dengan kecurigaan.
"Apakah Kakak tidak ke kantor hari ini?" tanyaku pelan pada Kak Ethan.
Aku melirik ke arah sofa tempatnya kembali duduk. Di atas meja nakas, jam digital kecil sudah menunjukkan jam kerja yang biasanya menjadi waktu tersibuk bagi seorang direktur utama seperti dirinya. Namun, Kak Ethan masih di sini, tetap duduk tenang di sofa kamar rawatku tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak pergi.
Kak Ethan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arahku. Ia membetulkan letak kemejanya yang sedikit kusut akibat semalaman terjaga, lalu menyahut dengan suara baritonnya yang datar namun tegas.
"Hari ini aku mengambil cuti," jawab Kak Ethan pendek. "Semua urusan kantor dan laporan penting sudah kudelegasikan kepada asisten pribadiku untuk beberapa hari ke depan."
Aku tertegun mendengar jawabannya. Seorang Ethan Adipta, pria yang selalu menaruh pekerjaan di atas segalanya—bahkan di atas makan malam keluarganya sendiri—malam ini rela melepas jam kerjanya yang berharga demi menemaniku di rumah sakit.
Rasa hangat yang teramat asing kembali membubung di dadaku, membuat mataku terasa sedikit panas. Di dalam ruang rawat yang sunyi ini, aku menyadari bahwa dinding es yang selama belasan tahun mengurungku di gudang lantai tiga, kini perlahan-lahan mulai retak oleh kehadirannya.
Bzzz... Bzzz... Bzzz...
Keheningan yang baru saja melunak di dalam kamar rawat mendadak terkoyak oleh getaran hebat dari ponsel Kak Ethan yang diletakkan di atas meja nakas. Getaran itu begitu kuat, bergesekan dengan permukaan kayu hingga menimbulkan suara dengung yang merusak ketenangan pagi.
Aku dan Kak Ethan serentak menoleh ke arah sumber suara.
Di layar digital yang menyala terang, nama "Aaron" berkedip-kedip menuntut jawaban. Detik itu juga, aku bisa melihat bagaimana raut wajah Kak Ethan seketika mengeras. Topeng ketenangannya kembali terkunci rapat, dan atmosfer di dalam ruang rawat yang hangat mendadak turun drastis menjadi sedingin es.
Kak Ethan menyambar ponselnya dengan gerakan cepat, tetapi ia tidak langsung menekan tombol hijau. Ia melirikku sekilas, seolah memastikan apakah aku ketakutan atau tidak melihat nama itu disebut.
"Tunggu di sini. Jangan banyak bergerak," perintah Kak Ethan dengan suara baritonnya yang mendadak berubah berat dan penuh kewaspadaan.
Ia langsung bangkit dari sofa dan melangkah tergesa-gesa keluar dari kamar rawat, menutup pintu kaca di belakangnya dengan rapat. Namun, rasa penasaran dan kecemasan yang mendadak membubung membuatku menajamkan pendengaran, mencoba menangkap suara Kak Ethan yang samar-samar terdengar dari balik celah pintu koridor.
"Ya, Aaron. Ada apa?" tanya Kak Ethan, suaranya terdengar sangat datar dan dingin, mencoba menyembunyikan kepanikan di dadanya.
Dari tempatku terbaring, aku tidak bisa mendengar suara dari seberang telepon. Namun, jeda diam Kak Ethan berikutnya terasa begitu lama dan mencekam. Lewat celah kaca pintu, aku bisa melihat tubuh Kak Ethan menegang kaku. Matanya melebar, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga buku-buku jarinya yang mencengkeram ponsel memutih.
Tuduhan Kak Aaron di seberang sana rupanya langsung menghantam tepat di jantung pertahanan Kak Ethan. Kak Aaron tidak sedang menanyakan urusan kantor. Dengan nada marahnya yang temperamental, ia langsung menembakkan pertanyaan yang membuat darahku serasa membeku seketika: “Kak Ethan tidak masuk kantor hari ini karena masih mengurung si pembawa sial itu di rumah sakit, kan?!”
"Aaron, jaga ucapanmu!" bentak Kak Ethan lirih namun mendesis tajam, tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya karena rahasia ini telah bocor. Ia melirik panik ke arah pintu kamar, mencemaskan apakah aku mendengar keributan ini atau tidak. "Bagaimana pun dia tetap adikmu"!.
"Dia bukan adikku dia hanya pembawa sial bagi keluarga kita!" potong Aaron di seberang sana, suaranya samar-samar menembus pengeras suara ponsel hingga terdengar olehku. "Kenapa Kakak masih memedulikan anak itu?! Apa Kakak sudah lupa bagaimana dia merenggut nyawa Papa, Mama, dan Kakek?! Kenapa Kakak malah melindunginya?!"
Mendengar amukan Kak Aaron yang menggelegar dari balik pintu, dadaku mendadak terasa begitu sesak. Seluruh tubuhku gemetar hebat di atas brankar, dan rasa sakit di lambungku seolah kembali mengamuk. Ketakutan terbesarku benar-benar terjadi. Kak Aaron sudah tahu, dan badai kebencian yang selama belasan tahun mengurungku di gudang lantai tiga kini bersiap untuk kembali menggulungku ke dalam neraka yang sama.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~